Menganyam Nata, Mengkreasikan Kehidupan

Meskipun sibuk sebagai petani, perempuan di Kampung Belemanu tidak lupa menyisihkan waktu untuk menganyam nata (tempat sirih pinang) dan sobhabae (wadah rokok). Dua jenis anyaman ini merupakan tradisi yang diwariskan leluhur, khususnya bagi perempuan. Nata dan sobhabae akhirnya menjadi simbol jati diri seorang perempuan Ndora. Bagaimana ceritanya?

KAMPUNG Belemanu, Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, siang itu tampak meriah. Hari itu, digelar lomba menganyam nata dan sobhabae, dua jenis anyaman yang biasa dibuat kaum ibu, di sela-sela membantu suaminya bertani. Lomba kali ini tidak dimaksudkan mencari pemenang seperti pertandingan pada umumnya, tetapi bagaimana ibu-ibu atau para gadis mampu menghasilkan sebuah anyaman yang memiliki daya seni.

Penduduk Kampung Belemanu-Ndora yang mayoritas petani ladang padi dan jagung itu, tidak lupa berlatih kecekatan tangan mereka dalam anyam-menganyam. Selain pendapatan dari hasil dari kebun, mereka juga memperoleh hasil dari kerajinan tangan menganyam.

Sesungguhnya bukan kepuasan pendapatan berupa uang yang diperoleh, tetapi kemampuan untuk menghasilkan sebuah anyaman yang sempurna. Nata dan sobhabae merupakan anyaman yang sangat mudah, tetapi tidak semua perempuan dapat melakukannya dengan sempurna. Jika menghasilkan sebuah anyaman ini, maka akan diakui sebagai perempuan Ndora yang sejati.

Bagi mereka anyaman itu merupakan bagian dari diri mereka. Mengapa demikian? Menganyam adalah pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan. Jika seorang perempuan mampu menghasilkan sebuah anyaman, maka dirinya tentu merasa bangga bahwa ia tidak kalah saing dengan perempuan lain.

 

Hasil anyaman kaum perempuan Kampung Belemanu, Ndora, Nagekeo, di sela-sela membantu suami berladang. Foto: FBC/Ian Bala

Hasil anyaman kaum perempuan Kampung Belemanu, Ndora, Nagekeo, di sela-sela membantu suami berladang. Foto: FBC/Ian Bala

Para ibu-ibu di Kampung Belemanu lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menganyam nata dan sobhabae. Jika berkebun, dua jenis anyaman ini selalu dibawa serta. Pada waktu istirahat melepas lelah, mereka pasti meluangkan waktu untuk menganyam.

Berbagai jenis anyaman dihasilkan oleh kaum ibu ini. Tetapi yang terkenal adalah nata, yang digunakan sebagai tempat sirih dan sobhabae, yang biasa digunakan lelaki untuk menyimpan rokok. Nata dan sobhabae terbuat dari daun lontar dan zea (sejenis daun pandan yang sisinya berduri). Kedua jenis anyaman ini adalah pasangan serasi yang dihasilkan perempuan Kampung Belemanu.

Ketika acara adat misalnya saat upacara perkawinan adat Nagekeo, kedua jenis anyaman ini biasanya dikenakan sebagai pelengkap baju adat. Ibu-ibu mengenakan nata sebagai tempat untuk menyimpan sirih pinang dan kaum lelaki mengenakan sobhabae sebagai tempat untuk menyimpan rokok.

 

Berbagai Motif

Berbagai jenis motif yang digunakan untuk menghias nata dan sobhabae. Pada umumnya motif yang dibuat sesuai dengan selera para pembeli atau pemesan. Kebanyakan, para pembeli memesan terlebih dahulu sesuai motif yang diinginkan.

Para pengerajin sudah mahir untuk menentukan berbagai jenis motif sebagai penghias nata dan sobhabae. Pembeli tidak perlu meragukan lagi hasil karya tangan para pengrajin ini, karena ‘jam terbang’ mereka sudah tinggi dalam urusan anyam-menganyam ini. Tangan ibu-ibu pengrajin itu sangat cepat dalam meletakan helaian anyaman yang membentuk motif. Jari-jari tangan begitu lincah menyusupka helai demi helai daun lontar hingga terbentuk anyaman yang membentuk motif sesuai pesanan konsumen, semisal motif bunga, binatang, dan berbagai motif lainnya.

Tak Batas Waktu

Veronika Bedo, seorang pengrajin anyaman dari Kampung Belemanu bercerita kepada saya, dalam menganyam nata dan sobhabae tidak dibatasi waktu. Mereka menganyam kapan saja dan di mana saja, tetapi biasanya dilakukan di sela-sela istirahat saat berladang.

Apalagi dalam membuat anyaman tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Baginya, dalam sehari dapat menghasilkan 2 buah hingga 3 buah nata atau sobhabae.

“Anyaman tidak dibatasi waktu. Ada yang dianyam di kebun, ada juga yang anyam di rumah. Kapan dan di mana saja kami bisa anyam,”pungkas Veronika yang mengaku sejak gadis sudah menjadi pengrajin anyaman.

Pekerjaan tanpa musim ini sangat membantu kreativitas masyarakat setempat khususnya kaum perempuan. Mereka juga bisa menopang kebutuhan ekonomi keluarga di saat menunggu musim panen tiba. “Nata dan sobhabae ini adalah diri kami. Ini pekerjaan kami sehari-hari,”kata Yuliana Sese, seorang ‘mama lele’ di kampung itu.

Jika kita berkunjung dari rumah ke rumah di Kampung Belemanu, pasti kita akan menemukan ibu-ibu sedang menganyam. Ada anyaman yang sudah dipesan, adapula anyaman untuk dipajangkan di rumah-rumah mereka. Ada yang menganyam tikar, wati (tempat kue), nata, sobhabae dan berbagai jenis anyaman lainnya.

Harga Bervariasi

Nata dan sobhabae dipasarkan dengan harga yang sangat bervariasi sesuai dengan bentuk dan jenis motif. Jika motifnya banyak dalam sebuah anyaman tentu harga lebih tinggi. Harga nata dan sobhabae berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu sesuai dengan motif dan ukuran anyaman.

“Harga anyaman ini sesuai dengan selera pembeli. Biasanya pembeli memesan dulu baru beli. Yang dipesan kebanyakan motif bunga. Banyak orang yang sudah pesan dari luar daerah seperti Ende, Maumere, sampai Kupang. Kami selalu siap setiap hari kalau ada yang pesan nata dan sobhabae,”kata Yuliana.

Pada dasarnya, perempuan asal Ndora tidak melihat pendapatan yang diperoleh dari hasil karya tangan mereka tetapi lebih membanggakan jika menghasilkan karya anyaman dengan nilai seni. Selian itu, mereka lebih merasa mewarisi tradisi warisan leluhur dengan mengkreasikan kehidupan sebagai pengrajin anyaman.

Menganyam bagi mereka adalah bagian dari kehidupan. Satu prinsip yang mereka genggam adalah hidup untuk mencari kepuasan. Maka dari itu, kepuasan mereka terdapat pada anyaman. Mereka juga mengenali diri mereka melalui anyaman. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Pada Tiang Utama Rumah, Kehidupan Keluarga Bergantung

Next Story »

Hujan Mengawali dan Mengakhiri Prosesi Laut Tuan Menino

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *