Abrasi Pantai Ancam Desa Wure

Tanggul penahan gelombang yang rubuh sepanjang ± 4 meter mengakibatkan abarasi yang menumbangkan beberapa pohon kelapa. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Tanggul penahan gelombang yang rubuh sepanjang ± 4 meter mengakibatkan abarasi yang menumbangkan beberapa pohon kelapa. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

LARANTUKA, FBC – Air laut yang kian menggerus pesisir pantai desa Wure, Adonara, Kabupaten Flores Timur,  kian hari kian bertambah parah. Selain sudah menumbangkan beberapa pohon kelapa yang berada persis di sisi utara gereja Wure sejauh ± 15 meter, juga menyebabkan beberapa tanggul penahan di sekitar dermaga Wure ambruk.

Jika terjadi gelombang besar, air laut akan masuk hingga beberapa meter dari gereja Wure bahkan menggenangi jalan semen yang ada di dekatnya. Jika tidak segera dibangun tanggul, maka dikuatirkan satu dua tahun ke depan abrasi akan menumbangkan beberapa pohon kelapa dan menyebabkan menyempitnya jalan yang kerap dilewati peziarah saat Semana Santa menuju kapela Wure.

Hal ini disampaikan  tokoh adat Wure, Lambertus Sakera ( 76 ) kepada FBC yang menemuinya, Senin (23.03/2015 ). Dikatakan Lambertus, dahulunya sepanjang sisi barat dermaga Wure dibangun tanggul setinggi ± 1 meter tetapi tanggul di samping dermaga sudah rubuh dua tiga tahun ini. Ada celah sekitar 4 meter di sebelah barat yang paling parah tergerus abrasi sehingga beberapa pohon kelapa sudah terpotong.

“ Kalau tidak dibangun tanggul lagi, beberapa pohon kelapa di bibir pantai akan tumbang juga. Pohon kelapa ini bisa menjadi peneduh disamping pohon lainnya yang ada di dekatnya,“ ujarnya.

Tanggul di bagian samping barat dermaga Wure yang sudah ambru. ( Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Tanggul di bagian samping barat dermaga Wure yang sudah ambru. ( Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Ditambahkan Lambertus, jika tidak ada pepohonan maka selain merusak pemandangan, juga cuaca semakin panas terlebih desa Wure selalu dibanjir peziarah saat Semana Santa tiap tahunnya. Ada kerja sama Sister City, kalau bisa himbaunya, bangun juga tanggul itu dan dibuat lebih indah seperti taman kota di Larantuka.

Hal senada juga diutarakan Dominikus Pende Are ( 59 ) penjaga kapela Senhor. Menurut Dominikus, sebagai tempat yang ramai disambangi peziarah dari luar daerah, seharusnya Wure ditata lebih baik. Desa Wure sebutnya persis berada sekitar 30 meter dari bibir pantai dan saat terjadi musim barat dan gelombang besar, pasti bibir pantai akan tergerus abrasi.

“ Dulu pernah dibangun tanggul tapi bapak lihat sendiri sudah banyak yang rusak batu-batu juga berserakan. Kalau ombak besar, sampah plastik dan lainnya sering penuh di pantai,“ ungkapnya.

Keduanya berharap agar pemerintah kabupaten Flotim bisa membantu menata desa Wure karena menurut keduanya jika ditata dengan baik tentunya akan memberikan kenyamanan dan keindahan yang bisa dinikmati peziarah. ( ebd )

Pansus LKPJ Bupati Mabar 2014: Dari Indikasi Manipulasi Dokumen Hingga Proyek Fiktif

Next Story »

Pengembangan Tanaman Jagung Harus Didukung Pengolahan Pasca Panen

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *