Mengendus Ikan Berformalin (1)

Tim Pemantau yang Gamang dan Berkinerja Buruk

Sampai kapankah kami masyarakat Sikka bisa mengkonsumsi ikan? Demikianlah kata pembuka yang diucapkan seorang legislator perempuan saat rapat dengar pendapat DPRD Sikka dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka, baru-baru ini

KEGELISAHAN Maria Angelorum Mayestatis, politisi Partai Golkar ini tentunya beralasan. Sejak ditemukan sebanyak 25 ton ikan berformalin jenis tembang di perusahaan ikan PT. Shitaratian di Nangahure, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, November 2014 silam, langkah yang dilakukan pemerintah daerah terkesan lambat.

Pemusnahan yang direncanakan pada Desember 2014 molor hingga 6 Januari 2015. Volume ikan yang dimusnahkan pun berkurang drastis. Data pasti berapa banyak ikan yang dimiliki perusahaan eksportir ikan tersebut juga bervariasi. Data versi pemilik perusahaan menyebutkan 25 ton, pemerintah 20 ton, data yang disodorkan anggota DPRD Sikka pun berbeda pula.

Dikatakan Shinta Fakih, pemilik PT Shitaratian, ikan tembang tersebut dibeli dari pemasok ikan di Larantuka dan Nobo, karena ikan jenis tersebut paling banyak berasal dari Larantuka. Ikan berformalin sebanyak 15 ton dimusnahkan di Surabaya setelah ditemukan terdapat kandungan formalin di dalamnya.

“Saya baru kirim 15 ton ke Suarabaya dan mereka bilang ikannya berformalin. Saya kaget itu kan ikan segar, mana mungkinlah. Saya tidak punya alat tes formalin, saya cuma punya alat tes bakteri saja,”ujar pemilik Restoran Ratu Shin yang juga berlokasi di komplek pabrik ikan tersebut.

Kegiatan perdagangan ikan saat pagi hari di TPI Alok Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Kegiatan perdagangan ikan saat pagi hari di TPI Alok Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Sisa ikan sebanyak 10 ton, tutur Shinta, baru hari ini, berhasil dimusnahkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wairii. Menurut Shinta, perusahaannya tidak memproduksi ikan tembang dan cuma mengolah tuna saja. Tapi karena dirinya mendapat order dari pabrik pengalengan sarden (ikan dalam kaleng) di Muncar, Jawa Timur, maka dirinya bersedia mengirimkan ikan jenis tembang ini.

“Saya dapat order 10 kontainer per bulan tapi saya sanggupnya hanya 5 kontainer per bulan. Setelah dengar laporan dari Surabaya bahwa ikannya mengandung formalin, saya lapor ke dinas perikanan. Pihak dinas bilang jangan disentuh dan dimakan, tunggu proses pembakarannya,” tambah perempuan pengusaha ini lagi.

Siapa Pelakunya ?

Hasil penegecekan yang dilakukan Tim Pemantau Ikan Berfromalin dan laporan dari pihak perusahaan menyebutkan, ikan-ikan yang mengandung formalin tersebut bukan berasal dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Alok maupun tempat pendaratan ikan lainnya di Kabupaten Sikka. Ikan-ikan tersebut diambil penjual dari TPI di Larantuka dan Nobo, Ilebura, Flores Timur lalu dibawa ke Maumere menggunakan mobil pikap.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka, Drs. Kensius Didimus selaku ketua Tim kepada FBC yang menemuinya di kantornya, belum lama ini mengatakan, hasil penjelasan tim PT Shitaratian, masih ada lagi ikan berformalin sebanyak 10 ton dan kandungan formalinnya lebih banyak dari yang ada sekarang yang beredar di masyarakat. Ikan tersebut, menurut Shinta sang pemilik perusahaan, sempat hendak dijual ke perusahaan tersebut namun ditolak karena mengandung formalin.

Kensius juga mempertanyakan, bagaimana caranya penjual ikan mendapatkan formalin tersebut. Pertanyaan terbesarnya, apakah PT Shitaratian tidak mengecek ikan yang dibeli tersebut mengandung formalin? PT Shitaratian juga, papar Kensius, mengatakan pernah mengirimkan ikan berformalin ke luar daerah dan ditolak.

“Ini kan tim kordinasi yang turun ke perusahaan dan menemukan adanya ikan berformalin tersebut. Berarti selama ini sudah sering terjadi. Pelakunya juga sampai sekarang tidak diketahui. Masa mereka tidak tahu orang yang menjualnya ke mereka? “ tanya Kensius.

Achmad Kelen penjual ikan asal Larantuka yang mengandung formalin memabantah telah mencampur formalin ke tubuh ikan tembang yang dibawanya dari TPI Amagarapati, Larantuka. “Sampai sekarang saya tidak mengerti bentuk formalin itu seperti apa? Ikan tersebut kami campur es saja. Saya tidak tahu dan tidak pernah campur ikan dengan formalin, bentuknya seperti apa juga saya tidak tahu,“ jawabnya berulangkali.

Disebutkan Achmad, dirinya dengan jujur dan berani bersumpah tidak mengetahui ikan yang dijualnya mengandung formalin. Saat dikabarkan sopirnya bahwa mobilnya disita karena ikan yang dijual mengandung formalin, dirinya segera bertolak dari Larantuka guna mendatangi kantor Satpol PP Sikka untuk memberikan keterangan. Dari menjual ikan selama 6 tahun, beber Achmad, dirinya bisa membiayai sekolah anaknya.

“Saya akan berbicara dengan pegawai saya supaya jangan lihat saja, tapi harus dicek. Dinas Kelautan dan Perikanan Flotim harus jeli dan periksa semua ikan sehingga kami jangan jadi sulit seperti ini. Kami ada izin jual ikan dan masih berlaku. Mau jual ke luar daerah juga bawa surat jalan, ” ungkapnya.

Hilang

Sejak diamankan di kantor Satpol PP Sikka dan setelah dilakukan tes, sebanyak 203 boks ikan dinyatakan positif mengandung formalin. Dari jumlah tersebut, 51 boks ikan tembang yang ditemukan saat pemeriksaan pertama, diamankan di gudang penyimpanan di TPI Alok, Maumere. Sisa ikan lainnya tidak diketahui keberadaannya.

Ketua Tim Pengawasann Ikan Berfromalin, Kensius Didimus juga tidak bisa memberikan jawaban pasti saat ditanya. Kalimat senada juga terucap dari mulut Kepala Satpol PP Sikka, Adeodatus Buang da Cunha. Buang mengakui, dirinya hanya ditugasi menyita saja, urusan penyimpanan dan pemusnahan merupakan wewenang Dinas Kelautan dan Perikanan Sikka.

Pengecekan yang dilakukan FBC di TPI Alok, terungkap bahwa ikan sebanyak 51 boks jenis tembang tersebut sudah diambil pada Minggu (25/01/15) oleh sebuah mobil sampah dan dikatkan hendak dibawa ke TPA Wairii, Kecamatan Alok Barat, untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.

Dikatakan Buang, dirinya juga tidak tahu pasti berapa jumlah ikan yang dibawa karena dirinya juga tidak mendapatkan data ikan berfromalin. Saat ditanyai berapa jumlah yang pastinya, dirinya hanya mengatakan cuma tahu 51 boks saja. Sedangkan yang lainnya dia mengaku tidak mengetahuinya. Dirinya juga tidak tahu pasti apakah betul ikan tersebut dimusnahkan karena tidak ikut menyaksikannya.

Mobil pikap pengangkut ikan cakalang sedang membongkar ikan di TPI Alok. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Mobil pikap pengangkut ikan cakalang sedang membongkar ikan di TPI Alok. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera ketika ditemui FBC di Kantor Bupati Sikka, Senin mengatakan, sebanyak 128 boks ikan berformalin aneka jenis dari 203 boks sudah dimusnahkan Pemkab Sikka. Ikan tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Wairii, Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, sebanyak 60 boks dimusnahkan Minggu (25/01/16) sementara sisanya sebanyak 68 box dimusnahkan hari berikutnya, Senin (26/01/15).

“Memang betul ada yang lari hilang. Saat pengecekan formalin di Kantor Satpol PP, 75 boks atau 3 mobil pikap melarikan diri ke arah Barat kota Maumere. Waktu itu kan banyak sekali mobil, sementara kita tangani yang lain. Yang penting kita tahu mereka melarikan diri ke arah Barat,”ungkapnya.

Kinerja Tim Lemah

Lemahnya pengawasan dan koordinasi membuat mobil pengangkut ikan berformalin yang sudah ‘dikandangkan’ di Kantor Satpol PP Sikka, melarikan diri. Boks ikan yang ditemukan berformalin tidak diamankan di sebuah ruangan khusus atau dibawa ke gudang penyimpanan. Pemilik ikan pun tidak menandatangani surat pemusnahan. Staf dari Dinas Kesehatan Sikka pun tak menampakan batang hidungnya dan mengambil alih proses administrasi yang jadi kewenangan dinasnya.

Lemahnya kinerja tim dan minimnya koordinasi ini berbuah penolakan Polres Sikka untuk memproses surat Bupati Sikka. Polres Sikka beralasan, data pendukung tidak dilampirkan seperti Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan sampel ikan yang dites. Pemkab Sikka malah disarankan mengurus sendiri lewat penyelesaian antar kedua pemerintah daerah, Sikka dan Flores Timur.

Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar pun mengakui hal ini. Memang benar kinerja tim rendah dan amburadul. Untuk itu personel tim akan diganti dan akan melibatkan pihak kepolisian untuk masuk dalam tim. Beberapa pembenahan yang dilakukan diharapkan bisa meningkatkan kinerja tim yang bekerja hingga batas waktu 25 Januari 2015. (bersambung)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencari Tanah Kehidupan Kekal

Next Story »

Nenek Ure dan Sebuah Pertemuan di Pantai