Dituduh “Suanggi”, Stefanus Darlin Dipaksa Minum Kotoran Babi

Penulis : Kornelius Rahalaka

LABUAN BAJO, FBC- Nasib naas menimpah Stefanus Darlin (33) bersama keluarganya. Pria asal Kampung Ngiring Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat ini dituduh warga setempat sebagai seorang “suanggi” alias orang yang memiliki ilmu hitam. Tuduhan warga tersebut berujung pada aksi pembakaran rumah milik korban. Selain itu, korban juga dipaksa minum kotoran babi dalam sebuah ritual adat.

Korban Stefanus Darlin (Baju kuning) didampingi bapaknya Karolus Muju (Foto : FBC/ Kornelius Rahalaka)

Korban Stefanus Darlin (Baju kuning) didampingi bapaknya Karolus Muju (Foto : FBC/ Kornelius Rahalaka)

Kisah pilu ini berawal dari tuduhan warga terhadap korban terkait ditemukannya sebatang bambu berisi tanah yang ditanam di atas lahan milik Martinus Wahu, seorang warga kampung. Stefanus Darling yang ditemui FBC di Labuan Bajo menuturkan, peristiwa yang menimpah diri dan keluarganya itu berawal dari informasi ditemukannya sebatang bambu berisi tanah yang tertanam di atas lahan milik seorang warga. Sebelumnya, sebut korban, pernah terjadi sengketa perbatasan tanah antara sekelompok warga kampung. Namun konflik tapal batas tanah tersebut telah diselesaikan oleh para tetua adat setempat pada awal bulan Maret lalu.

Ia mengisahkan bahwa beberapa hari sebelumnya, pernah terjadi peristiwa duka yakni meninggalnya seorang anak kecil dari salah satu keluarga di kampung tersebut. Beberapa hari kemudian, seorang warga menemukan sebuah bambu berisi tanah yang ditanam di atas lahan kebun milik seorang warga bernama Martinus Wahu.

Bambu itu diyakini oleh warga sebagai pemicu kematian seorang anak yang telah dimakamkan beberapa hari sebelumnya. Bambu itu kemudian dibawa warga untuk diserahkan kepada Leonardus Lalo selaku tua lodok atau tua teno (pemuka adat yang bertugas membagi tanah ulayat).

Pada hari itu juga tua lodok memanggil sejumlah 11 orang pemilik lodok untuk dimintai keterangan perihal penemuan bambo tersebut. Namun, dalam pemeriksaan itu, tidak seorang pun yang mengaku menanam bambu berisi tanah itu di atas tanah milik warga. Karena tidak seorang diantara mereka yang mengakui perbuatan tersebut maka ke-11 warga itu dimintai oleh tua lodok/teno untuk membuat surat pernyataan sikap berisikan perjanjian bahwa bila dalam urusan selanjutnya salah seorang diantara mereka mengakui perbuatan itu maka orang tersebut akan dibunuh atau dihabiskan nyawanya. Surat perjanjian penyelesaian itu pun diantar ke kepala desa untuk urusan penyelesaian selanjutnya.

Berdasarkan surat tersebut, pada tanggal 11 Maret 2015 Kepala Desa Agus Ibut mengundang ke-11 warga tersebut untuk dimintai keterangan. Rapat diadakan di kantor desa dan dipimpin langsung oleh kepala desa. Menurut penuturan korban, pemeriksaan dimulai dari tua lodok/teno. Pemeriksaan hanya berlangsung sekitar setengah jam diikuti dengan pemeriksaan terhadap dirinya. Korban dipanggil masuk ke dalam sebuag ruangan yang terpisah.

Sebelum dimintai keterangan oleh kepala desa (kades) korban disuruh oleh kepala desa untuk memakan beberapa biji garam kasar. Menurut kades, garam itu dimakan sebagai penawar ilmu hitam yang dipakai oleh korban sekaligus dimaksudkan agar korban dapat menjawab semua pertanyaan dan mengakui perbuatannya secara jujur.

Korban mengaku ia sempat ditendang oleh kepala desa dan beberapa kali dipaksa oleh sang kepala agar korban mengakui perbuatannya. Namun korban menolak mengakui perbuatannya karena ia merasa tidak pernah berbuat sebagaimana dituduhkan kepadanya. Korban mengaku diperiksa oleh kades selama sekitar dua jam. Mungkin karena kesal kades sempat menendang kaki korban dan mendesak korban agar segera mengakui perbuatannya.

“Bila kau tidak mengaku maka warga akan membunuhmu. Warga sudah banyak ada di luar,”ujar Kades seperti ditirukan oleh korban. Karena tidak mengakui perbuatan itu, kades sempat memanggil istri korban, Henrika Heni untuk dimintai keterangan. Namun, istri korban membantah semua tuduhan itu dan mengaku tidak mengetahui perihal penanaman bambu di atas lahan milik warga.

Hari semakin siang, massa terus berdatangan ke kantor desa. Karena terus didesak oleh kepala desa dan lantaran takut dibunuh oleh massa yang hadir, korban akhirnya terpaksa mengakui perbuatan itu.

“Saya terpaksa mengaku saja daripada saya dibunuh apalagi di luar sudah banyak warga yang datang,”ujar Darlin dengan nada sedih. Tak lama berselang, kepala desa keluar ruangan dan mengumumkan kepada warga bahwa sudah ada pengakuan atas aksi penanaman bambu itu. Sebagian warga sempat marah namun situasi bisa terkendalikan.

Kapolres Manggarai Barat : Jules Abraham Abast (Foto : FBC/ Kornelius Rahalaka)

Kapolres Manggarai Barat : Jules Abraham Abast (Foto : FBC/ Kornelius Rahalaka)

Martinus Wahu seorang warga meminta agar Darlin harus diberi sanksi adat berupa 1 ekor kerbau untuk ritual adat kelas atau upacara kenduri bagi para arwah yang telah meninggal dunia termasuk seorang anak yang baru saja dikuburkan. Kenduri itu sendiri menurut rencana akan diadakan pada tanggal 19 April 2015 mendatang.

Selain diberi sanksi adat berupa hewan kerbau, korban juga diminta untuk menyiapkan beberapa hewan yakni seekor babi, seekor anjing dan seekor ayam yang semua binatang itu harus berbuluh hitam. Binatang-binatang tersebut disembeli dalam sebuah upacara adat yang berlangsung tanggal 11 April 2015. Menurut kepercayaan dan tata cara adat, upacara tersebut bertujuan untuk membuang semua ilmu hitam yang selama ini dimiliki atau dipakai oleh korban untuk membuat mati banyak warga kampung. Saat itu, darah babi diambil kemudian dicampur dengan kotoran babi lalu diberi minum kepada korban. Korban mengaku terpaksa meminum kotoran itu karena takut dibunuh oleh warga yang hadir.

Meskipun ritual adat telah dijalankan dan berbagai sanksi adat sudah disanggupi oleh korban namun rupanya warga masih belum puas. Dua hari kemudian, tepatnya tanggal 13 Maret warga kembali mengadakan rapat di rumah gendang (rumah adat) dan dipimpin oleh tua golo. Banyak warga yang menghadiri rapat tersebut namun hanya berselang beberapa jam kemudian, warga mulai bergerak menuju ke rumah korban.

Menurut kesaksian korban, pada mulanya hanya ada 6 orang yang mendatangi rumahnya. Mereka membawa serta parang, kayu dan bensin. Mereka mengancam akan membunuh korban bila tidak segera keluar dari rumah. Keenam orang tersebut masing-masing berinisal YH, BH,AJ,JB,SN,AJ dan AK. lantaran merasa terancam korban bersama istri dan kedua anaknya serta orangtua dan adik-adik korban berjumlah 11 orang didampingi dua keluarga dekat yakni Yohanes Hali dan Mateus Gandi terpaksa keluar dan mengungsi ke suatu tempat yang jauh. Rombongan keluarga itu meninggalkan rumah melewati jalan setapak menuju ke sebuah kampung yang terletak di dataran tinggi. Rombongan keluarga naas itu sempat dicegat oleh BH untuk dibunuh namun niat jahat BH dicegah oleh kedua pendamping korban.

Dari kejauhan mereka sempat melihat puluhan massa bergerak menuju rumah korban dan tak lama kemudian, asap tebal membubung tinggi di atas atap rumah mereka. Sebanyak 5 buah rumah ludes dibakar massa. Dua rumah terletak di kebun sedangkan tiga rumah lainnya berada di kampung, tempat tinggal korban bersama keluarga besar.
Mengungsi dan tidak bersekolah.

Korban bersama rombongan terpaksa mengungsi ke wilayah Rego, Kecamatan Macang Pacar. Selain orang tua, istri dan anak-anak, saudara-saudara korban lainnya juga ikut mengungsi.Dua orang diantaranya berusia sekolah terpaksa meninggalkan kampung halaman dan sekolah. Maria Yasinta Engong (13) tahun siswa SMP Negeri V Pauwaka dan Florestina Karmelisa Darlin yang masih duduk di kelas I Sekolah Dasar terpaksa tidak bersekolah.

Pada tanggal 15 Maret, korban bersama orangtua dan sejumlah keluarga melaporkan peristiwa naas itu kepada aparat kepolisian resort Manggarai Barat. Setelah mendapat laporan korban, aparat keamanan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

Kini sejumlah pihak telah dimintai keteragan oleh penyidik kepolisian Manggarai Barat. Kapolres Manggarai Barat, Jules Abraham Abast menyatakan, pihaknya tengah memeriksa saksi-saksi dan tim polres sedang melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa, Agus Ibut kepada wartawan membantah dirinya terlibat dalam peristiwa itu. Meskipun membantah namun korban dan sejumlah keluarga mengaku motif pembakaran rumah dan semua sanksi adat beserta ritual adat yang memberi minum kotoran hewan kepada korban dipicu adanya tuduhan warga bahwa korban memiliki ilmu hitam alias suanggi.

Vinsen Patno, seorang warga Pacar mendesak aparat kepolisian setempat untuk segera menangkap dan mengusut tuntas para pelaku karena perbuatan mereka sudah diluar perikemanusiaan dan melanggar hukum. “Perbuatan para pelaku di luar perkemanusiaan dan melanggar hukum.

“Saya kira motif para pelaku sudah jelas, korban dituduh suanggi atau punya ilmu hitam yang menyebabkan kematian seorang anak. Ini bukan masalah tanah karena persoalan tanah sudah diselesaikan oleh tua adat,”ujarnya.

Sementara itu, korban mengaku hingga kini masih trauma dan takut untuk kembali ke kampung karena para pelu belum ditangkap. Ia menyatakan, dirinya tidak tahu apa-apa terkait persoalan yang dituduhkan kepadanya baik perihal kematian anak maupun ilmu hitam.

“Saya bersumpah, saya tidak pernah pakai ilmu-ilmu itu. Saya juga samasekali tidak tahu menahu termasuk tanaman bambu di kebun milik warga itu,”ujarnya.

Semana Santa, Napak Tilas Tuan Ma Tak Lagi Dipentaskan

Next Story »

Fraksi PDIP Lembata Segera Tarik Dukungan untuk Bupati

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *