Katharina dan Lilin Prosesi yang Tak Kunjung Padam

Lilin yang biasa dipakai para peziarah saat mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka kerap diburu peziarah. Ukuran lilin ini selain lebih panjang dan lancip di bagian ujungnya, juga lebih lama padam dan mencair. Bisa tahan hingga usai prosesi yang dimulai jam 19.00 wita hingga usai pukul 03.00 wita. Lantas, siapakah si pembuat lilin prosesi itu?

PEMBUAT lilin untuk prosesi Jumat Agung yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai ‘lilin permesa’ sejak dahulu hanya dilakukan oleh tiga orang saja di Kelurahan Lokea, kota Larantuka. Salah satu dari pembuat lilin prosesi ini adalah Katharina D. Fernandez. Memanfaatkan momen Samana Santa dengan membludaknya peziarah dari tahun ke tahun, para pembuat lilin secara tradisional ini mulai menjamur untuk mengais rezeki.

Di tengah teriknya mentari yang menghunjam kota Reinha, baru-baru ini, saya berkesempatan menyambangi rumah Katharina D. Fernandez, si pembuat “lilin permesa” yang terkenal itu. Ratusan batang lilin diikat di sebatang kayu bulat dan digantung di tembok rumahnya. Menurut dia, membuat lilin prosesi ini selalu dialkoninya saban tahun, terutama menjelang perayaan Samana Santa.

Sudah Dikenal

Memasak lilin yang kerap dipergunakan peserta prosesi bagi Rina-sapaan akrabnya-, dilakoni sejak puluhan tahun silam. Sejak kecil dirinya sudah diajari mamanya yang kerap disapa Tanta Bene untuk membantunya menuangkan lilin hingga berjalan keliling kota guna menjual lilin-lilin karya sang mama. Semenjak ditinggal mamanya tahun kemarin, dirinya terpaksa menjalani pekerjaan ini sendirian dan kadang dibantu saudara serta keponakannya.

“Sejak kecil saya menemani mama masak lilin sejak sekitar tahun 1980-an. Dulu cuma mama dan dua saudara mama saja yang membuatnya. Tapi saat ini di kelurahan saya saja sudah ada 10 orang yang membuat lilin,”ujarnya.

Membuat lilin prosesi bagi Rina bisa untuk menambah pemasukan. Apalagi saat ini, tambahnya, sudah banyak peziarah yang hadir mengikuti prosesi Jumat Agung. Lilin yang dijualnya sering laku sebab sejak dahulu, mamanya sudah dikenal orang sebagai pembuat lilin prosesi.

Katharina D. Fernandez, pembuat lilin prosesi yang mewarisi pekerjaan ibundanya. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Katharina D. Fernandez, pembuat lilin prosesi yang mewarisi pekerjaan ibundanya. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Lilin prosesi yang dijual Rina harganya bervariasi. Yang paling murah ‘dilepas’ dengan harga Rp 5 ribu. Sementara yang paling mahal Rp 20 ribu. Harga tersebut tergantung besar kecilnya diameter lilin. Lilin sepanjang sekitar 30 sentimeter dan berdiameter 2 sentimeter ini dibuat dari cairan lilin bekas dibakar. Setiap tahun Rina biasanya mampu membuat 300 sampai 500 batang lilin prosesi.

“Kalau membuat 500 batang dan laku semua saya bisa dapat uang Rp 3 juta – Rp 4 juta dan saya dapat untung sekitar Rp 2 juta lebih,”bebernya.

Biasanya lilin tersebut oleh Rina mulai dijual tiga minggu sebelum Paskah di depan rumahnya. Sering juga dirinya menyuruh sang anak dan keponakan atau terkadang dirinya sendiri menjualnya di pinggir jalan dekat rumahnya atau mendatangi asrama, wisma, atau hotel tempat para peziarah bermalam.

Tahan Lama

Sebelum membuat lilin, Rina harus menyiapkan bahan bakunya seperti sumbu dari benang tenun, lilin bekas dibakar, dan tali plastik. Saat awal, urai Rina, lilin dibuatkan sumbunya. Lantas lilin bekas tadi dimasak di dalam wajan hingga mencair dan tetap berada di atas tungku batu. Cairan lilin tersebut dituang atau disiram dari ujung sumbu atau benang. Prosesnya dilakukan berulangkali, disiram, didinginkan, dan seterusnya hingga ukurannya dirasa mencukupi.

Selesai Hari Raya Paskah, biasanya di bulan Mei, Rina langsung melakukan pekerjaan tersebut. Jauh-jauh hari, dirinya harus sudah menyiapkan stok. Semakin lama disimpan, urai Rina, lilin semakin kuat dan tidak mudah patah. Semakin kuat serta tahan lama, tidak cepat mencair saat dibakar.

“Pernah ada laku sedikit dan dijual lagi tahun berikutnya. Tahun lalu saya buat 300 batang lilin dan sisanya 80 batang.Tahun ini saya kembali buat 300 batang karena masih ada stok tahun lalu,”beber perempuan kelahiran Larantuka, 19 September 1970 ini.

Selama menjadi pembuat lilin dirinya tidak merasa capek karena pekerjaan ini sudah sejak dahulu dikerjakan sehingga sudah menyatu dan menjadi kebiasaan. “Memang ada rasa capek juga tapi itu bukan halangan. Saya merasa bertanggung jawab meneruskan pekerjaan yang dahulu ditekuni orang tua saya,” ujarnya.

Ketika belum banyak orang yang membuat lilin, kata Rina, saban pagi dirinya disuruh orang tuanya ke kuburan untuk mencongkel lelehan lilin bekas dibakar. Karena saat ini sudah banyak orang yang membuat lilin, maka orang yang mencari lilin bekas pakai di kuburan juga semakin banyak. Selain itu, lilin bekas pakai juga dibeli Rina di kapela-kapela dengan harga Rp 20 ribu sekilonya. Padahal harganya tahun lalu hanya Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

“Kalau sekilo lilin bekas bisa menghasilkan 10 batang lilin seharga Rp 10 ribu. Saya biasa tuang lilin jam 08.00 sampai jam 14.00 setelah selesai istirahat. Ini hanya pekerjaan selingan saja untuk menambah penghasilan saja, “ ungkap perempuan 45 tahun ini.

Memberikan Gratis

Dewasa ini banyak pembuat lilin yang menggunakan mal (cetakan) dari pipa paralon plastik. Meski demikian, Rina masih tetap setia membuatnya sesuai teknik kuno yang diketahuinya dari orang tuanya, yakni teknik tuang. “Bila memakai mal atau cetakan, lilin tersebut menyalanya paling sampai setengah saja sebab tidak padat. Bahkan sumbunya terputus di bagian tengah,” jelasnya.

Harga bahan baku yang melonjak naik membuat Rina dengan berat hati menaikan harga jual lilin buatannya. Lilin kecil yang dulunya dibanderol seharga Rp 5 ribu kini dijual Rp 7.500. Tapi jika ada orang yang tidak memiliki cukup uang Rina selalu meniru apa yang dilakukan mamanya. “Lilin tersebut saya berikan secara cuma-cuma saja karena mereka juga sembahyang buat kami. Itu prinsip mama saya dulu, “ kenangnya.

Jika lilin-lilin itu ditawarkan kepada rombongan peziarah, lanjut Rina, lilin miliknya bisa laku terjual dalam jumlah banyak, 50 batang sampai 100 batang. Pernah juga Rina mengalami kehabisan stok. Hal ini terjadi saat peringatan perayaan 5 Abad Tuan Ma. Lilin habis terjual semua sehingga dirinyai mengambil dari pembuat lilin lainnya dan membantu menjualkan. Rina tidak menjual dengan harga tinggi dan hanya melepasnya dengan harga sesuai permintaan pemiliknya. “Saya hanya membantu saja,” kata Rina saat ditanya apakah tidak mengambil keuntungan.

Tahun ini dirinya melihat jumlah peziarah mengalami penurunan akibat kejadian saat prosesi Jumat Agung tahun kemarin, yang menelan korban jiwa. Selain membuat lilin untuk peziarah, Rina juga membuat lilin untuk dipasang di Turo. Lilin tersebut sering dipesan oleh Mardomu sebanyak 500 batang hingga 600 batang lilin ukuran kecil. Sebatang lilin dihargai Rp 3 ribu.

Menurutnya, lebih capek membuat lilin ukuran kecil karena boros bahan baku dan untungnya lebih sedikit. Kadang Mardomu yang membelinya suka menawar hingga harga Rp 2.500 per batangnya. Rina berkomitmen tetap bekerja membuat lilin sampai sudah tidak sanggup mengerjakannya. Karena tiap tahun permintaan akan lilin prosesi semakin meningkat. “Tahun ini semoga terjual habis, itu harapan saya. Jika tidak habis akan disimpan dan dijual saat prosesi Corpus Christy dan Jumat Agung tahun depan, “ pungkasnya. (*)

Penulis: Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Nenek Ure dan Sebuah Pertemuan di Pantai

Next Story »

Ketika Armada Jogo Worela Mendarat di Kantu Jebe

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *