Komodo Pota, Nasibmu Kini

Oleh: Kanis Lina Bana

Seandainya almarhum, Rofino Kant masih hidup pasti cucuran air matanya bakal kering meratapi nasib Komodo Pota di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Batapa tidak, kadal raksasa yang unik, khas dan menarik ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat dan warga sekitar. Populasinya mulai tidak nyaman. Eksistensinya saban hari kian terancam.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Ada apa dengannya? Sejujurnya komodo Pota sedang dibelit problem serius. Jika tidak diperhatikan secara serius, maka cepat atau lambat komodo Pota bakal punah. Yang bakal tertinggal hanya nama. Kita pun hanya bisa mengelus dada sambil menyimpan luka. Kita, tentunya, tidak ingin komunitas populasi ini seperti hidup enggan mati tak mau. “Jangan ah!”

Sedari awal almarhum Rofino Kant, wartawan yang sudah makan asam garam di bidang jurnalistik dan lingkungan hidup ini selalu memperjuangkan keselamatan binatang ordo omnivora yang oleh masyarakat setempat dinamakan ora. Sudah jauh melangkah ia memberi ruang promosi melalui publikasi baik di media nasional maupun internasional. Tujuannya jelas, agar komodo Pota yang dulunya dianggap hama berubah wajah menjadi binatang mendulang rupiah. Aset yang mendatangkan dolar.

Keberpihakan terhadap komodo Pota ini telah almarhum Rofino Kant, tunjukkan jauh sebelum Manggarai Timur jadi Kabupaten definitip. Ia terus bersuara lantang, menggemah hingga komodo Pota menjadi tenar menembus sekat-sekat informasi. Dampak konkretnya, wisatawan asing mulai melirik Pota. Mereka datang menyaksikan keunikan binatang itu. Tahun ini saja tercatat sudah 214 wisatawan asing yang datang ke Pota, tidak terhitung wisatawan domestik.

Panggilan mencetuswartakan eksistensi binatang raksasa jenis reptil itu membuat pemerintah memrioritaskan perhatian dengan menjadikan komodo Pota sebagai destinasi wisata. Menjaga populasi dan ekosistemnya agar awet bestari, berdayaguna sehingga aset itu membawa harapan hidup bagi warganya.

Namun seiring rotasi waktu, kini komodo Pota terkesan kurang terawat. Sejauh hasil pantauan penulis di lokasi belum lama ini ditemukan dua ancaman sangat serius yang sedang menderah populasi ini. Pertama, alam lingkungan di mana terdapat jalur jalan poros utara yang membela hutan habitatnya. Akibatnya ekosistem dan sirkulasi lingkungan habitat terganggu. Tak pelak, binatang bersisik kuning keemasan dengan postur tubuh langsing ini menjadi korban karena ditabrak kendaraan. Tak jarang pula manusia turut jadi korban karena saat melintasi jalan itu mereka berpapasan dengan komodo. Lantaran kaget dan takut, penumpang ojek jatuh terpelanting ke tanah.

Kedua, keterbatasan persediaan pakan. Memang pemerintah daerah pernah mengalokasi anggaran makanan untuk binatang tersebut. Namun alokasi dana tidak berkesinambungan sehingga perrsediaan pakan terbatas. Apalagi jenis makanan yang dikonsumsi habitat ordo reptil ini adalah daging kambing, ayam atau hewan berdarah lainnya. Tidak heran lantaran terdesak mencari makan komodo menerobos masuk kampung demi mempertahankan hidupnya. Akibatnya binatang tak berdosa ini ada yang tewas di ujung belati warga karena memangsa ternak piaraan. Sebab bila komodo memangsa hewan piaraan tidak mengenal ampun. Babat dan habiskan. Hewan satu kandang pun bisa dalam sekejap sudah lenyap di perut komodo.

Satu Habitat Empat Lokasi

Populasi komodo yang lazim disebut masyarakat setempat buaya darat ini tersebar di empat tempat berbeda yakni, Watu Pajung, Nanga Baras, Nampar Sepang dan Perisai Pota. Dari empat destinasi tersebut, populasi paling banyak terdapat di Watu Pajung.

Mengapa? Karena iklim hutan belukarnya di tempat itu masih asli. Belum disentuh masyarakat sebagai lahan garapan. Ekosistemnya masih utuh dengan teksktur tanah dilumuri karang berongga, bertebing dan tak jauh dari bibir pantai. Gua-gua batu karang jadi tempat nyaman mereka berlindung di sela-sela lelah mencari makan di bibir pantai. Biasanya mereka mencari telur-telur penyu di tumpukan pasir. Daya penciuman yang tajam memudahkan binatang itu muda melacak tempat penyu bertelur.

Sementara destinasi komodo di tiga tempat lainnya kurang bersahabat dengan alam lingkungannya. Alam lingkungan hidupnya sudah mulai diterobos warga sebagai lahan garapan pertanian. Mereka menjadi liar dan menjelajah lingkungan sekitar guna mempertahankan hidupnya. Komodo yang tidak mengancam ternak warga, diusir pulang ke habitatnya. Tetapi yang memangsa ternak piaraan tak jarang dihabisi. Atau dilukai sambil mengusir kembali ke hutan alam hidupnya.

Meski terancam, populasinya masih dianggap cukup banyak. Sebab di empat destinasi mereka hidup mudah kita jumpai. Berbekal daging kambing atau ayam yang masih berlumuran darah memudahkan kita bisa menyaksikannya. Asalkan kita tahu jam-jam mereka keluar dari tempat persembunyiannya.

Kekhasan komodo Pota terletak pada ukuran tubuh yang ramping dengan warnah kulit bersisik kuning keemasan. Keunikkan ini menjadi khas jika dibandingkan dengan komodo Labuan Bajo yang bertubuh gempal, tambun, padat berisi dengan sisik kulit coklat kehitaman.

DNA Identik Komodo Labuan Bajo

Sejak publikasi komodo Pota meluas, rasa penasaran dari berbagai kalangan semakin bergelora. Mulai dari aktivis lingkungan hidup, wisatawan asing hingga ilmuwan. Meski kalah tenar dari Komodo Labuan Bajo yang sudah masuk tujuh keajaiban dunia, tetapi komodo Pota tidak bisa dianggap sebelah mata.

Godaan awal mulai mencubit rasa ingin tahu sejak diwartapublikan-bersifat informatif oleh penelitian Walter Auffenberg dan Putra Sastrawan. Memang saat itu, sekitar tahun 1969, konsentrasi penelitian berada di komodo Labuan Bajo. Selama 11 bulan kedua peneliti ini tinggal dan ada bersama di tengah-tengah komunitas buaya darat ini. Saban hari mereka bergumul dengan fokus penelitian pada perilaku makan, reproduksi dan temperatur tubuh. Mereka berhasil menagkap dan menandai sekitar 50-an ekor komodo.

Selama limit waktu berada di komodo itulah, insting peneliti Walter Auffenberg dan Putra Sastrawan terusik terkait informasi keberadaan komunitas komodo Pota-Sambi Rampas. Namun mereka tidak mengakses lebih jauh karena locus dan pusat perhatian penelitian hanya komodo Labuan Bajo. Tetapi kabar adanya komodo Pota mulai tersiar ke publik dan menjadi perhatian.

Innformasi awal dari Walter Auffenberg dan Putra Sastrawan itulah mendorong Claudio Ciofi, seorang peneliti asal Amerika Serikat datang meneliti komodo Pota. Ada enam ekor komodo yang berhasil ditangkap sebagai sample penelitiannya.

Hasil penelitian tersebut kemudian Claudio Ciofi mengeluarkan rekomendasi yang cukup mencengangkan. Pertama, berdasarkan pemeriksaan darah dan genetikanya ditemukan bahwa DNA , struktur tubuh dan karakter hidup komodo Pota identik dengan komodo Labuan Bajo. Berdasarkan temuan itu disimpulkan asal-muasal komodo Pota adalah hasil penyebaran dan pengembangbiakkan dari komodo Labuan Bajo. Kesimpulan itu didukung data sekunder non ilmiah yang menyebutkan ada jejak penyeberangan komodo itu sendiri. Bahwa pada jutaan tahun silam komodo Labuan Bajo melakukan ekspansi ke Pota dan beberapa daerah lain. Mereka menyeberang melalui laut. Pota menjadi tempat strategis karena alam lingkungan dan ekosistemnya sangat cocok dengan karaktek binatang itu.

Namun mereka mengalami perubahan akibat faktor lingkungan, tetapi secara substansial binatang itu survive dengan alam Pota. Dalam proses selanjutnya, ketika evolusi dan reproduksi terjadi hewan tersebut mengalami perubahan akibat sosialisasi terhadap lingkungan. Perubahan terjadi pada volume tubuh yang lebih ramping dan warnah kulit kuning keemasan.

Selamatkan Sekarang Juga

Sifat alamiah spesies biawak komodo pada umumnya rentan terhadap kepunahan. Kepunahan dapat terjadi apabila habitat dan ekosistem lingkungannya terganggu.

Meski belum sampai titik kronis, harus diakui komodo Pota sedang terbelit dalam lingkaran garis batas antara menuju kepunahan. Indikatornya dapat terlihat pada kwalitas populasinya yang sedang berada dalam zona ancaman karena alam lingkungan terusik dan pakan terbatas. Di sisi lain pemerintah sedang mengidolakan komodo Pota sebagai aset yang mendatangkan keuntungan daerah dan masyarakat sekitarnya. Pada titik ini, tidak ada pilihan lain, ” selamatkan komodo bersama alam habitatnya!”

Memang Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si sudah menyiapkan seperangkat regulasi hukum guna menyelamatkan komodo Pota. Namun pertanyaan kritisnya, ” sampai kapan akselerasi terhadap komodo Pota dapat diwujud-aktualkan?” Apakah potensi komodo Pota hanya sebatas digadang-gadangi ?” Tentu tidak. Langkah konkret menyelamatkan populasi komodo Pota bukan nanti atau kami catat, tetapi sekarang juga hic at nunch. Antara lain, pertama konservasi. Upaya ini dilakukan secara komprehensif, mendalam dan berkelanjutan dengan melibatkan sejumlah stakeholders terkait. Kedua, alokasi anggaran yang representatif setiap tahun sehingga persedian pakan selalu tercukupi. Ketiga, penyuluhan bagi masyarakat sekitar agar memiliki konsep pemahaman yang sama, baik dan benar sehingga keselamatan komodo Pota menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian komodo Pota menjadi milik kita, aset kita bersama. Keempat, promosi. Kegiatan promosi dapat dilakukan beragam bentuk, diantaranya melibatkan jurnalis agar mempublikasikannya secara luas.

Ya…Komodo Pota adalah milik kita. Aset masa depan kita bersama. Medium yang dapat mendatangkan uang. Sebagaimana lazimnya aset bersama maka upaya melestarikan harus menjadi tanggung jawab bersama pula. Jangan main-main. Selamatkan reptil ini. Jika tidak maka kepunahan bukan lagi ancaman tapi benar-benar terjadi.

Kita tidak ingin hal itu terjadi. Kita semua terpanggil untuk selamatkan kekayaan itu sekarang juga agar harapan dan kenyataan jadi sejoli yang akur. Jangan tunda-tunda lagi. Lebih cepat, lebih baik. Mudah-mudahan…!!!

Guru Masih Berdiri di Kelas

Next Story »

Lembata, Tiga Kisah Tiga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *