Menggagas Orientasi Pendidikan Kita

Oleh : Emilianus Esek Soge, S.Pd.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Emilianus Esek Soge, S.Pd, Pengajar  SMK Yohanes XXIII Maumere

Emilianus Esek Soge, S.Pd, Pengajar SMK Yohanes XXIII Maumere

Atas dasar amanat tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sedangkan Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan profil kualifikasi kemampuan lulusan yang dituangkan dalam standar kompetensi lulusan. Dalam penjelasan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa standar kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik yang harus dipenuhinya atau dicapainya dari suatu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Pengertian

Menurut M.J. Langeveld, pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tuga hidupnya, agar dia bisa mandiri , dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan adalah usaha mencapai penentu diri susila dan bertanggung jawab.

Pendidikan menurut Encyclopedia Americana. merupakan proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, mengembangkan sikap maupun ketrampilan. Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis , kreatif , sistematis dan intensional , dibantu oleh metode dan teknik ilmiah , diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik , agar anak belajar mengenali jati dirinya yang unik , bisa bertahan hidup , dan mampu bertahan hidup dan mampu memiliki , melanjutkan mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.

Tidak dapat dipungkiri, pendidikan telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Tetapi, ada problem besar di dalam sistem pendidikan kita. Itulah sebabnya, sebagian besar pemerintah melakukan reformasi pendidikan umum (public education).

Alasan untuk reformasi pendidikan itu yang pertama karena alasan ekonomi, untuk mengantarkan anak-anak agar dapat selaras dengan perekonomian abad 21, yang terus berevolusi dengan cepat dan semakin sulit diprediksi. Alasan kedua adalah karena faktor budaya, bagaimana tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah terpaan globalisasi yang sangat dahsyat.

Di dalam model yang selama ini berjalan, dengan pendidikan anak-anak bekerja keras, lulus dan mendapatkan ijazah, kemudian bekerja. Problemnya, anak-anak sekarang tidak terlalu percaya dengan rumus itu. Kelulusan dan ijazah tidak menjamin pekerjaan.

Sir Ken Robinson, salah satu tokoh pendidikan dan penulis buku “The Element”, menyatakan bahwa salah satu sebab yang paling mendasar adalah karena sistem pendidikan yang berjalan saat ini dirancang dengan asumsi-asumsi pada masa lalu, yang tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.

Sistem pendidikan saat ini dirancang dalam budaya intelektual abad pencerahan dan sistem ekonomi yang dihasilkan oleh revolusi industri (sekitar abad 18). Pada saat itu, sistem pendidikan umum menjadi hal yang revolusioner karena sebelumnya belum pernah ada sistem pendidikan yang massal untuk masyarakat. Sistem baru ini dibayar dengan uang pajak, wajib bagi semua orang, dan disampaikan dengan gratis sehingga bisa menjangkau banyak orang.

Sistem pendidikan umum sangat menekankan pada kemampuan akademis, sehingga secara natural/alamia, kemudian membagi manusia menjadi dua kategori: akademis dan non-akademis, orang cerdas dan kurang cerdas/tidak cerdas. Dan semuanya diukur dengan ukuran akademis. Akibatnya, banyak orang2 yang sebenarnya hebat, tetapi mereka merasa gagal karena mereka berbeda dari standar “kehebatan” yang ditentukan sistem pendidikan.

Sistem pendidikan ini dijalankan dengan model pabrik seperti pada revolusi industri. Proses dibagi dalam bagian yangg terpisah (mata pelajaran), pendidikan dijalankan dalam sistem urutan/batch (kelas), dan outputnya adalah produk yang seragam, yang ditandai dengan waktu produksi (tahun kelulusan). Nilai-nilai utama dari model ini adalah kesamaan (conformity) dan standardisasi. Itulah model seperti pabrik di abad pertengahan.

Menurut Sir Ken Robinson, model pendidikan yang sekarang ada tak mencukupi kebutuhan zaman. Kita membutuhkan transformasi paradigma tentang pendidikan untuk masa kini, sebab zaman kita berbeda dari zaman pertengahan.

Anak-anak yang besar masa kini adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, papan reklame, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekpos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik). Itu membuat sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan anak2 digital ini akan dinilai sebagai penyandang ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran.

Pendidikan masa lalu, sekarang dan yang akan datang memimiliki karakter yang berbeda. Perbedaan karakter ini akan menentukan pribadi peserta didik secara utuh dalam mengembangkan ilmu pegetahuan dan teknologi. Pengebangan ilmu pengetahun dan teknologi ini akan membawa dampak positif maupun negatif bagi anak-anak( Pesrta Didik). Mereka mulai menerapkan karakter mereka. Mereka akan berekspresi sesuai dengan apa yang mereka pelajari entah itu karakter yang muncul dalam diri mereka ataupun dari luar diri mereka.

Monitoring dan Evaluasi

Untuk mengetahui ketercapaian dan kesesuaian antara Standar Kompetensi Lulusan dan lulusan dari masing-masing satuan pendidikan dan kurikulum yang digunakan pada satuan pendidikan tertentu perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan berkelanjutan dalam setiap periode. Hasil yang diperoleh dari monitoring dan evaluasi digunakan sebagai bahan masukan bagi penyempurnaan Standar Kompetensi Lulusan di masa yang akan datang.

Kunci pembangunan masa depan bagi bangsa Indonesia ialah pendidikan. Sebab lewat pendidikan diharapkan setiap individu dapat meningkatkan kualitas keberadaanya dan mampu berpartisipasi dalam pembangunan. Pendidikan merupakan alat untuk memperbaiki keadaan sekarang, juga untuk mempersiapkan dunia esok yang lebih baik serta lebih sejahtera.

Di samping itu pendidikan merupakan masalah yang amat kompleks dan teramat penting , karena menyangkut macam-macam sektor kehidupan, bagi pemerintah dan rakyat. Oleh karena itu diperlukan pemecahan permasalahannya secara terpadu.

Mendidik dan mengajar merupakan perbuatan teramat penting dan bermartabat tinggi untuk membawa anak manusia pada tingkat manusiawi dan taraf peradaban , khususnya pada zaman modern dengan segala kompleksitasnya. Tanpa pendidikan , anak tidak akan dapat mencapai martabat kemanusiaan , tidak bisa menjadi pribadi utuh, juga tidak bisa menjadi insan sosial dan abdi Tuhan Yang Maha Esa yang soleh. Sebab anak manusia itu dilahirkan dalam keadaan serba kurang lengkap, dengan naluri dan fungsi – fungsi jasmani – rohani yang belum berkembang.

Perbuatan mendidik adalah kegiatan kreatif untuk membimbing anak manusia pada tujuan – tujuan pendidikan. Sedangkan tujuan pendidikan merupakan turunan atau penjabaran dari tujuan hidup orang dewasa. Maka pendidikan tidak bisa dipahami terpisah dari hakekat kehidupan manusia. Sebab sasaran hidup dan tujuan akhir hidup manusia pada hakekatnya menentukan bentuk- bentuk pendidikan dan tujuan pendidikan. Perbuatan mendidik berlangsung dalam ruang tempat dan rentang waktu tertentu.

Didorong oleh besarnya tanggung jawab moril para pendidik , dan untuk menjamin keberhasilan proses mendidik, maka perbuatan mendidik itu harus dipikirkan dengan cermat , terencana dengan baik, dan dipersiapkan dengan hati-hati demi perkembangan yang positif dari kepribadian anak. Karena itu perbuatan mendidik merupakan aktivitas kreatif, sebab mengandung benar dan baik untuk membawa anak pada banyak perkembangan, kedewasaan dan kemandirian yang membosankan di kelas.

Paradigma pendidikan baru harus menekankan pada “divergent thinking”, kapasitas untuk melakukan hal-hal kreatif. Divergent thinking meliputi kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan jawaban untuk sebuah masalah tertentu, melihat banyak tafsir dan pemahaman atas sebuah pertanyaan, untuk berfikir literal (tak hanya liner dan konvergen), melihat banyak solusi tak hanya satu solusi. Maka perubahan paradigma pendidikan perlu dipertimbangkan yaitu dari segi kultur pilihan ganda haruslah dihapus, dan diganti dengan kultur ujian untuk mencipta, misalnya menjalankan proyek tertentu untuk menghasilkan karya cipta sesuai dengan bidanganya. Ini perlu dilakukan mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi.

Budaya menghafal juga harus diganti dengan kultur menyelesaikan suatu permasalahan terkait dengan bidang ilmunya. Jika difokuskan untuk menyelesaikan masalah dan berkarya, maka materi pendidikan akan menjadi bagian dari penghayatan pribadi yang melekat seumur hidup, dan bukan sekedar hafalan yang akan segera lenyap, setelah ujian selesai. Disini berlakunya banking sistem yang dikatakan oleh Paulo Freire bahwa sistem penyajian materi model bank yaitu pengajar/guru menyampaikan subtansi atau materi ilmu pengetahuan untuk didepositkan ke dalam memori Siswa/peserta didik, untuk disimpan dan dikumpulkan kemudian pada waktu tertentu (ujian) deposit tersebut akan dikeluarakan.

Sistem seperti ini memiliki daya tapung siswa/pesrta didik yang terbatas untuk mengekspriskan mekanisme ataupun ilmu yang mereka terima. Maka dengan demikian model pemelajaran deposit banking ini tidak boleh dipergunakan lagi dalam metoda pembelajaran, dan lebih difokuskan pada metode dialog partisipatif untuk meningkatakan kreativitas siswa/peserta didik dalam berpekspresi untuk mengembangakan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.

Budaya guru otoriter, dan guru sebagai sumber kebenaran utama, juga harus diganti dengan kultur pendidikan demokratis, di mana siswa bisa berpendapat secara rasional dan berdiskusi secara sehat dengan segala pihak. Kultur bertanya juga harus dikembangkan, karena dari pertanyaan-pertanyaan itulah pikiran kita berkembang, dan wawasan kita sebagai manusia bertambah luas. Hemat saya, yang terpenting bukanlah menjawab secara benar, tetapi mengajukan pertanyaan yang benar, karena seringkali jawaban yang benar atas pertanyaan yang salah justru membawa kita pada kesesatan. Dalam sistem yang ada saat ini, kemampuan berfikir divergen itu tak berkembang pada anak. Bahkan, kemampuan divergen itu semakin turun seiring peningkatan usia dan tingkat pendidikan seseorang.

Partisipasi kita sebagai rakyat amat dibutuhkan untuk mewujudkan semua langkah di atas menjadi kenyataan. Kekuatan masyarakat demokratis bukan pada pimpinannya, tetapi pada rakyatnya yang peduli dan terus berjuang mengontrol kekuasaan, sehingga bisa tetap dipergunakan untuk kepentingan yang lebih baik dan lebih besar. Di titik ini, kita menemukan sebuah logika melingkar. Di satu sisi, partisipasi demokratis dari seluruh rakyat amat penting untuk mengontrol kekuasaan, terutama untuk memastikan terciptanya pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat. Dengan mengontrol kekuasaan secara demokratis, kita bisa melapangkan jalan untuk menjadi masyarakat yang adil dan makmur, sebagaimana yang kita impikan bersama untuk meningkatkan mutu pendidkikan kita secara pribadi dan lembaga.

Perempuan, Iptek dan Kearifan Lokal

Next Story »

Pesan Pendek untuk Calon Bupati Manggarai dan Manggarai Barat

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *