Silvester Theodorus Jagong

Ketua Laskar Maria yang Berjalan Tertatih

Konfreria adalah organisasi atau Laskar Maria sebagai penerus daripada warisan budaya yang ditinggalkan para pastor Ordo Dominikan ( OP ) saat bangsa Portugis menetap di wilayah Konga. Bagaimana nasib “ Laskar Berjubah Putih “ itu saat ini?

SEBELUM para gembala, biarawan biarawati Katolik mulai menjamur pada abad ke-15, peran Konfreria sangat penting bagi perkembangan dan iman umat Katolik di Konga. Konfreria bukan hanya sekedar mengambil peran sebagai koordinator kegiatan religi dan devosi selama Hari Bae tetapi juga kerap berperan sebagai guru agama, pembina rohani, bahkan memimpin doa di gereja dan penguburan jenazah, ketika ada umat Katolik yang meninggal.

Rentang waktu Hari Bae bagi umat Katolik di Desa Konga dimulai sejak sehari sebelum Natal hingga sehari setelah Paskah. Saat malam Natal, umat Katolik di Konga mengarak patung Tuan Meninu (kanak-kanak Yesus) dari Tori Tuan Meninu menuju gereja yang berjarak sekitar 400 meter arah Barat Tori Tuan Meninu. Ritual Hari Bae atau Semana Santa (Minggu Suci) berakhir saat acara Serah Punto Dama saat Paskah kedua.

Silvester Theodorus Jagong, Procurador atau ketua Konfreria di Konga. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Silvester Theodorus Jagong, Procurador atau ketua Konfreria di Konga. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Dalam kegiatan Hari Bae ini, peran Konfreria sangat penting. Konfreria mengkoordinir umat mengikuti seluruh ritual yang berlangsung. Konfreria juga mendaraskan lagu-lagu berbahasa Latin dan Portugis yang wajib dinyanyikan saat ritual berlangsung. Dua anggota Konfreria tertua dipilih bertugas memandikan atau membersihkan patung Tuan Ana dan Tuan Ma dalam ritual Muda Tuan. Konfreria juga harus melatih petugas Ovos yang membawakan lagu ratapan Veronika serta Lakademu yang mengusung patung Tuan Ana atau Tuan Tido.

Tertantang

Silvester Theodorus Jagong (67) atau kerap disapa Sil, yang menjabat Komprador (ketua) Konfreria Konga yang saya temui, belum lama ini menjelaskan, peran Konfreria sangat penting terlebih saat masa Pra Paskah hingga Paskah. Gereja Konga, kata lelaki asal Nita Kabupaten Sikka ini, merupakan sebuah stasi di mana parokinya berada di Lewolaga. Ini yang membuat gereja Konga tidak selalu dihadiri pastor.

“Di sini lah Konfreria dituntut menjalankan peran pastor dalam menjaga kehidupan iman umat. Kalau Konfreria tidak ada sejak dahulu, mungkin ritual selama Hari Bae tidak bisa lestari sampai sekarang,“ tuturnya.

Ada banyak hal, kata Sil lagi, yang dihidupkan oleh Konfreria tapi semuanya hanya ritual saja. Hal ini membuat lelaki kelahiran 18 Februari 1957 ini, terpanggil bergabung untuk menghidupkan kebersamaan itu. Sebelum mengenal Konfreria, Sil terlebih dahulu mengenal prosesi Jumat Agung dan dirinya melihat yang mengambil peran, menjiwai, dan menyemangati prosesi, pelakunya adalah Konferia.

Setelah mendalami dan menggali ternyata, tambah Sil, dia melihat Konfreria ini luar biasa. Ada beberapa nilai yakni semangat dan kebersamaan yang sangat menonjol. Selain itu, Sil melihat bapak mertuanya juga seorang anggota Konfreria dan guru agama di Konga sejak awal.

“Bapak mertua saya yang berpendidikan cuma Sekolah Rakyat (SR) saja bisa menghidupi Konfreria. Kenapa saya tidak mampu mengambil bagian dalam prosesi ini? “ ungkapnya menggambarkan asa dalam dirinya.

Selain itu, tambah Sil, ada seorang tokoh Konfreria yakni Adi Kwen yang jadi Ketua Konfreria pertama yang menyuruhnya masuk jadi anggota. Dituturkan Sil, Adi mengatakan bahwa dirinya pantas jadi anggota sebab beberapa syarat menjadi anggota menurut pengamatannya sudah dipenuhi Sil. “Pak Adi katakan dia yakin saya pasti bisa memenuhi segala syarat itu dan dia katakan bahwa bapak mantu kami berdua merupakan pendiri Konfreria di Konga,”kenangnya.

Melestarikan

Yosep Kopong Kung (63) anggota Konfreria dan Benediktus Pedo Ena da Cunha (63) Mestri atau pemimpin lagu di Konfreria kepada saya yang menemuinya di saat bersamaan, terlihat bersemangat saat diajak berbincang tentang Konfreria. Dikatakan Yosep dan Diktus, sapaan akrab keduanya, peran Konfreria sangat berat saat masa Pra Paskah terlebih seminggu menjelang Paskah.

Konfreria, sebut Diktus, harus sering berkumpul guna melakukan latihan menyanyikan lagu- lagu yang akan dikumandangan saat ritual dimulainya Rabu Trewa hingga Minggu Paskah. Latihan sangat diperlukan guna melatih kekompakan dan juga memupuk semangat kebersamaan.

“Tugas kami sangat berat sebab suksesnya ritual sangat tergantung kepada kami yang ditugasi mengkoordinir ritual dan membawakan lagu-lagu warisan Portugis yang tentunya tidak semua umat apalagi peziarah dari luar daerah bisa menyanyikannya, “ ujar Diktus.

Anggota Konfreria di Larantuka saat mengikuti salah satu ritual saat Semana Santa. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Anggota Konfreria di Larantuka saat mengikuti salah satu ritual saat Semana Santa. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Hal senada juga disampaikan Yosep. Menurutnya, jika Konfreria tidak ada maka tentunya ritual bisa batal dilaksanakan. Apalagi, Mestri yang saat ini dijabat Diktus tidak ada orang lain lagi yang hingga saat ini bisa berperan seperti dirinya. Sudah banyak anggota senior Konfreria yang diminta untuk belajar menghafal lagu-lagu tersebut tetapi memang tidak bisa menjiwai dan menggantikannya. Sehingga apabila Diktus sakit atau berhalangan bisa jadi ritual batal diselenggarakan.

“Bapak Diktus itu orang penting. Saya saja kalau bicara dengan dia harus banyak mengalah apalagi saat menjelang Paskah ini. Kalau dia tersinggung dan merajuk, kami bisa batal prosesi. Apalagi dia juga ketua lembaga pemangku adat,”tutur Yosep dengan suara pelan.

Tertatih

Untuk menjadi anggota Konfreria ada syarat yang harus dipenuhi yakni calon anggota harus merupakan umat Katolik yang sudah dibaptis, dan kehidupannya layak di mata umat dan masyarakat. Selain itu, calon anggota harus memiliki latar belakang kehidupan sosial kemasyarakatan yang baik serta wajib menjadi kandidat atau masa pembinaan selama tiga tahun terlebih dahulu.

Dijelaskan Sil, Konfreria dipimpin oleh seorang ketua yang dinamakan procurador, sekretaris (scriban), bendahara (theusarero) dan mestri yang bertugas di bagian liturgi untuk memimpin doa dan menjadi konduktor koor. Untuk tahun ini, anggota Konfreria, menurut Sil, berjumlah 18 orang tapi yang aktif hanya 15 orang. Sementara kandidat (calon anggota) yang masih dalam pembinaan ada 15 orang.

“Kondisi kami jatuh bangun sehingga tidak dijelaskan kapan Konfreria didirikan. Kadang – kadang pengurusnya tidak ada tapi konfreria tetap berperan. Konfreria ada sejak misi agama ada di Konga dan Konfreria dipakai untuk melestarikan warisan Portugis ini, “ungkapnya.

Dalam pandangan Sil, Konfreria di Konga memang masih belum tertata dengan baik. Pendampingan dan pembinaan rohani oleh biarawan biarawati menurutnya masih kurang. Tingkat kehadiran saat pembinaan juga masih minim dan hal ini selalu disampaikan lewat beberapa pertemuan.

Adapun masalah pendanaan, menurut Sil, memang masih menjadi masalah. Namun, hal itu bukan patokan utama. Bagi mereka, demi menjaga dan melestarikan nilai-nilai warisan budaya merupakan yang utama, ketimbang daya tarik materi yang hanya sesaat menyenangkan. Sering ada umat atau peziarah yang mempunyai ‘ujud’ saat prosesi dan memberikan sumbangan dana bagi Konfreria.

“Perkembangan Konfreria di Konga tidak pesat, masih banyak hal yang perlu dibenahi seperti kebersamaan dan kesadaran anggota. Sebenarnya yang mau menjadi anggota banyak. Tapi mereka masih melihat kehidupan kami, karena kami harus menjadi panutan. Kami harus memberikan yang terbaik, sehingga generasi muda tertarik masuk jadi anggota Konfreria, “ pungkasnya. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Mukjizat Penyembuhan Sang Penjaga Kapela

Next Story »

Katharina dan Lilin Prosesi yang Tak Kunjung Padam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *