Viktor Emanuel Raiyon

Menanam Bakau, Meraih Kalpataru

Kegigihannya merawat dan mengembangkan tanaman bakau selama belasan tahun, membuat pria kelahiran Atambua 2 September 1974 ini diganjar anugerah Kalpataru, anugerah bagi perintis lingkungan hidup. Bagaimana kisahnya?

BERBICARA tentang bakau, referensi terbaik tentunya mendatangi Viktor Emanuel Raiyon. Pria yang menetap di Dusun Mageloo, Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka ini digelari “profesor lokal“ oleh masyarakat sekitar, dan puluhan anak didiknya.

Kegigihannya menularkan ilmu kepada anak sekolah, guru besar, peneliti, dan kesabarannya mempraktikannya dengan menghutankan kawasan pantai di dusunnya seluas 50 hektar dan ratusan hektar pesisir pantai Utara Flores dan Indonesia, membuahkan anugerah Kalpataru tahun 2009 untuk kategori perintis lingkungan.

Penghargaan Eagle Award tahun 2008 yang diselenggarakan salah satu stasiun TV swasta pun digenggamnya lewat film dokumenter berjudul “Prahara Tsunami Bertabur Bakau”. Dalam ajang ini dirinya menyisihkan 256 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, dari 80 peserta dirinya terpilih mendapatkan penghargaan Kick Andy Heroes untuk kategori lingkungan di tahun 2009. Penghargaan dari Bupati Sikka Paulus Moa tahun 2000, Gubenur NTT Piet A Tallo yang berkaitan dengan perintis lingkungan hidup.”Ketika

Baba Akiong dan istrinya. (Foto: FBC/Ebed)

Baba Akiong dan istrinya. (Foto: FBC/Ebed)

menerima Kalpataru, Presiden SBY panggil saya. Beliau bilang, tahun 1971 PBB sudah buat proyek tanam bakau tapi di negara lain. Tapi di Indonesia, kita sendiri yang tanam. Saat saya masih ambil makan, ajudan presiden datang dan bilang presiden ajak saya makan bersama di mejanya. Mereka mau makan tapi masih menunggu saya dan isteri. Selesai makan presiden SBY senang, dan berfoto bersama kami sampai lima kali “ ujarnya bangga.

Jual Kalung

Menanam bakau dilakukan Baba Akong–sapaan akrab pria paruh baya ini–dilakoni sejak tahun 1993 selepas gempa dan tsunami yang melanda Flores tahun 1992. Dikisahkan Raiyon, saat terjadi tsunami, air laut di daerahnya naik sampai di kaki gunung sehingga rumah, kebun, dan barang berharga lainnya musnah tak ada sisa.

Selepas itu, suatu saat dirinya ke pantai dan melihat gelombang besar. Dirinya pun berpikir, kalau tidak tanam bakau dan terjadi tsunami dengan gelombang besar lagi, warga kampung bisa mati semua. Akhirnya Raiyon memberanikan diri menanam bakau.

Ketika berbincang di pinggir pantai yang dipenuhi hutan bakau baru-baru ini, Raiyon memanggil isterinya Anselina Nona asal Sikka buat menjelaskan. Biar lebih afdol sebut Baba Akong.

“Pertama kali Baba Akong bilang ke saya, mama tua mari kita tanam bakau. Saya bilang, Baba Akong sudah gila ka, Adam dan Eva tidak ajar kita tanam bakau. Pasti Baka Akong stres karena barang-barang miliknya sudah habis. Hari pertama sampai ketiga dia bujuk, saya tidak mau ikut. Hari keempat baru saya ikut tanam. Saya lihat dia pikul dengan karung dan sekop jadi saya kasihan. Karena cinta suami akhirnya saya ikut tanam bakau,“ ujar Mama Nona sapaan akrab ibu enam anak ini.

Saat tanam bersama, sebut Nona, bakau mati sehingga mereka berdua ribut. Baba Akong, ucap Nona, bilang kepadanya, mama tua kalau comel terus lebih baik kau pulang. Biar saya sendiri saja yang tanam.Tapi Nona tetap ikut tanam. Dirinya katakan, kalau begitu kita tanam di areal masing – masing dan kita lihat bakau siapa yang bertahan hidup.

“ Tapi saya punya mati dan Baba Akong menang sehingga akhirnya saya ikut tanam terus. Kami tanam terus sampai akhirnya dana habis buat beli polybag. Baba Akong bujuk saya agar jual kalung emas. Saya awalnya tidak mau, tapi akhirnya mau jual dan beli lima puluh kilogram polybag. Baba Akong janji kalau bakau hasilnya baik nanti kalungnya akan diganti. Setelah dua tahun, baru bapak ganti. Setelah dinas kehutanan pesan anakan bakau, “ tuturnya menahan haru.

Diejek Orang

Bibit bakau awalnya diambil Raiyon dan isterinya dari muara Kali Ndete arah Timur rumahnya sejauh 3 kilometer. Bahkan sampai ke Kajuwulu yang berjarak lebih jauh dengan berjalan kaki. Kalau saat banjir, beber Raiyon, dirinya dan isteri harus berenang dulu langgar kali. Banyak bibit bakau suka jatuh dan terbawa air banjir. Awalnya melakukan kerja ini, kenang Raiyon, merupakan sebuah perjuangan berat.

“Tahun 1993 kami tanam sekitar 1.000 pohon. Saya ambil anaknya dan tanam langsung di lubang. Lama-lama saya pikir ini berat dan susah. Akhirnya saya oper di polybag,“ beber Raiyon.

Mereka berdua bahkan diejek oleh orang di kampungnya. Bagi warga Ndete, Baba Akong dan isterinya dianggap bodoh, tanam pohon yang tidak ada manfaatnya apa-apa. Masyarakat, kisah Nona, bilang mereka berdua orang gila, orang bodoh, kenapa tidak tanam kakao, kelapa, atau mente.

Meski kerap diejek, ucap Nona, Baba Akong pesan padanya agar diam saja sehingga dirinya pun bersikap cuek. Tapi dirinya juga tidak mengatakan kepada Baba Akong apa yang dipikirkannya.

“Ternyata setelah berhasil dan sampai tiga kali kami diundang ke Jakarta untuk dapat penghargaan, pulangnya baru saya omong. Aduh Baba Akong, ternyata kita selama ini omong salah. Setelah empat belas tahun tanam bakau, baru kita berhasil. Saya senang dan bangga. Saya bilang ke Baba Akong, karena kita kerja lumpur jadi kita bisa ke Jakarta. Coba kalau kita kerja bersih, kita tidak dapat penghargaan. Ini orang di kampung ejek kita segala macam, tapi biar hanya dapat penghargaan saya senang. Sambutan yang kami terima luar biasa, ajudan presiden jaga kami, makan juga presiden musti tunggu kami, “ papar Nona bangga.

Waktu di hotel bintang lima, tambah Nona, Bupati Sikka panggil mereka berdua dan mengatakan karena kerja kami berdua dirinya pun bisa sampai ke Istana Negara dan berbincang dengan presiden.

Berbagi Ilmu

Berkat kegigihannya menghutankan pesisir pantai di Kabuapaten Sikka dan Ende seluas 100 hektar lebih, Raiyon kerap dijadikan rujukan bagi para pelajar, mahasiswa, peneliti bahkan profesor dari dalam dan luar negeri dalam menimba ilmu tentang bakau.

Tahun 2000 dirinya membentuk12 kelompok. Bersama kelompok Sabar Subur miliknya, Raiyon sudah menghutankan pesisir pantai di wilayah Sikka yakni Ndete, Darat Tanjung, Nangahale, Talibura, dan Koro. Sementara di Ende yakni di Kaboria, Maurole, Kota Baru, Nangesa, dan Sortimu. Sementara untuk Flores Timur tahun 2014 masih percobaan dan tahun ini mereka akan menanam lebih banyak lagi. Hingga saat ini sudah ada 40 kelompok yang dibinanya.

Selain itu, dirinya kerap mengajar cara menanam bakau di beberapa daerah di Madura, Kalimantan, Jakarta Utara, Alor, Timor, Belu, dan Kupang. Kalau mahasiswa ada yang berasal dari Unipa Maumere, Uniflor Ende, Undana, Muhamadiyah, Unibraw ,UI dan lainnya. Sementara dari luar negeri berasal dari Belanda, Polandia, Philipina, India, AS, Australia, Jepang dan Singapura.

“ Ada anak SMP Frater juara satu di Jakarta waktu lomba tentang bakau. Saat ditanya mereka dapat ilmu ini dari mana, mereka bilang kami dapat ilmu dari seorang kakek di Sikka yang pintar bakau.Tiap minggu atau tiap bulan ada yang selalu datang ke sini buat belajar, “ ungkap kakek 11 cucu ini.

Dari Inggris Mr.Gareth seorang ahli kelautan dan perikanan saat mau mengambil gelar doktor dia melakukan penelitian bakau di Mageloo. Dikisahkan Raiyon, Ir.Rio dari Kehati suatu ketika pernah menanyakan padanya di mana dirinya belajar tanam bakau dan dijawab dirinya belajar dan pintar gara-gara gempa dan tsunami tahun 1992 yang melanda Flores.

Banyaknya tamu yang bertandang dan berguru ke rumahnya dibuktikan dengan buku tamu dan album foto miliknya. Saat diperlihatkan kepada saya, hampir sebagian besar tamunya berasal dari luar Provinsi NTT bahkan dari luar negeri.

Rumah sederhananya yang berdinding halar (bambu belah) beratapkan semen dengan lantai keramik, sering dijadikan tempat tinggal bagi para mahasiswa dan peneliti. Minimal mereka tinggal dan belajar selama seminggu hingga dua minggu.

“Tahun 2005 saya kena serangan jantung sebanyak lima kali. Tensi darah saya 60. Saya berhenti tanam bakau, dokter larang kerja berat. Tapi saya stres, saya biasa kerja berat tiba -tiba tidak bisa buat apa –apa. Saya seperti orang gila saja. Tetapi sekarang sudah sembuh jadi saya mulai kerja kembali,“ ucap Raiyon penuh semangat.

Hal ini terlihat dari ribuan anakan bakau yang di kokernya di samping halaman rumahnya maupun di areal hutan bakaunya. Semua bakau tersebut sudah dipesan pemerintah untuk dijadikan penghijauan.

Meski renta dan sempat mengidap sakit jantung, semua itu tidak jadi penghalang bagi Baba Akong menghijaukan pesisir pantai demi mencegah abrasi dan menyelamatkan nyawa manusia yang tidak berdosa saat badai dan tsunami menerjang. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Veronika dan Kehidupan yang Tetap Layak Dijalani

Next Story »

Hidupnya Tak Semanis Gula Aren yang Dijajakan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *