Jejak Langkah Don Alesu (1)

Mencari Tanah Kehidupan Kekal

Don Alesu bisa dikatakan sebagai peletak dasar agama Katolik di Sikka. Titahnya membuat masyarakat berbondong dibaptis. Dirinya pun mewajibkan rakyatnya memeluk agama Katolik. ”Agama raja adalah agama rakyat,”begitu khotbahnya. Bagaiman peran raja pertama Sikka ini menyebarkan agama Katolik?

KERAJAAN Sikka identik dengan Kerajaan Katolik. Selain Kerajaan Larantuka di Flores Timur, Kerajaan Sikka juga menjadi sebuah kerajaan yang dipengaruhi Portugis. Kentalnya pengaruh ini membuat kedua kerajaan ini rakyatnya otomatis memeluk agama Katolik, agama yang disebarkan bangsa Portugis kala itu.

Menurut penuturan Gregorius Tamela Karwayu (67) dan Orestis Parera (75) pemerhati sejarah yang berdomisili di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, baru-baru ini, orang Portugis masuk ke Sikka sekitar abad ke-16 lewat Laut Sawu di Pantai Selatan Sikka. Dikatakan Goris, sapaan akrabnya, orang Portugis jika berangkat ke Malaka akan melewati Laut Selatan Sikka baru ke Ambon untuk berdagang rempah-rempah. Sehingga saat mereka kehabisan bekal atau mau memperbaiki kapal, kata Goris lagi, mereka mampir ke Sikka.

Pada awal abad ke-17 di Sikka ada seorang bernama Moang Lesu yang dianggap sebagai tokoh. Moang Lesu, tutur Goris, merupakan Hulu Balang yang mempunyai wibawa tinggi sebagai pemimpin. Dalam bahasa Sikka dirinya disebut Wira Dira Waa Ngan artinya suaranya berwibawa dan apa yang keluar dari mulutnya selamanya didengar dan dipatuhi orang-orang sekitar di kampung atau wilayahnya itu.

Namun Moang Lesu, papar Goris lagi, melihat ada penderitaan masyarakat. Saat itu penyakit merajalela dan mengakibatkan rakyatnya banyak yang meninggal. Kejadian ini membuat Moang Lesu merasa sangat terganggu, hati dan pikirannya terus bertanya-tanya, mengapa semua ini bisa terjadi. Dia

 

Regalia kerajaan Sikka atau pakaian kebesaran raja Sikka yang dibuat di Malaka tahun 1602 dan dibawa oleh Raja Sikka Don Alesu saat kembali ke Sikka. Dikenakan raja Sikka, Don Jozef Thomas Ximenes da Silva tahun 1945.( Dokumen Museum Blikon Blewut Ledalero )

Regalia Kerajaan Sikka atau pakaian kebesaran Raja Sikka yang dibuat di Malaka tahun 1602 dan dibawa oleh Raja Sikka Don Alesu saat kembali ke Sikka. Dikenakan Raja Sikka, Don Jozef Thomas Ximenes da Silva tahun 1945.( Dokumen Museum Blikon Blewut Ledalero )

mempunyai suatu pikiran ingin mencari tempat atau wilayah yang tidak ada penderitaan atau kematian. Ini yang membuat Moang Lesu mencari sebuah tanah yang dalam bahasa Sikka dikatakan Tanah Moret Dadi atau tanah kehidupan kekal, “ ujarnya.

Saat Moang Lesu duduk-duduk di Pelabuhan Alok Wolokoli di Waidoko, pelabuhan yang cukup ramai saat itu dan jadi tempat persinggahan kapal-kapal Portugis, datanglah seorang Portugis bernama Jogo Worila. Dikisahkan Goris, Jogo Worila lantas bertanya kepada Moang Lesu. Apa maksudnya kamu duduk di sini dan apa yang engkau inginkan? Moang Lesu lalu menceritakan semua keinginannya. Jogo Worila katakan bahwa semua tempat di dunia ini pasti ada penderitaan apalagi kematian. Tapi kalau kamu mau ikut saya ke Tanah Malaka (saat itu Malaka dikuasai Portugis ), di sana kamu akan mengetahui tanah yang kamu impikan itu.

Moang Lesu lalu sepakat mengikuti Jogo Worila. Sesudahnya, sambung Orestis Parera, Moang Lesu kembali ke Sikka dan mengumpulkan para Moang Puluh (penasehat raja) dan menceritakan keinginannya. Para Maong Pukuh mengumpulkan perbekalan bagi Moang Lesu.

“Saat itu dikumpulkan emas sebanyak 10 dulang (nyiru). Tiap Moang Puluh memberikan satu dulang emas. Juga dibawa satu jenis barang yang harum (ambar) bekas muntahan dari ikan paus,” ungkap Orestis, pensiunan guru ini.

Dikisahkan Orestis, Moang Lesu berangkat dari pelabuhan ke pelabuhan dan dia terus bertanya ke semua orang. Kejadian ini digambarkan dalam syair-syair pantun yang melukiskan perjalanan itu. Dia sempat singgah ke Batavia (Jakarta) dan kemudian dibawa ke Malaka. Sejak tahun 1500 Malaka sudah dikuasai Portugis. Moang Lesu pun dibawa Jogo Worila menemui penguasa Portugis di sana.

Belajar Agama

Moang Lesu berangkat ke Malaka sebagai seorang calon Raja Sikka. Diceritakan Orestis, keinginan Moang Lesu ini lahir sebab dia melihat rakyatnya hidup sengsara, didera penyakit yang merenggut nyawa rakyatnya sehingga dia berangkat untuk mencari tanah di mana masyarakatnya bisa hidup kekal.

“Betapa mashyurnya raja-raja dari Eropa tapi tidak seperti Raja Sikka yang memperhatikan nasib rakyatnya, “ ungkapnya.

Setelah berjumpa penguasa Portugis, Moang Lesu ditanya maksud kedatangannya oleh penguasa Portugis. Saat Moang Lesu katakan hendak mencari tanah di mana orang bisa hidup kekal, penguasa Portugis mengatakan bahwa di mana pun tempat di dunia ini selalu ada kematian dan kesengsaraan.

“Tapi sekiranya engkau mau ke tempat di mana ada kehidupan kekal saya bisa tunjukan tapi engkau harus meninggal dahulu. Biar harus mati dulu, saya mau ke sana jawab Moang Lesu. Tapi untuk itu engkau harus belajar agama Katolik, masuk agama Katolik,” kata Orestis menyitir dialog antara Moang Lesu dan penguasa Portugis di Malaka.

Moang Lesu lantas menyanggupinya. Akhirnya Moang Lesu belajar agama Katolik dan menetap di Malaka selama 3 tahun sampai 5 tahun. Dia belajar hal mulai dari pemerintahan, kebudayaan, kesenian hingga bahasa Portugis, dan tentu saja agama Katolik.

Menyebarkan Agama

Setelah belajar agama Katolik, Moang Lesu mendapatkan nama baru yakni Don Alexius Alesu Ximenes da Silva. Dikarenakan Moang Lesu orang yang berpengaruh dan berwibawa, Moang Lesu dinobatkan sebagai raja dan diberikan semua regalia kerajaan. Bersamanya ketika pulang kembali ke Sikka, ikut serta seorang Portugis bernama Agustino Rosario da Gama.

Sepulang dari Malaka mereka mulai menyebarkan agama Katolik dan dipermandikan oleh da Gama. Karena kalau rajanya sudah masuk Katolik maka rakyatnya akan mengikuti.

Menurut Goris, ada versi yang juga mengatakan da Gama lebih dahulu pulang ke Sikka tapi pokoknya itu ada kaitan dengan Moang Lesu tadi. Waktu itu, kisah Goris, orang Portugal cuma pergi pulang saja dan belum menetap di Sikka karena wilayahnya lebih luas.

“Orang Portugis akan belayar dari Solor karena sebelumnya di Solor sudah ada benteng Lohayong dan seminari. Persinggahannya di Sikka, Paga, dan Pulau Ende (di seberang kota Ende), sebab dulunya masyarakat di Pulau Ende semuanya beragama Katolik. Mereka membangun gereja permanen dan diberi nama pelindung Santa Lusia,”tuturnya.

Gereja yang dibangun tersebut, kata Goris lagi, akhirnya roboh dan kemudian dibangun lagi. Sesudah imam-imam asal Portugal jarang datang, kegiatan agama kemudian diatur oleh raja bersama masyarakat itu sendrii. Seringkali mereka pergi sampai ke Timor Timur atau Oekusi, untuk mendatangkan imam yang membantu pelayanan sakramaen di Sikka. (bersambung )

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Demi Nilai Tubuh pun Digadai

Next Story »

Tim Pemantau yang Gamang dan Berkinerja Buruk

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *