Hari Bumi, Krisis Air Jadi Sorotan

Para aktivis lingkungan di Labuan Bajo saat  melakukan aksi unjuk rasa damai. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Para aktivis lingkungan di Labuan Bajo saat melakukan aksi unjuk rasa damai. (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

LABUAN BAJO, FBC-Dalam rangka memperingati hari bumi tanggal 22 April 2015, puluhan aktivis lingkungan dan kaum muda Manggarai Barat menggelar aksi unjuk rasa damai dengan melakukan aksi long march di jalan-jalan utama Kota Labuan Bajo. Para aktivis mendesak pemerintah dan semua pihak agar menjaga kelestarian sumber daya alam terutama hutan, air dan tanah yang mengalami degradasi dan kerusakan yang kian parah dan masif.

Para aktivis menyoroti perilaku mafia dan bandit sumber daya publik yang bekerja hanya untuk memperkaya diri, menguntungkan diri sendiri dan kelompok ketimbang untuk kepentigan banyak orang yang adalah pemilik sah bumi ini.

Bumi dan segala isinya seperti air, tanah dan hutan perlahan-lahan bukan lagi menjadi sumber daya publik demi kepentingan masyarakat banyak melainkan telah beralih menjadikan sumber daya yang dikuasai, dirampok dan dikeloa untuk kepentingan segelintir orang yang berkuasa baik secara politik, ekonomi maupun sosial.

Persoalan lingkungan hidup,  saat ini menjadi tantangan besar di mana hutan bakau mulai dirusak oleh oknum tertentu hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok. Demikian pula masalah pertambangan dan pemanfaatan sumber daya pantai oleh banyak pihak yang berdampak pada kehilangan akses masyarakat terhadap ruang publik dan kerusakan lingkungan hidup pada umumnya.

Krisis air yang terus melanda warga kota Labuan Bajo misalnya, pertama-tama bukan karena ketiadaan sumber air atau debit air yang kurang tapi karena salah urus oleh pemerintah dan adanya praktik bisnis atau jual beli air secara bebas.

“Labuan Bajo bukan kekurangan air atau kehilangan sumber-sumber air melainkan karena salah urus dan adanya pratek mafia air yang dilakukan oleh oknum pengusaha dan oknum pejabat tertentu,”tegas Marianus Nuhan, aktivis lingkungan yang juga Direktur Yayasan Sunspirit Labuan Bajo.

Para aktivis menyatakan, warga Labuan Bajo kekurangan air lantaran adanya praktek bisnis air bersih oleh oknum mafia dan para bandit air yang bekerja hanya untuk menguntungkan diri mereka sendiri atau kelompok tertentu dengan modus merampok sumber daya publik yang seharusnya kepemilikan, akses dan manfaatnya diperuntukan bagi semua orang.Praktek pencurian, penjual belian air secara bebas telah mengakibatkan krisis air yang berkepanjangan di Kota Labuan Bajo.

Selain itu, banyak jaringan pipa yang sengaja dipasang atau dibelokkan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kepentingan bisnis, hal ini menyebabkan air tidak bisa mengalir masuk ke rumah-rumah penduduk.

“Jadi, keluhan masyarakat terhadap krisis air bersih lebih karena salah urus oleh para pengambil kebijakan dan bukan karena debit air kurang atau sumber air hilang,” tambah Edward Angimoy dalam orasinya.

Tercatat sedikitnya 5 titik sumber mata air yang masuk ke kota Labuan Bajo, belum terhitung sumber-sumber air yang ada di dalam dan di sekitar kawasan kota Labuan Bajo. Namun sumber air tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan warga kota karena sebagian sumber air dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang. Praktik mafia air dan bandit-bandit air yang terus membisniskan air secara liar menyebabkan masyarakat terus dilanda krisis air bersih.

Para aktivis lingkungan mendesak pemerintah agar segera menertibkan para mafia yang mempraktekan jual beli air secara bebas tanpa memeperhatikan kebutuhan seluruh warga. Padahal,air merupakan berfungsi sosial dan tidak boleh diprivatisasi untuk kepentingan pribadi.

Masalah privatisasi air berdampak luas bukan hanya krisis air tetapi masyarakat harus mengeluarkan biaya untuk membeli air padahal biaya tersebut bisa digunakan untuk pendidikan dan kebutuhan hidup lainnya. Masalah air bersih, kerusakan lingkungan hidup, privatisasi ruang publik harus segera diakhiri agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. (Kornelius Rahalaka)

Upacara HUT Satpol PP Tingkat Propinsi NTT, Bendera Merah Putih Tak Berkibar

Next Story »

Wisata Sepeda Flores 2015 Digelar Agustus Mendatang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *