Oscar Mandalangi Pareira

Semua Ilmu Pengetahuan Ada di Flores

Tuhan Allah itu Maha Adil. Dia menurunkan ilmu tidak hanya di Yunani, Romawi, dan Tiongkok. Tetapi juga di Flores. Saatnya kita menggali ilmu yang kita miliki sendiri

BERBICARA ihwal adat, budaya, dan sejarah Flores khususnya Sikka tentu tak lengkap bila tidak menyebut nama lelaki ini. Oscar Mandalangi Pareira, dikenal semua orang sebagai sejarawan dan budayawan. Walau sudah berumur 77 tahun, dirinya tetap menjadi rujukan dan rumahnya selalu disambangi berbagai kalangan di Tanah Air guna mengetahui pandangannya terkait sejarah, adat, dan budaya Sikka.

Lelaki kelahiran Maumere, 31 Maret 1938 ini pernah bekerja di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Nama anak perempuannya Indah Miniatrix pun disematkan untuk mengenang ketertarikannya akan miniatur Nusantara yang digagas mantan Ibu Negara almarhum Tien Soeharto di pertengahan tahun 1970-an ini.

Untuk mengenal lebih jauh sosok yang terbiasa berbicara ceplas-ceplos dan sederhana ini, saya menyambangi kediamannya di Jalan Kesokuit, Kelurahan Wairotang, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, baru-baru ini. Berikut petikannya :

Mengapa Anda tertarik menggeluti sejarah dan budaya, khususnya tentang etnis Sikka?

Oscar Mandalangi Pareira, sejarawan dan budayawan Sikka. (Foto: FBC/Ebed)

Oscar Mandalangi Pareira, sejarawan dan budayawan Sikka. (Foto: FBC/Ebed)

Karena nenek moyang dan orang tua saya bergelut di bidang itu, adat, budaya, sastra, Teteng Latar, Narut Dua Moang dari kecil saya mendengar mereka bicara itu. Nenek saya Moat D.D Kondi dan A.Boer itu sejarawan dan budayawan yang setiap hari bicara tentang itu. Saya pun tiap hari selalu dekat dengan mereka, dan kalau mereka duduk omong di meja adat, saya juga duduk dengar di situ. Jadi itu sudah pembawaan dari kecil. Nenek perempuan saya, Dua Seso yang orang Gobang juga pintar berbicara, ceritera, mendongeng sastra lisan. Jadi saya ada keturunan untuk mewarisi ini semua.

Sejak kapan bergelut di bidang sejarah dan budaya?

Saya sekolah bidang itu di PGLSP Sejarah di Ende tahun 1959-1960 lantas tahun 1961 saya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta masuk Fakultas Sastra dan Budaya ambil jurusan Ilmu Budaya. Tahun 1965 meletus G30S/PKI sehingga membuat saya kembali ke Flores. Seharusnya saya sudah berhak duduk di tingkat doktoral tapi drop out.

Setelah kembali ke Maumere, saya mengajar antropologi, sejarah, dan budaya di SMA St.Gabriel hampir selama 30 tahun. Saya juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka dan menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata yang pertama. Jadi saya cukup mengetahui sejarah dan budaya.

Selain mengajar dan jadi PNS, apa aktivitas lainnya terkait di bidang ini?

Tulis menulis opini di beberapa surat kabar dan membuat buku. Buku pertama Sikka Krowe I untuk muatan lokal di SD dan SMP, Sikka Krowe II belum terbit karena saya tidak ada dana. Kemudian bersama M.Beding menulis Pelangi Sikka. Buku ketiga Hikayat Kerajaan Sikka bekerja sama dengan Doktor Douglas Levis dari Melbourne University Australia tahun 2006 ditulis dalam bahasa Inggris dan banyak tulisan lain mengenai itu.

Bagaimana Anda melihat adat dan budaya di Sikka sekarang ini?

Pemerintah kurang memberi perhatian ke bidang budaya. Mereka hanya berpikir pembangunan yang bersifat fisik, materil. Tapi pembangunan budaya, rohani, mereka kurang tahu. Mereka belum mengerti betul apa yang orang katakan local wisdom, local genius, kearifan dan kebijakan lokal. Padahal dalam kearifan dan kebijakan lokal banyak terdapat ajaran-ajaran, nasihat- nasihat yang perlu diketahui generasi muda sekarang terutama tentang karakter nilai, karakter budaya. Saat ini banyak generasi muda yang suka mempelajari dan menghayati karakter budaya global.

Ilmu pengetahuan sebenarnya semuanya ada di tanah kelahiran kita, Flores ini. Tidak perlu kita belajar sampai ke Tiongkok. Mau cari tahu filsafat, teologi, hukum, semua ada di sini. Tuhan Allah itu adil, semua manusia diberi ilmu. Bukan hanya orang Yunani, Romawi, dan Tiongkok yang diberi ilmu, tapi orang Flores juga punya.

Ini yang harus digali. Jangan kita hanya bisa sekolah ke luar negeri. Sekarang banyak peneliti, dosen bahkan profesor dari mana-mana menyambangi rumah saya hampir tiap hari menanyakan tentang local wisdom. Saya bertanya dalam hati, ini profesor kok datang belajar ke saya?

Apa yang harus dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan local wisdom ini?

Saya harus banyak menulis tapi semua terkendala dana. Dana dari pemerintah susah didapat. Saya dari dulu sudah berjuang tapi sampai sekarang belum dibantu. Buku saya yang terakhir Jawa Hindu dalam Bahasa dan Budaya Sikka Krowe, (semacam tesis) saya mau membuktikan bahwa hampir semua orang Nusa Tenggara Timur (NTT) berasal dari India, terutama dari daerah Benggala.

Buku saya ini sudah dibedah di dua universitas di Kupang yakni di Undana dan Unika, serta sudah diperiksa juga oleh para ahli di STFK Ledalero. Saya sudah lulus dan tinggal melampirkan saja dengan atropologi fisik, perbandingan wajah, muka, skepal dari orang India, Benggala dengan orang kita guna membuktikan teori saya ini. Sekarang bukunya mau dicetak, tapi masih menunggu ada uang dulu.

Pelajaran sejarah dan budaya lokal menurut Anda apakah perlu diajarkan di sekolah?

Jangan lupa, belajar bahasa daerah, bahasa ibu. Di dalam bahasa kita ada Teteng Latar, Daru Dua Moang, Bleka Hada Tana Ai, bahasa-bahasa tua yang di dalamnya kaya akan segala macam ilmu sosiologi, filsafat, etika, moral, hukum dan semuanya. Tapi generasi sekarang tidak ada yang mengerti bahasa daerah, kelemahan kita di situ. Kalau kita mau tahu ilmu pengetahuan kita, maka harus mengerti bahasa daerah supaya kita bisa masuk lebih dalam lagi.

Sekarang ini bahasa nasional, lingua franca (bahasa pergaulan) dijunjung tinggi. Padahal menurut saya, bahasa Indonesia mematikan bahasa daerah. Yang pintar cuma orang Jawa dan Bali. Saya masuk di setiap kantor di daerah, semua orang cuma berbicara dalam bahasa daerah mereka. Kita disini, kalau bicara bahasa daerah orang bilang kampungan, padahal budaya dan bahasa itu satu. Kurikulum muatan lokal harus ada bahasa daerah sebab jika bahasa daerah hilang maka habis sudah identitas suatu suku bangsa.

Menurut Anda kerajaan di Sikka ada berapa?

Sebelum tahun 1607 hanya ada Moang-Moang, Ina Gete Ama Gahar, penguasa di setiap wilayah. Setelah tahun 1607 Don Alesu menyatukan semuanya menjadi satu kerajaan yakni Kerajaan Sikka. Sampai tahun 1898 baru dibagi lagi dengan Nita karena politik belanda devide et impera, memecah belah. Tahun 1900 timbul perang Teka dan berakhir tahun 1902 yang menjadikan Belanda membentuk Kerajaan Kangae supaya aman dan Belanda tidak pusing kepala.

Tahun 1925 ketiga kerajaan kembali dipersatukan lagi menjadi satu kerajaan yakni Sikka. Ini dilakukan supaya biaya lebih murah dan tidak terlalu banyak aparat. Hal ini yang menyebabkan sentimen daerah antara ketiganya itu berurat sampai sekarang.

Menurut Anda sebenarnya berapa jumlah etnis yang ada di Kabupaten Sikka?

Ada enam etnis yakni Sikka Krowe dengan sub etnis Sikka dan sub etnis Krowe, kedua Sikka Tana Ai atau Tana Ai Krowe, bahasanya Sikka tapi bercampur dengan Muhang. Yang ketiga etnis Muhang Tana Ai, keempat Palue, kelima Lio Maumere dan terakhir Tidong Bajo Lau, orang Bugis Makasar. Tidung Bajo Lau, Lepo Lau Tena Wutun, mereka yang berlayar di pinggir pantai dan tinggal di atas rumah-rumah di pinggir pantai. Semua etnis ini hidup dengan bahasa dan budaya masing-masing dan yang terbesar hanya suku Sikka Krowe.

Kalau jenis tenun ikat ada berapa jenis?

Ada tiga, Sikka Krowe, Tana Ai, dan Palue. Sedangkan orang Lio Lekebai mereka tidak menenun hanya memakai. Mereka haram menenun sebab di etnis mereka ada klasifikasi pekerjaan.

Kenapa warisan Portugis di Sikka tidak bisa dipopulerkan dan dijadikan wisata religi seperti di Larantuka misalnya?

Pada waktu itu dilarang oleh pastor, karena saat Jumat Agung, Sesta Feria, Corpus Cristi, begitu ramai. Orang minum mabuk sehingga pastor marah dan minta kepada raja agar jangan diadakan lagi prosesi atau perarakan. Kalau di Larantuka penyembahan dilakukan kepada Bunda Maria sementara di Sikka kepada Tuhan Yesus dengan ritual Logu Senhor.

Ketika zaman Jepang Logu Senhor mulai coba dihidupkan. Sudah beberapa tahun belakangan ini, ritual tersebut mulai diperkenalkan lagi. Kita harapkan ini berjalan terus. Karena pariwisata itu harus didukung dan programnya dibuat dengan baik dan terencana.

Saat pulang dari Malaka dan memeluk agama Katolik, apakah Don Alesu mewajibkan semua warganya dibaptis?

Saat pulang dari Malaka dia membawa serta seorang guru agama bernama Agustinus Rosario da Gama dan di Sikka mereka mulai menyebarkan agama Katholik. Agama raja dijadikan agama rakyat dan waktu itu orang masih kafir sehingga ikut saja. Ada kesamaan persembahan, tung piong dan tewok sama dengan persembahan saat misa. Piong itu makanan, tewok itu minuman. Kalau orang kafir memberi persembahan di batu-batu mesbah (mahe) kalau di gereja di altar. Orang Portugis mengatakan Kristus datang bukan untuk menghilangkan upacara persembahan, kurban bakaran, tapi menghidupkan kembali. Ini yang membuat semua orang bersedia dibaptis. Jadi, selain karena pengaruh raja juga ada kesamaan falsafah dan teologi.

Anak-anak Sikka pun disuruh menjadi guru agama, pastor, suster, sehingga mereka tinggalkan perahu-perahu mereka. Orang Sikka yang biasanya menjala ikan di laut. Akhirnya berubah menjadi ‘penjala’ manusia. Mereka menyebar ke mana-mana sampai ke Manggarai bersama orang Larantuka. Begitu mereka meninggalkan pekerjaan di lautan, perahu-perahu kosong. Dengan demikian, Kampung Sikka yang dulunya pusat kerajaan runtuh pelan-pelan. Orang Sikka itu semula adalah pelaut dan pedagang, yang memiliki kekayaan, emas, dan gading gajah. Tetapi misionaris mengubahnya menjadi ‘orang daratan’ menjadi pastor, suster, pegawai negeri, dan guru.

Selain membawa ritual Logu Senhor apakah Don Alesu juga membawa patung atau lainnya dari Malaka?

Patung Meninu, kanak-kanak Yesus dan masih ada sampai sekarang. Meninu itu warisan Portugis dan saya temukan di mana-mana. Di Larantuka, Vietnam, dan Melbourne, Australia. Juga turut dibawa Tugur Geang (bendera-bendera) dan banyak gading. Portugis mengatakan kepada Don Alesu, saya akan mengangkat engkau menjadi raja tapi dengan syarat mengajarkan agama, membawa patung Meninu dan Kristus Raja serta membaptis orang.

Apakah gading – gading ini yang ada di Flores sampai sekarang?

Gading yang ada memang awalnya dibawa dari Malaka sehingga membuat barang ini mahal dan langka lalu dijadikan belis (emas kawin). Ada tiga macam gading yang ada sampai sekarang, yang panjang (dua tangan orang dewasa) asalnya dari Afrika, yang lebih pendek (satu tangan) dari India dan paling pendek (sekitar 30 sentimeter) asalnya dari Melayu (Jawa dan Sumatera). Gading-gading ini pun mulai diperjualbelikan.

Saat memerintah, Raja Sikka dibantu Moang Puluh. Apa peran mereka dalam pemerintahan?

Moang Puluh itu staf dari raja semacam menteri, ada sekitar 10 orang. Sementara Kapitan, kepala wilayah atau semacam camat saat ini kedudukannya di bawah Moang Puluh. Selain itu terdapat penguasa pelabuhan Alok Toang (sekarang pelabuhan Laurens Say) dan Namangkewa namanya Comandanti.

Dulu Kampung Maumere bernama Alok Wolokoli karena banyak orang Wolokoli berjualan gerabah menetap di situ. Nama Maumere diberikan kemudian di saat Belanda hendak mengukur tanah, dia menayakan kepada orang Ende yang berlabuh di pantai. Ini teluk apa? Dan, mereka (orang Ende, red) mengatakan Maumere, dalam bahasa Ende artinya kampung besar. Belanda pun menulis nama daerah ini Maumere. Gereja pun mengikutinya, akhirnya nama tersebut terbawa hingga sekarang.

Ada berapa raja di Kerajaan Sikka?

Ada 16 raja, di antaranya terdapat dua raja perempuan yaitu Dona Maria Ximenes da Silva dan Dona Agnes Ines Ximenes da Silva.

Apa yang membuat kedua raja perempuan ini digelari peletak emansipasi di Sikka?

Kedua raja ini menciptakan belis dan melindungi perempuan. Sebelum muncul Kartini di abad 19 di Pulau Jawa, Sikka sudah memulai gerakan emansipasi perempuan di abad 16 dan 17. Saat itu marak terjadi poligami dan kekerasan terhadap perempuan sehingga Dona Ines mengeluarkan peraturan mengenai belis (mahar perkawinan) dan larangan berlaku kasar terhadap perempuan. Belis itu untuk menghapus poligami dan mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Belis itu ada lima unsur kepentingan, pertama menunjukan harga diri perempuan, setiap manusia mempunyai harga diri. Kedua, menjaga nilai dan moral supaya jangan ada poligami. Ketiga, memberi hak kepada laki-laki untuk membawa turunan, membawa isteri, dan anak masuk ke sukunya. Keempat, suatu kerja gotong royong antara pihak laki-laki dan perempuan. Dan, kelima persatuan.

Kenapa kedua perempuan ini bisa menjadi raja?

Karena mereka berdua pintar dan Liar Dira Rang Ngang, punya wibawa. Kekuasaan untuk berbicara di mana-mana dan orang akan tunduk. Jadi Kerajaan Sikka dahulu sudah ada demokrasi, meskipun turun-temurun dan berasal dari keturunan raja, tetapi laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

“Hampir Semua Pengidap HIV/AIDS dari Rantau”

Next Story »

“Perasaan dan Pikiran Saya Tidak Buta”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *