Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Marmi Kusuma

Ingin Menjadikan Ende sebagai Kota Wisata

Menjadikan Ende sebagai kota wisata, menjadi target prioritas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende dalam dua tahun terakhir ini. Memang bukan suatu hal yang mudah meski di wilayah tersebut terdapat aneka objek wisata unggulan. Bagaimana cara merealisasikan mimpi tersebut?

KETIKA dilantik sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (K&P) Kabupaten Ende, dua tahun silam, Marmi Kusuma memiliki target prioritas untuk menjadikan kota Ende sebagai kota pariwisata. Meski begitu, sedari awal dia sudah memaklumi bahwa mewujudkan kota wisata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan partisipasi dari semua pihak, termasuk elemen masyarakat Kabupaten Ende secara keseluruhan. Jika dukungan masyarakat tersebut terealisasi, tentu target prioritas yang dia patok di awal masa jabatannya itu pun akan tercapai.

Marmi Kusuma, Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Ende. (Foto: FBC/Ian Bala)

Marmi Kusuma, Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Ende. (Foto: FBC/Ian Bala)

Bukan tanpa alasan kalau perempuan kelahiran Malang (Jawa Timur) tahun 1961 ini, mematok target tersebut. Di Kabupaten Ende, menurutnya, memiliki banyak potensi alam yang siap dijadikan objek wisata. Selain itu, keberadaan berbagai kampung adat yang tersebar di wilayah Ende bagian Timur, sangat menantang sebagai potensi wisata budaya.

“Saya kira di Kabupaten Ende sudah lengkap dengan berbagai potensi wisata. Baik potensi alam maupun potensi buatan manusia seperti perkampungan adat. Semua itu akan kita jadikan objek wisata alam maupun objek wisata budaya. Saya sangat berharap semua pihak mendukung hal ini,”tutur Marmi, baru-baru ini.

Dengan sportif dia mengakui, dalam masa dua tahun kepemimpinannya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, target prioritas tersebut belum tercapai seperti yang diharapkan masyarakat Kabupaten Ende. Sampai saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan objek wisata yang betul-betul strategis dari sisi lokasi dan ketersediaan infrastruktur untuk ‘dipasarkan’ kepada wisatawan, baik domestik maupun manca negara.

Mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende pada 2009-2011 ini menjelaskan, sudah ada sekitar 100 objek wisata di seluruh Kabupaten Ende yang telah didata oleh pihaknya dan objek wisata tersebut merupakan objek wisata strategis dan siap untuk dijual.

Untuk menarik perhatian para wisatawan, Marmi terus berupaya untuk menyosialisasikan kepada publik, baik melalui pintu masuk wisata seperti bandara, pelabuhan, ataupun terminal bus antarkota dalam provinsi, maupun melalui media masa. Selain itu, dia juga mengedarkan profil pariwisata Kabupaten Ende pada setiap penginapan, misalnya hotel dan homestay.

Bagi Marmi, yang paling sulit adalah membangun kesadaran masyarakat akan daerah pariwisata. Masyarakat pada umumnya mengetahui potensi pariwisata namun, kesadaran masyarakat misalnya seperti menjaga kebersihan dan sebagainya masih sangat minim.

“Kami akan berusaha secara perlahan untuk membentuk kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pariwisata di Ende. Jika mereka (masyarakat) mendukung, tentu target prioritas itu akan terwujud, “kata Marmi dengan logat Jawa yang kental.

Secara Kekeluargaan

Marmi menjelaskan, untuk menjadikan Ende sebagai kota wisata, pihaknya akan berupaya untuk melakukan pendekatan secara kekeluargaan terhadap tiga batu tungku yakni, pemangku adat, pemimpin agama, dan pemerintah. Strategi ini, menurutnya, sangat efektif dan efisien untuk merangkul semua pihak.

Selain tiga batu tungku tersebut di atas, pihaknya pun akan terus berkomunikasi dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pariwisata maupun lingkungan hidup. Selain itu juga, akan melakukan pendekatan dengan berbagai pihak termasuk lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi kepemudaan. Tujuannya, agar seluruh pemangku kepentingan tadi, satu langkah dan seirama dalam menjadikan Ende, sebagai kota wisata.

”Nanti kami akan bicara secara kekeluargaan dengan semua pihak untuk menjadikan kota pariwisata. Semua pemangku kepentingan akan dijadikan pelaku wisata. Nah, itu saya yakin akan terjadi,”lanjut Marmi.

Marmi menambahkan, sejauh ini pihaknya hanya melakukan pendekatan dengan para mosalaki (ketua adat) sebagai penguasa tanah ulayat, yang kebetulan di wilayahnya terdapat daerah objek wisata. Pihak lainnya belum melakukan komunikasi dan pihaknya bertekad untuk saling bekerja sama.

Danau Kelimutu

Danau Kelimutu yang berada di Kabupaten Ende, sejauh ini merupakan ikon pariwisata kabupaten yang berada di tengah-tengah Pulau Flores ini. Untuk itu, Kelimutu menjadi objek wisata utama dan menjadi panutan bagi objek wisata lainnya. Sebagai objek wisata utama, Kelimutu menjadi ‘pemicu’ pengembangkan potensi wisata lain yang berada di sekitarnya, seperti Kampung Adat Wolowiru, Rumah Mama milik klan Patti, dan beberapa lainnya.

“Kelimutu sebagai wisata utama dan sebagai panutan bagi wisata-wisata lainnya. Kami akan melakukan pembenahan manajemen pelayanan dan semua mendukung Kelimutu. Sementara yang lain sebagai penopang wisata dan akan kita benahi satu per satu,”ujarnya.

Menurut data yang diterima FBC, dari 100 objek wisata yang telah didata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sudah 32 objek wisata yang menjadi destinasi wisata unggulan termasuk Danau Kelimutu dan beberapa situs peninggalan masa penjajahan, seperti rumah pengasingan Bung Karno, yang berada di titik nol kilometer Kota Ende. Rumah pengasingan ini kerap dikunjung para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Situs Bung Karno sebagai potensi wisata sejarah juga sebagai panutan selain Danau Kelimutu, sebab sudah dikenal pada skala Nasional maupun Internasional.

“Situs Bung Karno menjadi branding wisata sejarah. Kita akan benahi manajemen di dalamnya dan akan kita pasarkan sebagai wisata sejarah. Situs itu juga berada di kawasan strategis untuk wisata,”ujarnya.

Kegiatan Rutin

Untuk membangun citra sebagai kota wisata di Flores, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende telah melakukan kegiatan (event) rutin seperti Festival Danau Kelimutu, parade budaya Ende-Lio, festival seni dan prosesi kebangsaan, tracking to Kelimutu dan ritual “Pati Ka” (persembahan kepada leluhur di Danau Kelimutu).

Kegiatan rutin ini akan diadakan sekali dalam setahun yang terjadi pada bulan Mei, Juni, dan bulan Agustus. Kegiatan budaya ini melibatkan semua pihak termasuk pelajar se-Kabupaten Ende. “Kami adakan kegiatan rutin sebagai awal untuk menjadikan Ende sebagai kota wisata. Memang kita bermula dari kegiatan-kegiatan seperti ini untuk memacu masyarakat agar mengetahui tentang pentingnya potensi wisata bagi daerah. Selain itu, kami terus bersosialisasi agar masyarakat mendukung kota wisata. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan,” kata Marmi.

 

Ritual 'Pati Ka' untuk memberi persembahan kepada leluhur di Danau Kelimutu menjadi agenda rutin tahunan yang diminati wisatawan manca negara. (Foto: FBC/Ian Bala)

Ritual ‘Pati Ka’ untuk memberi persembahan kepada leluhur di Danau Kelimutu menjadi agenda rutin tahunan yang diminati wisatawan manca negara. (Foto: FBC/Ian Bala)

Dia mengatakan, kelemahan mendasar yang terjadi saat ini adalah bagaimana mengubah kesadaran masyarakat mengenai kebersihan lingkungan. Menurutnya, kebersihan merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung kota wisata.

“Kota bersih itu sangat mujarab dalam menarik perhatian wisatawan. Kita masih sulit membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan kota. Bukan saja dari pemerintah yang selalu mengingatkan itu, tetapi bagaimana secara pribadi menyadari pentingnya menjaga kebersihan,” harapnya.

Salah satu cara untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan, menurutnya, adalah dengan membuat event rutin itu. Senyampang menyiapkan acara tersebut, biasanya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan bagi masyarakat Ende.

“Bulan-bulan ini kita mau persiapan menggelar event rutin itu dan kita terus berupaya menyampaikan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan kota. Pusat wisata nanti ada di dalam kota. Kita berharap masyarakat menyadari hal itu,”katanya.

Mengenai target atau pencapaian menjadikan kota wisata, Marmi menjelaskan akan dilakukan tahap demi tahap. Ia terus berupaya agar pada masa jabatannya, akan dilakukan deklarasi Ende sebagai kota wisata. “Potensinya sudah ada, hanya masih diperlukan kerja sama semua pihak. Dan, kami berkomitmen untuk menjadikan kota Ende sebagai kota wisata di Flores,”pungkasnya. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Hamsah, Batu Kapur, dan Hidup yang Bersyukur

Next Story »

Veronika dan Kehidupan yang Tetap Layak Dijalani

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *