Tetok Alu Ier Pare, Mewartakan Kebersamaan

Tetok Alu Ier Pare tari kreasi baru gubahan Sanggar Kibo Libok memesona penonton saat dipentaskan di Festival Pantai Koka. Berakar pada tradisi Wai Nuhun, tarian ini mengabarkan pentingnya kebersamaan. Bagaimana kisahnya?

EMPAT perempuan cantik berbaris di depan panggung persis di bibir pasir putih Pantai Koka. Panas mentari yang menyengat bercampur uap air laut tak menyurutkan langkah kaki para remaja ini menapaki satu persatu anak tangga menuju panggung.

Siang itu, ribuan orang memadati Pantai Koka untuk menyaksikan pementasan tarian dan musik dalam kemasan festival seni budaya. Penonton bukan saja memenuhi tenda, mereka merangsek hingga mendekati panggung pertunjukan. Panggung berukuran 8 meter x 4 meter itu jadi ajang unjuk kebolehan sanggar tari dan musik menarik simpati publik.

Sekitar pukul 14.30 wita, saat mentari sedikit bergeser ke sisi Barat, penata tari Sanggar Kibo Libok terlihat mengumpulkan penari memberikan arahan. Sesaat lagi, tarian Tetok Alu Ier Pare akan dipentaskan. Personel musik pengiring mulai bergerak mengangkat alat musik ke panggung.

Mengenakan sarung tenun ikat berpadu padan baju biru berenda kuning keemasan, keempat penari perempuan terlihat berbaris, bersiap menaiki panggung. Tak lupa di kepala para penari terpasang pita berwarna keemasan.Tiga penari melengkapi diri dengan selendang ungu terlilit dipinggang, sementara seorang lainnya berselendang kuning emas. Dua buah gelang gading melingkar di kedua tangan setiap penari.

Gerakan tari dalam tarian Tetok Alu Ier Pare yang melambangkan aktivitas menyiapkan bibit padi sebelum ditanam.( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Gerakan tari dalam tarian Tetok Alu Ier Pare yang melambangkan aktivitas menyiapkan bibit padi sebelum ditanam.( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

 

Gotong – Royong

Gerakan tari dimulai ketika penari menghentak-hentakan kaki, membuat gerakan memutar dan riang gembira. Gerakan ini menggambarkan kegiatan mengumpulkan sanak kerabat guna bersiap membersihkan kebun dan bersatu untuk bekerja secara bersama atau gotong royong. Sambil menggoyang badan, tangan penari membuat gerakan melambai.

Kembali penari bergerak. Lida (nyiru) yang dipegang di tangan digoyangkan seraya berjalan memutar.Wajah kegembiraan terpancar dan senyum tetap tersungging di bibir penari. Keempat penari duduk bersimpuh di lantai. Lida pun diletakkan di depannya. Kedua tangan dimasukan ke dalam lida membuat gerakan bak mengaduk sesuatu.

Dua buah alu, kayu bulat yang kerap dipakai menumbuk padi, tergeletak di depannya. Sontak penari berdiri. Dua penari memegang alu dengan kedua tangannya. Tangan kanan memegang bagian atas sementara tangan satunya menggenggam bagian bawah alu. Dua penari lainnya meletakan lida di pundak dengan disangga tangan kanan.

Berjalan memutar, dua penari memegang alu membuat gerakan menombak (melubangi) tanah berulang-ulang. Tangan kiri dua penari lainnya bergerak turun naik ibarat orang menanam, memasukan padi ke dalam lubang yang dibuat.

Sesudahnya penari kembali duduk. Alu pun diletakan. Semua penari kembali memegang lida. Selendang dikibaskan dengan sebuah tangan. Lida tak lagi berada di pundak tapi di pinggang penari. Gerakan tari kini melukiskan suasana memanen padi.

Kembali penari berkeliling dan menggerakan tangan diakhiri dengan duduk bersimpuh berjejer menghadap ke barat. Lida yang diletakan di lantai di gerakan-gerakan menyerupai orang menapis beras. Badan dibungkukan, kedua tangan serempak membuat gerakan mengaduk dan menggerakan lida memutar ke kiri dan ke kanan. Silih berganti penari membungkuk dan menegakan badan.

Saat badan ditegakan, kedua tangan penari diletakan di pinggang dan memutar badan. Selendang dipegang di ujung jari tangan kanan dan dikibaskan berulang kali. Tangan kiri tetap gemulai melambai dan memutar.

Tarian pun hampir diakhiri. Penari berdiri memegang lida berjalan memutar membentuk lingkaran dan mendekat dengan muka tetap berhadapan. Lida di tangan diayunkan naik turun sambil tak lupa tertawa kecil. Seorang penari terlihat memegang lida membuat gerakan menumpahkan padi dari seneng (anyaman dari lontar berbentuk bulat ) ke dalam lida.

Sambil bergerak memutar menggoyang pinggul, badan dibalikan. Posisi penari terbagi, dua berbaris di kiri dan dua lainnya di kanan. Lida diangkat tinggi diayun ke kiri dan kanan dan dipegang persis sejajar muka. Diperlihatkan juga gerakan tangan kanan seolah melemparkan lida dan tangan kiri membuat gerakan menopang. Suasana gembira pun diakhiri, senyum dan tawa lepas diperlihatkan penari sambil melangkah menuruni panggung.

Wai Nuhun

Tarian Tetok Alu Ier Pare menurut Dominika Carolina Indah Miniatrix Pareira,S.Sn pemimpin Sanggar Kibo Libok merupakan tari kreasi baru yang diambil dari upacara tradisional Wai Nuhun yang biasa dilakukan etnis Nita di Kabupaten Sikka. Tarian ini menceritakan kebiasaan masyarakat desa pada saat membersihkan kebun, menanam, hingga memanen dan menumbuk padi.

Kegiatan yang diadopsi dalam tarian, katanya lagi, dimulai dari membersihkan lahan, mencangkul, menanam, memetik hasil atau memanen sampai kepada menumbuk padi. Ada 12 ragam gerak di dalamnya dengan volume gerakan yang dikembangkan.

“Ragam gerak sebenarnya terdiri dari tetok, gerakan menghentakan kaki sebagai wujud penghormatan manusia kepada Ibu Pertiwi, Ina Nian Tana Wawa. Sementara gerakan melambai-lambaian tangan merupakan penghormatan kepada Ama Lero Wulan Reta, Tuhan Allah,”tuturnya.

Ragam gerak itu, ungkap Indah, dimulai dengan tetok menghentakan kaki terus gerakan melangkah, reda atau gawi, kemudian diperkaya dengan berbagai ragam. Awal mula pertama diawali gerakan perempuan bersenang-senang kemudian ada gerakan membersihkan kebun, menanam hingga memanen dan menumbuk padi.

Gerakan tari yang melambangkan proses menanam padi dalam tarian Tetok Alu Ier Pare. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Gerakan tari yang melambangkan proses menanam padi dalam tarian Tetok Alu Ier Pare. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosar)

Tarian ditarikan oleh empat penari perempuan selama 10 menit. Kadang juga ditambah dengan dua penari lelaki. Untuk tarian tradisionalnya, beber Indah, biasanya ditarikan oleh sebanyak -sebanyaknya orang, tidak ada batasan. Tarian ini lebih bermakna kebersamaan dan kegembiraan.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam tarian ini adalah semangat gotong-royong. Budaya gotong-royong ini sudah mulai jarang kita temukan dewasa ini. Hal inilah yang mendasari kita mengembangkan tarian ini untuk mengingatkan masyarakat tentang makna yang terkandung dalam tarian tradisinya, “ ungkapnya.

Melestarikan Tradisi

Maria Deliana Satriani Rehi (25) seorang penari yang saya temui usai menari, merasa bangga bisa membawakan tarian ini dengan baik. Menurut guru SMP Vifi Maumere yang sudah 10 tahun bergabung di Kibo Libok, tarian Tetok Alu Ier Pare biasa mereka pentaskan di setiap kesempatan. Pemilihan jenis tarian disesuaikan dengan jenis kegiatan yang diikuti dengan melihat apakah ini sekedar menghibur ataukah sebuah festival.

Selain lida (nyiru), seneng dan alu dalam tarian ini, tutur Satri, kadang juga memakai lesung. Jika diperlukan makai lesung, alat ini akan dipakai saat ada gerakan memperlihatkan aktivitas menumbuk padi. “Dengan membawakannya dalam tarian, pesan yang ingin kami sampaikan bisa tersalurkan. Membawakannya dalam tarian juga bisa mewariskan tradisi yang sudah hilang. Saya senang dan bangga bisa ikut mewariskan seni budaya, ada kepuasan tersendiri,”ujarnya bersemangat. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Sanggar Kibo Libok yang Menusantara

Next Story »

Ola Lape, Kampung Adat Kecil nan Sakral

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *