Hujan Mengawali dan Mengakhiri Prosesi Laut Tuan Menino

Tahun ini prosesi laut Tuan Menino berjalan amat hikmat. Tak ada suara berisik sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Hujan yang datang di awal dan akhir prosesi diyakini sebagai penanda alam amat mendukung prosesi.

Hujan menguyur Kota Larantuka, sekitar pukul 10.00 WITA saat perayaan Jum’at Agung berlangsung, 3/4/2015. Tanda-tanda bakal datangnya hujan amat terasa saat mendung hitam pekat menggelayut di atas Bukit Saburi yang ada di Pulau Adonara Barat tak jauh dari sana.

Tiupan angin segera menggerakan awan itu melintas laut. Bulir-bulir hujan pun kontan membasahi sebagian bumi Flores Timur yang terik. Saat itu jemaat Katholik paroki San Juan Lebao tengah berkumpul di Pantai Kota Rewido, tepatnya di kapela Tuan Menino. Mereka tengah bersiap menggelar prosesi laut mengantar patung Tuan Menino ke Pante Kuce, kelurahan Pohon sirih.

Prosesi Laut Tuan Meninu, Jumat 3 April 2015. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Prosesi Laut Tuan Meninu, Jumat 3 April 2015. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Kendati hujan kian lebat, umat tak surutkan langkahnya menuju pantai. Di selat gonsalu, puluhan kapal berbendera kuning bersama kawanan sampan berbendera hitam siaga di atas alunan arus laut. Di sepanjang pantai yang membujur dari paroki San Juan Lebao hingga Katedral Larantuka, para peziarah menyemut di atas pasir pantai. Ribuan peziarah tersebar di darat maupun di atas kapal-kapal di laut.

Hujan tak terlalu lama mengguyur, cuma 20 menit saja terus berlalu. Tanah basah dan udara sejuk datang menghalau terik matahari. Inilah isyarat bahwa alam memberi kesejukan bagi perjalanan Tuan Menino ke Larantuka.

Di pintu kapela Tuan Menino, rombongan konfreria beserta rombongan pengiring patung Tuan Menino melangkah turun menuju pantai. Di sana, ratusan pesiarah telah memadati pelataran pantai . Sedangkan di atas arus laut selat gozalu mulai dari pelabuhan penyeberangan rakyat Pante Palo hingga pelataran Tuan Menino tenang berjejer dalam formasi apik kapal-kapal yang membawa para peziarah.

Nampak kapal milik Basarnas (Badan SAR Nasional) dan kapal-kapal ukuran besar lain mengambil posisi mengapiti dari arah pulau Adonara. Sementara kapal-kapal ikan dan kapal penyeberangan ukuran kecil berada di tengah selat hingga ke bibir pantai Kota Rewido.

Di barisan depan, puluhan sampan berbendera hitam berbaris mengawal sebuah perahu kecil beratap dengan ornament serba hitam. Itulah perahu khusus yang akan ditumpangi Tuan Menino beserta rombongan pengantar.

Prosesi kecil dari Kapela Tuan Ana. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Prosesi kecil dari Kapela Tuan Ana. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Di darat, sengatan terik matahari kembali membakar kota Larantuka. Sebaliknya di laut khususnya di Selat Gonzalu yang akan dilewati prosesi laut nampak teduh. Segumpal awan masih bergelantung memayungi selat yang akan dilewati rombongan pesiarah membawa Tuan Menino ke Larantuka.

Perahu kecil yang ditumpangi Tuan Menino dan rombongan sampan pengawalnya berjejer tak jauh dari bibir pantai dan melaju ke pantai Kuce Larantuka mengandalkan dorongan arus dan tenaga pendayung.

Di bibir pantai berjalan kaki rombongan pengaman kapela Tuan Menino sambil menyapa para peziarah yang menyemut di sepanjang pantai dan mengajak untuk berdoa. Dari sebuah kapal terdengar alunan lagu dan doa memimpin jalannya prosesi laut ini. Di langit atas gumpalan awam seakan terus memayungi perjalanan siarah laut ini.

Inilah keunikan ziarah laut di tahun ini. Kesan khusuk dan tenang sangat terasa. Kapal-kapal dalam jumlah yang banyak itu membentuk formasi bagai pengawal menjaga rombongan sampan dan perahu pembawa Tuan Menino.

Suasana ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Formasi perarakan ziarah dan suasana doa terus terjaga hingga iring-iringan laut ini memasuki pelabuhan kota Larantuka dan membelok menuju pante Kuce. Saat itulah, gumpalan awan tebal kelam yang sebelumnya muncul di bukit Seburi Adonara Barat itu seakan berpindah ke atas Tanjung Gemuk di pulau Adonara menghadap pelabuhan Larantuka.

Gerimispun turun disambut doa-doa yang dikumandangkan dari kapela Tuan Ana dan Tuan Ma. Di bawah guyuran lembut hujan dan naungan mendung, perahu pembawa Tuan Menino merapat ke tangga sandaran di pante Kuce. Ketika Tuan Menino diturunkan dari perahu dan diarak menuju ke kemah atau armada yang telah disiapkan, perlahan mendung menyibakan diri dan matahari kembali menyinari kota Larantuka.

Dari kejauhan sepanjang pantai di ujung dermaga Larantuka hingga pante Kuce, para peziarah dengan busana dasar hitam menyemut di atas tembok pembatas pantai dan jalan raya membentuk garis hitam hingga ke pantai Kebis di Kapela Tuan Ma. Dari kapela Tuan Ma dan Tuan Ana terus berkumandang doa-doa dan nyanyian menembus langit kota Larantuka dan membahana ke laut yang dikelilingi gugusan Kepulauan Solor.

Kesan tenang dan syahdu sungguh kentara dalam prosesi kali ini. Prosesi laut yang diawali dengan guyuran hujan ketika berada di pantai Kota Rewidao dan diakhiri juga dengan guyuran hujan ketika tiba di pante Kuce depan Istrana Raja Larantuka. Hal ini sungguh dirasakan oleh para peziarah.

Keluarga Pius Belang yang ditemui PBC di Taman Pieta depan kapela Tuan Ana mengatakan, prosesi Jum’at Agung tahun ini sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pius dan istrinya mengaku setiap tahun mengikuti prosesi ini dan punya kesan bahwa tahun ini sangat hening dan syahdu mulai sejak Rabu malam.

Menurutnya, biasanya malam hari Rabu dan Kamis Putih sering terdengar suara-suara ribut saat orang jalan berkelompok pulang dari gereja. “Tapi tadi malam ketika melintasi jalan tiga dan turun ke kapela Tuan Ma dan Tuan Ana, suasananya memang lebih tenang jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” tutur Pius.

Keluarga Benediktus Pureklolon, umat paroki San Juan juga punya kesan yang sama. Ditemui di halaman gereja Katedral usai prosesi menghantar Tuan Ma dan Tuan Ana ke gereja, ia menyampaikan kesannya bahwa prosesi laut dan suasana sekitar Semana Santa tahun ini sangat jauh berbeda. Tahun sebelumnya ada pentasan-pentasan sehingga kesan hiburan itu ada. Tetapi tahun ini katanya konfreria dan suku-suku semana meminta untuk jangan ada pentasan. Mungkin itu juga salah satu faktor yang membuat Semana Santa tahun ini lebih bermakna. Ia berharap, para peziarah yang datang dari tempat jauh bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan dari perayaan ini.

Tentang hujan pada saat prosesi laut, Benediktus punya kesan bahwa alam sangat mendukung prosesi laut. Jika tahun sebelumnya laut yang dilalui dalam prosesi itu memakan korban, justru tahun ini laut terlihat sangat tenang dan bersahabat. Bahkan sangat teduh oleh naungan awan di atasnya seolah turut mengantar Tuan Menino ke prosesi malam ini.

Disaksikan FBC di lapangan, setelah Tuan Menino menempati armidanya di jalan tengah kelurahan Pohon Sirih, Tuan Ma keluar dari kepelanya di Pante Kebis menyusuri jalan sepanjang pantai menuju gereja Katedral. Di depan kapela Tuan Ana, rombongan Tuan Ana berjalan di depan dan Tuan Ma mengikutinya dari belakang menuju Gereja Katedral. Inilah Prosesi Kecil dari kedua Kapela ini ke gereja Katedral untuk dilangsungkan Lamentasi Jumad Agung. Prosesi kecil ini diikuti peziarah sepanjang kurang lebih satu kilometer lebih.*** (Melky Koli Baran)

Menganyam Nata, Mengkreasikan Kehidupan

Next Story »

Nggore Ngote Sara Jawa di Kampung Tua

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *