Latih 28 Warga Lembata, Migran Care Ciptakan Kader yang Bergerak di Komunitas

Suasana pelatihan penanganan maslah buruh migran yang di gelar Migran Care, di aula hotel Olimpic Lewoleba. Tampak, Bariah salah satu trainer sedang menyampaikan materi. Gbr. diambil Kamis (16/4/2015) (Foto : FBC/Yogi Making)

Suasana pelatihan penanganan maslah buruh migran yang di gelar Migran Care, di aula hotel Olimpic Lewoleba. Tampak, Bariah salah satu trainer sedang menyampaikan materi. Gbr. diambil Kamis (16/4/2015) (Foto : FBC/Yogi Making)

LEWOLEBA, FBC-Migran Care didukung Maju Perempuan Indonesia Untuk Penaggulangan Kemiskinan (MAMPU) dan Australian AID meggelar latihan penanganan masalah buruh migran Indonesia. Pelatihan mengambil tempat di aula hotel Olimpic-Lewoleba, melibatkan 30 peserta yang merupakan warga kelompok dampingan Yayasan Kesehatan Untuk Semua (YKS) dan stakeholder lain di Kabupaten Lembata.

Pelatihan berlangsung sejak, Rabu (15/4/2015) dan akan berakhir pada Jumat (18/4/2015). Training penanganan kasus buruh migran bagi kader-kader potensial mitra MAMPU-Migrant CARE ini diadakan dengan semangat membangun solidaritas dalam mengadvokasi hadirnya perlindungan dan keadilan bagi buruh migran.

Migran Care sebagai Term of Reference (ToR) yang di terimafloresbangkit.com, Kamis (16/4/2015) menjelaskan, pelatihan ini dimaksudkan untuk, membangun kesadaran kader komunitas menggunakan kerangka Hak Asasi Buruh Migran dan mekanisme hukum bagi penyelesaian kasus buruh migran dan anggota keluarganya, mendiskusikan gambaran penangaan dan pendampingan kasus buruh migran, menemukan mekanisme baru penyelesaian kasus buruh migran dari daerah berbasis komunitas, memperkuat semangat kader komunitas untuk melakukan pendampingan kasus pelanggaran hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya.

Lebih jauh dalam kerangka acuan itu Migran Care menulis, tidak dipungkiri kalau buruh migran memberikan kontribusi untuk mendatangkan devisa utnuk negara, namun disisi lain, pengiriman buruh migran ke luar negeri mendatangkan persoalan yang tidak sedikit. Berbagai permasalahan ini langsung dialami oleh buruh migran dan anggota keluarganya yang banyak berada di komunitas pengirim buruh migran.

Migrant CARE mencatat dalam sepuluh tahun (2005-2015), ada 305.208 kasus yang diadvokasi, 289.300 kasus yang dimonitoring, 12.800 orang datang yang berkonsultasi, 3.108 kasus yang ditangani langsung oleh Migrant CARE.

Sementara itu, Walfree sebuah lembaga sosial dunia yang konsen di isu perbudakan mencatat bahwa Indonesia menduduki peringkat 8 dalam percaturan negara pengirim perbudakan, dengan masalah mencapai angka 714.300.

“Berbagai kasus buruh migran selalu berbeda ragam dari waktu kewaktu. Namun tidak ada model masalah yang tidak bisa diurai untuk dicarikan solusinya. Pengalaman Migrant CARE dalam mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya memiliki dinamika yang pasang surut, tidak selalu membahagiakan tapi tidak sedikit kasus-kasus yang sukses kita advokasi,” tulis Migran Care.

Kendati ditemukan banyaknya masalah yang dihadapi buruh migran indonesia dan keluarganya, namun masyarakat belum punya kemampuan untuk mendapatkan menanganan masalah.

Karenanya, berlandaskan data dan pengalaman dalam penanganan Buruh Migran di Indonesia itulah, Migran Care merasa perlu untuk menciptakan kader-kader komunitas di desa sebagai agen untuk menyalurkan informasi terkait alur untuk menjadi seorang buruh migran, hak dan kewajiban serta cara mengatasi masalah jika di temukan buruh migran di negara tujuan.

“Dengan hadirnya kader komunitas, masyarakat tidak saja terpaku dengan perangkat hukum yang ada, dimana sudah menjadi pengetahuan bersama kalau perangkat hukum dan negara ternyata sangat minim dalam menghadirkan keadilan bagi buruh migran dan anggota keluarganya,” kata organisasi yang konsen dengan masalah buruh migran indonesi itu.

Karena sifat dari migrasi yang luas dan lintas batas antar negara, maka diperlukan mekanisme advokasi yang berlaku secara universal dan menggunakan instrumen internasional. Dengan demikian 28 orang yang ikut dalam pelatihan dimaksud akan dibentuk menjadi kader komunitas yang di harapkan dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan prinsip-prinsip hak asasi manusia secara universal.

Pantauan langsung media ini, Kamis (16/4/2015) Migran Care menghadirkan 2 orang trainer, Bariah Musliha. Pelatihan dimaksudnya sedianya dihadiri langsung direktris Migran Care Anis Hidayah, namun karena sebuah alasan teknis, sang direktris terpaksa lebih dahulu meninggalkan Lembata. (Yogi Making)

Tolak Penertiban, DPRD Lembata Usir Sat Pol PP dari Taman Kota

Next Story »

Bulog Siap Beli Beras Petani Manggarai Barat dan Manggarai

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *