Naro, Tari Kemenangan Suku Ende

Naro merupakan sebuah tarian yang melambangkan rasa syukur atas kemenangan seusai melakukan hajatan ataupun aktivitas tertentu seperti usai perang, bertani, penobatan mosalaki, upacara kematian, pembangunan rumah adat, dan sebagainya. Tarian ini sejenis tarian gawi yang sering dilakukan oleh masyarakat Lio. Namun, ada berbagai perbedaan yang terkandung di dalamnya. Bagaimana ceritanya?

DALAM pandangan budayawan Ende, Albert Bisa mengatakan, bahwa dalam naro, terdapat dua pengertian yaitu na artinya nanti dan ro artinya sakit. Naro artinya nanti sakit. Namun pemaknaan naro sendiri tidak terikat dengan pengertian tersebut di atas.

Albert Bisa menjelaskan, tarian naro merupakan tarian yang diwariskan nenek moyang untuk mengungapkan rasa syukur setelah melakukan kegiatan seperti perang, perebutan kekuasaan, perkawinan, membangun rumah, persembahan leluhur, upacara kematian, penobatan mosalaki, pemotongan rambut bayi, dan upacara selesai panen.

Sinkronisasi dengan pengertian naro di atas adalah, setelah selesai dilakukan kegiatan atau aktivitas, tentu semua organ tubuh terasa sakit, lelah dan kecapaian. Untuk memulihkan kembali maka dilakukan tarian naro, sehingga memberikan semangat atau pemulihan kembali tenaga juga usaha. Secara garis besar, naro

 

Dalam tari naro, penari laki-laki membentuk lingkaran kecil. (Foto: FBC/Ian)

Dalam tari naro, penari laki-laki membentuk lingkaran kecil. (Foto: FBC/Ian)

diperankan oleh pihak laki-laki atas perjuangan. Para laki-laki membentuk sebuah lingkaran kecil. Kemudian mengungkapkan kepuasannya disertai hentakan kaki yang sangat kuat, menandakan kebesaran dan kekuatan yang dahsyat.

Sementara pihak perempuan melingkar di luar lingkaran laki-laki, sambil mengikuti gerakan yang dilakukan laki-laki. Pihak perempuan selalu menopang para lelaki serta memberi semangat perjuangannya.

Hentakan Naro

Gerakan-gerakan naro berbeda dengan gerakan tarian gawi yang biasa ditarikan oleh masyarakat etnis Lio. Irama gerakan naro lebih cepat, tegas, dan lebih mengedepankan hentakan kaki dibandingkan tangan. Sementara gawi lebih mengedepankan gerakan tangan dibandingkan hentakan kaki.

Hentakan kaki dalam tarian naro sangat kuat dan dahsyat dengan tujuan untuk memacu semangat komponen lain dalam naro. Sebab kekuatan naro dalam hentakan kaki maka semua kekuatan yang ada di dalam diri lebih dikuras pada hentakan.

Semangat dalam tarian naro diketahui saat tanah berbunyi dan bergetar seperti gempa bumi. Kebanggaan dari masing-masing komponen naro terletak pada kekuatan hentakan sebab menurut leluhur, kekuatan hentakan menandakan bahwa semangat perjuangan tak akan usai.

Kekuatan hentakan dalam gerakan naro tergantung pemimpin atau agitator, dalam bahasa Ende menyebutkan uru dan eko. Uru dan eko adalah personel naro yang memimpin tarian. Uru adalah pemimpin yang berada di depan sedangkan eko adalah pemimpin yang berada di belakang.

Putaran dalam tarian naro lebih ke arah kanan disertai hentakan-hentakan kaki yang full power. Sementara putaran dalam tarian gawi bervariasi baik kiri maupun kanan. Irama hentakan kaki dalam naro harus sesuai dengan ungkapan yang disebutkan pemimpin naro yaitu soka dan sodha

Dalam tari naro, tangan setiap penari selalu bergandengan. Berbeda dengan gawi, kadang-kadang tidak berpegangan. Maksud bergandengan tangan dalam naro adalah menjaga kekuatan sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Selain itu menunjukan rasa kerbersamaan, persaudaraan, sehati, dan sejiwa segenap keluarga suku Ende sehingga tidak terpecah belah.

Struktur Naro

Dalam tarian naro memiliki struktur personel. Struktur dibagi dalam berbagai kelompok serta memiliki perannya masing-masing. Struktur tersebut diantaranya :

Pertama, Uru. Uru ini berperan sebagai kepala atau pemimpin naro untuk mengatur perputaran jarak personel sehingga tidak terlalu jauh. Uru tidak selalu diperankan ketua adat atau mosalaki, dapat juga orang lain termasuk perempuan yang memiliki keahlihan khusus tentang uru. Namun, biasanya yang berperan sebagai uru ini adalah laki-laki.

Peran uru sangat penting dalan naro yakni untuk membangkitkan semangat personel naro sehingga komponen lain mengikut instruksi uru. Sebagai uru juga harus memiliki kekuatan atau nyali yang kuat, karena ia akan menantang berbagai cobaan. Kalau dalam perang, ia berperan sebagai komandan untuk memimpin peperangan. Uru diperankan oleh satu orang.

Kedua, Eko. Eko ini juga memiliki peran strategis meskipun ia di posisi belakang. Jabatannya sama persis dengan uru karena berperan sebagai motivator. Eko berperan sebagai pendorong personel naro di depannya agar tetap semangat.

Penari perempuan juga membentuk lingkaran yang terpisah dari lingkaran penari laki-laki. (Foto: FBC/Ian)

Penari perempuan juga membentuk lingkaran yang terpisah dari lingkaran penari laki-laki. (Foto: FBC/Ian)

Posisi eko itu paling terakhir dari semua penari naro. Sebagai eko harus memiliki sifat agitator seni, dan semangat memacu kegagahan tarian naro. Eko diperankan satu orang.

Pergerakan eko dalam tarian naro lebih bebas dan tidak dibatasi dibandingkan dengan peran komponen lainnya. Ibarat ekor ular secara bebas pergerakannya.

Ketiga, Naku Ae. Naku ae untuk memberi semangat dalam naro. Yang berperan dalam naro tergantung dengan jumlah barisan. Naku ae biasanya dalam jumlah yang banyak untuk membangkitkan semangat komponen lain.

Keempat, Sike Uru. Sike uru adalah kelompok yang perperan untuk menopang uru. Sike uru juga kelompok urutan kedua setelah uru dan berperan untuk mengikuti gerakan uru secara benar serta memberi semangat terhadap kelompok-kelompok lain.

Yang berperan dalam kelompok sike uru adalah orang tertentu yang memiliki kemampuan dan keahlian tersendiri. Jumlahnya tidak terbatas sesuai dengan jumlah personel secara keseluruhan. Pergerakan sike uru mengikuti uru

Kelima, Sike Eko. Sike eko adalah kelompok untuk memberi semangat baik kepada eko maupun kepada segenap kelompok naro. Sifat sike eko sebagai pendamping eko tetapi semangat tidak berbeda dengan eko namun masih dalam koridor pergerakan uru.

Keenam, Sodha yang berperan penting dalam naro untuk mengucapkan bahasa-bahasa adat sesuai dengan peristiwa naro. Sodha biasa dibawakan oleh seorang tokoh adat yang paham benar tentang kerangka naro.

Sodha juga bisa diucapkan oleh anggota suku namun harus memiliki keahlian dalam sodha. Jika Sodha dibawakan oleh orang yang belum memiliki kemampuan atau orang yang belum mahir tentang isi Sodha, maka Naro tidak dijalankan dengan baik.

Sodha biasanya berdiri sendiri di tengah-tengah lingkaran yang mempengaruhi semua komponen naro. Tanpa sodha, naro tidak dapat berjalan, sebab setiap hentakan kaki harus sesuai dengan ungkapan-ungkapan dalam sodha.

Ungkapan dalam sodha berupa sejarah leluhur semacam rekam jejak seseorang atau kelompok namun sesuai dengan tujuan naro. Misalnya, naro setelah peperangan, ungkapan dalam sodha harus sesuai dengan sejarah peperangan, pelaku-pelaku utama dalam perang, tujuan perang dan sebagainya. Ungkapan dalam sodha tidak membias dari konteks naro.

Ketujuh, Soka. Soka menceritakan tentang kehidupan orang muda atau kehidupan masyarakat. Isi ungkapan dalam soka tergantung orang yang membawakan. Sifatnya sangat terbuka, namun isinya teratur sesuai dengan peristiwa naro.

Soka bisa dibawakan oleh siapa saja, namun sedikit memiliki keahlian seni dalam berbahasa. Soka juga mengandung makna sifat kritikan terhadap kaum muda, atau masyarakat umum. Tingkat jabatan soka tidak berbeda dengan tingkat jabatan Sodha. Keduanya sejajar, namun peran dalam naro berbeda.

Kedelapan, Sena. Pesan sena bersifat seruan moral dimana memberi pesan kehidupan kaum muda. Sena juga menyiapkan soka serta gerakan seperti memerintahkan semua komponen untuk melakukan naro. Sena bisa dilakukan oleh siapa saja yang mahir persis tentang peran sena. Posisi Sena masih dalam lingkaran naro.

Kesembilan, Pere Pata. Pere pata mengungkapkan sebuah pesan atau permintaan seperti pantung. Antara kelompok yang satu dan kelompok yang saling menyambung pesan lain.

Pere pata ini biasa dilakukan pihak perempuan yang menari melingkar paling luar. Sambung menyambung antara pihak perempuan, sehingga memacu semangat naro.

Sifat Terbuka

Menurut Albert Bisa, tarian naro sifatnya sangat terbuka, berbeda dengan tarian gawi. Bagian uru, selalu terbuka, begitu pun di bagian eko.

Keterbukaan tersebut menunjukan kehidupan masyarakat dahulu selalu melakukan sharring baik di keluarga maupun masyarakat umum. Tingkah laku masyarakat suku Ende dituangkan dalam naro, misalnya amarah, dendam, benci.

Naro sama dengan wajah atau aura suku Ende di mana selalu terbuka kepada siapa saja. Pada umumnya pesan dari naro adalah mengajak semua orang setelah melakukan sebuah aktivitas bersama agar tetap bersatu. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Mage Wair, Ikan Kuah Asam di Bambu

Next Story »

Lekun, Makanan Pelengkap Adat

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *