Kepala Desa Konga, Gregorius Mulo Witin

Mimpikan Konga Jadi Desa Wisata

Mendengar kata Konga, seluruh masyarakat di Kabupaten Flores Timur atau siapa pun yang pernah melintasi desa di pinggir jalan negera Trans Flores pasti yang teringat adalah areal persawahan. Dahulu hanya ada beberapa hektar sawah, kini mengalami perkembangan pesat. Apa yang bisa jadi kebanggaan Konga selain padi yang melimpah?

 

KONGA awalnya merupakan Desa Gaya Baru hasil penggabungan dengan Desa Nobo. Selepas menjadi Desa Konga dan terjadi pemekaran kecamatan di Kabupaten Flores Timur ( Flotim) Desa Konga masuk ke dalam wilayah Kecamatan Titehena.

Sejak menjabat Kepala Desa Konga sekitar tiga tahun silam, Gregorius Mulo Witin harus ekstra kerja keras memompa kinerja petani, masyarakat, dan aparat desa untuk mengubah wajah Konga. Suami dari Maria Goreti Kelen dan ayah dari tiga orang anak ini bermimpi membawa Konga tak sekadar ‘lumbung padi’ tetapi bisa dikenal sebagai desa wisata dan penghasil buah-buahan. Bagaimana dia mewujudkan mimpinya? Berikut petikan perbincangan saya:

Apakah nama dusun-dusun yang ada di Desa Konga memiliki arti tersendiri?

Sebelum saya menjabat kepala desa, dusunnya bernama dusun A, B, dan C. Saya berpikir, kalau nama dusunnya ABC tidak elok. Sama seperti nama abjad dan tak ada artinya. Lebih baik namanya kita abadikan sesuai nama yang dahulu pernah dipakai, saat masyarakat Konga masih menetap di kampung lama.

Pada waktu pertemuan di balai desa disepakati nama dusun diganti dengan nama Malaka, Suku Sau, dan Kepala Nagi. Nama Kepala Nagi merupakan nama baru sebab zaman dahulu daerah ini berada di ujung Barat untuk menangkal serangan dari Sikka Paga.

Konga terkenal dengan areal sawahnya, apakah ada masalah yang dihadapi petani agar hasil produksi padi bisa meningkat?

Luas areal sawah di Konga 280 hektar, sementara orang Konga sendiri cuma memiliki lahan 50 hektar. Sawah di Konga ini milik warga tiga desa yakni Konga, Kobasoma, dan Lewolaga. Masalah yang dihadapi petani seperti biasa, kelangkaan pupuk.

Permasalahan lainnnya saluran irigasi tertier yang ada masih merupakan saluran tanah belum permanen. Setiap tahun ada perbaikan saluran irigasi tapi masalahnya banyak kontraktor yang tidak mau kalau kerja saluran irigasi di bagian tengah sebab susah untuk memasok material bangunan.

Berapa hasil produksi padi di areal persawahan Konga?

Hasil produksi rata-rata 8 ton setiap hektar. Petani masih banyak menggunakan padi jenis Memberamo sebab rasanya enak sekali, tapi kadar gulanya tinggi. Meski demikian, banyak pembeli yang selalu mencari beras Memberamo sehingga orang Konga selalu menanamnya. Tapi ada yang sudah kami imbau dan beralih ke varietas Inpari sebab lebih tahan terhadap hama penggerek batang.

Rata-rata setiap kepala keluarga (KK) petani memiliki lahan sawah dengan luas di bawah satu hektar. Sementara yang di atas satu hektar hanya ada lima KK. Sarananya cukup, hanya yang jadi kendala utama adalah mentalitas petani.

Gregorius Mulo Witin, Kepala Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. ( Foto : FBC / Ebed de Rosary )

Gregorius Mulo Witin, Kepala Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. ( Foto : FBC / Ebed de Rosary )

Apa yang dilakukan untuk mengatasi mentalitas petani ini?

Kami sudah buat kesepakatan bulan kemarin (Februari 2015) agar semua petani setiap jam 8 pagi sudah turun ke sawah atau kebun untuk kerja, dan istirahat jam 12. Sementara sore masuk jam 2 pulang jam 5. Memang ada berita acara dan kami masih mempersiapkan aturan guna mengamankan kesepakatan ini. Bila ini dibiarkan terus menerus orang jadinya malas bekerja.Waktu saya masih kecil, orang tua kami sangat disiplin waktu.

Saya pernah beri contoh, orang Jawa yang gali kabel telepon di pinggir jalan jam 6 pagi mereka sudah gali tanah, kita ke sawah lihat mereka sudah mandi keringat. Kalau semua komponen mendukung, saya pelan-pelan bisa mengubahnya. Waktu musyawarah, semua setuju cuma ada seorang ibu yang protes dan mengatakan kita harus kembali bekerja seperti biasanya, saya katakan yang biasanya itu salah. Di mana-mana orang kerja tujuh jam bukan lima jam.

Di Pulau Konga ada perusahaan mutiara, apakah ada kontribusinya bagi desa?

Perusahaan mutiara asal Jepang ada sejak tahun 1996 dan selama itu tidak ada kontribusi buat desa. Mereka memberi retribusi ke daerah tetapi seharusnya daerah memberi kepada desa 10 persen, tapi ini tidak dilakukan. Saya sudah membuat surat ke pemerintah terkait hal ini.

Kalau ada hajatan di desa mereka menyumbang, tapi dalam bentuk material atau barang seperti pembangunan gereja dan saat perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Ada sekitar 20 orang Konga yang kerja di sana, lebih banyak orang dari luar daerah.

Konflik antara Desa Nobo dan Konga terkait tanah apakah sudah mencapai titik temu atau kesepakatan?

Konflik ini juga terjadi beberapa tahun lalu tetapi tidak nampak di permukaan dan kami sudah ada upaya untuk penyelesaian. Mediasi yang dilakukan Camat Titehena dan Ilebura hampir mencapai kata sepakat. Saat pihak Nobo diberi kesempatan menceritakan sejarah tanah sengketa, mereka tidak bisa ceritera dan hanya meminta Konga mengakui tanah tersebut merupakan hak ulayat mereka. Perwakilan kami memaparkan sejarah secara rinci.

Sementara lokasi sengketa, juru bicara Desa Nobo tidak tahu di mana tepatnya lokasi itu. Mereka klaim semua tempat di Lapang Kledang dan mengatakan karena Konga lebih tahu lokasi itu maka terserah Konga yang menentukan di mana lokasi itu. Akhirnya Konga menentukan lokasi itu di sebelah atas, jauh dari perkampungan.

Usai pertemuan itu, taka lama berselang Kantor Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) turun, tetapi mereka tidak mempertemukan kedua belah pihak dalam satu forum. Hanya bertemu dengan pihak masing-masing. Ini yang membuat pertemuan awal yang sudah mendekati kata sepakat mentah lagi. Padahal sebelumnya orang Nobo sudah meninggalkan lokasi sengketa karena hasil pertemuan awal menegaskan bahwa kedua pihak harus meninggalkan lokasi sengketa.

Setelah pertemuan dengan Kesbangpol, orang Nobo mulai menempati sengketa kembali. Saya curiga, jangan sampai ada pihak lain yang turut bermain dalam persoalan ini. Kami sebagai kepala desa ditekan supaya menjaga situasi tetap kondusif. Kepala Desa kerjanya bukan tiap hari berjaga di lokasi sengketa.

Bagaimana ritual Semana Santa di Konga biasanya berlangsung?

Pada saat pemerintahan raja-raja dahulu, Konga masuk di bawah Kakang Lewoingu tapi diperlakukan khusus seperti penagihan bea. Konga tidak memberi pada Kakang tapi langsung ke raja. Begitupun soal Devosi, ritual agama. Konga dan Wure diberi status Abrigado, daerah dengan perlakuan khusus.

Konga masih tetap mempertahankan keasliannya dan kami membentengi diri dari orang luar yang mau mencoba membelokkan tradisi. Pembuatan Armida masih memakai bahan-bahan alami, untuk jadi Mardomu hanya bisa orang Konga. Dan bila ada orang luar, dia harus menyiapkan biaya sesuai kesepakatan yang sudah ditetapkan, jangan lebih. Ini menyebabkan setiap orang Konga bisa menjadi Mardomu dan orang luar tidak bisa berbuat sesuai kekayaan yang dia miliki. Aturan dibuat agar jangan sampai orang Konga nantinya hanya jadi penonton. Kalau di Nagi (Larantuka) komersialnya sudah tinggi.

Apa mimpi besar anda selaku kepala desa?

Saya mau membawa Konga menjadi suatu kawasan yang lebih baik lagi dengan menjadikannya sebagai desa wisata. Pantai di Konga kalau ditata dan dijadikan destinasi wisata, sangat menjanjikan. Sehingga masyarakat bisa membuat home stay dan menjual buah-buahan hasil petani Konga. Karena jika kita harapkan sawah, luas sawah tidak akan berkembang lagi. Kami rencana buat jalan ke Pantai Nuba dan Pantai Gelang yang juga jadi incaran saya. Sampan nelayan yang biasanya cuma mencari ikan bisa dipakai untuk mengantar wisatawan ke Pulau Konga.

Tanah Wadan akan coba diubah jadi pertanian holtikultura dan juga ditanam buah-buahan untuk menunjang pariwisata nantinya. Saya sudah bangun lopo kerja sama dengan dinas pariwisata. Petani di sini orientasinya masih bertani dengan tujuan perut. Tapi bertani untuk mendapatkan keuntungan belum.

Apa yang melatarbelakangi anda memimpikan semua itu?

Saya termotivasi ketika orang-orang tua selalu berpesan, untuk jadi anak Nagi (kampung) yang baik, bagaimana kita harus bisa membawa Nagi ini untuk menjadi lebih baik tanpa meninggalkan kearifan lokal, seperti kegotongroyongan dan kebersamaan. Saya berhutang budi kepada para pendiri desa ini yang sudah berjuang agar Desa Konga terbentuk. Kami orang Konga sendiri yang harus memberikan sesuatu yang lebih baik dan bisa memberi kesan yang baik kepada para tamu maupun peziarah yang mengunjungi Konga saat ritual Hari Bae ( Minggu Suci ) menjelang Paskah.

Adakah ritual lain yang dihidupkan selain ritual saat Semana Santa?

Ritual adat Makan Kepala Ae yang sudah diwariskan dari dulu tetapi beberapa tahun belakangan ini hilang. Dulu sebelum ada bendungan, orang tetua membuat bendungan memakai batu dan pasir yang diisi di karung dan mangalirkan air ke saluran. Malam sebelum ritual sudah disampaikan ke masyarakat sehingga ketika diberi tahu masyarakat sudah tahu pengerjaan sawah akan dimulai.Waktu ketua adat memotong leher babi dan memerciki tempat pertama air mengalir, sesudahnya bendungan dibuka.

Setelah ada bendungan biasanya dua hari sebelum ritual pintu air di bendungan ditutup sementara untuk mengeringkan air di saluran-saluran. Setelah ritual, pintu dibuka dan air mengalir. Sejak saat itu diumumkan bahwa pekerjaan di sawah dimulai. Biasanya juga dilakukan dengan pemberkatan bibit oleh ketua adat atau pastor.

Dengan demikian, upaya pemerintah untuk melakukan penanaman serentak bisa terjawab. Ritual ini setahun sekali diadakan di bulan Oktober dan ini akan diangkat menjadi budaya. Yang diutamakan dengan menghidupkan ritual ini yakni kembali menghidupkan nilai -nilai kebersamaan.

Apa suka duka selama menjadi kepala desa?

Sukanya jadi kepala desa, ketika ada hajatan orang selalu menghargai dengan memberikan tempat duduk paling depan. Tapi dukanya lebih banyak, pertama menghadapai masyarakat yang tingkat pendidikan, sifatnya, dan karakternya berbeda. Ada yang di depan setuju di belakang buat lain, masalah sosial hampir setiap minggu ada. Belum selesaikan satu masalah, muncul masalah lainnya.

Kalau ada kasus, saya selalu imbau, dan saya juga kerja sama dengan polisi untuk menyelesaikannya. Pelakunya membuat surat pernyataan dan terbukti beberapa yang sering membuat kasus bertobat. Tidak pernah ada kasus yang sampai ke pengadilan, saya tidak mau warga saya harus dibawa ke pengadilan.

Tantangan terberat saya memperbaiki mentalitas masyarakat. Tapi saya senang saja supaya tidak stres. Saya sampaikan bahwa saya punya kewajiban untuk menyampaikan, menyadarkan masyarakat. Kalau mereka tidak ikuti, kita akan tempuh cara lain untuk menyelesaikannya. (*)

 

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Radja Bataona, Sang Pelukis Malam

Next Story »

Hamsah, Batu Kapur, dan Hidup yang Bersyukur

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *