Krisis Identitas Butuh Keteladanan

Diskusi Kemadabaja 28 Pebruari 2015. Tampak Narasumber Ansel Deri dan Robert Bala. (Foto : Kemadabaja)

Diskusi Kemadabaja 28 Pebruari 2015. Tampak Narasumber Ansel Deri dan Robert Bala. (Foto : Kemadabaja)

JAKARTA, FBC- Keteladanan hidup, juga pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua ke generasi muda dianggap sebagai cara agar kabupaten Lembata bisa keluar dari kumbangan persoalan yang kini sedang dihadapi pemerintah dan masyarakat Lembata. Tidak cuma itu pemerintah Lembata dan masyarakat Lembata perlu membuka diri untuk saling bekerja bersama dalam membangun kabupaten Lembata.

Pendapat ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Pemuda Lembata Jabodetabek (Kemadabaja), di Jakarta, Sabtu (28/2/2015).

Diskusi bertajuk “Pendidikan dan Kesehatan Lembata” ini menghadirkan pembicara diantaranya, pemikir sosial dan pemerhati pendidikan Robert Bala, tokoh Lembata Polce Ruing, Dokter Maxi L Purab, Ansel Dery, Cor Sakeng dan moderator Edy Lamak. Tampak hadir diantara 150 peserta diskusi, Anggota DPR Daerah Pemilihan Papua yang juga putra Lembata Suliman Hamzah.

Robert Bala, dalam paparan diskusi menilai kerjasama diantara masyarakat Lembata kini tengah hilang dan yang menonjol justru saling merebut. Krisis kehidupan bersama, kata Robert tengah menyerang sampai ke inti kekeluargaan, sementara kesaksian generasi tua tidak lagi dijumpai bahkan institusi yang sebenarnya memberi keteladanan dan menggerakan masyarakat kini tidak lagi nampak di masyarakat.

“Aspek kehidupan bersama masyarakat Lembata menurut saya menjadi sangat serius. Sesama saudara saja bisa saling membunuh, apalagi pada lingkungan yang lebih luas. Kewarganegaraan adalah bagaimana kita bisa mendidik orang agar supaya bisa hidup menurut norma. Pertanyaan kita adalah siapa mendidik siapa, siapa memperingati siapa. Sedangkan yang tua saja tidak tahu diri. Jadi akhirnya semua di Lembata seakan-akan tanpa pemimpin. Itulah yang menjadi kegelisahan bahwa kita tidak memiliki satu norma,” kata Robert

Menurut Robert, semakin hari Lembata semakin kehilangan identitas bahkan tidak lagi dijumpai aspek keteladanan hidup. Para pemimpin sepertinya menjalankan tugasnya tidak punya konsep. Masalah ada di Lembata tapi dicari di luar Lembata. Ketiadaan konsep dan vakumnya keteladan, dinilai Robert sebagai bagian yang memberi sumbangan pada krisis identitas masyarakat Lembata.

“ Saya melihat yang perlu menjadi harapan kita adalah masalah pemimpin yang jelas. Jangan dipilih dulu baru belajar. Ya kita ini bodoh sekali. Kita pilih orang bodoh yang setelah terpilih baru sekolah atau studi banding. Dia tidak punya konsep yang akhirnya dia harus lebih banyak waktu bukan di Lembata tapi cari pendidikan dimana di luar Lembata. Jadi kepemimpinan ini menjadi sebuah hal yang sangat penting,” kata Robert.

Tokoh lembata Polce Ruing dalam kesempatan itu mengingatkan agar persoalan Lembata tidak lagi dibicarakan lepas dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Diskusi apapun tentang Lembata pada akhirnya harus mencoba bersama dengan pemerintah daerah untuk bersinergi, duduk bersama untuk mencari jalan keluar.

“Sebenarnya jujur saja kita berbangga bahwa kita otonom dan kita sudah jadi kebupaten sendiri. Tapi tidak pernah terpikirkan filter apa, saat kita sudah membuka diri dan membuka pintu. Sekarang kita mulai darimana karena terlalu banyak masalah. Kita semua harus bekerja sama dengan pemerintah daerah,” kata Polce.

Menurut Polce, program pemerintah Lembata saat ini adalah pariwisita dan masyarakat harus tahu. Sebab, pariwisata itu menjadi pintu masuk luar biasa tapi harus berhati-hati. Hal ini menuntut sinergitas termasuk bekerja sama dengan kelompok lain agar bisa mencegah dampak negatif dari pariwisata.

“Saya tidak pernah tahu salah di mana. Ada salah pada perlakukan budaya di sana. Kepala suku dikumpulkan untuk bicara politik. Gereja juga masuk ke politik. Sehingga banyak hal yang dilupakan. Persoalan fisik kemudian adalah soal mental. Kalau pemimpin yang punya komitmen maka hasilnya akan kelihatan,” tegas Polce

HIV dan AIDS di Lembata.

Dalam diskusi yang dikemas ‘ala Talk Show ILC’, ini akhirnya mefokuskan pembicaraan pada persoalan HIV dan AIDS yang kini banyak dijumpai di Lembata.

Edy Lamak mengangkat data menghentak tentang Lembata yang darurat HIV/AIDS. Pada tahun 2012, penderita HIV/AIS DI Lembata hanya 130 orang. Tetapi tiga tahun kemudian telah menjadi 172 orang.

Dengan angka itu, demikian Lamak, Lewoleba berada dalam suasana genting. Mengacu kepada standar dari WHO bahwa perbandingan AIDS DI Lembata adalah 1:800 maka hal itu melampaui standar 1: 1.000. Hal itu memberi kesadaran bahwa memang Lembata tengah ‘darurat’ HIV AIDS. Ia menjadi hal yang mencemaskan karena penyebarannya seakan tidak terkontrol.

Koordinator AIDS Lembata (Kopal), Cor Sakeng yang hadir dalam diskusi itu melihat bahwa menjamurnya ‘pub’ dan ‘karoke’ serta panti pijat di Lembata menjadi alasan lainnya. Di tempat itu, binis seks terjadi. Sayangnya, bisnis seperti ini akan terus menjamur seakan ‘dilegalkan’.

Dokter Maxi L Purab, selain memberikan pemahaman kepada peserta diskusi tentang perbedaan HIV dan AIDS, dan upaya pencegahan, juga memberikan rekomendasi praktis untuk melindungi masyarakat dari HIV dan AIDS.

“Secara naisonal informasi tentang HIV dan AIDS sudah sangat banyak. Perkuat LSM dan perkuat program pemerintah. Rekomendasikan agar adanya perda yang mengatur. Bagaimana kita melakukan networking terhadap program pemerintah, membangun database dan membangun kerjasama berjejaring. Kemudian pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja dan usia muda. Kita tahu bahwa angka tertinggi adalah usia remaja dan dewasa muda,” dokter Maxi.

Lembaga pendidikan menjadi penanggungjawab lainnya. Pendidikan di Lembata, demikian Robert Bala, memiliki peran yang sangat penting. Esensi pendidikan yang utuh yang mengembangkan 3H (head, hand, heart), harus dikembangkan. Di sana peran guru sangat penting karena menjadi panutan.

Peran pendidikan ditekankan karena menjamurnya pegaulan bebas di remaja dan terlibatnya tidak sedikit remaja dalam bisnis ‘remang-remang’ menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi sebuah keprihatinan. Karena itu, pengajaran agama di sekolah dan bimbingan dan konseling harus dioptimalkan perannya. Arah pergaulan sehat harus dikembangkan lebih jauh.

Di atas segalanya, peran keluarga harus dihidupkan lagi. Tidak terkontrolnya pengembangan sebuah kota, mesti diimbangi oleh ikatan kekeluargaan sebagai pengikat. Kekuatan dan kontrol sosial serta semangat kekeluargaan harus ditunjukkan. Dimensi ini harus jadi perhatian, terutama Gereja.

Dikatakan Robert, pada akhirnya pengembangan dimensi kepribadian menjadi hal mendasar dan utama. Memperkuat remaja untuk membentengi diri merupakan hal yang sangat penting. Hal ini terjadi karena kita tidak bisa mengontrol perkembangan dan menghalangi masuknya pengaruh negatif.

Akhirnya, tokoh Lembata yang sempat hadir: Andre Koban, Alex Atawolo, Steven Paokuma, Heri Purab, dan tidak sedikit mahasiswa sepakat bahwa semua pihak harus bekerja keras menata Lewoleba khususnya dan Lembata pada umumnya. (Ben)

Cuaca Buruk, ASDP Tutup Pelayaran Semua Lintasan

Next Story »

Semana Santa, Napak Tilas Tuan Ma Tak Lagi Dipentaskan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *