Bangunan SD Memprihatinkan, Satu Kursi Diduduki Dua Murid

Ruang kelas dua SDK Wololuma desa Mekendetung kecamatan Kangae kabupaten Sikka yang mengalami kebocoran dan masih berlantai tanah. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

Ruang kelas dua SDK Wololuma desa Mekendetung kecamatan Kangae kabupaten Sikka yang mengalami kebocoran dan masih berlantai tanah. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

MAUMERE, FBC – Puluhan murid Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wololuma, Desa Mekendetung, Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bangunan sederhana dengan atap seng yang sudah 10 tahun berlubang. Saat musim hujan air menggenangi ruangan kelas dua yang paling parah mengalami kerusakan.Ruangan kelas ini pun masih berlantai tanah.

Bukan atap saja yang mengalami kebocoran, bangunan kelas dua juga terlihat sederhana dan tidak layak. Dinding bangunan memakai bambu belah (Halar) dan beberapa tiang bangunan mempergunakan bambu dan kayu seadanya sebagai penahan.

Bangunan ruangan kelas ini dibangun secara swadaya oleh guru-guru dan orang tua murid. Bahkan para murid sekolah ini di beberapa ruang kelasnya, satu bangku dipakai duduk berdua dan satu meja dipergunakan oleh tiga murid.

Hal ini disampaikan Wakil Kepala Sekolah SDK Wololuma, Pit Sepe, kepada wartawan yang menemuinya di ruang kerjanya, Selasa (28/4/2015). Dikatakan Pit, sampai saat ini ruangan kelas SDK Wololuma sangat tidak layak dan ideal. Kegiatan belajar mengajar sebut Pit sudah belasan tahun berjalan dengan fasilitas yang sangat minim dan seadanya. Meski berjalan dengan berbagai kekurangan, lanjutnya, pemerintah daerah hingga saat ini belum juga memperhatikan hal ini.

“ Segala fasilitas seperti ruangan kelas, bangku, meja, lemari, dan papan tulis sangat minim. Kasihan para murid dan guru tidak bisa melakukan aktifitas dengan tenang. Para murid terpaksa selalu duduk berdua di satu kursi saat proses belajar mengajar berlangsung,“ ujarnya.

Ditambahkan Pit, ruang kelas dua yang selama ini digunakan sebetulnya sudah tidak layak pakai namun tidak ada pilihan lain dan pihak sekolah masih bertahan memanfaatkannya untuk aktifitas KBM. Sementara untuk ruangan kelas satu dan kelas tiga tambah Pit, masih kekurangan kursi dan meja sehingga para murid terpaksa duduk bersamaan saat KBM berlangsung.Jumlah murid di SDK Wololuma kata Pit sebanyak 94 orang dengan lima ruang kelas. Dari lima ruangan tersebut, sebutnya, ruangan kelas dua yang masih mengunakan ruangan bambu yang dibangun guru dan orang tua murid.

“ Para murid sering mengeluh ruang kelas mereka pengap dan membuat mereka tidak nyaman saat duduk bersamaan di satu kursi saat belajar tapi kami tidak bisa berbuat banyak,“ jelasnya.

Hal senada juga dikeluhkan guru wali kelas dua, Marselina Yeni saat ditanyai wartawan.Dikatakan Yeni, fasilitas yang minim yang ada di SDK Wololuma paling parah terdapat di ruangan kelas dua dimana ruangan tersebut masih mengunakan ruangan alternatif yang dibangun melalui dana sewadaya orang tua murid. Ruangan ini tambahnya terpaksa dipergunakan guru dan 18 murid dalam melakukan KBM sebab tidak ada alternatif lainnya dikarenakan pihak sekolah memiliki keterbatsan dana.

“ Saat hujan air pasti merembes karena atap seng banyak yang bocor. Meski demikian kami tetap melaksanakan KBM meski ruangna kelas dipenuhi air hujan,“ tuturnya.

Pit dan Yeni serta para guru lainnya berharap agar ada perhatian dari pemerintah kabupaten Sikka dalam hal ini dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Sikka agar mempertimbangkan penambahan ruangan kelas serta fasilitas yang kurang bagi sekolah mereka.Dengan adanya penambahan fasilitas sebut mereka, KBM bisa berlangsung dengan lebih baik, lancar dan para murid juga lebih nyaman dan fokus belajar.

Disaksikan FBC, terdapat beberapa seng di ruangan kelas dua sudah berlubang dan dinding ruangan terbuat dari bambu belah tembus pandang. Banyak bambu belah yang sudah mengalami kerusakan dan hancur terkena air hujan sehingga dari dalam ruangan kelas kita bisa melihat ke luar ruangan sebab celah-celah bambu sudah tidak rapat akibat puluhan tahun terkena air hujan. Terdapat bambu bulat di tengah ruangan kelas yang dipergunakan untuk menopang rangka atap.

Untuk mencapai sekolah yang berjarak sekitar 15 kilometer arah selatan kota Maumere, perjalanan ditempuh menyusuri jalan beraspal hingga pertigaan jalan di desa Mekendetung. Selanjutnya perjalanan dilakukan dengan menyusuri jalan aspal yang berlubang disana – sini dan menurun tajam. Saat hujan, air akan mengalir melewati badan jalan dan mengikis permukaan jalan sehingga menyebabkan kerusakan jalan bertambah parah. Untuk mencapai sekolah ini, FBC harus berjalan menyusuri lagi jalan tanah setapak. (ebd )

Terkendala Sarana dan Prasarana, Kantor Perpustakaan Sikka Hindari Promosi

Next Story »

Polres Manggarai Layani SIM Keliling

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *