Hese Ngando

Pada Tiang Utama Rumah, Kehidupan Keluarga Bergantung

Orang Manggarai yakin kehidupan keluarga ada pada tiang utama rumah. Sebelum membangun rumah, ritual hese ngando mesti dijalani agar kelak kehidupan keluarga tentram dan jauh dari mara bahaya.

Tiang utama adalah bagian penting sebuah bangunan, maka penghuni dan pendiri rumah mesti memberi perhatian besar. Bagaimana pun kekuatan utama agar dapat selalu tegak berdiri saat mendirikan rumah. Syarat itu mesti dipenuhi agar penghuninya kelak aman tinggal di dalamnya.

Robertus Darma, 34 tahun, warga Kampung Tenda Kelurahan Tenda Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai, sadar akan hal itu. Dia pun mengikuti keyakinan kolektif masyarakat yang membesarkannya bahwa saat mendirikan bangunan warga mesti menggelar ritual adat Hese Ngando.

Orang-orang memaknai hese artinya berdiri. Sedangkan  ngando merupakan tiang utama atau tiang bagian tengan rumah. Dengan demikian hese ngando adalah ritus berdirinya tiang utama dalam pembangunan sebuah rumah  bagi keluarga Manggarai.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini membelanjakan uang tak terlalu besar untuk ritual ini. Cuma Rp 500.000,- saja segala bahan sudah cukup membeli segala keperluan seperti sirih pinang, ayam jantan, sopi tembakau dan rokok, juga bumbu dapur.

Seperti warga Kadang lainnya, Robert tak ingin tertimpa petaka menimpa keluarganya kelak. Tiang utama rumahnya pun mesti suci agar seluruh penghuninya tak kena penyakit dan kehidupannya nyaman. Lebih baik ritus ini terselenggara sebelum rumah berdiri ketimbang setelah petaka datang. Cerita soal keluarga yang mengalami kesusahan hidup setelah beberapa saat tinggal di rumah baru pun membayangi benaknya

Torok menunjukan ayam jantan berbulu tiga kepada arwah leluhur. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Torok menunjukan ayam jantan berbulu tiga kepada arwah leluhur. (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Dia lalu meminta Domi Datut, pria sepuh warga Kadang, untuk menjadi tarok dalam ritual itu, baru-baru ini. Domi adalah tetua adat yang dihormati dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan arwah leluhur dengan bahasa kiasan yang tak diketahui banyak orang. Dalam ritual itu, tarok mengundang arwah leluhur turut hadir. Torak pun menjadi juru bicara yang menghubungkan keluarga Robert kepada para leluhur.

Siang itu, Domi Datut pun membacakan mantra-mantranya dalam Bahasa Manggarai di depan keluarga tuan rumah dan para tukang yang bekerja membangun. Sesajen berupa cepa atau sirih pinang, Sopi yakni sejenis minuman beralkohol tradisional, mbako tumpi atau rokok tembakau, manuk lolang telu berupa ayam jago warna cokelat berbulu tiga.

Perlindungan Leluhur

Ritual itu tersusun rapi dan dimulai dengan kepok, atau sapaan adat keluarga Robert kepada sang tarok. Kemudian tarok memberikan kepok kepada para tukang. Ada juga kepok kepada arwah leluhur, naga tanah dan seterusnya.

Yulianus K Sidestun, pimpinan Sanggar Budaya Wela Rowang, datang menyaksikan ritual itu nampak serius mengamati jalannya ritual itu. “Tiap rangkaian punya makna sendiri dalam pembangunan rumah,” tutur dia kepada FBC.

Kepok dari tuan rumah kepada torok mempunyai makna  tata cara meminta secara adat kepada sang torok agar meminta kesediaanya sebagai juru bicara agar dapat berkomunikasi dengan leluhur. Dalam kesempatan itu, tuan rumah memberikan uang dan sopi kepada Tarok sebagai bukti kepercayaannya.   “ Kepok merupakan kewajiban pemilik rumah untuk meminta bantuan torok melaksanakan ritus Hese Ngando “ tambah Yulianus.

Selanjutnya, Tarok memberi Kepok kepada para tukang karena mereka adalah perpanjangan tangan tuan rumah dalam proses pembangunan rumah. Kepok dari Tarok berarti perlindungan kepada para tukang selama proses pembangunan hingga selesai.

Penyembelihan manuk cepang (ayam jantan cokelat berbulu tiga). (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Penyembelihan manuk cepang (ayam jantan cokelat berbulu tiga). (Foto: FBC/Hironimus Dale)

Tahap berikutnya Tuak Benta Ise Ame Agu Empo. Pada bagian ini Tarok menggunakan sopi menyapa arwah leluhur supaya datang menghadiri acara tersebut. Kepada para leluhur itu Tarok mempersembahkan Sirih Pinang  dan tembakau tradisional.

Lewat Kepok Manuk, Tarok menunjukan kepada arwah leluhur bahwa tuan rumah sebagai cucu telah menyediakan ayam jantan cokelat berbulu tiga. Sesembahan itu dihantarkan sembari memohon berkat kekuatan dalam pembangunan rumah serta disingkirkannya hambatan dalam pekerjaanya dari awal hingga akhir.

Dalam bagian Mbele Manuk , sesembahan berupa ayam jantan tersebut itu disembelih persis di dekat tiang utama rumah. Darah binatang itu dioleskan pada tiang utama rumah ,sayap bagian kanan dan kaki juga bagian kanan diikat diujung tiang utama rumah.

Kemudian tubuh ayam Jantan  tersebut dibakar  untuk diperlihatkan urat  bagian hatinya inilah bagian dari ritual yang disebut Toto urat. Disini akan menjadi penentuan apakah tuan rumah mendapat berkah terkait proses pembuatan rumah yang tengah dia jalani.   Melalui urat hati itu pula, Tarok menerawang  nasib hidup  tuan rumah pada masa yang akan datang. Setelah itu, sayap ayam, hati dan daging bagian paha dipanggang dan kemudian akan dijadikan makanan sesajen  “Hang Helang “ kepada arwah leluhur sebagai bentuk penghormatan.

Rangkaian  terakhir dalam ritus ini  adalah mengantungkan sayap kanan dan kaki kanan ayam tadi di ujung tiang utama rumah atau dalam bahasa Manggarai pongo lebe agu Wai Manuk eta Ngando.

Menurut Yulianus pada prinsipnya ritus Hese Ngando adalah cara orang Manggarai meminta kekuatan arwah leluhur. Dengan kekuatan itu, pemohon akan dapat menjalani proses pembangunan rumah tanpa halangan yang berarti. Arwah leluhur yang berkuasa atas tanah ulayat bakal berdirinya rumah itu memberikan ijin dan menerima pemohon selaku cucunya untuk tinggal di sana dengan tentram. (*)

Penulis: Hironimus Dale

Editor: Donny Iswandono

‘Kawah Candradimuka’ Calon Imam Pertama di Flores

Next Story »

Menganyam Nata, Mengkreasikan Kehidupan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *