Gua Batu Cermin, Firdaus di Jantung Kota

Dalam pekatnya kegelapan dan keheningan, hanya dengan penerangan seadanya-lampu senter, lilin atau bahkan sebatang korek, hikmat  terasa  betapa  besar  keagungan  Tuhan  pencipta alam ini. Sebuah pengalaman mendebarkan namun penuh pesona

BERLOKASI  di Desa Batu Cermin, Labuan Bajo, gua alam Batu Cermin terbentuk dari rekahan bebatuan megalitik yang membentuk celah-celah gua selama beribu-ribu tahun lamanya. Setiap pengunjung  akan mendapatkan pengalaman yang menakjubkan.  Gua Batu Cermin mudah dicapai dengan menumpang  angkutan kota  atau bersepeda motor  dengan jarak tempuh cuma sekitar  10 menit  dari  pusat  kota.

Kawasan  seluas  lebih dari 25 hektar ini dikitari hutan bambu yang tumbuh secara alamiah. Batu-batu cadas  berdiri angkuh menjulang  tinggi menawarkan panorama alam yang menakjubkan. Nuansa alami begitu terasa menyejukkan kalbu pengunjung di tengah gerahnya alam kota yang panas.

Dahulu kala warga setempat mengenal gua Batu Cermin sebagai benteng pertahanan di kala perang pada masa kolonialisme. Namun, seiring perjalanan waktu di tengah geliat pariwisata, perlahan-lahan Batu Cermin menjadi salah satu objek wisata yang diminati para wisatawan. Padahal, selain sebagai benteng pertahanan, Batu Cermin dianggap sebagai tempat tinggal para dewa atau roh-roh halus penjaga alam semesta. Tidak heran, jika warga pun jarang berkunjung  ke lokasi tersebut walau hanya sekedar untuk mencari kayu bakar.

 

Celah-celah gua batu yang di atasnya dikelilingi hutan bambu. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Celah-celah gua batu yang di atasnya dikelilingi hutan bambu. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Kini gua Batu Cermin telah berubah menjadi salah satu lokasi wisata terfavorit di kota Labuan Bajo. Memasuki kawasan Batu Cermin, mata langsung tertuju pada sederetan perbukitan batu bercadas menjulang  tinggi. Ratusan  gua alam berikut lorong-lorong gelap  sepanjang puluhan meter dapat dilewati. Walaupun begitu, para pengunjung mesti sedikit berhati-hati dan perlu melengkapi diri dengan senter, lilin, korek api dan helm guna melidungi diri terutama kepala dari benturan pada langit-langit bebatuan.

Infrastruktur  seperti jalan setapak sudah dibangun untuk memudahkan perjalanan para pengunjung. Di salah satu lorong yang gelap, pengunjung dapat menikmati cahaya matahari yang  terpantul tembus melalui celah-celah bebatuan cadas yang menjulang tinggi. “Karena pantulan cahaya itulah, orang menamakannya batu cermin,” ujar Siprianus Sani, warga setempat. Pada lorong-lorong sempit se-ukuran badan orang dewasa itu pula para pengunjung boleh melepas lelah sambil menikmati mamiri (makanan minum ringan).

Selain menikmati sensasi gelapnya gua-gua batu, pengunjung boleh mengitari kawasan Batu Cermin untuk menikmati pemandangan alam yang dihiasi hutan bambu yang membentang luas. Berikut bisa menyaksikan keunikan ekosistem di dalamnya. Beberapa jenis burung dan monyet serta binatang hutan lainnya dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Terancam Rusak

Namun, keindahan Batu Cermin perlahan-lahan mulai tergerus dan terancam hilang. Pembangunan yang tak terkendali berikut pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan banyak lahan di sekitar kawasan Batu Cermin mulai diokupasi untuk pembangunan pemukiman penduduk. Ketidaktegasan pemerintah dalam menegakan aturan hukum terkait dengan pengelolaan tata ruang kota berikut praktik pembangunan yang tidak lagi mengindahkan kelestarian alam dan lingkungan kian mengancam alam Batu Cermin.

Kini, puluhan warga dikabarkan mulai mengkapling sebagian lahan yang disebut-sebut masuk kawasan wisata alam yang mesti dijaga dan dilestarikan. Kepala Desa Batu Cermin, Agus Albu tidak menampik adanya  warga yang mengkapling lahan-lahan tersebut. Namun, ia mengaku tidak punya kewenangan untuk menegur apalagi menghentikan aktivitas warga yang ingin membangun di lahan tersebut. “Ada warga yang mengaku kalau tanah-tanah itu adalah milik mereka. Saya sendiri  tidak bisa buat apa-apa. Saya sudah sampaikan kepada pemerintah, terserah pemerintah yang di atas,”katanya.

Selain dibangun pemukiman penduduk, di sekitar kawasan Batu Cermin juga sudah dibangun beberapa gedung  permanen oleh pemerintah baik  pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pada tahun  anggaran 2014, dibangun lima unit gedung wisata kuliner khas Manggarai dilengkapi halaman untuk atraksi seni budaya. Namun, pembangunan rumah penduduk dan sejumlah fasilitas umum tersebut bukan tanpa kritikan masyarakat. Warga menilai, pembangunan beberapa  fasilitas umum tersebut hanya menghambur-hamburkan uang dan tidak bermanfaat banyak bagi masyarakat setempat. Bahkan justru berdampak buruk bagi keberadaan ekosistem setempat.

Bangunan proyek pemerintah yang mubazir dan mengganggu kealamian kawasan Batu Cermin. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Bangunan proyek pemerintah yang mubazir dan mengganggu kealamian kawasan Batu Cermin. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

“Batu Cermin itu lokasi wisata alam yang seharusnya dibiarkan alamiah. Di tempat itu tidak boleh dibangun apa pun.  Biarkan dia menjadi paru-paru kota Labuan Bajo. Karena kalau sudah dibangun apalagi dijadikan tempat keramaian, maka perlahan-lahan akan mengganggu ekosistem yang ada, dan Batu Cermin akan menjadi kawasan kumuh,”ujar Anton de Ona, pemerhati lingkungan setempat.

Selain mengancam ekosistem alam Batu Cermin, menurut Anton  berbagai fasilitas tersebut bakal mubazir karena tidak ada warga yang mau memanfaatkannya. Hal ini terbukti dari beberapa fasilitas yang pernah  dibangun oleh pemerintah kini mubazir  karena tidak ada yang mau memanfaatkannya. Demikian pula sejumlah bangunan yang berada di dalam kawasan Batu Cermin kini mubazir dan rusak seperti tempat untuk pemantauan sekaligus pos jaga bagi para petugas.

Terletak  di jatung kota Labuan Bajo, membuat lokasi wisata alam Batu Cermin sangat strategis dan mudah dikunjungi. Setiap hari hampir tak pernah sepi dari para pengunjung baik wisatawan domestik maupun manca negara. Bagi para wisatawan, pada umumnya mereka datang hanya sekedar untuk mengisi waktu luang sebelum take off kembali ke negara asal mereka. Kini kawasan Batu Cermin mulai ditata agar menjadi salah satu tempat wisata. Namun beberapa persoalan masih menghadang. Selain ancaman kerusakan alam dan lingkungan, masalah penguasaan lahan dan persoalan sosial lainnya perlu menjadi perhatian bersama. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Belajar Perikanan Lestari dari Lembata

Next Story »

Aendere, Air Terjun Bertangga yang Terlupakan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *