Matheus Sakeus

Mutiara Terpendam Seni Rupa Flores

Meriskir hidup sebagai pelukis di Flores bisa dibilang pilihan ‘gila’ karena nyaris tidak ditemukan jejak seni rupa di pulau ini. Setamat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang banyak menelurkan pelukis mulai dari modern hingga kontemporer, Matheus Sakeus (25) mendirikan galeri dan membuka kelas melukis secara gratis. Bagaimana kisahnya?

IA lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani sedangkan ibundanya seorang ibu rumah tangga. Namun siapa sangka bila Matheus Sakeus (25), anak bungsu dari enam bersaudara buah kasih antara Bernadus Bangkung dan  Veronika Manu ini memiliki segudang talenta yang tidak dimiliki oleh teman-teman sebayanya. Bakat seni teristimewa seni melukis adalah talenta terpendam yang dikaruniakan oleh Tuhan sejak ia masih duduk di bangku sekolah.

Lahir dan dibesarkan di Kampung Nggorang, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo pada 22 Februaari 1989 silam, Matheus  pria murah senyum ini biasa disapa, berpenampilan sederhana layaknya seorang anak kampung dari keluarga petani sederhana. Namun, bakat seni melukis rupanya telah terbenam lama dalam alam bawah sadar. Kini, perlahan-lahan bakat seni itu mulai muncul kepermukaan dan terus mengiringi hari-hari hidupnya. Ditemui di Kampung Nggorang pada suatu sore, ia berkisah bahwa minatnya di bidang seni melukis sudah mulai tumbuh saat ia duduk di bangku kelas II Sekolah Menengah Umum (SMU) St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo.

Matheus Sakeus sedang melukis pemandangan alam berlatar belakang perairan Taman Nasional Komodo. (Foto: FBC/Kornelius)

Matheus Sakeus sedang melukis pemandangan alam berlatar belakang perairan Taman Nasional Komodo. (Foto: FBC/Kornelius)

Mateus pun berceritra bahwa hasrat melukis seketika muncul ketika pada suatu waktu ia menyaksikan lukisan ‘wajah Yesus’ yang terpajang di dinding sebuah rumah keluarga. Lukisan itu sungguh menginspirasi jiwanya sehingga ia termotivasi untuk mencoba mengembangkan bakat seninya yang telah lama terpendam. Sejak saat itu, Matheus belajar melukis secara otodidak. Lukisan yang ia hasilkan pun beragam macam dan bentuk mulai dari panorama alam, flora, dan fauna hingga aktivitas kehidupan manusia. Hasil lukisannya dikagumi banyak orang dan mendapat apresiasi luas bukan hanya dari orang tua tetapi masyarakat luas.

Guna memperdalam ilmu melukis, setelah menamatkan sekolahnya, Matheus memutuskan untuk melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, salah satu kampus seni rupa terkemuka di Indonesia. Selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah itu, ia terlibat aktif dalam berbagai even perlombaan melukis bersama teman-teman se-kampusnya.

Berbagai ajang perlombaan ia ikuti baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun komunitas-komunitas seni setempat. Ia menyebutkan, salah satu ajang bergengsi yang diikuti yakni lomba melukis “Pratisara Affandi” yang digelar di kota Yogyakarta. Pada perlombaan itu Matheus merupakan salah satu finalis dari 33 karya terbaik. Karya tangannya berjudul “Penakluk Bumi” berupa potret seseorang yang sedang mengayuh sepeda melewati jalan tanjakan dan menurun sebagai simbol sebuah perjuangan anak-anak bangsa.  Buah karya tangannya ini mendapat apresiasi masyarakat dan merupakan salah satu karya fenomenal yang dipamerkan di Museum Affandi Yogyakarta pada tahun 2012.

Atas prestasi yang diraihnya itu, pada tahun 2014 lalu, Matheus ditunjuk sebagai kurator yang bertugas menata, memajang (display) dan mengkonsepkan pameran dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta yang ke-258. Dengan tema Jogja 258 Outdoor Sculpture Exhibition pameran itu dilaksanakan di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Pada ajang pameran ini melibatkan pula banyak seniman ternama Kota Yogyakarta seperti Timbul Raharjo, Dunadi, I Made Aria Palguna, Yulhendri, Ali Umar, Lindu Prasekti, Komroden Haro, Dani Daoed dan beberapa seniman lainnya.

Berkat dedikasi dan kegigihan dalam memperjuangkan cita-citanya di tengah himpitan ekonomi dan kesulitan hidup, toh akhirnya perjuangan  itu pun membuahkan hasil yang menggembirakan. Ia kemudian meraih gelar sarjana seni (S,Sn) di almamaternya, tempat ia menimba ilmu. Ketekunan dan keuletan membuat namanya kini kian bersinar melalui karya lukisan yang dipublikasikan oleh media massa. Meski begitu, ia tetap rendah hati dan tidak ingin berlebihan menonjolkan diri. Karena bagi dia, di balik semua prestasi dan prestise yang diraihnya itu, sama sekali sia-sia tanpa dukungan dari  kedua orang tua dan masyarakat umumnya.

“Bagi saya, prestasi dan semua yang saya miliki adalah berkat dukungan dan kasih sayang yang luar biasa dari kedua orang tua. Mereka adalah energi terbesar dalam memberikan motivasi bagi saya untuk melakukan gebrakan-gebrakan yang berkaitan dengan dunia yang saya geluti yakni seni rupa. Tanpa mereka, saya tidak ada arti apa-apa,”ujarnya merendah.

Kurang Diminati

Apakah profesi atau talenta yang dimiliki sulit ia kembangkan di kampung halaman atau di daerah yang masih sangat ‘awam’ dengan dunia seni? Pertanyaan menantang ini rasanya wajar disampaikan kepada Matheus mengingat, profesi yang satu ini masih sangat langka bahkan nyaris kurang diminati oleh masyarakat kita terutama oleh kawula muda Flores-Lembata. Bagi Matheus, dunia seni sesungguhnya sangat menjanjikan masa depan seseorang. Apalagi Kabupaten Manggarai Barat dan Flores pada umumnya merupakan daerah pariwisata internasional dan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Hanya saja, kekayaan itu belum digali dan dimanfaatkan secara maksimal.

Manggarai Barat misalnya, merupakan daerah tujuan wisata internasional. Karenanya ada banyak hal yang dapat dilakukan. Ia mencontohkan, kerajinan-kerajinan lokal seperti tenunan songke, topi rea, lukisan komodo, dan lain-lain yang bisa dijual untuk meningkatkan kesejahteraan. Segala hasil karya tangan tersebut baik tenun ikat, lukisan, maupun dan keterampilan tangannya lainnya bisa dipublikasikan sehingga akan mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat.

Demi mewujudkan cita-cita besarnya ini, Matheus berobsesi ke depan ia akan membuka pendidikan gratis bagi warga kampung dan siapa saja yang berminat menggeluti dunia seni rupa. Cita-cita itu ia mulai wujudkan dengan membuka sebuah galeri di kampungnya, beberapa waktu lalu. Ia memberi nama Lontart Gallery. Galeri ini ia dirikan sebagai medium pendidikan bagi warga dan masyarakat  luas yang ingin mengaktualisasikan diri melalui seni rupa. Kini ia pun membuka kelas seni rupa bagi siswa SMA.

 Salah satu karya lukisan Matheus Sakeus tentang seorang ibu bersama anak gadisnya yang sedang menumbuk dan menampi beras. (Foto: FBC/Kornelius)

Salah satu karya lukisan Matheus Sakeus tentang seorang ibu bersama anak gadisnya yang sedang menumbuk dan menampi beras. (Foto: FBC/Kornelius)

Iamenuturkan, media yang digunakan untuk melukis sangat sederhana namun bervariasi seperti alat tulis pensil pada kertas, atau arang kayu pada kertas dan beberapa media lainnya yang ia bawa dari Yogyakarta seperti cat minyak, akrilik, cat air dan tinta cina. Melalui Lontart Gallery ini ia bercita-cita ke depan menjadi sebuah pusat kerajinan lokal dan karya-karya seni lainnya. Galeri ini juga akan menyediakan vas bunga, tempat lilin, dan cindera mata lainnya. Ia mengaku, saat ini mulai mendapat tawaran atau permintaan dari mana-mana seperti untuk melukis pada dinding rumah, restoran, kafe dan lain-lain.

Kini karya-karyanya sudah banyak dipublikasikan dan dikenal orang. Bagi dia, terjun di dunia seni memberikan kepuasan dan kenikmatan tersendiri terutama ketika hasil karyanya mendapat apresiasi banyak kalangan. Seni, kata dia, bukan sekedar seni tapi seni adalah ungkapan jiwa dan bersifat universal. Seni merupakan ekspresi jiwa entah sedih atau gembira, menangis atau tertawa. Dari Kampung Nggorang nan sunyi telah lahir Matheus Sakeus, seorang seniman sejati, alami  dan tanpa manipulasi.

Di tengah kegersangan jiwa dan kemerosotan nilai yang dialami banyak orang, Matheus hadir membawakan kedamaian jiwa. Matheus telah merintis sebuah ‘jalan hidup’ bagi anak muda Manggarai Barat khususnya dan Pulau Flores-Lembata pada umumnya. Semoga di masa depan, semakin banyak seniman-seniman muda yang tampil bukan hanya di ranah lokal atau nasional tapi go internasional. Mengapa tidak? (*)

Penulis: Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Koperasi Bisa Hapus Kemiskinan

Next Story »

Menjamah yang Terkucil dan Terpinggirkan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *