Sanggar Kibo Libok yang Menusantara

Bagi masyarakat Sikka, Kibo Libok bukan sekedar sebuah sanggar seni. Penampilan yang menghibur baik lewat tarian, musik, sendratari, maupun drama, sering membuat penonton terpukau. Setelah satu dasawarsa, mampukah Kibo Libok bertahan dalam ketiadaan?

BEBERAPA kali menyaksikan festival dan pementasan seni di seantero Kabupaten Sikka membawa saya berkenalan dengan Kibo Libok. Sanggar tari dan musik yang didirikan tahun 2004 ini, pernah mengharumkan nama Sikka di tingkat provinsi maupun nusantara.

Beranggotakan 40 orang –sementara yang aktif sekitar 20 orang– tidak menyurutkan semangat Kibo Libok untuk berkarya. Jika ada permintaan pentas maupun festival, sanggar ini siap menampilkan diri. Mengusung misi mengembangkan kreasi seni dan budaya Sikka dalam meniti jati diri bangsa serta peradaban masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT), awalnya Kibo Libok merupakan wadah berkumpulnya seniman muda Sikka.

Kibo Libok dalam bahasa Sikka Krowe berarti ” Muda Remaja “ tergabung dari kumpulan orang-orang yang mempunyai semangat muda untuk lebih kreatif, peduli terhadap dunia seni, dan mau berkarya mengembangkan karya seni. Berlandaskan semboyan, “Keindahan dan Keluhuran adalah Puncak dari Cerlangnya Kebenaran”, kumpulan anak muda ini tak kenal lelah berkarya.

Kibo Libok menurut Dominika Carolina Indah Miniatrix Pareira,S.Sn baru-baru ini, awalnya didirikan untuk mengutus wakil dari Kabupaten Sikka mengikuti seni pertunjukan tradisional di Kupang pada Juni 2004. Meski baru berdiri beberapa bulan, papar sarjana jebolan STSI Solo ini, Kibo Libok langsung menyabet juara kedua. Tarian Deung Kibo Libok yang yang ditarikan 18 penari mendapat apresiasi yang luar biasa.

Penari Sanggar Kibo Libok unjuk kebolehan dalam festival budaya antarkabupaten se- NTT di Kupang tahun 2013 . ( Foto: FBC/Dokpri Kibo Libok)

Penari Sanggar Kibo Libok unjuk kebolehan dalam festival budaya antarkabupaten se- NTT di Kupang tahun 2013 lalu. ( Foto: FBC/Dokpri Kibo Libok)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebelumnya, ia mengumpulkan para seniman untuk membentuk wadah. Dalam perjalanan, seniman-seniman itu tidak mau menarikan tarian kreasi baru, mereka mau berlatih tari tradisional.

“Dari situlah kami membentuk Sanggar Kibo Libok dengan anggota seniman dari kota Maumere. Seniman tradisional menarik diri, karena Kibo Libok fokus pada pengembangan tarian kreasi baru,” ujar pegawai negeri sipil (PNS) pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka ini.

Tarian di Sanggar Kibo Libok, tambah Indah, digali dari tarian tradisional dan lantas dikembangkan serta ditafsir ulang dengan kaca mata kekinian. Idenya didapat dari cerita rakyat, sejarah, mitos, legenda, ataupun menyangkut dengan pengalaman hidup yang terjadi. Dasarnya dari tradisi dan dikembangkan, tanpa mengurangi pesan yang terkandung dalam tarian aslinya.

Diuraikan ibu tiga anak ini, tarian tradisi kalau kita runut ke belakang lahirnya sebuah tarian, bukan sebagai tarian ritual tapi hanya menjadi pendukung sebuah upacara. Pelengkap dalam upacara, bukan inti dalam suatu upacara. Tarian itu, tambah Indah, lebih berupa pelengkap, penghibur untuk hiburan diri sendiri dan orang yang melihatnya.

“Tari tradisional pasti sudah bisa dilihat, gerakannya monoton karena fungsi tarian untuk ritual atau upacara adat. Sedangkan tari kreasi baru, yang kita utamakan adalah estetika. Sehingga berat, kalau seorang penari tradisional mau menarikan tari kreasi baru. Dia harus benar-benar fokus, terbuka, dan harus tekun belajar, “ucap puteri dari budayawan Sikka, Oscar Mandalangi Pareira ini lagi.

Beri Kesempatan

Mengembangkan tarian kreasi baru, menurutnya, butuh waktu sekitar tiga bulan latihan rutin setiap hari. Lamanya waktu karena perlu ada keselarasan dan kekompakan antarpenari. Untuk setiap pementasan, penarinya berganti-ganti, tergantung apakah ada kesempatan menari atau tidak.

Latihan menari, papar Indah, selalu dimulai dengan latihan teknik, olah tubuh, dan latihan teknik. Sesudahnya baru dilakukan casting. Beberapa pemain yang tidak disiplin, tidak tertib, dan gerakannya kurang maksimal, tidak akan diikutsertakan dalam pertunjukan.

Hal senada disampaikan Maria Deliana Satriani Rehi (25). Satri, sapaan akrab guru SMP Vifi Maumere ini mengatakan, seorang penari yang diperbolehkan tampil harus sudah siap dan mengikuti latihan beberapa kali sebelum pentas. Hal ini agar gerakan tari yang ditarikan semua penari bisa selaras.

“Kadang-kadang kita lihat yang aktif. Saya juga biasanya kasih kesempatan kepada teman-teman anggota baru untuk menari. Saya tidak cemburu. Di sanggar kita tidak pernah paksakan harus siapa yang tampil. Kalau cuma lima orang yang menari, kita biasanya kasih ke anggota baru,” ungkap guru bahasa Indonesia ini.

Selain tari Tetok Alu Ier Pare, Sanggar Kibo Libok juga menampilkan tarian Deung Kibo Libok, Kondi Dara Bogar, Hegong Lori Lolo, dan Wua Ta’a Wa Gete, Juga terdapat tarian Soka Papak, Tibu Imung Pera Pasang dan tarian liturgi yang dipentaskan saat digelar misa khusus seperti tahbisan imam baru. Kibo Libok juga mengembangkan sendratari Inilah Aku, drama empat babak berjudul Pintu Terbuka, karya musik Kibo Libok dan Siru Wisu.

Pementasan tari dan drama sering dilakukan di Kabupaten Sikka dan Kupang serta beberapa kabupaten lain seperti Ende, Bajawa, Mataloko, Borong, bahkan Jakarta. Ketua sanggarnya pun pernah mementaskan tarian Hegong “Ikun Beta” dalam kegiatan apresiasi bagi para pelajar dalam seni budaya Indonesia di Adelaide, Australia dan diganjar dengan penghargaan sebagai penampilan favorit.

Memesona Penonton

Dalam setiap pementasan atau festival, Indah sebagai pemimpin sanggar tidak mematok juara. Baginya gelar juara bukan tujuan buat dirinya. Yang terpenting bagi Indah sanggar mereka bisa tampil dan menghibur orang. Untuk itu dirinya menekankan kepada anggota sanggar agar menari seindah mungkin dan membuat penonton terpesona. “Kita selalu mau yang terbaik tapi dalam seni kan tidak ada yang juara, “celetuk Satri.

Meski demikian, di setiap festival tari yang berlangsung di Kabupaten Sikka, Kibo Libok selalu menjadi yang terbaik. Sementara di tingkat provinsi pernah menyabet juara kedua. Musiknya pun tidak mau kalah berprestasi. Penata musik terbaik diraih Yohanes Patrisius Ngama (25), penata musik Sanggar Kibo Libok. Dalam festival musik etnik tingkat nasional yang diikuti seluruh provinsi dan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, September tahun 2014 lalu, mengganjar Sanggar Kibo Libok dengan gelar juara kelima.

“Saya membawa anak-anak kecil binaan saya. Ada delapan orang yang terlibat, seorang anak usia sekolah dasar sementara lainnya usia sekolah manengah pertama dan sekolah manengah atas,”tutur Patrisius yang juga karyawan Bandara Frans Seda, Maumere.

Satri juga merasa bangga sekali bisa pentas di mana-mana dan bisa menerapkan ilmu yang didapatkan di Kibo Libok dengan mendirikan sanggar di sekolah tempatnya mengajar. Bagi Satri, membangun sanggar sendiri di sekolah itu suatu prestasi.

Patrisius pun tak mau kalah. Dirinya mengaku, selain membina anak usia sekolah dasar, dirinya juga menjadi penata musik di kelompok musik bambu di Nita yang juga selalu tampil di mana -mana. Dalam mementaskan sebuah garapan musik, dirinya hanya mengandalkan alat musik bas gitar, ukulele, lago ukar, letor bambu, letor kayu, gong, dan waning. Selain itu juga dipergunakan suling, gendang, tambur pemana, giring-giring, dan korak.

Tak Pernah Mati

Selain memiliki Indah dan Patrisius, Kibo Libok juga memiliki Yos Lasar sebagai penata artistik. Tapi peran Indah ibarat nahkoda yang berusaha membawa Kibo Libok mengarungi samudera seni budaya. Sejak kecil, Indah suka menari, ditunjang dengan orang tua yang juga bekerja di bidang kesenian membuat Indah sering ikut orang tua pergi pentas. Ini yang memotivasi Indah untuk memperdalam tari dan selalu berkarya bersama Kibo Libok.

Selain itu, Indah juga bisa menyalurkan ide dan pesan atau nilai yang terkandung dalam sebuah tari. Setelah belajar khusus tentang tari di Solo, dirinya mengetahui, ternyata menari bukan sekedar menari tapi di situ lahir pola pikir, pola rasa, yang seimbang dengan latihan intuisi, imajinasi, dan lahir banyak inspirasi.

Banyak suka duka didapat dengan bergabung bersama Kibo Libok. Dituturkan Indah dan Patrisius, meski belum mempunyai tempat latihan sendiri dan permanen serta alat yang belum lengkap, mereka tetap bersemangat. Ditambahkan Satri, biar pun orangnya kurang mereka selalu tampil semaksimal mungkin. Adapun dukanya, papar Indah, anak-anak remaja terkadang kurang disiplin.

Selama bernaung di Kibo Libok, Indah dan Satri sontak menjawab senada saat ditanyai kejadian yang paling berkesan, yakni saat pementasan di Kupang. Dalam festival ini, beber keduanya, mereka seharusnya meraih juara pertama dibandingkan peserta dari kabupaten lainnya di NTT, tetapi juri memutuskan lain.

“Penonton orang-orang Sikka dan Lembata sampai menyekap juri dan menginterogasi jurinya. Piala yang didapat oleh anak-anak sanggar dibuang usai dibagikan. Semua penonton kecewa dan mengecam juri,“ ceritera Satri diamini Indah.

Musik tradisional yang dipentaskan anggota Sanggar Kibo Libok dalam festival budaya di Kupang, NTT. ( Foto : FBC/Dokpri Kibo Libok )

Musik tradisional yang dipentaskan anggota Sanggar Kibo Libok dalam festival budaya di Kupang, NTT. ( Foto : FBC/Dokpri Kibo Libok )

Untuk setiap honor yang diterima, hampir semuanya diserahkan ke sanggar untuk membeli alat, kostum, dan perlengkapan lainnya. Hanya sebagian kecil saja yang dibagikan ke anggota. Namun, hal ini tidak menyurutkan langkah Satri dan Patrisius bergabung dan membesarkan Kibo Libok.

Kibo Libok seperti rumah kedua bagi Satri karena selalu ada kebersamaan. Tidak ada kata menyerah dan patah semangat, selalu bergandeng tangan dalam menghadapi masalah. Peran ibu Indah menurut Satri seperti seorang ibu, dia merangkul semuanya dan membuat dirinya betah dan tetap menari walau sudah bekerja.

“Seni itu tidak akan mati. Ternyata manfaat dari belajar menari itu luar biasa. Seni itu menyenangkan,”sebut Satri.

Indah dan Satri mempunyai mimpi bisa membawa Kibo Libok pentas ke berbagai daerah lain di luar NTT, sementara Patrisius berharap bisa membawa sanggar musiknya berpentas ke luar negeri. “Kita jangan ketinggalan dengan daerah lain. Kita kaya budaya, cuma minat yang masih kurang dan harus dilatih agar mencintai seni budaya. Maju terus bangun seni dan budaya Sikka sehingga orang tidak melihat seni dengan sebelah mata tapi seni itu sesuatu yang luar biasa,”pungkas Indah mengakiri obrolan. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Gerabah Hias Tenun Ikat yang Memikat

Next Story »

Tetok Alu Ier Pare, Mewartakan Kebersamaan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *