Memaknai Paskah Secara Ekologis

Oleh Elvan De Porres

Perayaan Paskah telah bergema dan menaungi kehidupan umat Kristiani. Paskah mengguratkan kebangkitan Kristus sebagai bentuk kemenangan atas maut. Umat manusia larut dalam keselamatan oleh kemenangan Kristus itu. Manusia yang fana, berlumurkan gamis kerapuhan dibebaskan dari belenggu dosa. Sudah barang tentu terdapat beragam refleksi dan juga ulasan teologis tentang makna Paskah ini. Pada intinya, kebangkitan Kristus dari alam maut merupakan sebuah kemenangan bersama; keterlepasan dari gerowong dosa, kecemasan, penindasan, dan juga ketidakadilan.

Elvan De Porres,  Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Wisma St. Rafael, Ledalero

Elvan De Porres, Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Wisma St. Rafael, Ledalero

Perayaan Keterlibatan

Paskah bukan hanya pesta kemenangan Kristus, melainkan juga sebuah syukur yang menuntut keterlibatan bersama. Konteks Paskah berarti manusia bangkit bersama Kristus. Kristus bangkit dari alam maut; manusia bangkit dari jurang keberdosaannya. Di sinilah letak makna perayaan bersama itu. Ada partisipasi dalam diri manusia. Dengan demikian, konsekuensi logisnya ialah perayaan bersama (Kristus) mengandung suatu ajakan luhur untuk pembenahan diri.

Ini membawa manusia keluar dari “keakuannya” dan menjadi lebih terlibat secara sosial. Bangkit bersama Kristus mengindikasikan adanya pembongkaran kubur egoisme diri sebagai pangkal pelbagai macam permasalahan hidup. Paskah mengajak manusia untuk bangkit secara sosial. Pada tataran ini, kepedulian kepada sesama manusia dan alam ciptaan menjadi aspek tak terbantahkan.

Tulisan ini menekankan makna Paskah dalam konteks ekologi. Maksudnya, Paskah mengajak manusia untuk terlepas dari jerusi dosa perusakan alam lingkungan sekitar kehidupannya. Manusia diimbau untuk bangkit dari ketaksadaran akan pentingnya integritas diri terhadap komponen alam ciptaan. Bahwasannya, manusia dan alam lingkungan merupakan suatu kesatuan; sebuah harmoni yang memberi kontur keutuhan karya penciptaan.

Masalah Ekologi sebagai Keprihatinan Bersama

Tak dapat dimungkiri bahwa persoalan ekologi merupakan sesuatu yang telah mewabah dan memengaruhi beragam sendi kehidupan manusia. Dewasa ini, tak jarang ditemui masalah-masalah seputar kehidupan ekologi itu. Dampaknya pun tak tanggung-tanggung datang menerpa. Efek negatif dari perusakan alam ciptaan itu tentu menggugat eksistensi manusia sendiri. Eksploitasi terhadap alam, semisal pertambangan liar, penebangan hutan, dan pengeboman ikan; krisis air bersih; sampah yang bertebaran secara serampangan, juga beragam permasalahan lainnya merupakan segelintir persoalan yang marak terjadi di wilayah kita NTT ini. Belum lagi eksploitasi tempat-tempat tertentu untuk kepentingan politis-parsial.

Berkenaan dengan ini, Bob Doppelt (2010) dalam The Power of Sustainable Thinking menyebut tindakan tersebut sebagai take-make-waste. Maksudnya, manusia mengambil sumber daya alam seperti mineral, ikan, kayu, batubara, minyak, gas, kemudian memakainya untuk diolah menjadi barang dan jasa. Namun, efek sampingnya tertera nyata dalam limbah yang dilepas ke alam, seperti gas efek rumah kaca, limbah pencemaran air dan tanah, dan limbah berbahaya lainnya. Dapat dikatakan bahwa kepentingan industri seringkali tak memedulikan prinsip ekologi.

Dalam ensikliknya Centesimus Annus (1991) artikel 31, Paus Yohanes Paulus II melihat perusakkan lingkungan hidup itu sebagai dampak buruk dari konsumerisme manusia. Manusia menyerap sumber-sumber daya bumi tanpa terkendali, berlebihan, dan tak teratur. Di sini, manusia melakukan pengingkaran akan status quo-nya sebagai kerabat kerja Allah yang seharusnya memanfaatkan dan mengembangkan alam untuk kebutuhannya. Konsumerisme merupakan kebiasaan memenuhi keinginan diri secara berlebihan, sebuah eksploitasi besar-besaran dan tentunya mengandung unsur kenikmatan (pleasure principle). Ini sungguh merupakan suatu keprihatian bersama dan mesti ada kesadaran kolektif untuk memeranginya.

Paskah yang Ekologis

Semangat kebangkitan Kristus hendaknya memberikan nuansa baru dalam konteks kesadaran ekologis termaksud. Sejatinya Paskah Kristus mengubah kematian menjadi kehidupan. Manusia sungguh diperbaharui. Lalu, tanggapan manusia dalam konteks ini ialah melakukan reformasi diri, revitalisasi nilai-nilai kehidupan, dan konsientisasi (penyadaran) akan pentingnya eksistensi alam lingkungan tersebut. Pada hakikatnya, alam lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia dan juga karya Allah yang mesti dibebaskan dari berbagai aktus destruktif.

Paskah yang ekologis mengguratkan makna kebangkitan dan pembebasan dengan menaruh konsentrasi pada kelestarian alam. Manusia mesti memberikan kebangkitan (bukan kematian) kepada komponen lingkungan hidup supaya bisa bertumbuh dan berkembang. Manusia membawa kemenangan demi terciptanya keselarasan dan keseimbangan ekosistem alam itu (aspek homeostatis). Terdapat kenyamanan dan keselamatan di dalam diri alam ciptaan. Paskah sebagai kemenangan Kristus, juga kemenangan semua umat beriman akan menjadi lebih bermakna apabila kemenangan itu turut pula dirasakan alam ciptaan. Ini berarti manusia tidak hanya dibebaskan oleh Kristus tetapi juga serentak membebaskan diri sendiri dari belenggu dosanya; konsumerisme, eksploitasi, dan beragam jenis perusakkan ekosistem alam.

Paskah yang ekologis menandakan adanya pertalian khusus antara manusia dan alam lingkungan. Ini karena berbicara tentang ekologi berarti berbicara mengenai relasi antara manusia dan lingkungan kehidupannya. Terdapat jalinan intim dalam relasi itu sebab sejarah manusia tak pernah lepas dari keterikatannya dengan alam lingkungan.

Kebangkitan Kolektif

Pertama, individu manusia bangkit dari dirinya sendiri supaya memerhatikan keadaan lingkungan sekitar kehidupannya, seperti menanamkan prinsip membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghijauan kecil-kecilan, mengonsumsi air secukupnya, memanfaatkan hasil alam secara wajar dan pada porsinya.

Kedua, kebangkitan kolektif di dalam diri masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan kerja bakti merupakan aplikasi praktis yang sering dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap alam itu.

Ketiga, lembaga-lembaga agama memainkan peranan penting dalam menggerakkan kesadaran umatnya. Adanya berbagai macam gerakan dari kaum religius yang mendukung kelestarian alam patut diapresiasi dan didukung penuh. Keempat, pemerintah sebagai stake holder dalam pengelolaan sumber daya alam mesti bijaksana dan cermat melihat setiap eksplorasi terhadap alam lingkungan.

Kepentingan rakyat dan kelestarian lingkungan merupakan keutamaan, bukan geliat para investor yang barangkali hanya ingin meraup keuntungan sepihak. Selain itu, pemerintah dituntut untuk lebih tegas menangani gejala-gejala buruk, semisal pembuangan sampah secara sembarangan, penumpukkan sampah berlebihan, penebangan liar, pengeboman ikan yang merusak ekosistem laut. Pemerintah juga mesti mampu membaca tanda-tanda zaman dengan melakukan antisipasi terhadap fenomena-fenomena yang berpotensi pada dampak buruk berkelanjutan, semisal masalah abrasi dan krisis air bersih. Namun, harus tetap diingat bahwa ini merupakan kebangkitan (baca: kesadaran) kolektif sehingga segala peran yang dibicarakan itu merupakan tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, mari memaknai Paskah dengan membentuk kesadaran baru akan pentingnya keberadaan alam lingkungan itu. Dia ada di sekitar kehidupan kita.*

Mamon di Mata Tuhan: Catatan Kecil Jelang Semana Santa

Next Story »

Menjembatani “Keagamaan Populer”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *