Lekun, Makanan Pelengkap Adat

Lekun bagi warga Tana Ai bukan sekedar makanan biasa. Lekun hanya dijumpai saat digelar ritual adat kebun dan ritual mengantar belis (emas kawin). Pembuat lekun wajib bersih diri dan mengunci mulut dari ucapan kata-kata bernada umpatan dan makian. Pantangan dilanggar, dalam sekejap lekun akan basi dan tak bisa dikonsumsi. Kenapa hal ini bisa terjadi?

PAGI itu mendung menggelayut di atas langit kota Maumere, gugusan awan menghitam sepanjang mata memandang hingga jauh ke wilayah timur. Jam dinding menunjukan pukul 05.30 wita, saya bersiap ‘meluncur’ ke arah Timur sejauh 52 kilometer. Sepeda motor saya pacu cepat berburu dengan waktu menghindari gerimis yang seakan mengejar dari arah belakang. Jarum jam menunjukan pukul 07.10 wita saat saya tiba di Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Motor saya titipkan di rumah mantan Ketua BPD (Badan Perwakilan Desa) Nebe, Albert Parera.

Perjalanan kembali saya lanjutkan dengan berjalan kaki ke arah utara membelah persawahan sejauh 300 meter hingga bersua Kali Nangagete. Celana jeans saya gulung selutut, kaki melangkah pelan menapaki bebatuan menyusuri kali yang sedang dilanda banjir. Ketinggian air kali setinggi lutut orang dewasa berwarna kecoklatan. Saat tiba di pondok bambu di tengah kebun, pemilik kebun Maria Dua Lodan (25) bersama kerabat sedang bersantai menyeruput kopi.

Sisa Ritual

Beberapa perempuan bersama lelaki secara bergantian menumbuk beras di dalam lesung (nuhun). Tiga buah alu dipergunakan guna mempercepat proses penumbukan. Beras yang dipakai harus berasal dari padi sisa tanam saat ritual pahe uma weru dan uma ramut yang sudah digelar bulan Desember 2014 silam. Beras tumbuk ditapis dan diayak (sisi) memakai nyiru (lida) guna memisahkan bagian halus dari butiran kasar.

Maria Severanda sedang mengaduk campuran bahan saat membuat lekun. (Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Maria Severanda sedang mengaduk campuran bahan saat membuat lekun. (Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

“Beras yang dipakai harus dari padi sisa tanam saat ritual awal pahe uma weru. Kami masih ada satu karung padi sisa, jadi itu yang kami tumbuk untuk membuat lekun “ ujar Dua Lodan.

Di sebelahnya, seorang lelaki dewasa dan remaja sedang mengupas kelapa. Buah kelapa dibelah dua. Kelapa ini diparut memakai kukuran–alat memarut kelapa dengan kayu bergerigi paku–. Seraya duduk di atas landasannya, tangan kedua lelaki ini lincah menggerakan batok kelapa di ujung kukuran. Tak sampai sejam, 10 buah kelapa selesai diparut.

Di bale bambu, Maria Severanda (58) sibuk mengaduk dan meremas beras tumbuk, kelapa, dan gula merah yang dihaluskan. Dua buah nyiru beras tumbuk dan beberapa baskom ditempatkan di atas bale bambu. Dalam adat Tana Ai, lekun harus dibuat oleh perempuan. Kerabat yang lainnya hanya membantu menyiapkan bahan dan tempat meletakan lekun.

“Semua bahan diaduk sampai merata. Gula merah dipakai selain sebagai pemanis juga berfungsi membuat warna coklat. Gula pasir juga ditambahkan sedikit untuk memberi rasa manis,”jelas Severanda.

Harus Bersih

Saat membuat lekun, orang yang membuatnya harus membersihkan diri terlebih dahulu. Dirinya tidak boleh bermusuhan dengan orang lain, tidak boleh ada dendam, dan selama proses pembuatan dilarang mengeluarkan kata-kata kasar, membentak, atau memaki. Jika pantangan ini dilanggar maka lekun yang dibuat langsung basi.

“Saat buat lekun semua arwah leluhur yang sudah meninggal hadir dan ikut menyaksikan. Jadi kalau hati tidak bersih lekun yang dibuat seketika akan basi,”tutur Agnes Genu (70) isteri Sope, pembuat ritual adat.

Selain dimakan saat proses ritual adat, lekun menurut Agnes, bagi masyarakat Tana Ai selalu diberikan kepada keluarga laki-laki saat mengantar belis. Lekun dipergunakan sebagai pembalasan adat dari perempuan kepada laki-laki. Lekun juga diberikan kepada kerabat yang dimintai bantuan mengurus proses pernikahan.

Lekun dibawa saudara perempuan sebagai bentuk penghargaan bagi kerabatnya. Misalnya anak saya mau urus nikah, saya undang saudari atau ipar perempuan saya. Maka saya datang ke rumahnya dengan membawa lekun,“paparnya.

Saat ritual antar belis, kata Agnes, lekun sebagai balasan dari pihak perempuan kepada lelaki dimasukan ke dalam sope, wadah bulat dari anyaman daun lontar yang diberi motif. Sope tersebut, sambungnya, dimasukkan lagi ke dalam teli, wadah sejenis dengan ukuran lebih besar. Biasanya dalam antaran pembalasan disiapkan 50 sope yang dibawa oleh 50 orang gadis.

Dibakar

Lekun merupakan makanan tradisional masyarakat Kabupaten Sikka. Selain etnis Tana Ai yang mendiami wilayah Timur Kabupaten Sikka, lekun juga jadi makanan khusus etnis Iwan atau Krowe yang mendiami wilayah Tengah Kabupaten Sikka yang tersebar di Kecamatan Kewapante, Hewokloang, Kangae, dan Bola.  Kalau etnis Tana Ai memakai beras putih, etnis Iwan membuatnya dari tepung beras ketan hitam (lekun saung). Kelapa parut, tepung beras ketan hitam dicampur gula pasir dan gula merah diaduk merata dan dimasukan ke dalam batang- batang bambu lalu dibakar.

Markus Moro dan Erik (baju biru) sedang mengkukur kelapa yang akan dicampur beras untuk membuat Lekun. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary)

Markus Moro dan Erik (baju biru) sedang mengkukur kelapa yang akan dicampur beras untuk membuat Lekun. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary)

Selain menjadi makanan pokok, lekun juga disajikan pula pada upacara-upacara adat, acara penerimaan tamu, dan diberikan kepada keluarga lelaki untuk dibawa pulang saat ritual antaran belis. Saat disuguhkan, lekun diiris berbentuk bulat dan disajikan bersama kopi dan teh.

Meski lekun yang dibuat etnis Tana Ai tidak dibakar, namun bisa bertahan sampai dua hari. Lekun bikinan orang Tana Ai sebelum ditumbuk, beras direndam memakai air. Sementara orang Iwan menambahkannya dengan sedikit air sebelum dibakar. Bagi masyarakat Tana Ai, beber Agnes, setelah selesai dibuat saat ritual adat, lekun tersebut disimpan di bale-bale pondok dan tidak boleh dicicipi dahulu sebelum sope (pembuat ritual adat ) memakannya.

Lekun bisa diartikan sebagai makanan perdamaian dan disuguhkan saat-saat khusus saja seperti ada ritual adat. Lekun tidak dibuat setiap saat dan jadi makanan keseharian. Lekun juga bisa diidentikan dengan makanan adat, “ pungkas Agnes. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Naro, Tari Kemenangan Suku Ende

Next Story »

Gaplek Pengganti Nasi Khas Tana Ai

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *