Raja Larantuka Don Andre Martinus, DVG:

‘Klerus Tak Boleh Terlalu Jauh Mencampuri Devosi’

Devosi Semana Santa di kota Reinha, Larantuka, tentu tak bisa dipisahkan dari Kerajaan Larantuka. Segala ritual yang sejak dahulu diwariskan termasuk prosesi Jumat Agung, mengarak peti Tuan Ana (Tuhan Yesus), dan patung Tuan Ma (Bunda Maria) keliling kota Larantuka, di bawah kendali raja dibantu Konfreria dan suku-suku Semana.

UNTUK mengetahui sejarah dan sejauh mana ritual devosi ini berlangsung dan tetap bertahan, saya berkesempatan berbincang dengan Raja Larantuka Don Andre Martinus, DVG (Diaz Viera de Godinho), baru-baru ini, di kediaman sederhananya di kelurahan Sarotari Timur, Larantuka.

Raja Don Tinus, sapaan lelaki kelahiran Larantuka, 23 Juli 1947 ini, menyelesaikan pendidikan sarjana teknik sipil di lembaga pendidikan milik Kementrian Pekerjaan Umum, dan sarjana hukum di Universitas Gajayana Malang. Bagaimana penjelasan suami dari Maria Rony Naema Nanggi Ang dan ayah delapan orang anak ini, mengenai ritual Semana Santa? Berikut petikannya:

Kapan tepatnya patung Tuan Ma berada di kota Larantuka?

Bukti Tuan Ma datang di Larantuka secara tertulis memang tidak ada, sebab semua arsip dibawa Belanda ke Dili (Timor Leste). Yang beredar sekarang ada beberapa versi ihwal keberadaan patung Tuan Ma di Larantuka. Ada yang mengatakan patung ini terdampar dan ditemukan di Pantai Ae Kongga. Dan, ada yang mengatakan terdampar di Pulau Konga. Yang lebih mendekati kebenaran adalah patung ini terdampar di Pantai Ae Kongga. Alasannya, di situ ada suatu peristiwa di mana Dia menunjukan jati diri-Nya dengan menuliskan nama-Nya memakai kulit siput di pasir dengan nama Santa Maria Reinha Rosari.

Don Andre Martinus, DVG , raja Larantuka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Don Andre Martinus, DVG , raja Larantuka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Sejak abad ke-15 memang ditemukan oleh seorang bernama Resi bukan Resiona karena mereka ada empat bersaudara bernama Tukang, Geling, Resi, dan Lado. Anak ketiga bernama Resi ini yang menemukannya dan kemudian melapor ke Kelake Kabelen Lewo yang pada saat itu merupakan seorang raja.

Raja bersama ketua-ketua kampung lantas ke pantai dan melihat seorang perempuan seperti bidadari. Resi mengatakan kepada raja dan ketua kampung dan menuliskannya di pasir, saya tidak tahu itu apa. Waktu itu Kelake Kabelen Lewo bersama ketua kampung mengangkat patung itu dan meletakannya di Korke Bale (rumah adat) dan tulisan tersebut disusun kembali sesuai apa yang ditulis di pasir.

Pada abad ke-16 ada seorang pastor (paderi) Portugis, datang ke Larantuka dan menemui pembesar kampung dalam hal ini raja. Dia diperkenalkan oleh raja dan mengatakan di sini kita juga memuja sebuah patung di mana saat kami hendak berperang dan kami memohon di patung tersebut selalu menang. Hasil ladang kami juga baik. Waktu ditunjuk oleh raja dan mengatakan, ini yang dia tulis di pantai.

Paderi itu menyampaikan bahwa tulisan ini artinya Santa Maria Reinha Rosari dan dikatakan ini adalah Ibu dari Putra yang agamanya sekarang kami mau ajarkan sehingga raja juga merasa tertarik mencari kebenaran hubungan patung ini dengan ceritera paderi tentang agama dari putera Ibu tersebut. Di situ raja diberikan pengenalan agama Katolik dan diberi sedikit katekis kepada raja dan Kelake Kabelen Lewo mengetahuinya. Karena hubungan baik, adanya kedekatan antara paderi dan saudara-saudaranya dengan raja, sehingga mereka diizinkan menyebarkan agama Katolik di wilayah ini.

Kapan Semana Santa mulai dilaksanakan di Larantuka?

Setelah penyerahan kerajaan kepada Bunda Maria, Raja Don Ola Ado Bala bersama putranya Don Gaspar bersama paderi-paderi dan saudagar Portugis bersama sama menyebarkan agama. Ada beberapa masukan terkait Paskah dan Jalan Salib, sehingga melihat perkembangan itu raja bersama kerabatnya membentuk perkumpulan suku Semana. Dulunya bernama perkumpulan persaudaraan kerabat kerajaan.

Di Lamaholot sendiri pada semua desa perangkat adat dikenal dengan istilah Koten Kelen Hurit Maran. Sementara di Larantuka dikenal dengan istilah Kelake Kabelen Kabu Laveri. Kabu Laveri masuk dalam keturunan anak-anak dari Kapitan Jentera, mereka dari Lewai jadi ada Fernandez Kabu dan Fernandez Laveri. Jadi terbentuklah 13 suku Semana, yakni suku Semana di Larantuka, Kampung Besar Balela, Kampung Besar Pantai Besar, dan suku Semana yang lain. Saat itulah ritual Semana Santa mulai dijalankan.

Kalau prosesi Jumat Agung, kapan pertama kali digelar di Larantuka?

Prosesi dimulai sejak abad ke-17. Sejak abad ke-16 Raja Ola Ado Bala, dinasti ke-11 dibaptis oleh Fransisko, SJ pada tahun 1645 dan diberi nama Don Fransisko Ola Ado Bala, DVG. Tahun 1665 karena dia begitu yakin dan percaya dengan Bunda Maria dengan berdoa mohon perlindungan. Dia yakin bahwa ini adalah penolong sehingga dia menyerahkan tongkat kerajaan, mahkota, dan rosario yang diberikan oleh paderi kepada Santa Maria Reinha Rosari dan mengatakan: Engkaulah raja kami, sementara keturunan kami hanya pelaksanamu di dunia. Raja menyerahkan seluruh wilayah kerajaan dan umat yang ada ke dalam kekuasaan Bunda Maria. Dengan demikian, Bunda Maria menjadi ratu Kerajaan Larantuka. Jadi, raja bertitah berdasarkan ilham dari Bunda Maria.

Bagaimana peran kerajaan saat Semana Santa?

Saat Semana Santa ada tiga pilar sebagai pemangku devosi yakni raja, konfreria, dan suku -suku Semana dan sekarang sudah melibatkan agama dalam hal ini gereja dan pemerintah.

Peran raja, dia memegang kekuasaan tertinggi dari organisasi Konfreria Reinha Rosari Larantuka berdasarkan statuta 25 Juni 1947 oleh Uskup Mgr. Hendrikus Leiven, SVD dan raja yang juga ketua suku-suku Semana dan di DVG sendiri menjadi ketua suku Raja Ama Koten.

Apakah ritual Semana Santa sekarang telah terjadi pergeseran dari yang dahulu?

Namanya sejarah kalau tidak tambah atau kurang itu bukan sejarah lagi. Sekarang ini mungkin ada pengaruh dengan memasukan muatan atau kepentingan suku. Kita mengetahui tahun lalu, suku Raja Ama Kelen Bl de Rosari, sebelum membuka pintu Kapela Tuan Ana dia ingin membuat seremonial adat, ini tidak tepat. Ritual adat kita lakukan di Korke lalu persembahannya saja yang kita bawa ke kapela.

Mereka datang dari Keroko Pukan abad ke-15 setelah Pulau Lapan Batang tenggelam. Lalu mereka mengungsi ke sini dan mereka bilang ada bawa peti dan pusaka mereka. Tapi pusaka mereka disimpan di rumah suku mereka dan bukan di kapela. Rumah suku itu sekarang sudah dijual oleh anak besar mereka dan saya suruh membuat sebuah bangunan tembok di samping istana raja dan pusaka mereka disimpan di sana serta kuncinya dipegang oleh suku mereka. Mereka keliru sebab berdasarkan Statuten 1947, kedua kapela ini dinyatakan menjadi milik umat. Pembuktian peti itu milik mereka, itu tidak ada. Pertayaannya, kenapa hal ini muncul saat menjelang Hari Bae saja. Sebagai abdi setiap saat harus siap mengabdi.

Kalau nilai-nilai Semana Santa itu tidak berubah hanya pelaksanaanya saja ada beberapa yang ditambahkan. Dan, tidak sepantasnya ketika ada beberapa suku yang mulai mengakui merekalah yang lebih pantas, misalnya Kabu dan Laveri dalam suku Fernandez Lewai. Mereka melihat siapa yang lebih tua dan berhak sehingga kami tetap memakai keduanya, Fernandez Kabu dan Fernandez Laveri.

Kemudian di dalam kelompok Mestri da Campo, sebenarnya Riberu da Gomez dan Fernandez da Gomez, melihat ceritera sejarahnya Riberu da Gomez yang memegang jabatan ketua. Kemudian suku Sau Diaz Pohon Asam sebenarnya suku Riberu. Sejatinya semuanya satu tapi melihat kepentingan suku masing-masing. Ada tambahan adat tapi itu di luar dari Semana Santa.

Sebenarnya siapa yang memiliki Kapela Tuan Ana dan Tuan Ma?

Saya ditanya waktu pertemuan suku-suku Semana, yang memiliki Kapela Tuan Ana ini siapa? saya bilang kedua kapela ini milik umat dan yang bertanggung jawab atas kedua kapela ini Uskup Larantuka berdasarkan Statuten 1947. Suku Bl de Rosari sudah saya sampaikan, saya katakan kamu harus tahu kenapa kamu ada di Nagi. Kenapa kamu diberi gelar Raja Ama Kelen.Yang memberi gelar Raja Ama Kelen itu Raja Ama Koten.

Kapan patung duplikat Tuan Ma ini dibuat?

Patung duplikat dibuat, karena waktu perayaan 5 abad panitia meminta agar patung Tuan Ma dibawa ke tempat lapang tempat perayaan. Saya sampaikan tidak bisa, kalau mau dibawa yang lebih pas membawa patung Maria Reinha Rosari atau Maria Aleluya. Dan, kalau kamu bersikeras saya akan batalkan membawa keduanya. Akhirnya, panitia memutuskan membawa patung Maria Reinha Rosari. Sesudahnya baru dibuatlah patung duplikat Tuan Ma.

Apakah saat prosesi tahun 2015 akan diarak patung Tuan Ma yang asli tidak seperti tahun lalu?

Nanti kita lihat saja kita bawa yang mana. Yang jelas pelaku devosi Semana Santa tidak mau menyakiti hati umat dan sekarang sedang diupayakan oleh tim Kesumi. Sebagai manusia kita melihat usia patung ini sudah tua, tahun 2010 saat prosesi angin agak besar sehingga patungnya agak goyang dan Uskup meminta agar kalau bisa patung yang duplikat saja yang dibawa. Kami meminta masukan dari semua, kami hanya menyiapkan saja, jangan sampai dalam perjalanan prosesi ada angin atau hujan lebat sehingga patungnya bisa tumbang.

Untuk kita masuk ke dalam hati umat kota Reinha guna mengarahkan umat untuk berpikir bahwa dua patung ini rohnya sama. Butuh waktu lama dan butuh beberapa generasi lagi karena mereka sudah ada kontak batin dengan Tuan Ma sehingga kami bersama uskup, konfreria, dan suku-suku Semana terus mengkaji semua keluhan dari umat. Kami tidak akan meyakini hati umat.( Ini terbukti, prosesi tahun 2015, patung Tuan Ma asli yang diarak ).

Kita masih siapkan pangkuannya, sebab pangakuan yang asli kayunya terlalu keras. Jika dipaku, paku tidak tembus, karena jubah Tuan Ma besar. Kalau terkena angin juga bisa berpengaruh sehingga kami berupaya agar jubahnya harus sama. Kami juga menyurati semua gereja di keuskupan untuk berdoa dan anggota konfreria yang memikul Tumba (keranda) Tuan Ma diseleksi tinggi bahunya harus sama.

Banyak masyarakat yang mengaitkan kecelakaan saat prosesi laut dan prosesi Jumat Agung tahun lalu (2014) akibat adanya pementasan Napak Tilas Tuan Ma. Bagaimana tanggapan anda?

Begitu pun di Wure hari Selasa sebelum Rabu Trewa tahun lalu, saat mereka sedang latihan Jalan Salib Hidup ada kilat menyambar di dermaga. Ada dua anak kecil yang sedang mandi di pantai hilang, sehingga mereka batalkan pementasan Jalan Salib Hidup. Mereka cari tidak ketemu dan saat Kamis Putih ada satu motor yang saat air surut, dia kandas dan dia paksa hidupkan mesin sehingga membuat pasir terangkat dan baling-baling kapal tersebut kena di badan anak itu sehingga bisa ditemukan.

Setelah kejadian, Uskup memanggil saya dan menanyakan kejadian itu. Saya katakan tidak ada apa-apa, iman umat kota Reinha sudah merosot jauh. Saya saat prosesi di depan kuburan, saya melihat orang Nagi yang menjadi penonton dan peziarah dari luar yang jadi pelaku. Padahal Tuan Ma datang supaya orang Nagi yang mendekatkan diri ke Mama Bunda, bukan orang dari luar.

Apakah ritual prosesi laut antar patung Yesus Wafat di Salib saat ini sudah sesuai tradisi?

Dua tahun lalu saya mengajak pelaku devosi di Kapela Tuan Meninu agar kita kembali ke tradisi. Di mana yang jalan itu cuma Berok (sampan) dan kapal-kapal lain tidak boleh ada. Memang Pledang dalam sejarah mereka merupakan armada laut Kerajaan Larantuka, sebenarnya hanya Berok dan sampan-sampan pengawal. Saya sampaikan kita kembali ke dahulu, di mana pengantaran patungnya hari Kamis dan disimpan sementara di Tori di pohon sirih. Ketika hari Jumat setelah patung Tuan Ma diantar ke gereja, patung tersebut dibawa ke Armida.

Sebenarnya bukan suatu kelemahan, orang kita yang mungkin terlalu lugu melihat dia seorang pejabat jadi dia punya hak sepenuhnya. Ini yang membuat bupati duduk di bagian depan Berok peti Tuhan Yesus Wafat di Salib. Tapi kalau kita bisa memahami sejarah, sebenarnya kita bisa secara tegas menyampaikan, bapak bisa ikut tapi di Berok lainnya. Saya sebagai hambanya dan pelayannya saya yang duduk di Berok ini, bukan bapak. Saya pernah sampaikan dan mereka katakan dia ini bupati. Saya bilang, betul dia bupati tapi dia juga umat sama dengan kita semua.

Saya juga pernah mencoba minta apa bisa saya duduk di Berok. Mereka sampaikan bapak punya hak, tapi saya bilang memang benar saya Presidenti tapi saya juga Denga Deo dan saya harus bertanggung jawab atas seluruh Denga Deo yang ada di kota Reinha. Kalau kamu yang ikut, saya sudah terwakili, bawa nama saya saja di kaki Tuan. Kalau bupati sadar dia juga bisa melakukan seperti itu. Ini kelihatannya tidak, dia mau menonjolkan diri supaya orang mengetahui dia seorang bupati.

Apakah delapan Armida saat prosesi Jumat Agung ada sejak dulu? Ada yang mengatakan dulunya cuma ada tujuh Armida dan Armida Kuce milik raja diadakan belakangan. Apa betul?

Armida Kuce ini pokoknya yang lainnya itu kekerabatan. Armida Misericordia, Pantai Besar, menceritakan awal penderitaan saat Bunda Maria mengandung Putra Allah. Misericordia merupakan pertahanan armada barat, sementara Tuan Meninu pertahanan armada Timur. Delapan Armida ini memaparkan hubungan kekerabatan raja disesuaikan dengan liturgi gereja yang menceritakan penderitaan Bunda Maria dalam mendampingi putra-Nya.

Selain di Larantuka, apakah di Konga dan Wure juga melakukan ritual yang sama? Apakah mereka di bawah Kerajaan Larantuka?

Status mereka Abrigado (khusus). Kalau di Konfreria, kepengurusan mereka langsung berada di bawah Presidenti Konfreria, tidak melalui Konfreria di Larantuka. Mereka sama dengan pengurus Konfreria pusat di Larantuka. Pou juga mereka Abrigado, menyerahkan upeti langsung ke raja

Bagaimana anda melihat peran suku Semana saat ini dibanding dahulu?

Saya lihat saat ini pemahaman, fungsi, dan tanggung jawabnya sudah agak bergeser. Mungkin orang tuanya kurang mewarisi arti suku Semana bagi anggota sukunya yang akan menggantikan mereka. Banyak suku-suku Semana yang asal ikut saja. Dulu program kerajaaan, kita benahi suku kita dulu baru kita bisa membenahi umat yang ditandai dengan setiap jam 18.00 semua anggota suku berdoa Rosario di masing-masing Tori.

Dulu ada Opas (pesuruh raja) yang berjalan keliling memeriksanya. Jika ada yang tidak menjalankannya (berdoa Rosario) disuruh berdiri di pohon asam dan dipukul. Saya melihat di kehidupan keseharian, saat saya bersama ketua suku Semana ada di pesta, mereka malu untuk membuat tanda salib.

Anda melihat peran gereja saat ini seperti apa?

Sampai saat ini masih ada saling kerja sama. Pihak klerus sudah mulai mencampuri urusan devosi, mereka seharusnya urus liturgi saja. Walaupun dalam jabatan struktur organisasi di Konfreria, dekan sebagai direktur agung dan pastor paroki sebagai direktur tetapi mereka tidak bisa terlalu jauh mencampuri. Mereka hanya memberikan bimbingan rohani. Seperti ada romo dekan yang mengatakan kepada seorang Konfreria agar berhenti saja dari Konfreria. Saya katakan, romo salah, dia ada Presidentinya, romo hanya urus memberkati dia saat pelantikan menjadi anggota. Jadi romo jangan campur tangan terlalu jauh.

Kalau peran pemerintah, apa yang anda lihat?

Pemerintah yang saya lihat selama ini mereka hanya memakai Semana Santa sebagai ikon wisata religi. Mereka mencoba melewati kami-kami sebagai pelaku devosi dan mau mengatur. Tetapi saya tetap bersikukuh, Semana Santa ini bukan milik pemerintah maupun Uskup tapi kami tiga pilar yakni raja, konfreria dan suku-suku Semana, jadi tidak bisa ditawar lagi. Hemat kami, sebagai organisasi dalam wilayah keuskupan, kami melibatkan uskup sebagai pelindung. Jadi gereja dan pemerintah tidak boleh mencampuri. Sebab jika sudah ada campur tangan maka ritual ini akan punah.

Apa yang harus dilakukan agar devosi harus sesuai dengan zaman dahulu?

Harus ada kesepakatan antara pelaku devosi dan liturgi agar bisa diatur waktu sehingga umat juga bisa mengikuti keduanya. Pengaturan jamnya saja yang harus disepakati. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC Pudjiachirusanto

Yuliana, Bukan Perempuan Biasa

Next Story »

Domi dan Kisah Jenazah yang Bangun Lagi

3 Comments

  1. April 14, 2015

    Tulisan ini cukup banyak memberi gambaran. Justru membuat saya makin tertarik menggali lebih dalam. Thanks om Ebed Deroz.

    Reply
  2. April 14, 2015

    Tulisan ini cukup banya memberi cerita. Saya semakin tertarik untuk lebih menggali point-point dalam wawancara itu. Andai saja makin ditelusuri dan didalami, maka bisa jadi kita dapat gambaran utuh tentang hal yang sedang bahan pembicaraan.

    Thanks om Ebed Deroz.

    Reply
    • April 14, 2015

      Tulisan ini cukup banya memberi cerita. Saya semakin tertarik untuk lebih menggali point-point dalam wawancara itu. Andai saja makin ditelusuri dan didalami, maka bisa jadi kita dapat gambaran utuh tentang hal yang sedang bahan pembicaraan.

      Thanks om Ebed Deroz.

      Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *