Kali Nangagete Meluap, Tanaman dan Ternak Warga Hanyut Terbawa

Ketinggian air kali Nangagete meningkat dan berwarna kecoklatan akibat banjir dan hujan deras di daerah hulu. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Ketinggian air kali Nangagete meningkat dan berwarna kecoklatan akibat banjir dan hujan deras di daerah hulu. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

MAUMERE, FBC - Banjir bandang yang menerjang kali Nangagete, Minggu ( 19/04/15 ) mengakibatkan tanaman yang berada di sebelah utara kali mulai dari dusun Belawuk hingga dusun Wairmitak desa Nebe kecamatan Talibura kabupaten Sikka mengalami kerusakan parah.Banjir juga menghanyutkan seekor sapi dan kambing milik warga desa.

Banjir kembali terjadi Kamis (23/04/2015 ) dengan ketingian air kali Nangagete di desa Nebe mencapai 45 sentimeter dan terus meningkat. Ketinggian air kali biasanya hanya berkisar antar 10 hingga 30 sentimeter.Akibat debit air yang terus meningkat, saluran air yang mengairi sawah penuh dan meluap menggenangi tanaman kakao bahkan di kebun petani di dusun Wairmitak.

Hal ini disampaikan Maria Dua Lodan (25) dan Wilhelmus Wolor (69) warga kampung Wairbou dusun Belawuk yang ditemui FBC, Kamis ( 23/04/2015 ) .Disampaikan Dua Lodan, sapi dan kambing tersebut diikat di pepohonan yang ada di sebelah utara kali karena biasanya banjir besar jarang terjadi. Hujan yang lebat di daerah pegunungan di daerah hulu Minggu sore menyebabkan debit air kali Nangagete meningkat dan meluap hingga sekitar 20 meter ke utara.

Hal senada juga disampaikan Wolor. Menurutnya, dahulunya lebar kali Nangagete hanya sekitar 20 meter saja, tapi sejak tahun 90 – an, saat terjadi banjir, beberapa areal kebun di sebelah utara kali ikut tergerus dan tersapu air. Saat ini sebut Wolor, lebar kali Nangagete sudah sekitar 100 meter termasuk bekas kebun yang sudah menjadi areal kali.

“ Banyak pohon kakao dan kelapa yang sudah puluhan tahun ditanam hilang terbawa banjir saat itu. Kebun milik warga pun berubah jadi areal kali yang dipenuhi bebatuan dan kerikil “ ujar Wolor seraya menunjukan areal yang dulunya bekas kebun kelapa.

Kali Nangagete yang meluap dan merendami  tanaman warga di sisi utara kali dan meninggalkan sampah yang tertahan di batang – batang pohon. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Kali Nangagete yang meluap dan merendami tanaman warga di sisi utara kali dan meninggalkan sampah yang tertahan di batang – batang pohon. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Debit air yang meningkat dan banjir terlihat dari warna air kali yang jernih berubah menjadi coklat. FBC yang melintas kali Nangagete pagi sekitar jam 09.30 wita, masih leluasa melintas sebab ketinggian permukaan air masih sekitar 10 sentimeter dan bebatuan di dasar kali masih terlihat sehingga memudahkan saat melintas. Usai ritual adat dan hendak kembali, ketinggian air kali sudah mendekati 45 sentimeter dan berwarna coklat dipenuhi lumpur.

Sisa-sisa banjir bandang masih terlihat oleh FBC dimana hampir semua areal pesisir utara kali terdapat batang – batang kayu berukuran besar dan ranting – ranting pohon. Rumput dan pohon-pohon liar yang tumbuh di sisi uatara kali yang awalnya tidak dialiri air tercabut dari akarnya dan tumbang. Beberapa pohon pisang yang ditanam pemiliknya di areal kali yang hanya berjarak 3 meter dari kebun warga semuanya tumbang.

“ Untung ada pohon dan rumput liar yang tumbuh di areal kali yang tidak dialiri air sehingga bisa menjadi penahan. Jika tidak ada maka bisa jadi air akan meluber ke arah kebun warga seperti dahulu,“ ungkap Wolor.

Dampak terbesar akibat meluapnya air kali tambah Wolor mengakibatkan anak-anak sekolah yang menetap di kampung Wairbou di utara kali terpaksa meliburkan diri sebab mereka takut melintasi kali yang sedang banjir. Selain itu, para petani tidak bisa menjual hasil panen Kakao dan Kelapa ke pembeli di desa Nebe yang berdiam di selatan kali. Yang paling fatal tambah Wolor, orang sakit atau melahirkan terancam nyawanya karena tidak ada yang berani melintasi kali di saat banjir.

Keluhan warga Wairbou pernah disampaikan ke desa sampai kabupaten namun tidak direspon. Warga tambah Wolor sudah swadaya membangun jalan lama yang pernah dibangun yang melintas dari jembatan Iyan Loeng hingga ke dusun Wailoke desa Wailamun hingga kampung Wairbou desa Nebe namun belum diaspal juga dan diratakan sehingga belum bisa dilitasi kendaraan.

“ Kalau pemerintah tidak ganti gorong – gorong yang rusak dan meratakan jalan, kasihan warga dua desa yang tetap terisolir. Jalan dan listrik sudah puluhan tahun tidak diperhatikan pemerintah desa dan kecamatan Talibura “ pungkasnya. (ebd)

Suku Raja Ama Kelen Klarifikasi Pernyataan Raja Larantuka

Next Story »

PKB Tarik Dukungan Terhadap Marianus Sae-Paulus Soliwoa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *