Lucia Fernandez

Melantunkan Ovos, Meratapi Pesan Yesus

Ovos Omnes, Quit Transitis Perviam. Attendite. Et Videte Si Est Dolor.

“ Wahai kamu sekalian yang melintasi jalan ini, pandanglah dan lihatlah. Adakah kau lihat kesedihan yang sedang Ku alami? “

PROSESI Jumat Agung yang biasa dilaksanakan saat perayaan Paskah baik di Konga, Wure, maupun Larantuka, selalu menyertakan petugas Ovos. Lantunan lagu Ovos dari para perempuan ini selalu dibawakan saat berada di gereja maupun Armida (perhentian saat prosesi). Bagaimana kesan menjadi seorang petugas Ovos yang selama puluhan tahun diperankan Lucia Fernandez bersama adik dan anaknya?

Sebelum prosesi dimulai, seorang perempuan berjubah biru memasuki gereja. Tangannya menggenggam sebuah Ece Homo, lukisan wajah Yesus bermahkota duri yang tergulung. Seorang petugas Konfreria mengusung sebuah bangku kayu kecil yang dipergunakan sebagai tumpuan berdiri.

Setelah siap, perempuan tersebut mulai menyanyi melantunkan syair demi syair lagu Ovos seraya perlahan membuka lukisan yang dipegang dengan kedua tangannya. Lukisan dibuka perlahan dan terbukalah semua, saat lagu hendak usai dinyanyikan. Di saat menyanyi, badannya digerakan ke kiri dan ke kanan memamerkan lukisan tersebut sementara tangan satunya membuat gerakan mengusap wajah Yesus di lukisan tersebut.

Ujud Khusus

Menjadi petugas Ovos bagi Lucia Fernandez merupakan perwujudan dari nadzar pribadi. Ada ujud atau permintaan yang dirasakan terkabul dengan turut mengambil bagian dalam prosesi Jumat Agung. Selama 25 tahun lebih menjadi petugas Ovos tidak membuat Sia–sapaan akrabnya– merasa bosan dan lelah.

Lucia Fernandez, petugas Ovos di Larantuka yang sudah menjalankan tugas selama 25 tahun. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Lucia Fernandez, petugas Ovos di Larantuka yang sudah menjalankan tugas selama 25 tahun. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

“Saya melakukan semua ini dengan senang hati. Setiap tahun saya ada niat dan ujud yang disampaikan kepada Tuhan terkait kehidupan keluarga, teristimewa bagi anak-anak saya yang masih sekolah,”ujarnya, baru-baru ini.

Tiap tahun Sia selalu terpilih menjadi petugas Ovos. Hanya tahun lalu saja dirinya tidak ikut karena banyak junior yang medaftar dan dirinya memberikan kesempatan kepada mereka yang baru untuk menjajal kesempatan menjadi petugas Ovos. Bagi perempuan 49 tahun ini, dirinya tidak pernah merasa capek dan lelah. Walau hujan lebat sekali pun, sebut Sia, para petugas Ovos yang kerap disebut perempuan-perempuan Veronika, mereka tetap berjalan terus karena sudah mempunyai niat atau ujud khusus.

Semua tempat Ovos bagi perempuan hitam manis ini sama saja. Mau pembukaan dan penutup di gereja atau di Armida baginya sama saja. Meskipun banyak orang yang berlomba Ovos pertama di gereja karena diperhatikan banyak orang dan disiarkan televisi. Perempuan berwajah bulat ini tidak pernah merasa gugup sebab dirinya terbiasa tampil menyanyi di depan umum.

“Saya biasanya memakai nada dasar F sebab jangkauan suara saya tinggi dan bisa bertahan hingga larut malam. Ini yang membuat saya sering terpilih Ovos di Armida terakhir atau Ovos terakhir di dalam gereja “ sebutnya.

Seleksi

Untuk menjadi petugas Ovos setiap perempuan yang mempunyai keinginan, kata Sia, harus mendaftarkan diri terlebih dahulu ke Konfreria. Setelah mendaftar, peserta dibagi dalam dua wilayah. Wilayah Timur meliputi Kelurahan Lokea sampai Weri sementara wilayah Barat dari Kelurahan Lohayong sampai Waibalun. Tiap tahun setiap wilayah paling banyak 20 orang yang mendaftar.

Sesudahnya baru dilakukan latihan oleh Mestri dan seorang anggota Konfreria. Latihan dilakukan selama empat minggu kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi selama empat kali. Pesertanya diseleksi kualitas suara, artikulasi, mimik wajah, dan cara membawakan Ece Homo, lukisan wajah Yesus. Membawakan Ovos yakni membawakan lagu ratapan, tidak seperti membawakan lagu pop, mimik wajah harus terlihat bersedih. Peserta saat seleksi akhir bergabung dan menyanyi di depan juri hingga terpilih 10 orang.

Tahun lalu, papar ibu dari seorang anak perempuan ini, yang juga menjadi petugas Ovos, diseleksi tim juri dari seksi musik liturgi Paroki Katedral Reinha Rosari. Petugas ini ingin mengubah notasi Ovos, dan menganjurkan agar tarikan suaranya jangan terlalu panjang. Padahal, menurut Sia, mereka sejak dahulu tarikannya dibuat panjang untuk memberi kesempatan mengatur nafas. Konfreria lantas menyampaikan agar petugas Ovos tidak usah mengikuti anjuran tersebut sebab dari dulu Ovos sudah memiliki patokan notasi sendiri.

“Tahun lalu kacau sebab ada perubahan cara melagukannya dan ditambah kekacauan saat prosesi, makanya banyak petugas Ovos salah membawakannya. Dia membuat Ovos dilagukan singkat dan cepat selesai. Ini membuat kami tidak merasa sedih dan menghayati. Tahun ini petugas tersebut sudah tidak terpakai lagi,”ungkap Sia mengenang.

Selama bertugas membawakan Ovos pernah juga ada temannya yang salah melantunkannya tapi hanya beberapa orang saja. Mungkin dia gugup, ada kata-kata yang dia lupa atau dia merasa ada beban. Kalau salah, lagu tidak boleh diulang dan lanjut menyanyi terus. Kalau peziarah dari luar daerah, kata Sia, mereka tidak mengetahui ada kesalahan sementara orang Larantuka pasti tahu dan akan jadi bahan pergunjingan.

Jangan Menangis

Selama dua tahun bertugas melantunkan Ovos, yang paling berkesan bagi perempuan kelahiran 29 November 1966 ini adalah sebagai petugas Ovos terakhir di gereja. Sampai jam 02.00 atau jam 03.00 dini hari, suara saya masih bagus dan bisa stabil. Umat juga masih banyak yang bertahan dan menyaksikannya.

Sebagai pelantun Ovos senior, dirinya merasa sedih dengan adanya peserta yang bersuara jelek tapi terpilih. Sebagai senior, kami sudah bisa menilai siapa yang harusnya terpilih. Dahulu, penilaian oleh juri masih murni. Sia bersama teman lainnya pernah menyampaikan hal ini ke juri.

“Kami punya pengorbanan dan tekun latihan, tapi jika kamu buat begini nanti lihat sendiri saja hasilnya seperti tahun lalu. Tahun 2014 kemarin banyak yang salah dan gugup apalagi dengan adanya kecelakaan di laut saat prosesi. Seharusnya yang belum siap diberi kesempatan latihan dulu dan tahun berikutnya bila sudah bagus baru diberi kesempatan tampil,“ pintanya.

Kalau bisa, imbau Sia, Ketua Konfreria melihat dan memantau hasil kerja Konfreria yang jadi juri supaya hasilnya lebih baik setiap tahunnya. Banyak orang yang berambisi menyanyi di Ovos pertama, sebut Sia, sementara dia dan adiknya tidak mau karena jangkauan suara mereka berdua hingga larut malam pun masih bisa. Ini yang membuat mereka berdua memberikan kesempatan bagi yunior. Tak ada batasan umur menjadi petugas Ovos, yang penting bisa menjaga suara tetap bagus sepanjang malam. Selain dirinya yang paling tua, pernah ada juga peserta yang berumur 51 tahun bahkan ada yang 57 tahun.

Pernah juga, ungkap Sia, satu kali ada seorang laki-laki yang terpilih. Memang dia membawakannya dengan baik tetapi banyak yang protes sebab Ovos seharusnya dibawakan oleh Veronika yang notabene seorang perempuan. Ini hanya terjadi sekali dan sudah tidak pernah terulang kembali. Tahun kemarin dirinya bersama keluarga besar yang berjumlah lima orang tidak bersemangat ikut prosesi. Bukan karena tidak terpilih sebagai Ovos tapi mungkin karena sudah ada firasat akan terjadi kekacauan.

“Kalau kami menghayati arti semua ini, kami bisa menangis. Tapi kami tidak boleh menangis sebab kalau menangis tidak bisa membawakan Ovos dengan baik, “ pungkasnya.

Sehabis melantunkan Ovos para perempuan tersebut berjalan dengan penutup kain hitam seraya menyanyikan Eus secara bergantian dengan Konfreria yang menyanyikan lagu mereka:

Ejus domine , Ejus Salvator Nostre. Populi Facti Sumus.

Absque Patre, Mastre Nostre,Quasi Fiduo.

Seside Corona Capite Nobis. QuiaPeccavimus.

“Oh Tuhan, Oh penyelamat kami. Kami sudah menjadi anak yatim tanpa ayah. Ibu-ibu kami seperti janda. Telah diangkat mahkota dari kepala kami, sebab kami telah berdosa”. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Ketika Armada Jogo Worela Mendarat di Kantu Jebe

Next Story »

Tenun Ikat Lembata Tergerus Roda Jaman

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *