Mage Wair, Ikan Kuah Asam di Bambu

Bagi masyarakat Sikka, mage wair atau ikan kuah asam merupakan masakan tradisonal yang disajikan sehari-hari. Tidak sulit menemukan masakan ini di rumah makan di kota Maumere. Kelezatan mage wair yang dimasak memakai bambu dan dibakar tentu berbeda. Seperti apa rasanya?

MAGE wair atau kuah asam merupakan salah satu makanan khas masyarakat Sikka. Makanan sederhana ini biasanya dihidangkan setiap hari di kebanyakan keluarga. Menggunakan bumbu tradisional dan cara memasak yang juga tradisional membuat rasa mage wair semakin lezat dengan aroma memikat di tengah cuaca panas yang melanda kota Maumere.

Siang itu, saya diajak mencicipi masakan ini. Kalau biasanya mage wair dimasak di kuali, kali ini saya berkesempatan mencicipi mage wair yang dimasak di bambu dengan cara dibakar.

Memasak mage wair gampang dilakukan. Dikatakan Maria W. Pareira warga Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, bumbu-bumbu yang dipergunakan mudah dijumpai dan bisa dibeli di kios atau pasar.

Pertama, kita perlu menyediakan bumbunya terlebih dahulu. Bawang putih, bawang merah, kunyit, halia, daun sere atau kemangi, asam, garam, dan lombok. Bawang putih dan bawang merah diiris tipis. Kunyit dan halia dimemarkan. Lombok kecil dihaluskan atau jika memakai lombok besar, sebut Maria, maka sebaiknya diiris saja. Garam dan asam disiapkan secukupnya

 

Aneka bumbu dapur, ikan basah, dan bambu yang akan dipakai memasukan ikan untuk dibakar.(Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Aneka bumbu dapur, ikan basah, dan bambu yang akan dipakai memasukan ikan untuk dibakar.(Foto: FBC/ Ebed de Rosary)

“Jika mau asamnya lebih terasa, sebaiknya memakai asam kering. Kemangi bisa ditambahkan sedikit buat pengharum,“ ujarnya.

Bila memakai ikan basah ukuran besar, saran Maria, ikannya dipotong kecil-kecil sesuai selera. Tapi kalau ikannya selebar dua atau tiga jari orang dewasa, sebaiknya tak usah dipotong, cukup dibersihkan isi perutnya saja.

Dibakar di Bambu

Dua buah bambu terlihat dipotong sepanjang sekitar 35 sentimeter diletakkan miring di tungku halaman belakang rumah Maria. Bambu-bambu tersebut sebelum dipakai, kata Maria, bagian dalamnya dibersihkan memakai air dan digosok memakai kayu atau sabut kelapa supaya bersih. Sebaiknya bambu yang dipakai jangan bambu muda tapi yang setengah tua.

Asam lantas dicampur air secukupnya dan dimasukan ke dalam bambu. Sesudah itu, beber Maria, masukan bumbu dan ikan kedalam bambu. Ujung bambu disumbat memakai daun pisang agar aroma masakan tetap terjaga dan ikan matangnya lebih merata.

Bambu berisi ikan kemudian dipindahkan ke tempat yang sudah disiapkan. Bambu-bambu tersebut diletakan miring bertumpu di atas kayu yang sedang terbakar. Bila bambu sudah terbakar dan hangus, urai Maria, itu pertanda ikannya sudah masak dan siap disajikan.

“Bakarnya tidak lama, paling lama satu jam kalau nyala apinya tidak besar. Tapi semua itu tergantung kayunya juga. Kita juga harus jaga supaya bambunya jangan sampai hangus. Kalau sudah mulai terbakar kita pindahkan ke bara api saja biar terbakarnya lebih merata dan bambu tidak hangus,”papar Maria.

Bambu yang sudah hangus terbakar kemudian diangkat. Sumbatan bambu di bagian ujungnya dilepas dan isinya langsung dituangkan di wadah. Bila dibakar di bambu, daging ikannya lebih gurih dan matangnya merata sebab ujung bambu ditutup sehingga uap panas tidak bisa keluar.

Masakan Mage Wair yang sudah matang dan siap dihidangkan. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

Masakan Mage Wair yang sudah matang dan siap dihidangkan. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

Selain dimasak di bambu, mage wair kebanyakan dimasak di kuali biar lebih praktis. Caranya, ikan dibersihkan lalu dipotong sesuai selera. Air dimasak sampai mendidih lalu masukkan bumbu yang sudah dihaluskan dan air asam. Setelah itu, masukkan ikan dan direbus sampai matang. Ikan pun siap dihidangkan.

Saat mencicipi mage wair yang dimasak di bambu, masakannya terasa berbeda. Rasa bumbu lebih meresap hingga ke dalam tulang ikan. Ikannya saat saya cicipi lebih gurih. Dikatakan Maria, mage wair lebih pas bila dimakan bersama ou ai prungan, ubi kering yang ditumbuk dan dicampur kelapa parut lalu dikukus. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Berharap Arwah Selamat dalam Perjalanan

Next Story »

Naro, Tari Kemenangan Suku Ende

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *