*Pengadilan Imajinasi (Bagian 2-habis)

Refleksi di Balik Penemuan Tiga Mayat

Martin Bhisu

KITA lanjutkan dengan simulasi sidang pengadilan kedua tentang Pembunuhan Sadis.

Kali ini hanya menghadirkan seorang saksi. Bukan saksi utama, tentu, namun dengan keterangan yang diberikan penyidikan selanjutnya bisa sampai pada saksi kunci. Dalam kasus pidana, saksi utama adalah oknum yang dengan kehadirannya di tempat kejadian ataukah yang mengetahui secara langsung perencanaan akan terjadinya peristiwa merupakan elemen fundamental untuk mensyahkan sebuah tuduhan jaksa dan keputusan hakim di pengadilan.

Nampaknya penyidikan polisi masih menemui jalan buntu untuk mendapat saksi utama. Sampai sekarang hanya ada hipotesis, khususnya berdasarkan desas desus yang sudah menjadi pengetahuan segelintir publik menyangkut modus operandi kriminal itu. Oleh karena itu, keterangan saksi kali ini akan dikonfrontasi secara langsung dengan terdakwa Embeha, dengan maksud untuk mendapat “celah-celah” yang bisa menghantar pada penyidikan kembali tentang beberapa hal: apakah malam itu Embeha sendiri yang menyeret mayat yang disembunyikan di kamarnya dan apakah dia sendiri yang menguburkannya? Apakah pada jam tiga pagi itu tak seorangpun yang lewat di depan kediaman Romo Embeha dan melihatnya sedang bekerja menutup lubang? Siapa-siapakah yang hari berikutnya bekerja memasang beton sekeliling “taman”? Para frater TOR Lela ataukah karyawan, ataukah “konco-konco” Embeha? Inilah pertanyaan yang diharapkan bisa terjawab melalui konfrontasi antara saksi dan tertuduh.

Perlu diketahui uskup belum bisa dipanggil untuk diambil keterangannya. Memang sulit menghadirkannya karena beberapa pertimbangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan sola hukum, melainkan dengan beberapa hal yang “metayuridis”. Mungkin dalam sidang berikut akan dipanggil, kalau Tuhan menghendaki.

Embeha tidak didampingi oleh pengacaranya, yang dengan itu sepertinya memberi sinyal kepada Mejelis Hakim bahwa dia akan mengakui secara terus terang berdasarkan keterangan saksi. Tak jauh dari tempat duduknya, persis di depannya seorang ibu dengan sorotan matanya, seperti hendak menembusi hati dan budi dari Pastor tertuduh. Mungkin juga membayangkan betapa dia adalah salah satu dari perempuan korban sang imam. “Mengapa mesti saya? Apakah karena saya wanita, seperti yang lain-lain yang menjadi “mangsa”nya, puluhan bahkan, dan yang terakhir itu…sadis…seorang ibu dan dua anak dibunuh. Aduh, mengapa tak menerima keadaan, menikahinya dan memelihara dua anak itu secara bertanggungjawab, kan itu sebuah tanggung jawab yang lebih luhur dari segalanya? Pikiran ibu itu masih melayang-layang mengingat kembali semua adegan itu…”Untung aku “keluar” dari genggamannya pada waktu yang tepat.” “Tidak, di sini sebagai wanita juga turut dalam permainan ini, tidak bisa bertepuk sebelah tangan”. Masih tak keruan konsentrasinya, berhadapan dengan lelaki yang ada di depannya, lelaki yang romance rohani dan pasionil terpaduh dengan sadisme.

Ibu itu tersentak oleh pukulan palu Hakim Ketua (HK). Ibu itu adalah saksi.

HK: ibu kenal sama saudara tertuduh kasus pembunuhan ibu dan dua anaknya di Lela itu?

Saksi: Ya pak,

HK: Gimana perkenalannya, bu?

Saksi: ya pak.

(Untuk beberapa pertanyaan interogatif dari majelis hakim, saksi hanya menjawab “ya pak”, dan beberapa kalimat pendek lain yang tak berarti. Mungkin dilema yang dihadapinya terlalu berat, antara lain keterangan saksinya sangat mempengaruhi nasib Gereja dan keluarganya.)

HK: keterangan saksi ibu akan menentukan nasib ibu sendiri. Kalau tidak bisa berkolaborasi dengan pengadilan, maka ibu akan menjadi tersangka berdasarkan beberapa indikasi yang akan dibeberkan nanti, terutama…apa ya? Itu yang tertuduh bilang kemarin…. Oh ya, cooperatio ad malum.

(Kesannya, Majelis Hakim mengancam. Itu terjadi karena ada banyak indikasi tindak pidana tapi tak disebutkan elemen-elemen testimonial berdasarkan penyidikan polisi sebagaimana tercantum dalam berkas perkara dengan tuduhan-tuduhan jaksa itu).

Saksi: Ya Pak,

HK: Anda kenal orang ini dan bagaimana mengenalnya?

Saksi: Ya pak, saya mengenalnya. Dan tentu banyak orang mengenalnya karena dia seorang imam, toh.

HK: Betul, mengenalnya, secara khusus dalam kaitannya dengan kasus pembunuhan itu.

Saksi: Saya mengenal Romo melalui bisnis kopi dan jambu mete. Dia waktu itu sebagai direktur sebuah PT di Hokeng. Dalam beberapa kali saja kontak, relasi kami sampai pada rasa saling percaya yang intens…

HK: Maaf ya mba, kontak apa itu ya bu?

Saksi: Gak ada yang macam-macam itu, ya Pak Hakim.

HK: Ya bu. Mba, tolong dong, apa itu ya? Apa maksud Mba dengan “macam-macam itu, apa itu artinya “percaya dan intens” Panasaran, deh.

(Pak hakim nampaknya mulai gemas, instink maskulin ternyata rujukan yang pas agar situasi gak tegang…siapa tahu)

Saksi: Anu itu ya Pak. Ehem, ehem! Apa ya? Itu-itu, pak. Maksud saya, melulu bisnis, gak ada lain-lain seperti bapak andaikan.

HK: Aduh Mbak, yang saya andaikan tidak lain dari yang ibu andaikan, toh? Tapi bukan pengandaian, kita lebih serius, dong.

Saksi: Ya sungguh, deh…aduh pak Hakim. Tolong pertanyaan yang ringan-ringan saja.

HK: Apakah ibu bisa menceritakan kembali apa yang yang Romo ceritakan pada ibu tentang bagaimana membunuh perempuannya dan dua anak Romo sendiri.

(Lalu saksi memberi keterangan seperti yang sudah disinggung pada sidang pertama)

Tertuduh: Maaf, bapak Hakim, saya tak mengenal ibu ini….

Saksi: (marah, betul mengamok). Tak mengenal saya? Saya bukan seperti kebanyakan perempuan anonim yang Romo lecehkan dan di antaranya hamil dan punya anak dengan Romo. Engkau tidak mengenal saya, yang sampai hal-hal tersembunyi di antara kita, kita ungkapkan.

HK: Ehem, ehem…menarik ya Mba, hal-hal yang tersembunyi.

Saksi: jangan macam-macam Pak Hakim. Itu yang tadi saya ungkapkan, toh.

HK: Romo Embeha, betul gak?

Tertuduh: Semua keterangan itu palsu, pak Hakim.

Saksi: Palsu apa, ya Romo. Kok Romo semua yang ceritakan sama saya, toh. Itu termasuk dengan karyawati dan anak itu…

HK: Bu, tentang “taman bunga” itu, apakah ibu pernah diajak Romo untuk berziarah ke sana?

Saksi: (membisu sambil menatap tertuduh lalu menangis).

HK: Mba, maaf ya, apakah pernah bermain ke sana dengan Romo?

Saksi dan tertuduh: (saling memandang, tak ada kata).

HK: menurut cerita Romo kepada ibu, berapa orang ikut menyeret mayat dan menguburnya malam itu?

Saksi: (diam…) Ya, pak.

HK: Ya, Pak lagi, deh, ya Mba. Aduh yang bener, deh!

Saksi: ya pak, aku udah kasih tahu sama mereka, dan ada yang bilang bahwa pembesar-pembesar Gereja juga udah tahu, termasuk ada teman yang sampaikan sama JPIC-JPIC itu.

(Hakim rupanya masih mengharapkan agar Romo Embeha mengaku secara terus terang, agar keterangan para saksi tidak perlu jadi pameran rusaknya moralitas dari seorang anggota hirarki. Nampaknya ada tangan ajaib yang bermain. Kepada Romo Embeha dijanjikan hukuman yang ringan kalau menyerahkan diri, dan memberi keterangan yang sebenarnya, bentuk kolaborasi utk menjelaskan keterangan ibu tadi yang masih kabur, atau tidak mengatakan apa-apa. Namun Hakim punya sebuah pertanyaan kunci: mengapa menunggu terlalu lama agar “orang-orang ini” memaksa supaya kasus diurus tuntas secepatnya. (habis)

Ditulis oleh: Martin Bhisu, misionaris di Asuncion, Paraguay

Human Trafficking & Bias Gender

Next Story »

Investasi Bodong?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *