Nggore Ngote Sara Jawa di Kampung Tua

Sebelum penciuman salib, umat Katholik Suku Rongga menjalankan ritual ini. Mereka menganggap Yesus adalah pahlawan yang telah berbuat banyak bagi keselamatan mereka. Cuma lelaki dewasa dan kaum ibu yang membawakan, anak muda dilarang ikut serta.

SEHARI-hari Pandoa selalu sunyi dari keramaian. Perkampungan tua di kaki Gunung Komba, Kabupaten Manggarai Timur, ini dihuni Suku Rongga. Mereka hidup seturut ajaran leluhur yang sarat dengan nilai-nilai rohani ketimbang duniawi. Selain di sana, warga Suku Rongga juga hidup bersebaran di wilayah selatan Manggarai Timur mulai dari Kampung Kisol, Kampung Bamo dan Kampung Lekolembo.

Bila ada kerabat yang meninggal, orang Rongga bakal segera menyiapkan upacara adat. Tak seorang pun berani melanggar kewajiban yang diwariskan para leluhur itu. Mereka yakin bahwa bila seseorang melanggar bakal menerima ganjaran, atau hukuman.

Salah satunya adalah Nggore Ngote Sara Jawa, sebuah ritual untuk menghormati tokoh adat, tokoh penjasa di kampung termasuk Yesus Kristus yang meninggal dunia.

Ritual ini unik karena dibawakan oleh tokoh-tokoh adat serta kaum ibu. Orang-orang muda tak boleh ikut serta. Hanya warga Suku Rongga yang memiliki rumah adat boleh menyelenggarakannya selama tujuh hari siang dan malam.
Selama itu, pengunjung bisa menyaksikan tarian Vera dengan pakaian adat Rongga yang berwarna hitam dengan topi Rongga berbentuk bulat dari daun lontar. Selama tujuh hari dan tujuh malam, pula ada sajian makanan dari daging babi dan ayam. Pada puncak upacara mereka menyembelih kerbau dengan cara berdiri.

Floresbangkit.comMarkus150304005_tua-tua adat tabuh gendang dan Gong_05

Saat acara penyembelihan kerbau berlangsung, kaum perempuan menari Vera membentuk lingkaran mengelilingi kerbau. Secara bersamaan tokoh-tokoh adat menabuh gendang dan memukul gong dengan memegang bendera warna hitam.
Rongga adalah salah satu suku yang tinggal di wilayah Selatan Manggarai Raya. Mereka berkomunikasi dengan bahasanya sendiri yang tak dimengerti oleh suku lain dalam wilayah adat ini. Ritual ini tidak diupacarakan bagi orang muda dan anak-anak di Kampung itu yang meninggal dunia.

Di warga Manggarai Raya, juga di bagian Timur, mewarisi banyak ritual. Secara umum ritual untuk meratapi kematian atau Lorang banyak di miliki suku-suku di sana. Suku sesuai dengan warisan leluhur.

Orang-orang Suku Kolang, Manggarai Barat, punya ritual Kelah atau kenduri, sementara di Suku Kolor ada ritual Raga Kaba dan Poka Kaba. Semuanya dilaksanakan untuk menghormati orang-orang biasa yang meninggal di kampung-kampung, tidak saat perayaan Paskah.

Sedangkan Ngore Ngote Sara Jawa, dari Suku Rongga, di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, adalah ritual kematian bagi orang-orang besar atau tokoh adat di suku tersebut. Upacara Ritual ini dalam Suku Rongga dikhususkan bagi seseorang anggota suku yang dikenal sebagai tua adat, tua gendang, atau tokoh besar atau kepala Suku yang meninggal dunia. Ritual ini tidak sembarang diupacarakan.

Ritual ini unik karena  dibawakan oleh tokoh-tokoh adat serta kaum ibu.

Ritual ini unik karena dibawakan oleh tokoh-tokoh adat serta kaum ibu.Foto: FBC/Markus Markur

Gereja Katolik memiliki tokoh besar sepanjang masa yakni Yesus Kristus yang wafat secara tragis di kayu salib. Warga Suku Rongga percaya bahwa Yesus adalah pahlawan keselamatan, kedamaian dan tokoh besar atau kepala Suku Besar sehingga layak diupacarakan Ritual Ngore Ngote Sara Jawa pada perayaan Jumat Agung setiap tahun. Ritual ini sudah diinkulturasikan secara kontekstual di dalam Gereja Katolik di Keuskupan Ruteng, Flores, NTT.

Gereja Katholik Menerima
Gereja Katolik menerima kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik sehingga budaya masyarakat setempat dirayakan pada hari-hari besar Gereja Katolik.

Dari sekian banyak tradisi dan ritual di masyarakat adat Manggarai Raya, salah satu yang unik dan terus dipertahankan adalah ritual Ngore Ngote Sara Jawa dari Suku Rongga. Ritual ini sudah berusia ratusan tahun.
Paroki Kabar Gembira Waerana merupakan satu dari 80 Paroki di Keuskupan Ruteng yang mempertahankan ritual itu pada perayaan Jumat Agung.

Thomas Ola, Kepala Suku Suku Rongga kepada FBC, Jumat (3/4/2015) menjelaskan, warga Suku mengganggap Yesus Kristus adalah pahlawan keselamatan dan kedamaian. Mereka yakin Yesus telah melakukan banyak hal untuk keselamatan Suku Rongga

Menurut dia, Ngore Ngote diartikan menghantarkan orang mati dengan bunyian gendang dan gong sementara Sara Jawa adalah kisah kematian tokoh adat, kepala suku dalam lingkungan suku.

“Kami secara khusus melaksanakan ritual ini pada kisah kematian Tuhan Yesus Kristus yang diupacarakan pada Jumat Agung,” jelasnya.

Pimpinan gereja Katholik tak berkeberatan dengan ritual yang hanya dijalankan umat komunitas basis Pandoa itu. Mengingat Manggarai Raya dan juga seluruh Flores punya banyak tradisi ritual, ibadah ajaran Katholik pun menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaan setempat.

Romo Alex Popos menjelaskan, ritual ini sudah menjadikan kebiasaan pada perayaan Jumat Agung di Gereja Paroki Kabar Gembira Waerana.

“Gereja Katolik sangat menghargai dan menghormati budaya setempat. Dan diinkulturasikan dalam perayaan hari-hari besar di Gereja Katolik. Banyak budaya masyarakat Manggarai Raya yang dipersembahkan kepada Sang Pencipta,”jelasnya.

Pensiunan Kepala SDK Waelengga, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Agustinus Nggose menjelaskan, Manggarai Raya sangat terkenal dengan ritual-ritual budaya yang sudah diwariskan leluhur sejak zaman dulu dan masih dipertahankan hingga saat ini. Suku Nggai juga mempunyai tradisi Ngore Ngote Sara Jawa, namun, ada perbedaan dalam melaksanakan ritualnya.

Nggose mengungkapkan, pada perayaan Jumat Agung di Paroki Kabar Gembira Waerana selalu diritualkan Ngore Ngote Sara Jawa dari suku Rongga di Pandoa. Uniknya, ritual ini dibawakan oleh tokoh-tokoh adat laki-laki dan kaum ibu di Suku Rongga. Anak muda dan gadis dilarang membawakan ritual ini.

“Dari dulu setiap perayaan Jumat Agung di paroki itu selalu diritualkan tradisi tersebut. Saat kaum ibu meratapi peti jenazah yang diusung, umat yang menghadiri perayaan Jumat Agung itu menangis karena terharu dan sedih atas kematian Yesus Kristus,” jelasnya. (*)

Penulis: Markus Markur

Editor: Donny Iswandono

Hujan Mengawali dan Mengakhiri Prosesi Laut Tuan Menino

Next Story »

Peti Kadea: Sebuah Penghormatan Pada Leluhur

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *