Mamon di Mata Tuhan: Catatan Kecil Jelang Semana Santa

Oleh Charles Beraf

Semana Santa datang lagi. Serupa pada tahun – tahun sebelumnya, ribuan peziarah dari pelbagai belahan bumi bakal datang menyambangi Larantuka – kota yang terkenal kental dengan tradisi Semana Santa itu. Di kota yang tak seberapa besar itu, padatnya peziarah menjadi resiko tahunan yang tak bisa dielak. Penginapan, rumah ibadah dan bahkan laut dan jalanan kota pun disesaki manusia.

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Mereka datang (barangkali) dengan intensi yang jauh dari yang rutin: ziarah suci! Seperti Maria, pelindung kota itu, para peziarah ber-semana santa untuk berdoa, melambungkan intensi devosional dan menimba inspirasi demi sekurang-kurangnya menggapai suatu cara hidup yang saleh, yang dekat dengan Allah.

Namun siapa bisa menyangka bahwa berjubelnya peziarah ke kota Larantuka menyimpan juga godaan yang aduhai? Tentu saja resiko derivatif yang juga tak bisa dielak adalah uang, mamon! Anda bisa bayangkan, berapa milyaran rupiah datang dari pundi – pundi para peziarah? Berapa yang masuk di kantong-kantong para pemilik penginapan, perahu motor, penjual lilin dan sebagainya?

Komodifikasi

Atas nama siarah suci bernama Semana Santa, mamon pun bisa didulang dengan mudah. Pemerintah Kabupaten Flores Timur (dan mungkin juga umat di Keuskupan Larantuka) sudah sejak lama giat mempromosikan Semana Santa sebagai ikon pariwisata andalan di daerah tersebut. Tak cuma promosi an sich, tapi lebih dari itu, sudah tak seharusnya dirahasiakan, bahwa Semana Santa dianggap menjadi momentum berahmat bagi mereka yang hendak ketiban rejeki (pemerintah daerah Flores Timur dan umat di Larantuka). Semana Santa, ikon rohani tersebut, seakan – akan menjadi pelecut yang paling berdaya bagi ekonomi masyarakat lokal.

Hal itu sah-sah saja. Di pelbagai tempat ziarah di dunia ini, perkara mamon serupa retribusi atau sumbangan menjadi hal yang biasa. Dalam kasus ini, mamon bukan sesungguhnya tujuan, tapi konsekuensi dari ziarah. Demi kelangsungan sebuah ikon wisata atau demi hidupnya sebuah suasana ziarah, uang memang amat dibutuhkan.

Namun soal bisa saja terjadi. Ketika ekonomi uang sudah tampak menguat dan merasuki hati dan pikiran orang, maka sebuah ziarah sesuci apa pun bisa berubah menjadi komoditas ekonomi. Bukan tidak mungkin, ziarah pun menjadi serupa mesin uang dan peziarah adalah customer yang beruang, yang harus terus disedot perhatiannya. Dengan lain perkataan, ketika orang sudah mulai dirasuki oleh kepentingan atau urusan ekonomi uang, apa pun bisa diuangkan, termasuk sebuah ziarah suci sekalipun.

Tentunya tidak mengherankan untuk kita mengapa di tengah khusuknya para peziarah yang berdoa, misalnya masih ada juga orang (malah kaum klerus dan biarawan) yang sangat sibuk mengutak-ngatik gadget dan telepon selulernya. Ya, inilah wajah komodifikasi. Dan jika ini sungguh terjadi di Larantuka, Semana Santa (bakalan) tidak menjadi kairos kesalehan, melainkan juga serupa pasar, ia menjadi momentum dalamnya berseliweran aneka kepentingan yang saling berebut perhatian dari para peziarah.

Dalam kasus semacam itu, antara yang sakral dan yang profan menjadi tak berbatas. Dari sisi ziarah suci serupa Semana Santa di Larantuka, praktek komodifikasi tidak lain menjadi sebentuk profanisasi – serupa dalam kisah injil, para pedagang yang memasarkan dagangannya di Bait Allah. Akibatnya jelas, ziarah kehilangan daya tarik, orisinalitasnya.

Komitmen Bersama

Dalam sejarah, praktek komodifikasi memang bukan baru. Ada satu contoh menarik. Adolf Hitler, tokoh utama Nazi di Jerman adalah seorang yang semula Kristen. Dia dibaptis di Gereja Katolik Roma. Awal hidupnya sangat kristiani. Namun tak disangka, ketika beranjak dewasa, Hitler berbelok arah, tidak untuk meninggalkan agamanya, tetapi justru memanfaatkan agama (Nazify) untuk kepentingan politiknya. Agama, baginya, hanyalah alat untuk menggoalkan kepentingan politis yang bercokol dalam partainya, Nazi.

Lain Nazi di Jerman, lain Semana Santa di Larantuka. Kita semua sama sekali tidak mengharapkan jika Semana Santa, tradisi yang memiliki rekam sejarah yang amat panjang itu, kehilangan dayanya, orisinalitasnya. Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, ketika diwawancarai Antara beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa Semana Santa 2015 akan diatur secara tertib menyusul peristiwa mengenaskan pada Semana Santa 2014. Harapan kita, pernyataan bupati ini tidak terutama dalam arti agar Semana Santa tetap terjaga sebagai ‘mesin’ pendongrak ekonomi masyarakat di Larantuka dan sekitarnya, tetapi terutama dalam arti demi memertahankan dan atau mengembalikan orisinalitas nilai Semana Santa sebagai sarana devosional bagi umat kristiani.

Tanpa ada komitmen memertahankan itu, Semana Santa bakalan hanya menjadi sebuah cerita kenangan para peziarah dan umat Keuskupan Larantuka. Patut disadari bahwa di tengah era ekonomi uang, godaan memburu mamon bisa membutakan mata hati siapapun (pemerintah, biarawan, rohaniwan, umat) untuk membedakan manakah yang layak diuangkan dan yang bukan. Jika tanpa komitmen, mamon pun bisa menguasai kita. Kalau ini benar-benar terjadi selama Semana Santa, kita sesungguhnya patut diusir dari ‘rumah Tuhan’, karena, kita, atas nama kekudusan, sedang mengotori hidup kita dengan mamon.

 

Prosesi Jumad Agung, Antara Ziarah dan Pariwisata

Next Story »

Memaknai Paskah Secara Ekologis

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *