Yakobus Jano

Koperasi Bisa Hapus Kemiskinan

Bicara tentang koperasi di Indonesia tentu tak lengkap bila melupakan sosok penggerak Koperasi Pintu Air ini. Bersama 49 teman lainnya, 1 April 1995 Yakobus Jano berhasil mendirikan Kopdit Pintu Air. Berawal di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, kini Pintu Air hadir di 18 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

BAGI lelaki kelahiran 15 September 1955 ini, NTT diartikan sebagai Negeri Tanah Terjanji. Di dalam ‘perut’ provinsi ini ada ‘harta karun’ melimpah, kalau kita mau menggalinya. Masyarakat NTT, sebut Yakobus, hanya berpikir harta itu seperti batu kerikil yang ada di permukaan tanah dan kita hanya menyapunya saja. Mental masyarakat kita perlu mendapat pendampingan dan pendidikan khusus. Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, jangan dilihat sekadar mempunyai ijazah, kata peraih tokoh koperasi tingkat Provinsi NTT tahun 2012 ini.

Keterampilan itu, menurutnya, merupakan ijazah kehidupan. Hal itu hanya ada di ‘universitas kehidupan’ bukan di lembaga universitas resmi. Ijazah yang didapat di lembaga universitas mendidik orang untuk jadi pemimpin. Namun memimpin bukan dengan hati, tetapi dengan harta. Pemimpin seperti ini, tambah, Yakobus tidak berjalan bersama domba tetapi membiarkan domba berjalan sendirian.

Bagi Pintu Air yang tetap setia berkantor pusat di pelosok kampung, merupakan penerapan dari filosofi air yang mengalir dari gunung. “Mata air kan berada di gunung, kecuali air dari sumur. Dusun Rotat juga tempat lahir dan itu suatu kepercayaan selain alam juga mengajarkan itu. Biar di gunung tapi merupakan tempat kelahiran. Masyarakat sekitar koperasi yang dahulu identik dengan penjudi, pemabuk, kini sudah tidak ditemukan lagi,” ujarnya.

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. “Apa yang engkau lakukan terhadap saudaraku yang paling hina ini itu, engkau lakukan pada-Ku,”demikian petikan ayat Injil seperti dituturkan Yakobus menggambarkan filosofi hidupnya saat berbincang dengan saya, baru-baru ini, di kantornya yang asri di sebuah dataran tinggi. Bagaimana pria yang bekerja di bank selama 28 tahun ini membawa kapal Koperasi Pintu Air mengarungi samudera dengan spirit Ora Et Labora-nya? Berikut petikannya :

 

Yakobus Jano, Ketua Koperasi Kredit Pintu Air. (Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Yakobus Jano, Ketua Koperasi Kredit Pintu Air. (Foto: FBC/Ebed de Rosary )

 

Sejak kapan Anda bergelut di dunia koperasi?

Sejak tanggal 1 April 1995. Kami awalnya menghimpun 50 orang yang bergabung membentuk Koperasi Pintu Air. Saya bekerja di bank pemerintah dan dalam perjalanan saya melihat orang kaya tambah kaya, karena pelayanan bank sangat selektif dan pakai jaminan. Dengan demikian, masyarakat manengah ke bawah susah mendapatkan pinjaman karena tidak memiliki jaminan. Masyarakat manengah ke bawah selain dia pinjam, dia juga perlu mendapatkan pendampingan seperti dia harus belajar bayar dengan baik, simpan dengan baik. Hal ini yang membuat saya berpikir lebih baik mendirikan koperasi daripada bekerja sebagai karyawan bank.

Apa yang membuat Anda tertarik membentuk koperasi selain dari kenyataan bahwa orang kaya tambah kaya tadi?

Orang miskin ini ibarat tanaman. Kalau tidak disiram dengan air mana mungkin tanaman itu bisa tumbuh. Saya katakan, orang kalau bisa maju selain harta lainnya, uang menjadi hal yang utama. Karena itu mereka harus diberdayakan dengan menabung dahulu, baru bisa diberikan pinjaman yang besarnya tiga kali dari jumlah tabungan.

Apa yang menjadi keunggulan koperasi dibandingkan dengan bank?

Kepemilikan koperasi ada pada anggota sedangkan bank itu pelayanan jasa jadi anggota habis menggunakan jasa bank dia tidak terdaftar sebagai pemilik. Kalau koperasi sampai anggota meninggal dia tetap terdaftar sebagai pemilik, sedangkan pengurus diberikan amanat oleh anggota.

Perlu digarisbawahi koperasi bukan karangan bebas pelaku koperasi seperti kami, tapi amanat UUD 45 pasal 33 ayat 1 yang mengatakan, bahwa perekonomian disusun berdasarkan azas kekeluargaan. Apa maksudnya? Agar bangsa ini menjadi satu. Bangsa ini kan Bhinneka Tunggal Ika, itu hanya terjawab jika wadahnya koperasi, wadah lain tidak. Pendiri bangsa ini sudah tahu, Indonesia bisa merdeka kalau ada azas gotong royong. Makanya 17 tahun setelah Sumpah Pemuda negeri ini bisa merdeka.

Tantangan apa yang dihadapi koperasi untuk berkembang?

Masyarakat kita sudah dibangun dengan pola tadah, pola terima suapan. Mentalnya sudah dididik untuk meminta. Sebelum merdeka kita sudah dididik makan saja diatur oleh penjajah dan sesudah merdeka pejabat kita mendidik seperti itu. Ini suatu bentuk penjajahan lain. Masyarakat tidak diikutsertakan dalam arena pembangunan, mengambil bagian walaupun kecil tidak. Malahan rakyat kecil diabaikan.

Rakyat kecil cukup menadah, kami akan memberikan program miskin dan proyek miskin. Petani tidak ke kebun pun bisa makan nasi karena mendapat raskin (beras miskin). Jadi ini kira-kira biang keladinya, sehingga Indonesia meskipun kaya sumber daya alam tapi miskin dalam ekonomi.

Jadi menurut Anda apa yang harus diperbaiki?

Yang harus diperbaiki mentalnya. Seperti kata Pak Jokowi, revolusi mental sangat tepat. Kita harus tunjukan bahwa kita punya kemampuan. Negeri ini seperti kata Koes Plus dalam syair lagunya: “ Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu, dan batu jadi tanaman “. Alam ini tinggal kita olah saja, batu, tanah, dan air bisa jadi uang.

Koperasi bisa mengubah mental masyarakat?

Kami bisa mengubahnya tapi tidak bisa serta merta seperti membalikkan telapak tangan. Pelan-pelan dan pasti, itu sudah berjalan. Koperasi Pintu Air yang awalnya hanya terdiri dari 50 orang saat ini sudah beranggotakan 90 ribu orang. Itu sudah menunjukan animo masyarakat begitu besar terhadap lembaga ini, dengan pola pendidikan dan pendampingan, Jadi kami tidak beri uang dan lantas tidur. Tapi kami dampingi, uang ini akan diarahkan ke mana.

Tapi budaya pesta pora di masyarakat kita masih melekat sehingga sulit sekali diubah. Tapi kami tetap berusaha mengubahnya dari generasi ke generasi. Dan, Pintu Air selalu dengungkan ‘Hidup Seribu Tahun Lagi’. Maksudnya, suami isteri dan anak masuk menjadi anggota sehingga generasinya suatu waktu bisa berubah. Saya yakin jika seluruh rakyat Indonesia bergabung di koperasi, tidak ada lagi kemiskinan di Indonesia. Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya karena semua rakyat mau kerja tidak lagi menunggu uluran tangan.

Menunggu itu selalu saya katakan dalam setiap kesempatan ibarat bayi tikus yang diberi susu gajah. Tikus tetap tidak akan menjadi gajah. Jangan pernah berpikir dengan menadah, anda akan berubah. Tapi hanya dengan darah dan keringat (kerja keras) yang akan mengubah hidup. Tema kami dua tahun berturut-turut dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) yakni dengan semangat RAT mari kita perangi budaya pesta pora, santai, instan, tetapi tanamkan budaya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama.

Kondisi koperasi di NTT sekarang ini seperti apa?

Saya melihat perkembangan koperasi di NTT kalau dibilang maju iya, tapi maju yang tidak mulus karena situasi yang dihadapi, sebagian anggotanya masih setengah percaya. Setelah pinjam uang bayarnya susah, karena mereka merasa bukan memiliki koperasi. Masyarakat katakan buat apa masuk koperasi karena itu hanya memperkaya para pengurus dan pegawainya. Itu salah. Para pengurus dan pegawai itu harus diberi upah yang layak agar mereka bisa mengelola koperasi dengan baik, karena jika tidak mereka akan korupsi semua. Di Pintu Air hal ini dijaga betul karena tanpa anggota, karyawan tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa karyawan anggota pun tidak bisa berbuat apa-apa, terjadi simbiosis mutualisme.

Jika gaji karyawan kecil, bagaimana dia bisa belanja. Gajinya harus besar sehingga bisa memberi dampak kepada petani dan nelayan. Dia bisa beli ikan, sayur, dan daging sehingga petani dan nelayan bisa hidup. Kalau hanya untuk uang bedak saja tidak cukup bagaimana dia bisa hidup.

Koperasi harian yang memberikan pinjaman dengan bunga 20 persen dan cicilan dibayar setiap hari semakin menjamur. Apakah ini menjadi tantangan bagi koperasi semacam Pintu Air?

Koperasi harian ini sebenarnya alami sekali. Jika koperasi berbadan hukum berjalan dengan baik, maka koperasi harian secara alami terhempaskan. Masyarakat ini sebenarnya korban rentenir, diperas habis tetapi pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak.

Permasalahannya apa sehingga masyarakat lebih memilih pinjam di koperasi harian?

Masalahnya mereka mau pinjam uang di bank birokrasinya berlapis baja, mau ke koperasi besar mereka berpikir butuh proses. Dan, mereka juga bermental instan. Mereka biasanya bayar cicilan tiap hari Senin dan Kamis. Kita juga buka koperasi harian dengan bunga 10 persen dengan maksud mereka masuk ke kita lalu kita giring ke tabungan yang benar. Mereka ini seperti tangkapan. Ini juga bukan bisnis utama dan lama-lama kita akan tutup koperasi harian ini.

Kondisi Koperasi Pintu Air saat ini seperti apa?

Per Desember 2014 anggota kami 82.652 orang berada di hampir seluruh kabupaten dan kota di NTT selain Sabu Raijua, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Barat. Asetnya Rp 292 miliar dari modal awal Rp 175 ribu di tahun 1995. Saat ini kami menempati peringkat ke-4 di Indonesia dalam ukuran jumlah anggota. Peringkat nasional dihitung dari jumlah anggota karena makin banyak anggota makin baik karena jika anggota sukses kesejahteraan menyebar. Pintu Air juga mendapat penghargaan koperasi berprestasi tingkat nasional tahun 2013 dari Menteri Koperasi dan UKM, dan banyak prestasi lainnya.

Apa yang harus dilakukan agar koperasi bisa besar dan bertahan hidup?

Koperasi harus dikelola secara profesional. Jangan dikelola secara lokal di mana jika figurnya selesai koperasinya juga selesai, dan hanya tinggal papan nama. Kami di Pintu Air membuat sistem. Sistem yang harus dijunjung bukan orangnya. Sehingga siapa pun yang jadi pimpinan tidak jadi masalah. Sistem yang harus kita jadikan senjata atau jenderal kita untuk lembaga koperasi agar bisa bertahan ratusan tahun. Jangan karena orang tersebut merintis dan saat koperasinya sudah besar, dia tidak mau melepaskan jabatannya. Saya juga katakan, saya tugasnya mengkader generasi berikut. Dengan demikian, saat diberi jabatan mereka tidak akan kaget dan sudah mengerti.

Masalah uang ini sesuatu yang penting. Orang kalau dari awal tidak biasa dengan uang dan diberi jabatan yang berhubungan dengan uang maka dia akan ‘buta mata’. Akhirnya akan menggunakan uang dengan sembarangan. Kami mendidik orang dengan benar, kerja dulu baru makan. Jangan gunakan jabatan dan memakan makanan yang bukan hak kita.

Apa yang Anda lihat dari kasus LKF Mitra Tiara yang memberikan bungan simpanan 10 persen per bulan?

Anggota lembaga ini orang-orang yang menjadi korban di mana mereka ini tidak punya nalar. Orang yang bermental enak, mental instan. Sangat tidak logis. Saya juga ditawari dan saya tanya uang untuk bayar bunga anda dapat dari mana? Mereka jawab lembaga kami dapat donatur dari luar negeri. Ini sesuatu yang tidak masuk akal. Kalau pencucian uang, uang curian mungkin bisa. Bank sudah mengajarkan ratusan tahun bunga sekian dan jualnya sekian. Perbedaan ini yang dipakai untuk biaya operasional dan lainnya.

LKF Mitra Tiara ini aneh, sistem komputernya pakai mesin ketik. Masa orang masih bodoh. Masa orang tidak tahu ini penipuan. Setelah kejadian baru kaget. Saya katakan ini mental orang-orang yang sedang mengalami sakit jiwa.

Apa Anda yakin koperasi di NTT bisa berkembang?

Bukan hanya di NTT tapi di seluruh Indonesia bisa berkembang. Syaratnya, kalau kita mau bangsa ini kita sendiri yang kelola dengan baik. Kita menjadi investor, jangan kita bilang kita tidak ada uang dan minta orang luar negeri untuk jadi investor. Bayangkan, jika jumlah penduduk kita 250 juta jiwa, setiap orang selama sebulan menabung Rp 100 ribu, berapa triliun tiap bulan uang yang terkumpul.

Mimpi terbesar Pintu Air apa?

Mengajarkan orang menjadi wirausahawan baru. Sehingga bisa mengelola sumber daya alam Indonesia yang serba kaya dan bisa mengangkat nama Indonesia di mata dunia. Dengan iman sebesar biji sesawi engkau bisa memindahkan gunung. Kami tahun ini berencana membangun toserba (toko serba ada), juga akan membeli kapal, dan bangun pelabuhan laut. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Petani Reroroja Terancam Gagal Panen

Next Story »

Mutiara Terpendam Seni Rupa Flores

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *