Banjir Bandang, Ribuan Warga Komodo Terisolasi

Sebagian jembatan Wae Dongkong yang ambruk (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Sebagian jembatan Wae Dongkong yang ambruk (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

LABUAN BAJO, FBC- Hujan deras yang melanda kota Labuan Bajo dan sekitarnya selama dua hari berturut-turut yakni Sabtu dan Minggu 25-26 April 2015, menyebabkan bencana alam banjir bandang di sejumlah wilayah.

Ribuan warga yang mendiami jalur Selatan Kecamatan Komodo seperti Sok Rutung, Pantar, Roang, Translok, Mbuhung, Kaca, Lemes, Warloka dan Golo Mori terisolir total akibat ambruknya sebagian badan jembatan Wae Dongkong yang terletak di Desa Pantar.

Sebagian badan jembatan sepanjang 25 meter tersebut amblas seketika diterjang banjir bandang. ribuan warga di wilayah itu pun kini terisolir dan tidak bisa berjalan lantaran arus lalu lintas dari dan ke wilayah itu macet total.

Pantauan FBC, kondisi jembatan masih tampak utuh namun sebagian badan jalan dan tiang penyangga tembok terutama dibagian sisi utara jembatan ambruk ke dasar sungai.

Jembatan yang dibangun pada tahun 2007 itu kini tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Warga masyarakat sulit melewati jalur jalan tersebut karena kedalaman jembatan tersebut mencapai belasan meter.

Anggota DPRD Manggarai Barat, Blasius Janu Pandur yang memantau langsung ke lokasi bencana mengungkapkan, masyarakat di wilayah itu benar-benar terisolir karena jalur jalan putus total.

“Kami sudah melihat lokasi bencana dan warga benar-benar terisolir karena jalan putus total dan tidak bisa dilalui kendaraan. Roda perekonomian warga pun lumpuh. Apalagi jembatan itu merupakan satu-satunya penghubung antara wilayah selatan dengan kota Labuan Bajo,” ujarnya.

Kondisi jalan di Kampung Handel yang sulit dilalui oleh warga dan kendaraan. ambruk (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Kondisi jalan di Kampung Handel yang sulit dilalui oleh warga dan kendaraan. ambruk (Foto : FBC/Kornelius Rahalaka)

Dari hasil pantauan, banjir bandang tidak secara langsung menghantam badan jembatan tetapi sebagian badan jalan sebagai penyangga utama jembatan ambruk karena abrasi. Menurut dia, banjir bandang terjadi kuat dugaan akibat adanya aktivitas penambangan material galian golongan C seperti batu dan pasir di sepanjang sungai yang dilakukan secara serampangan. Banjir bandang terjadi dan menimpah wilayah itu lantaran intensitas hujan yang tinggi berikut aktivitas pengerukan material yang tak terkontrol.

Warga setempat sebenarnya sudah lama meminta pemerintah untuk memperhatikan dan menertibkan para penambang dan mendesak pemerintah untuk segera membuat tanggul penahan serta alur sungai agar bila terjadi banjir, air banjir tidak langsung menghantam jembatan. Namun keluhan warga tidak mendapatkan respon dari pemerintah. Padahal, kecemasan warga sangat beralasan karena lokasi penambangan di sepanjang sungai tersebut sangat rawan terjadinya abrasi dan berpotensi merusak jembatan.

”Kita sudah pernah usulkan kepada pemerintah agar segera membuat tanggul penahan dan membuat alur aliran sungai agar bila musim hujan, tidak terjadi banjir. Tapi pemerintah seolah masa bodoh,”ujar seorang warga.

Bukan hanya aktivitas penambangan yang mengakibatkan rusaknya jembatan, ratusan warga di Kampung Handel juga mengeluhkan kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan. Ruas jalan sepanjang 500 meter itu kini sulit dilalui oleh warga setempat akibat proyek telfort yang belum tuntas dikerjakan oleh kontraktor proyek. Warga kampung bahkan mengancam akan membongkar kembali telfor karena menghambat kelancaran arus kendaraan.

“Waktu itu, kontraktor berjanji akan mengaspal jalan itu tapi sampai sekarang tidak terealisasi. Kami sulit bepergian karena kendaraan sulit melewati jalan itu. Sebelum ada proyek atau masih jalan tanah biasa, kami bisa bepergian dan kendaraan sangat lancar keluar masuk kampung tapi masuknya proyek malah mempersulit kami,”ujar Dominikus seorang warga setempat.

Selain merusak sejumlah fasilitas publik seperti jalan dan jembatan, banjir juga merendam ratusan hektar lahan petani di wilayah. Seperti di persawahan Dalong, Watu Langkas, Nggorang, Walang dan di sepanjang jalur aliran sungai Wae Mese hingga Nanganae, banyak lahan pertanian warga yang terkikis banjir dan sebagian lahan pertanian lainnya diprediksi bakal gagal panen.

Warga di wilayah tersebut mendesak pemerintah agar segera memperbaiki jembatan agar roda perekonomian warga dan mobilisasi masyarakat kembali normal. (Kornelius Rahalaka)

Kasus Pencurian Marak, Warga Kota Lewoleba Resah

Next Story »

Operasi Gratis, Orang Tua Merasa Terbantu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *