Randang Uma

Menghidupkan Kembali Ritual yang Hilang

Romo Benny Jaya, Pr sedang merayakan misa di depan Compang Lingko Randang di Kampung Rangat. Foto: Kornelius Rahakala/FBC

Romo Benny Jaya, Pr sedang merayakan misa di depan Compang Lingko Randang di Kampung Rangat. Foto: Kornelius Rahakala/FBC


Zaman yang terus bergerak telah menggerus kebiasaan lama. Sebuah komunitas budaya di Manggarai Barat berusaha menghidupkan kembali ritual-ritual yang telah hilang. Mereka berharap generasi muda dapat mengapresiasi sekaligus menyiapkan sajian bagi wisatawan
.

Sudah menjadi tradisi warisan turun temurun, ritus adat Randang Uma atau upacara adat pembukaan kebun baru yang bersifat lingko rana,tanah kolektif, dilakukan oleh warga Manggarai. Namun, karena perkembangan zaman perlahan-lahan tradisi unik itu mulai ditinggalkan.

Dahulu warga pasti patuh menjalani ritual Randang Uma tiap mereka berniat membuka kebun baru yang bakal dimanfaatkan secara kolektif atau lingko rana. Namun kebiasaan itu kini telah tergerus roda jaman.

Tradisi randang atau waes dengan segala ritualnya, kini hampir tidak pernah dibuat lagi. Demikian pula dengan peralatan tanam tradisional seperti pacek pepak juga mulai sulit dijumpai. Padahal, tradisi randang atau waes dan pacek pepak memiliki makna filosofis dan magis-spiritual yang bernilai tinggi.

Bernadus Barat Daya, seorang tokoh asal komunitas adat Kampung Rangat, Desa Wae Lolos, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat prihatin melihat gejala itu.

Pria yang biasa dipanggil Dus Barat ini menduga ritual itu menghilang lantaran beberapa sebab. Pertama, cara bertani dengan kebiasaan membuka kebun secara berpindah-pindah telah berubah menjadi berkebun tetap pada lahan milik pribadi atau individu. Kedua, banyak komunitas adat atau suku-suku di kampung-kampung tidak lagi memiliki persediaan tanah komunal atau tanah milik persekutuan adat. Di mana hampir semua tanah bekas lingko telah beralih status menjadi tanah milik individu sehingga pembagian tanah dalam bentuk lodok tidak dapat di lakukan lagi.

Ketiga, masyarakat yang hidup saat ini rata-rata adalah generasi berusia 60 tahun ke bawah sehingga banyak tradisi lama tidak dikenali dengan baik. Keempat, terbatasnya jumlah warga yang mengenal tradisi lama seperti haeng tae repeng pede yang telah ada sebelumnya.

Selain itu intervensi institusi dari luar seperti agama, secara sistematis telah menghilangkan jejak-jejak adat. Ritual adat di Compang misalnya, yang dahulu kala biasa dilakukan oleh masyarakat adat, perlahan-lahan diganti dengan simbol agama seperti salib. Alhasil, masyarakat adat enggan melaksanakan ritual adat lagi.

“Karena itu dibutuhkan kesadaran kolektif untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dengan saling menghargai otorita institusi masing-masing baik institusi agama maupun institusi masyarakat adat,”sarannya.

Kesadaran itu perlu dibangun dan kini sudah mulai dihidupkan kembali oleh komunitas adat Kampung Rangat, Desa Wae Lolos Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat. Mereka berniat zaman lampau, memperkenalkan tradisi yang telah hilang. Tak cuma itu, kegiatan itu juga untuk mendokumentasikan sejumlah ritual budaya atau tradisi untuk keperluan pariwisata di masa depan. Dengan upaya itu generasi muda diharapkan bakal mengapresiasi. menghormati dan menghayati nilai-nilai budaya masa lampau.

Mesti Tetap Dibuat
Meskipun zaman terus berubah demikian pula tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal kian tergerus namun sebagai satu kesatuan komunitas, masyarakat adat harus eksis dan terus menjalankan segala ritual adatnya secara konsisten. Tanah misalnya, boleh dibagi-bagi menjadi hal milik pribasi atau individu bahkan boleh berpindah hak kepemilikannya lantaran jual beli. Namun demikian semua ritual adat mesti tetap dijalankan oleh masyarakat adat.

Pendapat itu disampaikan oleh Romo Benny Jaya, Pr, seorang rohaniwan Katolik dalam suatu ritual adat yang digelar oleh sebuah komunitas adat beberapa waktu lalu.

“Meskipun tanah-tanah sudah dibagi menjadi hak pribadi tetapi segala ritual adat harus tetap dipertahankan. Karena dengan ritual adat dan adanya rumah budaya akan mampu mempersatukan dan menghidupkan sebuah komunitas adat,”ujarnya.

Bagi Romo Benny, adanya rumah adat dengan ritual adat yang terus menerus dijalankan akan dapat mempertemukan dan mempersatukan seluruh masyarakat adat di suatu wilayah. Karena tanpa gendang (rumah adat) orang akan sulit bertemu dan berkumpul untuk merencanakan secara bersama-sama bagaimana membangun kampung atau menjalankan ritual-ritual adat yang diwariskan oleh nenek moyang dulu.

Tergerusnya kebudayaan lokal, hemat Romo Benny, tidak terlepas pula oleh adanya kepentingan politik. Komunitas masyarakat adat beserta struktur adat yang ada di kampung-kampung kerapkali dihadapkan pada situasi sulit lantaran diperalat untuk kepentingan politik jangka pendek dan fragmatis. Banyak masyarakat adat di kampung terpecah belah akibat adanya perbedaan pilihan politik atau pandangan politik tertentu. Meskipun demikian, menurut Romo Benny, segala persoalan akan dapat terselesaikan jika ada rumah budaya yang dapat mempersatukan semua perbedaan.

Penulis Kornelius Rahakala
Editor Donny Iswandono

Peti Kadea: Sebuah Penghormatan Pada Leluhur

Next Story »

Menebar Pewartaan, Mengajarkan Disiplin dan Kejujuran

One Comment

  1. April 25, 2015

    Iya nih mas, di Lembor sendiri acara adat jarang dibuat, semoga dengan tulisan ini generasi kita bisa lebih sadar lagi dalam melestarikan budaya warisan ya mas.

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *