Sebermula Katolik di Konga

Ketika Armada Jogo Worela Mendarat di Kantu Jebe

Warga Desa Konga, Larantuka, patuh menjalani ritual Hari Bae, atau Minggu Suci selama ratusan tahun. Perjalanan panjang umat Katolik di sana adalah cermin untuk mengetahui akulturasi nilai lokal dan ajaran Injil

Di Desa Konga, ajaran Katolik mulai diajarkan bersamaan dengan pembagian wilayah kekuasaan Kerajaan Larantuka pada tahun 1665. Desa itu pun terbagi dua, masing-masing bagian Barat dan Timur. Sersan atau Persan memimpin wilayah Timur yang berpusat di Desa Wure. Sedangkan wilayah Barat berpusat di Konga pemimpinnya disebut Komandati. Sedangkan pusat kekuasaan kerajaan tetap di Lewonama, dengan nama lain Larantuka.

Tak hanya wilayah, benda pusaka berharga pun dibagi. Pembagian itu mencakup Ornamentonya atau perlengkapannya seperti patung ayam jago, telapak tangan (tangan Deyabu ), lampion, tangga, hysop serta perlengkapan lainnya yang dipakai saat prosesi.

Konga mendapat patung Tuan Tido (Tuhan Yesus yang Terbaring ), Tuan Ma (Mater Dolorosa ) dan Tuan Meninu (Kanak- Kanak Yesus). Sementara Wure mendapat Tuan Berdiri dan beberapa patung lainnya disertai segala Ornamentonya.

Kantu Jebe

Patung Tuan Tido atau Tuan Ana di dalam peti yang disimpan di Kapela Tuan Ana. (Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Patung Tuan Tido atau Tuan Ana di dalam peti yang disimpan di Kapela Tuan Ana. (Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Benediktus Pedo Ena da Cunha, ( 63 ) Ketua Lembaga Pemangku Adat Desa Konga, baru-baru ini mengatakan, semua harta pembagian sudah diterima Komandanti di bawah pimpinan Tome Bugi Jogo Worela da Costa kecuali sebuah lonceng (genta) besar dari besi yang masih tertinggal di Larantuka. Orang Wure sudah mengambilnya sementara orang Konga hingga saat ini belum mengambilnya.

“ Orang Larantuka pernah mengatakan orang Wure pencuri genta, sebenarnya bukan mereka curi tetapi mereka mengambil barang yang menjadi milik mereka. Kami juga belum mengambilnya padahal itu menjadi hak kami dan sudah dibagikan oleh raja Ola Ado Bala saat itu, “ tutur dia.

Lelaki sepuh yang akrab disapa Diktus itu menambahkan bahwa sesudah pembagian wilayah dan benda pusaka, Jogo Worela dan armadanya berlayar ke arah barat. Kemudian Tenedeng atau Rumah Sembilan (saat itu hanya ada sembilan rumah), lanjut Diktus, jadi tempat berlabuh pertama armada jogo Worela. Di sana mereka menetap sementara waktu. Sebuh sumur tambahnya digali di tempat tersebut.

Yosep Kopong Kung ( 63 ) mantan Kepala Desa Konga, yang duduk disamping Diktus, menimpali bahwa sesudah menetap beberapa lama di Tenedeng, Jogo Worela melihat sebuah pulau di sebelah barat yang berada tidak begitu jauh dari daratan.

Mantan Kepala Desa Konga itu mewarisi cerita bahwa awak armada pimpinan Jogo Worela menjadi penasaran dan bergerak berpindah ke pulau tersebut. Namun di sana mereka kesulitan menemukan air bersih, karenanya bangsa Portugis berlayar ke daratan.

“ Jogo Worela akhirnya menetap di Kantu Jebe dan membangun pemukiman di pinggir pantai. Tempat mereka menetap dan pulau di depannya oleh Jogo Worela dinamai Konga diambil dari nama orang tertua di dalam armada pasukan mereka, “ tutur Joseph kepada saya.

Anta Tuan Meninu

Setelah menetap di Kantu Jebe, Jogo Worela mulai bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, penduduk asli dibawah pimpinan Sira Tuna Belawa Bura yang tinggal di atas bukit. Jogo Worela pun mulai memperkenalkan agama Katolik hingga Sira Tuna Belawa Bura dan rakyatnya perlahan – lahan memeluk agama Katolik.

Sekitar tahun 1735, lanjut Diktus, ritual Hari Bae di Konga mulai dilaksanakan. Hari Bae paparnya, sebenarnya dimulai saat Natal dimana saat malam Natal umat bersama Konfreria (serikat awam kerajaan dalan gereja di Larantuka ) mengarak atau Anta patung Tuan Meninu ( Kanak-Kanak Yesus) ke gereja. Semua nyanyian selama perarakan ungkapnya menggunakan bahasa Portugal.

Jika di Larantuka beber Diktus, Anta Tuan Meninu dilakukan saat Jum’at Agung dimana patung Tuan Meninu diarak melewati laut dari kapela Tuan Meninu di Sarotari menuju kelurahan Pohon Sirih. Sementara di Konga patung Tuan Meninu diarak dari Tori ( kapela kecil ) Tuan Meninu yang berjarak ± 500 meter arah timur gereja Konga. Tuan Meninu diarak saat malam Natal ke gereja, dan keesokan harinya sesudah perayaan Tiga Raja urai Diktus patung Tuan Meninu diarak kembali ke Tori.

Tori Tuan Meninu tempat menyimpan patung Tuan Meninu ( kanak – kanak Yesus ) yaang disimpan di Tori dan diarak ke gereja saat malam Natal. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Tori Tuan Meninu tempat menyimpan patung Tuan Meninu ( kanak – kanak Yesus ) yaang disimpan di Tori dan diarak ke gereja saat malam Natal. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Lelaki paruh baya yang menjabat Mestri ( pengatur nyanyian liturgi oleh Konfreria ) itu menuturkan bahwa setiap minggu pertama dalam masa pra Paskah diadakan Lamentasi ( nyanyian kisah sengsara Kristus ) yang dilanjutkan dengan prosesi Cru Costa keliling gereja. Konfreria bersama Toca Serai ( lambang Konfreria ) bersama umat mengarak salib. Bila ada pastor maka ritual ini dipimpin pastor dan didampingi Konfreria.

“ Minggu pertama setelah Rabu Abu ada prosesi Cru Costa, konferia dan umat mengelilingi gereja sesudah misa. Ritual ini menandakan dimulainya masa puasa, kita mulai melaksanakan puasa, “ tuturnya.

Terbawa Mae

Saat perkampungan warga Konga masih berada di atas bukit, terjadilah Mae ( banjir ) sehingga patung Tuan Tido atau Tuan Ana ( Tuhan Yesus ) hilang. Banjir kedua yang terjadi beberapa tahun sesudahnya menghanyutkan patung Tuan Ma. Raja Bintang membiayai orang untuk membuat Patung Tuan Ma yang hilang itu.

Sementara patung Tuan Tido dibuat oleh orang Konga. Waktu tidur malam hari beber Diktus, bapak tersebut mimpi Tuan Tido atau Tuan Ana datang memberitahunya agar besok pagi ke hutan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari perkampungan. Di sana tumbuh sebuah pohon, mereka pun memontong dan memanfaatkan kayunya untuk membuat patung Tuan Tido.

“ Sesuai pesan mimpi tersebut, keesokan harinya bapak tua tersebut membawa busur dan anak panah serta membawa beberapa ekor anjing berburunya menuju tempat yang ditunjuk dalam mimpinya.Sesampai di pohon tersebut anjing yang dibawanya semunya mengonggong menghadap pohon yang persis ada di mimpinya. Pohon itu pun ditebang dan langsung dibuat patung di tempat tersebut, “ jelasnya.

Selesai dibuat,lanjut Diktus, konfreria bersama semua anggotanya bertolak dari gereja ke tempat tersebut untuk mengambil patung Tuan Tido dan membawanya ke gereja. Patung itu dibuat sekitar tahun 1800 – an dan sampai saat ini masih dipergunakan. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: Donny Iswandono

Katharina dan Lilin Prosesi yang Tak Kunjung Padam

Next Story »

Melantunkan Ovos, Meratapi Pesan Yesus

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *