Pater Dr. John Mansford Prior, SVD:

“Hampir Semua Pengidap HIV/AIDS dari Rantau”

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sikka, kebanyakan mengidap penyakit tersebut sepulang dari tanah rantau. Pemicu mereka merantau, tentu adalah masalah ekonomi. Pater Dr. John Mansford Prior, SVD yang mendampingi para ODHA (orang dengan HIV/AIDS), ingin memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Bagaimana kisahnya?

BERBICARA tentang pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Sikka tentu tak lengkap bila tidak menyebutkan sosok pater Dr. John Mansford Prior, SVD. Pater kelahiran Inggris 14 Oktober 1946 ini selalu setia mendampingi para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di Sikka dan rutin melakukan pertemuan bulanan meski disibukan dengan seabrek kegiatan di antaranya menjadi dosen pasca sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere.

Pater John menjalani pembinaan di Novisiat dan studi filsafat di Irlandia serta melanjutkan studi di S2 di Institut Misioner London (1968-1972). Pater yang ditahbiskan menjadi imam pada Mei 1972 ini semenjak tahun 1973 bertugas di Indonesia serta mulai merasul di Sikka sejak tahun 1974.

Sejak tahun 1994 ia menjadi Koordinator Bidang Pendidikan dan Penelitian Misi di Zona Asia-Pasifik (MER-ASPAC). Selama lima tahun dirinya “ pesiar ” berkeliling di wilayah SVD Asia- Pasifik dari India hingga Papua Nugini, dari Jepang hingga Australia. Pengalaman inilah yang  kemudian ia tuangkan ke dalam bentuk bahan kuliah di STFK Ledalero, Maumere.

Pater John Mansford Prior, SVD imam Katolik yang setia mendampingi para ODHA dan narapidana di Kabupaten Sikka. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Pater John Mansford Prior, SVD imam Katolik yang setia mendampingi para ODHA dan narapidana di Kabupaten Sikka. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Pater John sejak tahun 1991 hingga kini juga aktif di FABC  (Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja se-Asia) di Biro Hubungan Antar-Agama dan Biro Komunikasi Sosial dan tahun 1993 diangkat menjadi salah satu konsultor pada Dewan Kepausan untuk Kebudayaan (PCC). Dengan demikian, beliau sepertinya selalu ada alasan untuk menjelajah ke sana-ke mari, dan teman-temannya di Ledalero mulai menjuluki dirinya dengan bukan “dosen biasa” atau pun “dosen luar biasa” tapi “dosen yang biasa di luar”! Namun, dirinya bisa membela diri dengan menegaskan: “Saya tak pernah alpa satu kuliah pun, terlambat masuk sekali tak pernah!”

Mengusung motto yang diambil dari agenda harian Sekjen PBB, Dag Hammarskjöld (1905-1961), yaitu, “ For all that has been – thanks! For all that will be – Yes! ”, “ Untuk semua yang sudah–syukur; untuk semua yang akan datang–jadilah! ”.

Pater yang selalu setia bersepeda ke mana saja ini juga tetap setia mendampingi ODHA dan warga binaan di Rutan Maumere. Untuk mengetahui lebih banyak kegiatan imam SVD ini terkait aktivitas sosialnya, saya berkesempatan berbincang dengannya di Maumere, baru-baru ini. Berikut petikannya :

Kenapa pater tertarik ikut mendampingi ODHA di Sikka?

Karena tidak ada orang lain, sesederhana itu. Mulai beberapa tahun yang lalu para ODHA di stigmanisasi, disingkirkan, dijauhi bahkan ini juga dilakukan para biarawan. Jadi saya mulai terketuk hati dari situ. Sekarang syukurlah tidak sedemikian berat seperti 6 atau 7 tahun yang lalu.

Berarti sekarang pater melihat para biarawan-biarawati sudah banyak yang terlibat dalam pendampingan itu?

Itu mungkin terlalu jauh, tapi paling tidak sikap lebih terbuka untuk menerima para ODHA karena sebagian besar mereka tertular penyakit ini dari suaminya. Jadi kenapa kita harus kucilkan mereka.

Kapan pater aktif terlibat dalam pendampingan ini?

Sekitar lima tahun lalu. Sebenarnya yang pertama mendampingi kaum ODHA adalah Romo Eman dari Ritapiret tapi dia sudah berada di Jakarta sekarang. Saya terlibat belakangan.

Selama mendampingi para ODHA, kegiatan apa saja yang dilakukan?

Yang pertama hadir. Hadir dengan hati, mendengar mereka, menghargai mereka dan berjalan bersama mereka. Itu yang penting. Pulihkan kembali rasa percaya diri, harga diri mereka bahwa kita sama-sama anak Allah. Martabat kita sama, martabat tidak terganggu. Bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, atau mungkin hakim yang kejam. Saya rasa itu pada dasarnya tugas saya.

Selama mendampingi ODHA pater melihat mereka seperti apa?

Semangat mereka untuk menjalani hidup itu sangat besar tapi itu butuh proses. Hampir semua orang terkena HIV dan AIDS di tempat rantau, atau dari suami atau isteri yang pulang dari perantauan. Jadi kita lihat di sini masalah ekonomi yang membuat suami isteri terpisah dan dalam budaya patriarki, laki-laki yang pergi merantau dan dapat uang yang lumayan lalu pergi ke tempat hiburan. Hampir semua menjalani hidup terlalu bebas dan mereka terjangkit lewat hubungan seksual lalu menularkan ke isteri dan karena tidak mengerti anak pun ikut tertular.

Lebih banyak para ODHA terjangkit di perantauan ataukah di Sikka?

Awalnya di perantauan lalu pulang dan menularkan ke isteri dan anak. Ini masalah berpisahnya suami isteri.

Berarti ini penyebabnya masalah ekonomi?

Sebagian besar masalah ekonomi. Ada juga yang merantau karena masalah di keluarga, cari pengalaman, masalah tanah atau lainnya. Kita tahu di Sikka, kalau satu keluarga dengan tiga anak, minimal dia harus mengelola lahan pertanian seluas 2,5 hektar. Padahal rata-rata mereka cuma mengelola seperempat hektar lahan, jadi tidak mungkin hidup di Sikka sebagai petani. Jadi nasihat yang ampuh, kalau merantau harus satu keluarga dibawa serta.

Bagaimana pater melihat pandangan masyarakat terhadap kaum ODHA?

Stigma masih ada, makanya kita perlu pengetahuan. Kita harus memberikan informasi jauh lebih banyak baik lewat sekolah, pemerintah desa, dan gereja. Saya kira para biarawan-biarawati harus juga tahu lebih banyak. Stigma bisa dihilangkan lewat informasi.

Sejauh mana pater melihat peran pemerintah. Apakah sudah maksimal?

Apa arti maksimal. KPA kerja baik, klinik VCT di rumah sakit ada dokter Asep dan dokter Lince yang bekerja sangat bagus, juga kerja sama dengan KDS ibu Vigis, om Anis dan ibu Ima mereka juga bekerja bagus. Bahkan saya kira di Flores yang paling lama bekerja dan efektif hanya di wilayah Sikka. Ini karena di Sikka ada KDS (Kelompok Dukungan Sebaya) pendamping, ada dokter yang prihatin dan mengerti, mengikuti masalah dan orangnya.

Pater melihat peran agama seperti apa?

Agama saya tidak mau omong. Tapi tentang iman, saya ingin katakan iman para ODHA sangat luar biasa. Dan, itu yang menyelamatkan. Bahwa mereka mengenal Tuhan yang Maha Pengasih, dalam pelayanan, dalam orang yang berbela rasa, justru kepercayaan inilah yang menyelamatkan mereka. Saya pikir pemerintah Indonesia sudah memberi obat gratis bagi semua ODHA tetapi tertib telan obat, itu sikap. Dan, sikap ini didapat karena mereka saling mendukung dalam KDS dan dalam kepercayaan.

Saya tidak omong agama, saya tidak tahu peran agama seperti apa tapi iman mereka luar biasa baik. Kalau ada yang meninggal itu akibat putus asa, hilang semangat dan tidak tertib telan obat. Sebenarnya tidak perlu meninggal, hanya salah satu masalahnya orang mengetahui terinfeksi HIV dan AIDS sudah terlambat.

Suka duka apa yang pater alami selama mendampingi ODHA?

Senang karena tiap bulan kami bertemu dan mendengar cerita mereka, lalu saling meneguhkan. Kami biasa sharring salah satu bacaan dalam kitab suci dan kami saling meneguhkan.

Dukanya kalau dengar ada ODHA yang tidak hidup tertib, tidak minum obat teratur atau masih ada perilaku berisiko serta ada keluarga yang masih menekan. Mereka tidak berani memberitahu keluarga bahwa mereka tertular HIV dan AIDS.

Apa yang ingin pater sampaikan kepada para ODHA?

Saya kira KDS sangat membantu para ODHA di tahun tahun awal supaya percaya diri, supaya membangkitkan semangat hidup dan memberi informasi tentang penyakit ini. Hal ini juga penting, saling menasihati, saling tukar pengalaman ini juga sangat penting.

Masyarakat pada umumnya masih belum mengerti, kita harus berbuat lebih banyak dengan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat.

Kesadaran untuk memeriksakan diri ke klinik VCT masih kurang. Menurut pater apa yang harus dilakukan?

Sebetulnya ada beberapa cara sederhana, misalnya tiap pasangan yang mau menikah melakukan donor darah. Orang yang mau pergi merantau dan pulang dari rantau mendonorkan darah.

Apa yang harus dilakukan untuk menekan penularan HIV dan AIDS?

Yang pertama, kalau merantau, merantaulah sebagai keluarga, suami dan isteri. Kedua hindari perilaku berisiko, seks bebas, narkoba dengan suntikan. Yang ketiga cegah penularan dari ibu ke anak.

Selain mendampingi ODHA pater juga aktif mendampingi para narapidana?

Paling-paling saya memberikan misa setiap hari Minggu dan sharring kitab suci setiap hari Selasa di rumah tahanan Maumere.

Meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sikka beberapa tahun belakangan ini, pater melihatnya seperti apa?

Kurun waktu 40 tahun lalu, jenis pidana paling banyak adalah kasus pembunuhan, dua alasan utama karena persoalan tanah dan perempuan. Sekarang ini masalah amoral, asusila terbesar. Sebagian besar laki-laki yang salah tapi tidak selalu. Ada macam-macam kemungkinan yang para hakim tidak perhitungkan.Ya, ini budaya laki-laki.

Dulu adat menahan orang dan ada format pergaulan, sekarang tidak dilakukan lagi. Agama juga paling tidak ada peran di situ. Orang ada uang sedikit lalu mabuk dan berbuat masalah. Ini sudah dianggap biasa. Saya lihat ada beberapa anak muda narapidana di rutan tertawa dan bangga berada di tahanan. Ini mentalnya sudah lain dari yang kita harapkan.

Berarti pembinaan mentalnya yang perlu kita perkuat?

Budaya. Budaya patriarki dan adat tidak mengikat. Seharusnya yang mengganti adat adalah keyakinan pribadi dan penghargaan terhadap lawan jenis. Martabat perempuan tapi ini tidak jalan. Hukum adat hanya menghukum orang, tapi tidak cukup untuk menata perilaku orang. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

“Saya Bangga Sebagai Orang Flores”

Next Story »

Semua Ilmu Pengetahuan Ada di Flores

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *