Labuan Bajo Rawan Penyebaran HIV-AIDS

LABUAN BAJO, FBC- Berdasarkan data hingga akhir tahun 2014, total pasien yang terperiksa di VCT Teratai Labuan Bajo sebanyak 85 orang. Dari jumlah tersebut, teridentifikasi pengidap HIV-AIDS berjumlah 6 orang.

Selanjutnya, pada tiga bulan pertama tahun 2015 dari 59 pasien yang terperiksa ditemukan  5 orang teridentifikasi HIV-AIDS. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat penyebaran penyakit mematikan itu sudah cukup mengkhawatirkan. Karena itu berbagai upaya nyata untukpenanggulangan HIV/AIDS perlu segera dilakukan.

Salah satu aksi kampanye penanggulangan HIV-AIDS di Labuan Bajo beberapa waktu lalu. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Salah satu aksi kampanye penanggulangan HIV-AIDS di Labuan Bajo beberapa waktu lalu. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Selain melalui kampanye media, peraturan daerah, pelayanan kesehatan dan pendampingan maupun berbagai pelatihan demi penguatan kapasitas para kader atau aktivis HIV-AIDS. Langkah-langkah konkrit perlu dilakukan mengingat, epidemi penyebaran virus HIV/AIDS di Manggarai Barat bukan hanya persoalan kesehatan semata tetapi juga merupakan persoalan sosial, ekonomi dan kemanusian.

Pelaksana Tugas Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) Manggarai Barat Benediktus Banu mengemukakan hal itu dalam sebuah kegiatan pelatihan bagi puluhan karyawan hotel, pub, karoke serta panti pijat tradisional di Labuan Bajo belum lama ini.

Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya penanggulangan HIV-AIDS. Menurut Banu, pelatihan menjadi sangat penting demi membangun kesadaran terhadap bahaya HIV-AIDS serta melindungi diri dari sendiri, anggota keluarga dan di tempat kerja masing-masing.

Sementara itu, selaku Koordinator Program PMTS LBT Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Muhammad Yusuf memberikan gambaran awal perihal konsep dan kebijakanprogram pencegahan HIV-AIDS melalui transmisi seksual dengan keterlibatan pub dankaraoke serta hotel.

Ia memaparkan hasil temuan epidemi penyebaran secara umum di tingkat nasional, tantangan-tantangan yang dihadapi serta kasus-kasus kongkret yang terjadi di Manggarai Barat secara khusus di Labuan Bajo.

Disebutkan, secara nasional, epidemi HIV-AIDS di Indonesia terkonsentrasi pada populasi kunci, kecuali di Tanah Papua dimana epidemi sudah pada ‘general population’. HIV prevalence di Indonesia adalah 0.4 persen, Tanah Papua 2.3 persen dengan jumlah orang dengan HIV-AIDS diestimasi sebanyak 590 ribu orang.

Dalam konteks Manggarai Barat, ia meminta perlu ada upaya antisipatif sekaligus pelibatan semua elemen agarsecara bersama menanggulangi HIV-AIDS.

Untuk mewujudkan upaya penanggulangan penyakit HIV-AIDS maka perlu menjadikan pihak manajemen hotel, pub, karoke dan panti pijat sebagai agen-agen utama yang dapat memberikan informasi sekaligus unjung tombak pencegah HIV dan AIDS di kota Labuan Bajo dan sekitarnya.

Apalagi para karyawanan hotel, pub, karoke dan pitrat adalah orang-orang mereka yang berhadapan langsung dengan para tamu. Mereka mengetahui banyak hal permintaan para tamu. Salah satu permintaan tamu yang selalu adalah tempat-tempat atau bahkan hotspot PSK. Karenanya, para karyawan hotel, pub, karoke dan pengelola panti pijat berperan penting sebagai agen yang memberikan informasi dan sekaligus aktor pencegahan HIV dan AIDS.

Muhammad Yusuf menyebutkan, terdapat tiga fakta utama terkait IMS atau sebab awal terjangkitnya virus HIV-AIDS, yakni memiliki banyak pasangan, pemakaian antibiotik tidak dapat melindungi diri dari ims dan HIV/AIDS dan IMS merupakan pintu masuknya HIV/AIDS.

Ia menjelaskan bahwa HIV adalah virus yang membunuh sel darah putih (CD4) sistem kekebalan di dalam tubuh. Sel darah putih berfungsi membantu melawan infeksi dan penyakit yang masuk ke dalam tubuh sedangkan AIDS terjadi setelah virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuhnya. Ketika sistem kekebalan tubuh seseorang sudah rusak, maka tubuh akan mudah terserang penyakit dan bahkan dapat meninggal dunia.

Sedangkan medium penularan HIV-AIDS dapat melalui darah, cairan vagina, cairan sperma dan air susu ibu. Berdasarkan data yang dihimpun sebagian besar pasien yang terjangkit HIV-AIDS adalah melalui hubungan seks yang tidak aman atau karena tidak menggunakan alat-alat kontrasepsi seperti kondom.

Selain itu, perlu mewujudkan keluarga yang sehat dengan menjaga kesetiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga, menjaga hubungan dengan satu pasangan saja atau tidak gonta ganti pasangan, melakukan hubungan seksual secara sehat yakni dengan menggunakan kondom,pemeriksaan kesehatan secara rutin sekurang-kurangnya tiga bulan sekali bagimasyarakat umum dan bagi mereka yang sudah terjangkit perlu memeriksakan diri secara rutin setiap minggu sekali. (Kornelius Rahalaka)

Warga Binaan Lapas Ikut Ujian Nasional

Next Story »

Paskalis Boli Sabon Ketua Lamaholot Bali

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *