*Pengadilan Imajinasi (Bagian 1)

Menyingkap Tabir Pembunuhan

Martin Bhisu

SEBELUMNYA saya tak mengetahui substansi peristiwa pembunuhan sadis itu, yang modus operandi-nya benar-benar karya seorang psikopat kriminal. Setelah menyelaminya melalui milis-milis pribadi dan komentar-komentar dalam facebook dan terutama melalui milis ini, akhirnya saya merasa malu, hina dan terpukul karena sepertinya saya berada di planet yang lain di era informasi yang membuat dunia ini seperti kampung global, atau lebih ironis, semacam satu ruangan kamar tidur yang di sampingnya terkubur seorang ibu dan dua anaknya, yang begitu lama “pura-pura” tidak ditetahui oleh penghuni kamar dan “antek-antek-nya”. Inilah yang membuat saya sebagai imam terkungkung dalam mata rantai interogasi yang tak perlu deretan ajaran moral religius apapun bisa sangat syah menjadi hakim atas diriku. Karena yang tak mengenal Tuhan sekalipun mengakui tindakan ini anti-perikemanusiaan.

Saya mencoba memakai imaginasi, semacam dunia realitas semu, tapi sekurang-kurangnya berfungsi sebagai tabir yang pembaca bisa menyingkapnya untuk melihat fakta berupa apa dan siapa yang ada di baliknya. Fakta: kerangka MG dan dua anaknya. Modus operandi: masih dalam proses penyidikan, tapi pembaca sudah punya pre-asumsi yang mendekati kebenaran. Tersangka: sekali lagi pre-asumsi pembaca mendekati kebenaran, namun mendekatinya agak sulit karena dilindungi oleh azas praduga tak bersalah, dan apalagi dilindungi oleh otoritas moral yang punya konco-konco politis.

Baik, saya sebagai imam menempati kursi terduga sebagai pelaku amoral dalam kasus pembunuhan MG dan dua anaknya. Menjadikan diri saya sebagai pelaku tertuduh diandaikan untuk memperkuat kasanah moral sebagai delik tuduhan kriminal, yang untuk sementara hal-hal yang berhubungan dengan pasal-pasal KUHP bisa kita sepelehkan karena uji coba kebenarannya masih sangat tergantung pada kepandaian advokasi saya.

Dengan penuh hormat dan kasih sayang kepada para korban dan keluarganya, kita memakai imaginasi untuk masuk dalam proses pengadilan setelah tuduhan para jaksa berdasarkan meteri penyidik kepolisian. Di hadapan para hakim, pengadilan yang diandaikan bernuansa moral, tentu diharapkan para hakim juga punya rekam jejak terpuji dalam hal moral.

Kita mulai bermain dengan imaginasi, tanpa kronologi berdasarkan adegan ulang di tempat kejadian. Sekedar catatan, saya bernama Embeha, sebagai tertuduh.

Hakim ketua (HK): setelah mendengar tuduhan saudara jaksa dan setelah mempelajari berkas perkara serta sebelum anda ataukah yang mewakili anda sebagai tertuduh membacakan pledoi, kami bertanya: apakah saudara tertuduh adalah seorang imam?

Tertuduh: tidak pak, saya adalah bekas imam. Tapi, kata Gereja imamat tidak bisa terhapus oleh apapun.

HK: Maksud anda, seorang imam adalah seorang imam walau termasuk pelaku kriminal. Dengan pernyataan ini, saudara Jaksa mesti tak mengabai tuduhan tambahan dalam berkas perkara ini. Apakah anda maklumi secara saksama implikasi moral mengenai tindakan anda?

Tertuduh: saya maklumi martabat saya sebagai imam…

HK: Martabat apa yang anda maksudkan? Yang bermartabat itu manusia, kalau imam itu manusia, tentu martabatnya tidak lebih dari martabat sesama, termasuk martabat dari tiga orang korban itu. Martabat anda dibatasi oleh martabat orang lain. Apakah imam itu semacam spesies makhluk angkasa atau keturunan ilahi yang dikodrati dengan keunggulan-keunggulan rohani termasuk kebal terhadap hukum?

Tertuduh: (diam sejenak). Kebal terhadap hukum, tidak Pak. Selama perbuatan saya tidak menjadi pengetahuan publik, saya punya kekebalan moral. Yang bersifat hukum itu perihal yang bisa diandaikan secara moral dapat merusak tidak hanya diri saya, tapi merusak institusi dimana saya menjadi anggotanya. Di hadapan moralitas institusi saya, kekebalan hukum terjamin.

HK: Pernyataan anda yang terakhir menarik untuk dijelaskan lagi. Institusi apa yang dimaksudkan?

Tertuduh: institusi Gereja, Bapak hakim

HK: (sambil mengering wajahnya yang bersimah peluh dengan sapu tangan). Artinya atasan Gereja anda melindungi perbuatan anda, dengan kata lain termasuk apa yang dinamakan persekongkolan tersembunyi agar tak diketahui publik…

Tertuduh: Maaf Pak, ini bukan cooparatio ad malum…

HK: Artinya? Kok itu bahasa Latin, ya? Bagus banget itu, lho.

Tertuduh: Artinya kerja sama dalam hal kejahatan, Pak. Tapi dalam hal ini saya tidak bekerja sama dengan atasan saya.

HK: Heran, ya. Masa! Atasan anda, dalam hal ini uskup dan orang-orang penting dalam Gereja tak mengendus sama sekali perbuatan anda.

Tertuduh: Yang jelas mereka tidak berkooperasi dengan saya dalam kejahatan. Menyangkut aktus membunuh anak saya yang pertama, begitu lahir, dan katanya saya membunuh lagi anak yang kedua, juga beberapa saat sesudah partus, lalu sesudah tahun ketiga membunuh mamanya dengan membekap mukanya dengan bantal karena dia minta pulang kampung….itu tak benar, Pak. Kematian adalah hal yang tidak tersangka dan semuanya terjadi begitu saja, sehingga saya bingung, lalu mengambil tindakan begini… Tapi sama sekali tidak melibatkan atasan Gereja.

HK: Kata-kata anda itu adalah keterangan saksi yang akan dihadirkan pada sidang berikut. Namun, baik juga kalau saya menyambung kata-kata anda sambil mengutip keterangan saksi. Ibu dari anak-anak itu selama tiga tahun tinggal dengan anda, dan tak seorangpun nampaknya tak melihat tanda-tanda hamil. Aneh, ya! Bahkan dua kali partus itu anda bertindak sebagai dukun bersalin. Sekali lagi, dalam kasus pertama, bahkan tak menarik perhatian seorangpun. Begitu rapi, seperti karya seorang sadis, mengurung mama anak-anak itu dalam kamar anda, supaya tidak diketahui publik, Aneh juga, di dekat situ ada Rumah Sakit Para suster, mengapa tidak bersalin di sana?

Tertuduh: Maaf Pak, saya tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan itu. Nanti penasihat hukum saya yang mengklarifikasi persoalan itu. Saya hanya mengatakan, bahwa semuanya terjadi begitu saja.

HK: Oh, maksud anda bukan terencana, ya? Lalu bagaimana bisa menjelaskan peristiwa pembunuhan yang terjadi secara berulang? Apakah, peristiwa pertama tidak menjadi pembelajaran bagi yang kedua dan ketiga, supaya pada saatnya hati nurani anda sebagai pastor bilang: stop! Sampai di sini!

Tertuduh: Semuanya secara kebetulan, Pak. Pada saat kemungkinan lain berada di luar jangkauan saya, pengulangan adalah pilihan.

HK: Jahat, psikopat! (Sambil memukul meja). Masih menurut saksi, waktu malam membunuh ibu dari anak-anak itu dan paginya anda menyuruh orang-orang menggali lobang untuk dijadikan kolam ikan, kemudian malam berikutnya anda sendiri menyeret mayat untuk dikuburkan, lalu menutupnya dengan tanah, besoknya dibuat tembok kelilingnya, kata anda kepada pembantu anda itu sebagai taman bunga. Dan di situ, melihat bunga-bunga anda berkontemplasi. Saya membayangkan betapa beratnya beban seperti itu, tak dapat ditipu dengan tindakan secerdik apapun.

Tertuduh: (menangis)… Maaf pak, itu tidak benar.

HK: Soal benar dan tidak, itu akan dipastikan susuai keterangan saksi. Saya mau katakan, saksi utama yang akan tampil itu malah sedang mengalami persoalan rumah tangga, karena anda berkali-kali lewat SMS mengancam suaminya dan anda sendiri memastikan hubungan dengan istrinya yang adalah saksi utama. Harap Bapak Jaksa, bisa menambah lagi pasal-pasal tuduhan itu.

Tertuduh: (terpaku di tempat duduk, kepala merunduk, tak berkata apa-apa).

HK: Kami akan memperluas dakwaan ini dengan menghadirkan atasan anda. Pertama-tama sebagai saksi untuk diminta keterangan. Kalau terbukti sebagai….coo…apa itu yang anda bilang tadi?

Tertuduh: Cooperatio ad malum, pak.

HK: Terimakasih. Maksud kami kalau cooperatio ad malum itu terbukti secara langsung dan tidak langsung meerupakan tindakan menyembunyikan perbuatan kriminal, maka akan diproses secara hukum dan tak akan luput….Palu diketuk, sidang pertama selesai. (Bersambung)

Ditulis oleh: Martin Bhisu, misionaris di Asuncion, Paraguay

Flores, Taman Eden yang Hilang Telah Ditemukan (Bagian 1)

Next Story »

Human Trafficking & Bias Gender

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *