Frans Damianus Lagu

“Perasaan dan Pikiran Saya Tidak Buta”

Niat mulia yang membuncah dalam batin dan pikiran sejak duduk di bangku sekolah dasar, kini terwujud setelah menjadi insan yang berguna dan berjasa bagi orang lain. Ia bukan keturunan normal dan bukan pula berasal dari keluarga yang memiliki harta karun melimpah. Ia berasal dari keluarga miskin dan sederhana yang memiliki skill dan kemampuan yang berbeda. Siapakah dia?

DIA adalah Frans Damianus Lagu, pria kelahiran Ende, 5 Desember 1964 yang mengalami gangguan pengelihatan (tuna netra) sejak dari kandungan ibunya. Berkat usahanya yang gigih, dan ilham dari Yang Maha Kuasa, kini ia menjadi seorang guru yang sangat bijaksana dan profesional di Sekolah Luar Biasa (SLB) Ende. Ia guru spesialis anak-anak tuna netra di lembaga tersebut dengan tugas utama mengajar, mendidik, dan menuntut anak agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Bagaimana dia menjalani peran membantu sesamanya itu? Berikut petikan wawancara dengannya:

Ada adagium yang mengatakan, jika orang buta menuntut orang buta, niscaya keduanya akan jatuh ke dalam lubang. Benarkah? “Saya memang buta tetapi perasaan dan pikiran saya tidak buta,” kata Dami—panggilan akrabnya– singkat.

 

Frans Damianus Lagu (51) yang telah mengabdikan dirinya selama 12 tahun lebih menjadi pengajar pada Sekolah Luar Biasa Ende khusus menangani kelas tuna netra. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Frans Damianus Lagu (51) yang telah mengabdikan dirinya selama 12 tahun lebih menjadi pengajar pada Sekolah Luar Biasa Ende khusus menangani kelas tuna netra. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Keunikan dan kelebihan yang dimiliki pria tuna netra ini menjadi dorongan bagi semua tenaga pendidik di Tanah Air, agar tidak selalu mengeluh atas berbagai kekurangan yang mendera. Baru-baru ini, saya berbincang dengannya di SLB Ipi, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Bagaimana dia menjalani peran membantu sesamanya itu? Berikut petikannya:

Sejak kapan dan apa motivasi Anda menjadi guru?

Setelah saya tamat di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Kupang pada tahun 1982, saya menganggur hingga tahun 2002. Dan, baru pada tahun 2003, saya mencoba menjadi guru di sekolah ini dan saya diterima menjadi guru kontrak. Saya tidak menyangka mereka menerima saya menjadi guru, karena pemikiran saya dengan kondisi tuna netra seperti ini saya tidak layak menjadi guru yang baik. Sangkaan saya ternyata di luar dari apa yang mereka lakukan dan saya diterima menjadi guru.

Ini adalah niat saya sejak masih kecil untuk menjadi guru dan juga motivasi dari ibu saya, akhirnya saya mengikuti pendidikan di SPG. Saya ingin anak-anak khususnya penyandang tuna netra bisa seperti saya. Karena banyak orang melihat bahwa orang buta itu tidak bisa berbuat apa-apa. Justru anggapan itu terbalik, dan buktinya saya seperti ini (bisa menjadi guru, red). Orang tuna netra itu tentu memiliki kemampuan lain dan jangan pernah memandang bahwa mereka (orang tuna netra) tidak bisa.

Selama saya nganggur, saya bekerja sebagai tukang pijit. Saya tidak bisa bekerja lain karena saya tidak bisa melihat. Hanya sebagai tukang pijit saya bisa dapat uang. Uang itu orang kasih saja karena saya malu untuk minta, terserah mereka kasih saya berapa.

Seperti apakah kemampuan lain yang dimiliki orang tuna netra?

Tuna netra memiliki kemampuan lebih seperti perasaan dan pemikiran yang biasanya tajam. Intuisinya juga kuat. Membaca buku dengan meraba tetapi menggunakan perasaan. Perasaan itu lebih besar dari apa yang akan dilakukan, misalnya saat membaca huruf braille, memang menggunakan jari tangan untuk meraba tetapi perasaan selalu mendahului.

Saya biasanya berpikir dulu lalu secara otomatis merasakan. Insting saya lebih besar mengenai perasaan misalnya orang berniat jahat terhadap saya, perasaan saya sudah mengetahui terlebih dahulu dan itu pasti akan terjadi sesuatu yang tidak baik.

Atau pun saat saya berjalan, perasaan saya sudah mendahului tongkat arah jalan saya. Sebanarnya mata dan pikiran saya terdapat pada perasaan saya. Mungkin itu adalah kelebihan yang diberikan Tuhan.

una netra memiliki kemampuan lebih seperti perasaan dan pemikiran. Membaca buku melalui meraba tetapi menggunakan perasaan. Perasaan itu lebih besar dari apa yang akan dilakukan, misalnya saat membaca huruf braille. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Tuna netra memiliki kemampuan lebih seperti perasaan dan pemikiran. Membaca buku melalui meraba tetapi menggunakan perasaan. Perasaan itu lebih besar dari apa yang akan dilakukan, misalnya saat membaca huruf braille. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Berapa lama anda belajar membaca huruf braille?

Saya belajar huruf braille sejak duduk di bangku SD. Saya lebih banyak mendengar dan saya melakukan apa yang disampaikan guru saya saat SD. Setiap hari saya belajar huruf braille dan kalau di rumah, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk belajar.

Ibu saya tidak tahu tentang huruf braille, yang tahu hanya saya sendiri. Selain membaca, saya juga sering menulis dengan menggunakan huruf braille.

Apakah ada kesulitan belajar huruf braille dan bagaimana mengatasinya?

Awalnya sangat sulit tetapi karena sudah biasa membaca dan menulis, maka kesulitan itu akan hilang dengan sendirinya. Ya, mau bilang apa? Saya tidak bisa melihat dan satu-satunya jalan agar bisa membaca, harus belajar huruf braille. Karena kemauan dan niat menjadi guru, maka saya harus berusaha untuk belajar secara rutin.

Bagaimana cara anda mengajar siswa tuna netra dengan menggunakan huruf braille?

Cara mengajar seperti biasa, sama dengan cara guru-guru lain. Menjelaskan dan menuntut anak agar bisa membaca dan menulis dengan menggunakan jari tangan. Saya menjelaskan dengan mengeluarkan suara dan siswa mendengar dan melakukan perintah saya.

Sekarang saya mengajar dua anak tuna netra dan mereka sudah bisa membaca dan menulis. Saya lebih menegaskan anak untuk menggunakan perasaan baik membaca maupun menulis. Memang tidak gampang tetapi saya mempunyai niat agar mereka bisa baca dan tulis. Cara satu-satunya harus bertahan dan secara berlahan-lahan karena mereka (siswa tuna netra) tidak seperti anak normal.

Bagaimana cara anda mengukur perkembangan anak?

Saya sering memberi tes kepada siswa saya, baik cara membaca maupun cara menulis. Mereka dilatih meraba dulu untuk mengenal huruf-huruf. Bentuk dan tata letak titik pada huruf braille saya ajarkan kepada mereka, sampai benar-benar menguasai.

Perkembangan anak menulis dan membaca itu memang sangat lambat karena harus melalui beberapa tahap dari meraba, merasa, mengenal, memahami, menguasai, menulis dan membaca. Berbeda dengan siswa normal karena lebih mudah.

Saya mengukur perkembangan mereka melalui beberapa tahap itu, kecuali merasa. Karena kalau merasa itu timbul sendiri dari dalam diri. Saya hanya memberi penegasan agar selalu merasa segala sesuatu sehingga memudahkan untuk belajar.

Berapa siswa yang sukses dengan metode yang Anda pakai ini?

Hampir 12 tahun saya mengajar di sini dan banyak siswa yang sudah sukses. Saya mendapat informasi sudah sekitar 27 siswa yang sudah berhasil dan sudah membantu kehidupan mereka. Lebih banyak di luar negeri seperti di Filipina, Taiwan, Thailand, dan beberapa daerah di Jawa dan Kalimantan.

Ya, saya tentu berbangga mendapatkan informasi itu dan sebagai guru yang biasa disapa “Guru tanpa tanda jasa” bagi saya adalah sebuah kalimat yang tidak mengganggu niat saya sebagai guru. Saya memiliki niat tulus untuk memanusiakan manusia dan saya merasa bangga dengan kemampuan yang saya miliki, sehingga puluhan orang bisa berhasil.

Dari manakah informasi tentang keberhasilan anak didik, Anda peroleh?

Di rumah saya hanya ada sebuah radio sebagai satu-satunya sumber informasi. Informasi-informasi baru, saya dengar dari radio. Kejadian-kejadian baik dalam maupun luar negeri saya banyak dengar dari radio.

Saya belum punya televisi dan sebenarnya saya ingin beli walaupun saya tidak bisa melihat. Saya ingin beli untuk istri saya. Sebagai hiburan untuk dia. Saya biar cukup dengar saja. Kalau informasi dari daerah Ende atau Flores, selain saya dengar radio juga berasal dari ceritera istri dan teman-teman guru.

Apakah ada perhatian pemerintah kepada Anda?

Pemerintah cukup memperhatikan saya, seperti pada tahun 2004 menetapkan saya sebagai guru kontrak daerah sampai sekarang. Sebenarnya status kontrak dari tahun 2003 karena ada orang yang tukar nama saya dengan nama orang lain sehingga tertunda. Saya dapat informasi itu dari pegawai ketenaga kerjaan dan saya terima kecurangan itu. Tahun 2013 kemarin, saya diberi kesempatan untuk mengikuti tes K2 dan Puji Tuhan saya lulus K2.

Kalau gaji, besarannya sama seperti guru-guru lain. Pertama saya terima Rp 250 ribu per bulan. Dan, setiap tahun naik Rp 100 ribu, naik Rp 50 ribu. Tahun 2008 saya terima Rp 650 ribu. Sekarang katanya naik lagi Rp 200 ribu sehingga menjadi Rp 850 ribu. Ya, saya tidak keberatan dengan gaji dan saya ikuti saja. Yang penting saya bisa mengajar dan bisa membuat siswa tuna netra jadi manusia yang berguna.

Frans Damiannus Lagu (51, kiri) disaat senggang bersama Ivan (kanan), seorang siswa Tuna Grahita SLB Ende kelas 5. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Frans Damiannus Lagu (51, kiri) disaat senggang bersama Ivan (kanan), seorang siswa Tuna Grahita SLB Ende kelas 5. (Foto: FBC/Karolus Naga)

Apa pendapat anda tentang Surat Keputusan (SK) K2 yang belum diterbitkan pemerintah?

Ya.. tentu semua tenaga K2 yang lulus tes bertanya-tanya mengenai legalitas K2. Sudah hampir satu setengah tahun, SK kami belum dikeluarkan dan secara pribadi saya tentu kecewa dengan pemerintah.

Kami sekarang ini seperti ‘ayam kehilangan induk’. Tidak ada kepastian tentang keluarnya SK dan sampai sekarang semua lulusan K2 merasa kecewa. Menurut informasi sekitar bulan Maret atau April tahun ini, SK sudah keluar. Ya, mudah-mudahan pemerintah secepatnya menerbitkan SK kategori 2 ini.

Selain SK K2, saya juga harapkan pemerintah menyumbang buku-buku braille dan peralatan mengajar braille yang baru. Misalnya, mistar braille, jam braille, alat timbang braille, alat ukur braille dan beberapa alat peraga braille lainnya.

Apa pendapat anda jika Kurikulum 2013 diterapkan di Flores?

Menurut saya semua metode pembelajaran itu baik, asalkan kita mempunyai niat untuk melatih dan mendidik anak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan Tanah Air. Perbedaan K13 itu lebih menekankan pada karakter siswa, ya tergantung situasi daerah dan kondisi sekolah. Kalau sekolah yang berada di daerah kita memang sulit untuk menerapkan K13 karena karakter siswa di sini berbeda dengan siswa yang berada di kota-kota besar.

Ya… syukurlah akhirnya K13 itu tidak berlaku dan kalau berlaku di sini saya secara pribadi menolak karena karakter siswa di sini harus sesuai dengan keadaan lingkungan. Tidak dapat kita arahkan sesuai acuan yang terdapat pada Kurikulum 2013.

Pesan anda sebagai guru kepada siswa se-Indonesia?

Saya hanya berpesan kepada semua siswa se-Nusantara agar jangan pernah memandang orang lain dengan sebelah mata. Karena kelebihan yang dimiliki orang lain lebih besar dibandingkan dengan diri sendiri.

Selain itu, kekurangan yang dimiliki harus terus dipenuhi. Jangan pernah melihat kekurangan itu adalah bagian kecil tetapi akan memengaruhi kelebihan yang dimiliki. Teruslah belajar demi menggapai cita-cita dan berjuanglah untuk bangsa dan negara. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Semua Ilmu Pengetahuan Ada di Flores

Next Story »

Petani Reroroja Terancam Gagal Panen

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *