Seminari Todabelu-Mataloko

‘Kawah Candradimuka’ Calon Imam Pertama di Flores

Salah satu lembaga pendidikan calon imam pertama di daratan Flores adalah Seminari Todabelu-Mataloko yang berada di Kabupaten Ngada. Lembaga ini pindahan dari Sikka-Maumere pada tahun 1929, dan telah meluluskan ratusan rohaniawan Katolik yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Digagas oleh (Alm) Pater Frans Cornelissen, SVD, bagaimana kisah lembaga pendidikan ini bertahan hingga sekarang?

SEJAK ditugaskan ke Flores pada tahun 1925, Pater Fransiskus Cornelissen, SVD, langsung ditunjuk oleh Mgr. Vestraelen, SVD sebagai Pastor Paroki Sikka dan ditugaskan untuk membimbing tujuh orang muda yang ingin menjadi imam. Tujuh orang muda tersebut di antaranya, Lukas Lusi, Marsel Seran, Niko Meak, Markus Ndori, Markus Wasa, dan Yohanes Marinjas.

Dengan sangat optimistis dan percaya diri, Pater Cornelissen, SVD menjalankan tugasnya dan pada tanggal 2 Februari 1926, ia mendirikan seminari di Sikka dan diresmikan oleh Mgr. Vestraelen, SVD. Perjalanan waktu terus berlalu, Pater Cornelissen harus memutar otaknya untuk mengadakan berbagai sarana prasarana agar seminari itu berjalan seperti seharusnya.

Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kelengkapan proses belajar mengajar belum ada seperti, buku-buku sumber, guru-guru, kurikulum, dan rencana studi. Belum lagi, ia harus belajar bahasa Melayu untuk dapat mengajar tujuh murid pertamanya itu.

Tantangan yang kedua adalah, ia harus menyiapkan sarana prasarana fisik berupa parabot-parabot rumah seperti kamar tidur, ruang kelas, meja kursi untuk belajar, papan dan alat tulis lainnya yang semuanya harus diusahakan oleh Pater Cornelissen sendiri. Kesulitan terbesar lainnya adalah menetapkan wujud seminari macam mana yang bakal dikembangakan.

 

Tampak depan bangunan Seminari Todebelu di Mataloko, Kabupaten Ngada. (Foto: FBC/Ian Bala)

Tampak depan bangunan Seminari Todebelu di Mataloko, Kabupaten Ngada. (Foto: FBC/Ian Bala)

Tekanan-tekanan lainnya terus ditujukan kepada Pater Cornelissen, seperti sikap pesimistis para misionaris lainnya terhadap kehidupan dan perkembangan seminari ini selanjutnya. Namun, Pater Cornelissen tetap optimistis dan ia terus berupaya mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

Tahun 1927, siswa bertambah 10 orang, dan tahun 1928 bertambah lagi sembilan orang dan total seluruh berjumlah 26 siswa. Ia kemudian dibantu oleh dua pembina lainnya yakni Pater Heerkens, SVD dan Pater Wolfs, SVD namun bertugas hanya setahun lalu dipindahkan ke Manggarai.

Karena murid bertambah, sedangkan rumah pastoran di Sikka tidak cukup menampung murid. Apalagi dalam perkembangannya, Pastoran Sikka tidak memadai lagi untuk dijadikan seminari, karena berada di tengah-tengah Kampung Sikka yang sempit. Pater Cornelissen harus memikirkan tempat baru yang lebih menjanjikan bagi perkembangan seminari ke depan.

Pindah ke Mataloko

Pemikiran bahwa seminari harus berpindah ke tempat lain umumnya disetujui oleh para misionaris. Namun pada mulanya, para misionaris di wilayah Maumere menghendaki agar, kalau pun dipindahkan dari Sikka, seminari tetap berada di wilayah Maumere. Misalnya di Nita atau di Koting.

Alasannya antara lain, adalah karena di wilayah-wilayah tersebut terdapat sejumlah umat Katolik yang cukup dan juga di sana telah terbentuk paroki-paroki besar sehingga dapat diharapkan penambahan jumlah calon imam dari tahun ke tahun.

Gagasan tersebut kemudian dibekukkan oleh Pater Jan Van Cleef, SVD dengan jabatan sebagai Provikaris. Lalu ia meyakinkan para misisonaris bahwa Mataloko adalah tempat yang cocok dan layak sebagai lokasi baru bagi seminari. Dengan udara yang sangat sejuk dan daerah dengan ketinggian 1.000 dari permukaan laut (dpl), bebas dari jentik-jentik nyamuk sehingga seminari dapat berkelanjutan dan para siswa bebas dari penyakit malaria.

Kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas seminari pertama (SMP). (Foto: FBC/Ian Bala)

Kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas seminari pertama (SMP). (Foto: FBC/Ian Bala)

Selain itu, Mataloko memiliki lahan yang masih sangat luas untuk wilayah perkebunan. Misi SVD dan juga sebagai aset seminari di mana daerah kaya akan makanan. Di kemudian hari terbukti bahwa Mataloko merupakan tempat yang sangat tepat bagi keberadaan sebuah seminari.

Perpindahan ke Mataloko terjadi pada liburan besar bulan Juli 1929. Pada tahun itu juga peralihan tahun ajaran baru dari bulan Januari ke bulan Agustus, sehingga pada bulan Agustus 1929 diterima lagi murid baru. Dengan demikian, jumlah murid bertambah 30 orang. Tenaga pengajar pun ditambah, selain Pater Cornelissen, SVD dan Pater Heerkens, SVD, diperkuat oleh Pater Jan Smit, SVD dan Pater K. Van Trier, SVD.

Pada tanggal 15 September 1929, Seminari Yohanes Berkhmans-Mataloko diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Vestraelen, SVD dan berjalan hingga saat ini.

Imam Pertama

Siswa angkatan pertama yang berjumlah tujuh orang tersebut, empat siswa lainnya lolos menjadi imam sementara tiga siswa lainnya tidak menjadi imam. Sebab salah satu dari kedua orang tua masing-masing masih kafir, bahkan seorang berstatus “ilegitimus” karena kedua orang tuanya tidak menikah dengan sah.

Empat siswa antara lain, Lukas Lusi dan Marsel Seran–keduanya sebelumnya menempuh perjalanan panjang sebelum ditahbiskan sebagai imam–dan Karel Kale Bale dan Gabriel Manek dari angkatan kedua yang ditahbiskan pada tanggal 28 Januari 1941 di Maumere.

Pater Karel Kale Bale, SVD kemudian ditugaskan di Koting-Sikka sebagai pembantu Pater E. Kuhne, SVD. Sedangkan Pater Gabriel Manek, SVD ditugaskan sebagai Kapelan di Nita, membantu Pater F. Mertens, SVD.

Semangat misi SVD pada diri Pater Cornelissen, SVD tak pernah padam hingga Seminari Yohanes Berkhmans-Mataloko mampu mentahbiskan imam-imam pertama di Flores. Meskipun dalam situasi yang hiruk pikuk saat masa peperangan pada tahun 1943 hingga tahun 1945, Seminari Mataloko tetap berjalan seperti biasanya.

Proses Pembelajaran

Kepala Sekolah SMA dan Praeses Seminari St. Yohanes Berchmans Todabelu Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr menjelaskan, proses pembelajaran yang diterapkan di Seminari Todabelu sejak masa kepemimpinan Misionaris SVD hingga diserahkan kepada Imam-Imam Projo pada tahun 1986, mengacu pada visi dan misi seminari yakni ‘Untuk Menjadikan Imam Yang Handal Dari Berbagai Aspek’.

Aspek-aspek itu di antaranya aspek sancpipas (kerohanian atau kekudusan), scientia (ilmu pengetahuan), satentia (kebijaksanaan), sanitas (Kebersihan), dan socialitas (solidaritas atau kehidupan sosial). Para siswa calon imam dituntut untuk menguasai dan matang dalam semua aspek-aspek akademik tersebut.

Siswa menyuci piring sendiri seusai makan. Seluruh siswa ditempatkan di asrama untuk memudahkan mendidik mereka. (Foto: FBC/Ian Bala)

Siswa menyuci piring sendiri seusai makan. Seluruh siswa ditempatkan di asrama untuk memudahkan mendidik mereka. (Foto: FBC/Ian Bala)

Selain mempelajari dan menerapkan kurikulum nasional, seminari memiliki kurikulum internal lembaga misalnya, mata pelajaran bahasa. Seminari juga mempelajari bahasa Latin, bahasa Belanda, dan beberapa bahasa asing lainnya. Selain itu, seminari ini juga mempelajari tentang pendidikan liturgi.

Sebelumnya, para siswa akan dilakukan beberapa tahap seleksi di antaranya seleksi kepribadian, seleksi kemampuan, dan seleksi intelektual. Seleksi kepribadian siswa lebih menilai kedewasaan serta kematangan emosional. Sementara seleksi kemampuan dan seleksi intelektual atau seleksi KI lebih menekan pada nilai-nilai akademik. Proses seleksi akan dilakukan di setiap jenjang dari SMP hingga SMA.

Selain itu, ada beberapa kekhasan lembaga ini yakni pendidikan lanjutan di keluarga saat liburan. Pendidikan lanjutan ini bertujuan agar siswa tidak mudah lupa ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan.

Kekhasan lainnya adalah ditetapkan Hari Orang Tua Siswa (HOS). Hari HOS ini dilakukan bertujuan khusus kepada orang tua siswa untuk memperhatikan anaknya. Saat anak sudah dikarantina selama proses pendidikan, keterlibatan orang tua semakin kecil.

Anak-anak tidak diperkenankan untuk memiliki alat komunikasi dan uang jajan berkelebihan. Anak-anak baik jenjang SMP maupun SMA diasramakan dengan tujuan lebih mudah mendidik, membina, dan melatih anak.

Tenaga Pendidik

Sejak berdirinya Seminari Todabelu, tenaga pendidik kebanyakan berasal dari misionaris asing di bawa kepemimpinan Pater Cornelissen, SVD dan beberapa misionaris lainnya.

Setelah dialihkan ke Projo maka tenaga pendidikan direkrut dari berbagai latar belakang baik swasta, negeri, maupun para rohaniawan. Khusus bagi tenaga swasta, sebelum menjadi guru tetap dilakukan percobaan dan diseleksi berdasarkan nilai akademik misalnya, indeks prestasi (IP). Sementara guru negeri ditentukan oleh pemerintah daerah setempat, sesuai dengan regulasi dan prosedural pemerintahan.

Hingga saat ini, lembaga pendidikan seminari yang merupakan salah satu lembaga pendidikan calon imam di Flores ini menjadi lembaga andalan dalam mendidik generasi muda Flores. Kondisi sekolahnya sangat nyaman dengan berbagai kekhasan metode pembelajaran yang diterapkan serta berada di lingkungan mayoritas Katolik, seminari Mataloko didukung sepenuhnya oleh masyarakat setempat. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bersantai Diiringi Petikan Bhego

Next Story »

Pada Tiang Utama Rumah, Kehidupan Keluarga Bergantung

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *