Konjen Amerika Jaring Aspirasi dari Wartawan

Foto Bersama Konjen Amerika Serikat dari Surabaya dengan para wartawan di Manggarai Timur.

Foto Bersama Konjen Amerika Serikat dari Surabaya dengan para wartawan di Manggarai Timur.

BORONG, FBC-Menjadi kehormatan bagi jurnalis lokal di wilayah Manggarai Timur mendapat kunjungan dari Konjen Amerika Serikat di Surabaya, Selasa (14/4/2015).

Kunjungan yang syarat nuansa persaudaraan ini bertujuan menjaring aspirasi dari para jurnalis seputar isu-isu politik, ekonomi dan sosial kemasyarakatan di wilayah Manggarai Timur.

Isu strategis tersebut menjadi materi dan refleksi bagi Konjen Amerika Serikat untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan selanjutnya. Terutama berkaitan dengan penguatan basis masyarakat lokal agar dapat mengaktualisasi potensi wilayah secara baik.

Joanne Cossitt dan Charly Raya Konjen Amerika Serikat kepada wartawan menyebutkan alasan harus bertemu wartawan lokal karena evaluasi, aspirasi dan masukan dari wartawan lebih obyektif dan proporsional terhadap isu-isu strategis yang berkembang di tengah masyarakat.

Meski demkian Konjen Amerika tetap membutuhkan informasi aktual dari pemerintah setempat sebagai masukan posotip sekaligus bahan perbandingannya. Dua informasi dari sumber berbeda, jelas Joanne menjadi masukan dan analisis selanjutnya sehingga pendekatan dan pendampingannya menjawabi kebutuhan ril sesuai isu yang berkembang tersebut.

Charly menyebutkan, Flores Barat menjadi daerah target karena pertimbangan teknis dalam pengembangan dan pemberdayaanya. Karena itu Konjem Amerika menyisir wilayah Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Isu yang berkembang di wilayah itu sebagai masukan penting agar operasionalisasi kegiatan yang bakal dilakukan mengacu pada data dan sumber awal tersebut.
“Kami merasa perlu mengetahui data dan informasi awal agar orientasi legiatan menyentuh masyarakatnya,” ujar Charly.

Joanne menjelaskan, Konjen Amerika Serikat memiliki orienas dan kepedulian terhadap potensi dan isu-isu strategis kemasyarakatan baik bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup. Sejauh ini sudah hampir menjangkau seluruh wilayah propinsi yang ada di Indonesia. Masing-masing propinsi memiliki titik sasar pengembangan dan pendampingan berdasarkan realitas sosial yang terjadi di tenah masyarakat.

” Isu lingkungan dan pertambangan menjadi karakter pendampingan di beberapa daerah,” katanya.
Dalam konteks wilayah Manggarai Timur, jelas Markus Makur, Albert Haryanto, Fansi Runggat menyebutkan ada beberapa isu strategis yang diperhatikan.

Secara aktual persoalan sosial kemasyarakatan sudah ditangani pemerintah melalui program dan kegiatannya. Misalnya, sebut mereka dalam bidang infrastruktur menjadi perhatian serius sejak Manggarai Toimur otonom 23 Nopember 2007 lalu. Indikatornya dapat terlihat dari menyebarnya sektor pembangunan di semua wilayah setempat. Hanya saja harus diakui secara kwantitas bisa dipertanggungjawabkan. Artinya kegiatan menyebar di tengah masyarakat tetapi dari segi kwalitas perlu perencanaan detail agar apa yang diprioroitaskan itu menjawabi kebutuhan masyarakat.

Pada bidang kelautan dan perikanan, pemerintah memberi bantuan perangkat dan sarana tangkap ikan kepada nelayan sudah cukup. Anehnya ikan di wilayah setempat masih didatangkan dari luar daerah. Hal ini membuktikan ada hal yang tidak beres yang harus dibenahi sehingga kelompok sasaran mendapat dampak dari bantuan itu.

Pada bidang pertanian budidaya jagung dari pemerintah belum memikirkan bantuan sampai pada tingkat pengolahan pasca panen . Terutama pemasaran terhadap produk jagung itu sendiri. Bayangkan saja sekali panen jagung mencapai ratusan ton tetapi sulit dipasrkan secara baik sesuai harga yang wajar.

“Kehidupan persaudaraan dan harmonisasi antar sesama warga sangat bagus. Hal itu karena menguatkan basis peradaban budaya yang memadai,” jelas Markus.

Menurut Markus, sektor pariwisata, budaya dan lingkungan hidup belum mendapat perhatian. Akibatnya banyak potensi budaya yang masih terkubur. Kecuali ini media lokal tetap mempublikasikannya agar peradaban itu dihidupkan. Lebih jauh dari itu kearifan lokal berupa butir-butir peradaban perlu dibukukan agar sifatnya bestari dan terwariskan dari generasi ke generasi.

“Terkait pertambangan ada benturan antara pihak gereja dengan pemerintah. Hal itu sebenarnya perlu pemahaman yang komplit. Sebab! Di satu sisi pemerintah punya landasan hukum untuk memberi izin kuasa pertambangan. Di sisi lain rakyat atau pemangku adat dan gereja punya kapasitas dan hak-hak yang melekat terkait pertambangan itu. Karena itu soal tambang perlu garis demarkasi yang tegas apakah perlu tambang atau tidak!” Saran wartawan lain.

Tawarkan Investasi

Pada kesempatan bertatap muka dengan pemerintah daerah Manggarai Timur pihak, Konjen Amerika Serikat menawarkan investasi sebesar  600.000 juta Dollar. Dana tersebut untuk mengembangkan tanaman jambu mete. Hanya saja lahan yang menjadi fokus kegiatan harus memiliki legalitas terutama status tanah yang telah bersertifikat. Produktivitas jambu mete mencapi hasil panen yang memadai.

Menyikapi tawaran ini, Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si menegaskan tawaran tersebut ditanggapi secara seius. Hanya saja butuh diskusi lanjutan agar efektif dan berdayaguna.

Untuk diketahui tanaman jambu mete pernah dikembangkan di wilayah Matim. Namun yang tertinggal hanya pohonnya saja. Sedangkan produksi panenannya cendrung menurun. Gairah petani pun menurun karena pemasaran cendrung merosot.

Laporan kontributor FBC Matim Kanis Lina Bana

Pembenahan Birokrasi dan Pertanian Harus Jadi Fokus Pembangunan Manggarai

Next Story »

Tidak Ada SMP yang Selenggarakan UN Online

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *