Domi dan Kisah Jenazah yang Bangun Lagi

Melakoni pekerjaan sebagai petugas memandikan mayat, tentu tidak semua orang bersedia menjalaninya. Selain diperlukan keberanian, tentu butuh ketulusan hati dan bukan sekedar mengejar rupiah untuk menekuninya.

KALAU kebetulan anda sedang berada di Maumere dan berurusan dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers, Maumere, bertanyalah kepada orang-orang di sana nama Dominikus Tala atau akrab dipanggil Domi, pasti sebagian besar mengenalnya. Nama Domi tak asing bagi sebagian besar warga Kabupaten Sikka. Bukan hanya masyarakat biasa, para pejabat penting di Sikka jika ditanya pasti mengenalnya. Begitu populernya Domi di lingkungan tempat dia bekerja, mengusik saya untuk mencari tahu, siapakah sejatinya pria ini?

Saat saya menyambangi Rumah Sakit (RS) TC Hillers, baru-baru ini, dirinya sedang tak berada di sana. Saya pun bertanya kepada petugas keamanan, namun belum mendapat jawaban, beberapa pengunjung RS bersuara mengatakan dirinya terlihat berada di tempat parkir. Tidak

Dominikus Tala, petugas kamar mayat RSUD TC Hillers, Maumere, di depan rumahnya yang juga dipakai sebagai tempat usaha pembuatan peti jenazah. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Dominikus Tala, petugas kamar mayat RSUD TC Hillers, Maumere, di depan rumahnya yang juga dipakai sebagai tempat usaha pembuatan peti jenazah. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

menemukan pria berpostur tinggi ini, saya lantas mendatangi rumahnya. Setelah mendapatkan nomor telepon seluler dan menghubunginya, rupanya dia segera pulang ke kediamannya. Rumah sederhana setengah tembok berdinding halar (bambu belah) dengan lantai keramik terlihat bersih. Di bagian kiri halaman rumah terdapat lima peti jenazah siap pakai.

“ Saya sekarang masuk shift malam, karena saat pagi ada satu orang tenaga kerja sukarela yang masuk. Tapi kalau dibutuhkan saya siap datang, makanya telepon seluer saya harus aktif 24 jam,” ujarnya.

Beberapa tahun ini semenjak ada TKS (tenaga kerja sukarela) yang bertugas membantunya di kamar jenazah, dirinya tak lagi berjaga 24 jam. Biar pun dinas malam, dirinya siap dipanggil kapan saja bila dibutuhkan rumah sakit. Bahkan ayah dua putri ini juga kerap menerima panggilan dari keluarga yang berduka di pelosok Sikka, guna memandikan mayat dan memakaikan pakaian.

Bekerja Saja

Ketika saya temui di lain waktu saat dia sedang bertugas, pria asal Dusun Lewomudat, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka ini, terlihat cekatan memandikan jenazah seorang lelaki dewasa. Bagi Domi, dirinya hanya menjalankan pekerjaan yang diberikan. Domi awalnya berkarya di rumah sakit ini ketika masih menempati gedung lama, yang sekarang dipakai sebagai Kampus Universitas Nusa Nipa, Maumere.

Sebelum diangkat jadi tenaga honorer daerah tahun 1998, suami dari Maria Imelda ini sudah beberapa tahun sebelumnya hanya berstatus sebagai tenaga kerja sukarela. Meski tanpa gaji tetap, dirinya tetap semangat dan tidak protes. Semenjak tahun 1998 dirinya bertugas rangkap sebagai petugas kamar mayat selain menjadi petugas kebersihan (cleaning service).

“Karena direktur lihat saya kerja bagus, makanya saya disuruh kerja rangkap sebagai petugas memandikan mayat, kerja selama 24 jam. Saya dikasih handy talky sehingga kalau ada orang meninggal saya dihubungi, sebab waktu itu saya masih tinggal di asrama. Tidak ada alasan capek dan terus kerja,”ungkap pria kelahiran 5 Agustus 1971.

Setelah sekian tahun bekerja, lanjut Domi, rasa capek muncul juga. Ketika direktur bertanya, Domi mengaku masih kuat. “Saya jawab masih kuat,” tutur pria yang menetap di RT 02 RW 10 Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok ini lagi. Di tahun 2000-an, kata Domi, dirinya masih diberikan uang tambahan untuk membeli susu. Tapi sekarang tidak ada lagi, sehingga menurutnya agak merepotkan juga.

Setelah berstatus tenaga honorer selama delapan tahun, dirinya baru diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Itu pun, kata Domi, setelah ada dokter ahli yakni dokter Ketut yang hendak pindah kerja ke Denpasar, memintanya mengikuti sang dokter bekerja di kamar mayat di RS Sanglah, Denpasar. Dikatakan lelaki berusia 55 tahun tersebut, dokter Ketut melihat dirinya bekerja rajin dan memiliki keberanian.

“Saya lantas menghadap Bupati Alex Longginus dan beliau bilang, Domi tenang saja harus banyak bersabar. Mungkin juga sebentar lagi Domi akan diangkat jadi PNS. Tiga minggu setelahnya, saya diangkat jadi PNS, “ ucapnya penuh haru.

Ketika membaca surat kabar yang memuat pengumunan PNS yang diterima Pemkab Sikka, beber Domi, dirinya melihat namanya terdaftar di nomor 288. Dirinya bergegas pulang ke rumah dan menunjukan surat kabar tersebut kepada isterinya. Pasangan suami-istri tersebut langsung menangis. Besok paginya, mereka langsung bertolak ke kampung halaman, bakar lilin di kubur orang tua. Sebelumnya, saya kerja sebagai tenaga sukarela sekitar lima tahun lebih.

“Kalau kita kerja rajin atasan pasti perhatika. Ini anak kerja baik jadi kita akan angkat dia jadi tenaga honorer. Kalau sudah jadi tenaga honorer, peluang untuk jadi PNS lebih gampang.Tenaga kerja sukarela (TKS) dulu ada uang sabun dan lainnya dari kantor. Kalau TKS sekarang susah, kita harus rajin cari kerja di luar, “kenangnya.

Bagi dokter Asep Purnama, mantan Direktur RSUD TC Hillers, sosok Domi merupakan pekerja keras dan mempunyai ‘gairah’ di bidang yang menjadi tanggung jawabnya, apa pun itu. Dikatakan dokter Asep, Domi merupakan pegawai terlama yang bekerja sendiri hingga menjabat kepala unit pemusalaran jenazah. Bila dirinya tidak ada, sulit mencari pegawai yang mau bertugas di sana.

Hal senada juga disampaikan dokter Junaedi Sinaga, Direktur RSUD TC Hillers saat ini. Menurut dokter Sinaga, Domi merupakan pribadi yang jujur dan tekun dalam bekerja meski lama berstatus sebagai tenaga honorer. Bila tidak ada mayat, dirinya juga kerja sebagai cleaning service dan memotong rumput taman, tanpa disuruh.

Pesan Mama

Soal kejadian aneh selama bertugas, kisah Domi, terlalu banyak yang dia hadapi. Tapi dirinya mematuhi pesan almarhumah mamanya. “Mama saya berpesan, anak tidak boleh ceritakan pada orang, apa yang anak lihat langsung diam,” tutur ayah dari Mariani Feminolda Tala (Memi) dan Mariani Mersiana Tala (Mersi) ini. Mamanya pun berpesan agar dirinya tidak boleh mengambil barang milik orang lain, apalagi orang meninggal, sebab akan mengakibatkan rumah tangga tidak sehat dan kerja jadi susah.

“Waktu masuk kerja pertama kali saat direktur dijabat dokter Henyo Kerong, beliau berpesan siapa yang kerja baik, rajin, dan jujur akan diperhatikan. Pesan itu yang saya selalu ingat hingga saya bisa hidup baik seperti sekarang, “ ungkapnya lirih.

Bekerja di kamar jenazah, pesan Domi, harus tabah dan kuat iman, serta tidak boleh buang air liur saat bertugas. Jika membuang air liur, jenazah bisa marah dan arwahnya mengikuti kita hingga ke rumah. Saya tidak pernah takut mau mayat bau dan busuk dan sudah berulat sekali pun, saya tetap rawat. Domi dan keluarga juga sering membelikan pakain bagi jenazah yang keluarganya tidak mampu.

Selama bertugas, lelaki pekerja keras ini selalu didatangi arwah orang yang dimandikannya dan biasanya terjadi tiga hari setelah meninggal. Sang isteri pun sudah tahu dan hapal dengan tanda -tanda kehadiran arwah sehingga tidak takut. Bahkan, anak pertamanya yang sekarang duduk di kelas 2 SMA sejak empat tahun lalu selalu menemani Domi saat memandikan mayat di malam hari bahkan tengah malam.

“ Orang yang meninggal dunia selalu memberi saya rezeki. Saya tiap tahun selalu buat laporan kerja dan tidak ada masalah. Semua hasil kerja saya rekap dan saya kerja benar, takut dituduh makan uang tidak halal. Pernah ada pegawai TKS ‘makan’ uang dan saya ganti. Saya tidak mau orang omongin saya punya nama, apalagi saya tidak berbuat,“ tuturnya.

Meski sering disambangi arwah, Domi merasa tidak pernah terganggu. Bahkan, saat bepergian jauh di malam hari pun tidak terjadi apa-apa. Para arwah tersebut, datang dan berbicara dengannya, tapi karena dia ingat pesan mamanya, hal ini selalu dirahasiakan.

Selama bekerja banyak suka dan duka dilalui. Dukanya, beber Domi, kadang dirinya sering dimarahi keluarga yang berduka. Tapi meski diomeli dirinya diam saja dan mengalah. “Kalau masih sekedar kata-kata saya terima saja asal jangan main pukul. Kalau sudah kelewatan saya hanya katakan lebih baik kita perang saja dan mereka sudah tahu, itu saya marah jadi mereka diam, “tuturnya seraya tertawa lepas.

Dirinya sering menyayangkan anggota keluarga atau kerabat yang melarang jenazah jangan dimandikan dahulu karena berkeyakinan orang yang meninggal akan hidup kembali. Jika jenazah sudah kaku, saya hanya bakar lilin dan membuat tanda salib serta bicara sebentar dengan jenazah. Tak lama berselang kaki tangan jenazah pun lemas, tutur Domi menceritakan keyakinan yang tidak masuk akal itu.

Jenazah Bergerak

Kepribadinnya yang tidak mau tinggal diam, membuatnya membuka kebun di tanah kosong milik gereja katolik di samping RSUD TC Hillers. Selain menanam jagung dan singkong, ikut pula ditanam cabai dan sayuran. Para pegawai RS dan tetangga rumah sering meminta dan dipersilakan memetik sendiri cabai dan sayuran, bahkan jagung muda. Domi juga memelihara sapi betina sebanyak empat ekor dan membuat peti jenazah di halaman rumahnya.

“ Sapi pertama itu rencananya mau dipotong saat Komuni Pertama anak kedua saya. Sapi yang kedua dibeli untuk persiapan syukuran saya diangkat jadi PNS. Saya bilang ke isteri, kalau kita pesta rugi, anggaran besar apalagi kita tinggal di kota semua butuh uang. Lebih baik uangnya untuk beli sapi dan buat modal biayai sekolah anak,”tuturnya mengenang.

Usaha penjualan peti jenazah baru beberapa bulan ini dijalani. Dia mengungkapkan, kebetulan ada saudara yang membantu dan menyuruhnya. Domi dibantu dua orang pekerja. Tapi peti jenazah juga kadang dipakai dahulu dan uangnya menyusul. Dirinya mengatakan pada keluarga yang berduka agar mengurus dahulu orang yang meninggal, karena orang meninggal ini kan tidak direncanakan. Kalau mereka ada uang, baru datang membayar. Dirinya berprinsip yang penting barang diambil mereka pasti dibayar. Dalam usaha kita harus banyak bersabar, pesannya.

“Pernah ada orang asing yang saya urus, ambil peti dulu dan baru empat bulan kemudian dibayar. Tukang saya tanya, kenapa uangnya lama sekali. Saya bilang kamu tenang saja, ini orang meninggal nanti juga dibayar. Betul, tidak lama duta besar Negara asal mayat telepon dari Denpasar minta nomor rekening dan transfer dana,”kenangnya.

Selama bertugas, dirinya pernah menangani empat jenazah orang asing dan ini diakuinya jadi pekerjaan sulit. Jenazah tersebut tidak boleh diawetkan memakai formalin. Akhirnya, dirinya merancang sendiri peti jenazah agar bisa menempatkan balok es dan hanya uapnya saja yang mengenai jenazah. Petugas kedutaan Negara asal mayat datang mengecek agar jangan sampai ada cairan yang menetes. Bahkan pernah ada jenazah orang asing yang menginap di kamar jenasah empat malam tiga hari. Hal ini membuat dirinya bersama aparat polisi bersiaga selama 24 jam mengontrol es batu. Kapolres Sikka, kenang Domi, berpesan agar dirinya bekerja dengan baik sebab ini membawa nama baik negara.

Bukan hanya di RS TC.Hillers, Domi kerap dipanggil keluarga berduka di pelosok Sikka bahkan hingga Larantuka dan Nagekeo. Dirinya pun tak mematok harga dan hanya mengatakan terserah keluarga berduka, berapapun imbalan uang yang diberikan dirinya akan mengucap syukur. Jenazah yang hendak disuntik formalin, dirinya selalu meminta keluarga mengurus surat dahulu dan membelinya sendiri.

Kejadian yang paling berkesan, sebut pria, bertubuh atletis ini ketika empat jenazah yang sudah selesai dimandikan, bergerak kembali. Dua jenazah perempuan usia sekolah dasar yang sudah selesai dimandikan dan saat didorong ke kamar mayat RS bergerak dan ingin duduk. Semua keluarga dan petugas di kamar jenazah lari ketakutan. Kalau di luar RS satu di belakang Pasar Geliting dan satunya di Kloanglagot. Semua orang di dalam dan luar rumah, kata Domi, lari ketakutan, termasuk petugas yang sedang membuat kuburan di depan rumah.

“ Yang di rumah sakit dia mau bangun tidak, bangun tidak, akhirnya setelah ditaruh di dalam peti saya pesan kepada sopir ambulance agar petinya jangan ditutup. Tapi sopir sudah tahu tidak mungkin terjadi. Kalau dia hidup pun seperti Tuhan Yesus paling lama 40 hari dan paling cepat tiga hari dia meninggal. Kalau dia hidup itu kuasa setan, karena Tuhan belum panggil dia,” katanya.

Selain itu, dirinya pernah menangani dua jenazah perempuan yang selesai dimandikan langsung melahirkan. Anak yang sudah meninggal tersebut dibalut kain putih dan diserahkan ke keluarganya. Domi pun kerap memakaikan pakaian pada jenazah tersebut sesuai permintaan keluarga. Semua pakaian adat NTT, biarawan-biarawati, dirinya paham dan mahir. Hanya yang tersulit, ujar Domi lagi, yakni mengenakan pakaian adat Manggarai pada jenazah. Jenazah kecelakaan lalu lintas atau pembunuhan juga susah dikenakan pakaian.

Pekerjaan yang dilakoninya ini mendapat dukungan penuh keluarganya. Bahkan anak tertuanya dengan senang hati menemaninya dan ikut membantu memandikan mayat di malam hari. Memi sapaan akrab puteri sulungnya itu, bercita-cita menjadi perawat. Memi menilai pekerjaan bapaknya sangat mulia. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

‘Klerus Tak Boleh Terlalu Jauh Mencampuri Devosi’

Next Story »

Radja Bataona, Sang Pelukis Malam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *