Suster Lucia, CIJ

Menjamah yang Terkucil dan Terpinggirkan

Keberadaan panti rehabilitasi penyandang cacat ‘Santa Dymphna’ ibarat penyegar dahaga bagi masyarakat Flores. Peran panti yang pertama dan satu-satunya di Flores ini, tak lepas dari ‘jalan kemanusiaan’ yang dikhidmati Suster Lucia, CIJ. Meski hanya menampung penderita gangguan mental dari kaum hawa, kehadirannya harus disyukuri

MENTARI belum menyapa bumi, para penderita gangguan mental penghuni panti sudah mulai beraktivitas bak orang kebanyakan. Tak ada keganjilan, meski belum sembuh total toh mereka bisa beraktivitas: berdoa, memasak, berolah raga, membersihkan kompleks panti, dan melakukan rutinitas keseharian. Mereka bisa kembali normal hanya perlu dijamah dengan hati yang tulus, demikian dikatakan Suster Lucia,CIJ saat berbincang dengan saya di beranda panti, baru-baru ini.

Panti rehabiltasi penyandang cacat ‘Santa Dymphna’ ini milik Yayasan Bina Daya (Yasbida) cabang Sikka. Dibangun pada 26 Januari 2004, panti seluas 2.400 meter persegi ini memilih untuk menampung orang terpinggirkan, kata Suster Lucia, sebab dirinya sebagai pengikut Yesus yang ketika masa hidupnya juga berpihak kepada orang pinggiran. Selain itu, tambahnya

Suster Lucia,CIJ bersama para penderita penghuni Panti Dhymphna, Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Suster Lucia,CIJ bersama para penderita penghuni Panti Dhymphna, Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

, peran ini juga sejalan dengan visi misi Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang didirikan Mgr Henricus Leven, SVD, yang fokus menjamah orang kecil. Atas dasar inilah, sebut Suster Lucia, dirinya selalu tergerak dan bergerak menolong orang-orang kecil. “Ketika saya ke toko, saya melihat orang-orang sakit jiwa yang ada di tempat sampah dan saya tergerak lalu memberi mereka makan di pinggir jalan,”ujarnya.

Tanggapi Rahmat

Hadirnya ‘Panti Dymphna’ jelas suster Lucia, berawal saat dirinya memfasilitasi 10 gadis cacat untuk diberikan pelatihan menjahit pada November 2003 yang didanai Dinas Sosial Kabupaten Sikka. Suatu ketika, tambah suster kelahiran Mataloko, Kabupaten Ngada ini, kesepuluh gadis cacat ini memintanya agar mereka bisa ditampung di tempatnya supaya bisa belajar keterampilan lain selain menjahit. Suster Lucia menanggapi permintaan mereka dengan mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai dana guna membangun panti.

Awalnya permintaan itu ditanggapi dingin, namun the voices of voicesless itu tetap menggema dalam hati Suster Lucia dan mendorongnya untuk mencari jalan keluar. Kedatangan 10 gadis tadi dengan permintaan yang sama di lain waktu membuat pemilik nama asli Meo Sofia ini kembali tersentak dan tergerak untuk menjawab tantangan ini.

“Ini adalah peluang, rahmat yang harus ditanggapi dalam aksi yang nyata. Allah lah yang menghendaki semua lewat anak-anak ini,”tekadnya.

Akhirnya, bersama kesepuluh gadis tersebut, Suster Lucia,CIJ meminta bantuan dana di beberapa toko di Maumere dan instansi pemerintah. Selama tiga hari aksi itu mampu mengetuk hati mereka yang mempunyai kepedulian terhadap orang kecil yang ditandai dengan terkumpulnya dana sebesar Rp 462.500. Modal awal ini ditambah dengan uang pribadi Suster Lucia sebesar Rp 2 juta, hasil honornya saat memberi pelatihan menjahit.

Selepas peletakan batu pertama, jelang tiga bulan pembangunan panti tak urung selesai. Perjalanan pembangunan mulai tertatih-tatih, akibat ketiadaan dana. Setelah berbagi kisah apa yang dihadapinya kepada Dinas Sosial Sikka, dana Rp 8 juta pun dikucurkan. Di saat sulit, selalu ada tangan-tangan penderma yang menolong hingga terkumpul dana Rp 13.572.500, meski dana ini pun masih belum cukup.

“Ternyata jalan dan berkat Tuhan selalu menyertai perjuangan mereka yang berpihak kepada orang miskin dan papa, kecil dan terpinggirkan. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil, Dia selalu memberi kami jalan,”tuturnya.

Pembangunan panti pun rampung setelah enam bulan dikerjakan. Dinas Sosial pun meminta Suster Lucia memberi nama panti di luar dari nama panti yang sudah ada. Waktu itu, kisah Suster Lucia, suster pembina panti sedang membaca tulisan ‘Santa Dymphna’ dan mengatakan agar dirinya memakai nama itu. ‘Santa Dymphna’ dalam agama Katolik dikenal sebagai santa pelindung penderita penyakit syaraf dan ingatan.

Dana Terbatas

Selama rentang waktu 11 tahun, Panti Dympha berkarya, sudah 98 orang yang ditangani dan 47 penderita sudah sembuh total. Penderita yang sembuh ada yang sudah kembali ke keluarga dan hidup normal di masyarakat. Dengan 17 personel di mana terdapat perawat 10 orang, tiga orang psikolog dan sisanya pegawai lainnya, panti milik Yasbida ini tetap eksis menjamah tangan – tangan orang kecil yang menderita gangguan mental dan fisik.

Panti Dymphna bukan hanya menangani penderita dari Fores dan NTT saja, tapi ada juga yang berasal dari Jawa, Kalimantan, dan Bali. Hal ini terjadi karena pasien yang sudah sembuh memberikan informasi dan panti juga memiliki website. Banyaknya penderita yang ditangani, ucap Suster Lucia, membutuhkan biaya operasional yang besar. Dalam sehari saja pihaknya harus menyiapkan 50 kilogram beras, sebulan butuh uang Rp 35 juta untuk menggaji pegawai. Dalam sebulan biaya operasional yang dibutuhkan sekitar Rp 168 juta.

Besarnya pengeluaran tersebut membuat Suster Lucia dan menejemen harus memutar otak, karena panti tak memiliki donatur tetap. Tantangan terberat dalam mengelola panti, ujarnya lagi, ketika stok makanan habis. Hal ini membuat Suster Lucia saat malam hari tidak bisa tidur sebab beras merupakan kebutuhan utama, apalagi para pasien sekali makan bisa 3 piring sampai 4 piring dalam sehari.

“Saya tak bisa tidur dan beripikir dapat uang dari mana? Apa besok mereka bisa makan? Bahkan berdoa juga dengan air mata supaya Tuhan cepat tergerak hatinya dan orang bisa kirim bantuan. Tapi seringkali doa itu terwujud,”ucapnya mengenang.

Sustser Lucia mengatakan, dirinya mulai bergantung penuh pada penyelenggaraan Ilahi. Banyak tangan kasih juga yang memberi, usai dirinya mengirim kata-kata rohani ke donatur. Suster kelahiran 19 September 1966 ini selalu bersyukur, sampai saat ini walaupun suka dan derita, banyak keterjepitan, dirinya masih bisa memberi makan orang kecil. Keluarga penderita banyak yang datang mengantar dan tak kunjung kembali. Janji mengirimkan makanan hanya sekedar ucapan pemanis belaka.

Meski begitu, Suster Lucia tetap bersuka cita saat melihat penderita yang awalnya dipasung dan dirantai keluarganya, dengan tubuh kurus, muka lusuh, kotor, dan bau, tapi sebulan kemudian berubah menjadi bersih dan cantik. Kalau memandang pasien yang sudah sembuh, sambungnya lagi, selalu ada kebahagiaan yang dinikmatinya setiap hari.

Suster yang akan akan merayakan pesta perak panggilan membiara bulan Juni tahun 2015 ini merasa paling sedih ketika mengunjungi pasien yang dipasung. Baginya orang-orang itu akan terbelenggu secara fisik dan jiwa. Memasung bukan cara terbaik, imbuhnya seraya mencontohkan ternyata di panti mereka makan, berdoa, rekreasi, tertawa, dan menangis bersama. Pasien hanya pakai ruangan isolasi kalau dia menangis terus dan paling satu dua jam saja dan setelah keluar dia akan tertawa.

“Kita memberi dengan hati. Kasih sayang Allah ada di dalam diri mereka sebab ketika kita berdoa kita tidak melihat Allah, Allah itu hadir dalam diri sesama kita seperti mereka ini,” ungkapnya.

Usaha Produktif

Keterbatasan dana membuat Panti Dhymphna harus mengatasinya. Usaha yang dilakukan, sebut Donatus Ngeta selaku kordinator program Yasbida, yakni membuka dua warung makan di Pasar Alok, memelihara ternak babi dan ayam, membuat roti, lilin, keset, merenda, menyulam dan berkebun. Semuanya dikerjakan para penderita yang sudah sembuh dan mereka mendapatkan gaji. Suster Lucia pun menulis dua buku berjudul Makna Ilahi dan Mutiara Sampah dan sebuah buku lagi yang akan terbit selain bisa mendapatkan sedikit dana, juga dijadikan media sosialisasi.

Donatus berharap agar dukungan nyata dari pemerintah dan kongregasi, sebab untuk di Flores baru kongregasi CIJ yang berani membuat panti seperti ini. Masyarakat juga, harap dia, harus bertanggung jawab dan mendukung dengan cara apa saja. Dijelaskan Donatus, dua sampai tiga tahun terakhir panti bukan hanya mengutamakan pendekatan psiko-spiritual tapi juga pendekatan lain yang dikolaborasikan, sehinga diharapkan dari waktu ke waktu ada tenaga spesialis yang bersedia mengabdi di panti ini.

“Dari segi semangat, komitmen, iman, itu kuat. Saya bisa katakan sudah berdiri dan berlari dari sisi itu. Bahwa lembaga ini ada, itu atas penyelenggaraan Tuhan. Apa pun tantangan kita, tetap masih berjalan sampai saat ini, berdiri teguh dalam iman. Kita tidak tinggal diam, kita beriman dan bekerja,”sebutnya.

Dalam menangani penderita, pernah terjadi 20 pasien epilepsi yang meninggal di dalam panti.Penderita ini, jelas Suster Lucia, tidak mempunyai siapa-siapa yang diambil olehnya dari jalan. Pihak panti mengurus pemakaman dengan baik, membuat kubur keramik, bahkan peti jenazahnya sama dengan harga peti jenazah bupati. Sebab prinsip Suster Lucia, orang kecil harus diberi yang terbaik sehingga mereka bisa menjadi berkat bagi sesama.

Selama di panti, penderita paling hanya dibimbing dengan kegiatan rohani sebab Suster Lucia dan teman-teman yakin bahwa iman penderita dan iman mereka bersama itulah yang menyembuhkan penderita. Ruang lingkup di panti, paparnya lagi, seperti rumah doa bukan rumah orang sakit sehingga membuat orang banyak berubah.

“Saya bermimpi agar bisa membuka panti yang menangani penderita laki-laki. Memang ada harapan seperti itu, tapi tangan ini tidak bisa menjangkau. Kemauan ada tapi terbentur dana. Kalau sekiranya pemerintah ada dana bisa bantu saya membangun panti buat penderita laki-laki, syukur-syukur didirikan rumah sakit jiwa. Maunya Pak Jokowi dengar, siapa tahu beliau bisa bantu kami,”harapnya.

Mimpi semirip juga diutarakan Dionitius yang berharap agar lembaga ini terus berkelanjutan dan menejemen pengelolaannya bisa lebih baik dari waktu ke waktu, Dirinya yakin karena semakin kompleks kehidupan akan banyak masyarakat yang mengalami stres sehingga selalu ada orang yang menangani itu. Lembaga ini harus terus ada untuk membantu sesama. Yang berkesan bagi Dionitius, mereka hidup, kerja dan ada bersama penderita.

“Apa yang engkau lakukan pada saudaraku yang paling hina ini, itu engkau lakukan untuk Aku,” demikian pesan Suster Lusia mengutip kata-kata Injil yang selalu memberikan motivasi dan inspirasi baginya, dalam berkarya mendampingi penderita sakit jiwa dan epilepsi. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Mutiara Terpendam Seni Rupa Flores

Next Story »

Itha Yusuf dan Garis Tangan Penenun

One Comment

  1. paul effendy
    April 8, 2015

    Semoga semakin banyak donatur yg peduli akan saudara2 kita penghuni panti ini.
    Sr Lucia, teruskan proyek mulia ini. Tetap semangat!
    Tuhan akan selalu menyertai. Amin

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *