Gerabah Hias Tenun Ikat yang Memikat

Di tangan perajin asal Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, gerabah ‘tutuunu’ yang biasa untuk memasak moke, tampil tidak biasa. Dibubuhi motif tenun ikat, gerabah itu memikat para pembeli. Bahkan tawaran ekspor pun datang. Seperti apa?

SIANG itu mentari serasa membakar tubuh. Sepeda motor saya kendarai perlahan seraya mata sesekali mencari alamat rumah yang akan saya tuju. Kampung Hijau Watuliwung, sekitar 5 kilometer Timur kota Maumere untuk bersua seorang pengrajin gerabah dan keramik hias.

Yohanes Vianey Moa biasa disapa Yance sudah menanti kedatangan saya di kediamannya. Perbincangan santai dilakukan di sebuah bale-bale bambu di bawah rindangnya beringin depan ruang pamer ‘Mia Keramik’ miliknya. Seraya menyeruput kopi flores, Yance berceritera banyak soal motivasi dan suka duka menjadi pengrajin gerabah dan keramik hias.

Beberapa motif gerabah produksi Mia Keramik. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Beberapa motif gerabah produksi Mia Keramik. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Bukan sebuah kebetulan, menurut Yance, dirinya dan sang isteri tercinta terlahir di kampung yang memiliki budaya membentuk tanah liat. Isteri Yance, berasal dari kampung kecil bernama Rabangodu yang artinya membentuk tanah liat di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara dirinya berasal dari Desa Wolokoli, Kabupaten Sikka yang tenar sebagai kampung gerabah.

“Kerajinan membuat keramik pernah hidup di sana (Bima), nenek isteri saya seorang pengrajin tetapi sayangnya di Rabangodu kini hanya menyisakan nama tak ada lagi pengrajin gerabah. Sementara di Wolokoli masih tetap lestari. Kami berdua sebenarnya generasi berikut, namun dari sisi spiritual saya bangga ada di dunia gerabah,” tuturnya bersemangat.

Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka dewasa ini masih tetap memproduksi tutuunu, periuk tanah. Tutuunu ukuran besar kerap dipergunakan untuk memasak moke ( arak ) sementara ukuran kecil dipakai untuk memasak masakan sehari-hari.

Memilih jalan hidup sebagai pengrajin gerabah bagi Yance berangkat dari usaha, upaya, serta spirit menjaga warisan dari generasi ke generasi. Inspirasi itu yang mendorong anak pertama dari empat bersaudara pasangan suami isteri Paulus Moa dan Gerardina Dua Kesik ini tetap menjadi pengrajin gerabah.

“Tapi dengan kecenderungan dan minat, saya masuk ke konsep pengembangannya. Kalau di kampung saya mereka masih memproduksinya secara tradisional, “ terang suami dari Margaretha Yohana Moa ini.

Ketertarikan Yance pada gerabah sudah tertanam sejak duduk di bangku SMA. Di tahun 2010 tutur pencinta lingkungan ini, dirinya kembali ke Kampung Wolokoli dan belajar dari seorang anak muda yang sampai sekarang masih membuat gerabah. Sesudahnya, dia mencari ilmu dan mengasah keterampilan dengan berguru pada beberapa pengrajin besar di Lombok, Yogyakarta, hingga Plered dengan menetap selama kurun waktu satu hingga dua bulan.

Motif Tenun

Setelah merasa cukup bekal, tahun 2011 Yance kembali ke Maumere dan memastikan untuk terjun ke pembuatan gerabah. Jalan hidup ini ditempuh sebab, menurutnya, menjadi pengrajin gerabah setidaknya dia bisa merangsang anak muda di Kampung Wolokoli, untuk berkreasi. Dirinya meyakini generasi muda, adik-adiknya di kampung tidak mungkin membuat tutuunu. Membuat tutuunu secara lokal sudah memilik pasar tersendiri, itu dibuat orang tua, nenek mereka dan sesudahnya dijual ke pasar lokal dan dipergunakan untuk memasak moke. Kalau generasi muda, kata Yance, tentu tidak masuk ke pasar itu tapi mereka lebih fokus ke pengembangannya.

Gerabah motif tenun ikat Sikka produksi Mia Keramik. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Gerabah motif tenun ikat Sikka produksi Mia Keramik. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Sebenarnya di Sikka dan NTT, beber Yance, diperkaya dengan motif tenun ikat, sehingga dekorasi produk yang sudah jadi, finishing produknya diadopsi dari motif tenun saja sudah menarik. Tapi ada juga kecenderungan pasar yang lebih menyukai dengan finishing biasa. Pangsa pasar gerabah dengan motif etnik lokal sebut lelaki yang hanya tamat SMA ini, bisa diterima di banyak tempat.

“Saya pernah sekali membawanya ke Timor Leste, dan dalam silahturami antardaerah dan negara tadi, kita punya banyak kesamaan. Kita sama-sama pernah dijajah Portugis, agama, dan budaya adat istiadat juga mirip. Motif tenun ini juga untuk mereka tidak jauh berbeda tapi mereka lebih tertarik ke motif umum, “ paparnya.

Melukis motif tenun ikat Sikka seperti motif mawarani dan lainnya, kerap dilakukan Yance pada gerabah produksinya. Pria periang ini menyuruh sang isteri ke pasar dan membeli copy-an motif tenun ikat. Kalau dirasa menarik maka langsung diadopsi guna dilukis pada gerabah.

Makna dari dari setiap motif tersebut tentu ada tapi bagi lelaki 49 tahun ini, dirinya belum mendalaminya.Yance masih melihatnya ke persoalan selera pasar, belum masuk ke konsep bahwa ada makna tertentu di balik motif yang dia bubuhkan di gerabahnya. Disadarinya memang harus ada narasi tertentu dengan melukis motif tenun pada gerabah itu agar bisa menarik konsumen, tetapi dirinya belum sampai ke situ. “Kalau gerabah dan keramik motif tenun, paling digemari di Sikka saja. Karena kalau kita bawa ke kabupaten lain mereka juga punya motif sendiri. Belum tentu mereka suka,”ungkap tamatan SMAN 1 Dili, Timor Leste ini.

Bekerja Kolektif

Walau belum masuk kategori usaha besar, ‘Mia Keramik’ tetap berproduksi secara rutin. Jika hanya bergantung pesanan, ucap Yance, usaha miliknya tentu tidak jalan. Menurut Yance, dirinya bukan saja berbisnis tapi sekaligus menyalurkan hobi membuat keramik.

Banyak hal melatari niat baik Yance. Dipaparkan pria murah senyum ini, ada banyak konsep yang lebih penting, bagaimana dia punya kebanggaan selain demi melestarikan budaya sekalian mengambil nilai ekonomisnya. Tapi untuk terus berjalan tentu semua ini tergantung dari produksi dan pemasaran.

‘Mia Keramik’ memilik 11 orang tenaga kerja yang berkarya rutin. Tiga orang tenaga pemasaran, sementara pengrajin ada delapan orang. Konsep ‘Mia Keramik’ sedikit berbeda dalam satu tahun, dua bulan berproduksi dan aktif, tiga bulan istirahat.

“Saat tiga bulan istirahat produksi, ketersediaan stok harus terjamin. Jadi di sini semua sampel produk cadangannya masih ada. Ketika cadangannya mulai berkurang mereka harus mulai aktif lagi,“ terang lelaki kelahiran Lela, 2 Mei 1966 ini.

Ada kiat untuk mengakali hal tersebut. Kalau produk untuk dijual ke konsumen lokal saja tidak masalah, karena kerabatnya dari Wolokoli dan Sumba tiap hari bisa saling mendukung. Tetapi, menurutnya, tenaga terampil yang dia pekerjakan dalam dua bulan mereka harus kembali ke Jawa, dan baru kembali lagi saat waktu produksi dimulai. Jika tidak begitu, Mia Keramik harus membiayai sekian banyak produksi setiap hari dan terasa sangat berat.

Proses pembuatannya sendiri, urainya, dilakukan secara kolektif karena dia belajar dari tempat lain di mana untuk bergerak lebih cepat, kesiapan stok harus terjamin. Untuk itu, setiap pekerja dibagi per bagian, yakni pengolahan tanah satu orang, membentuk model tiga orang serta bagian pembakaran satu orang. Bagian finishing terdiri atas dua orang di mana finishing lukis tangan satu orang serta lukis pakai kompresor satu orang.

Tenaga pemasaran tiga orang yang masih berstatus tenaga lepas. Masing-masing seorang di kota Kupang, di Maumere, dan Labuan Bajo. “Desain produk dan mengantarkan produk ke konsumen menjadi tugas saya,”urai lelaki yang aktif di Komunitas Rumah Kita, sebuah komunitas informasi wisata ini.

Yance, pendiri dan pemilik 'Mia Keramik'. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Yance, pendiri dan pemilik ‘Mia Keramik’. (Foto: FBC/Ebed de Rosary)

Jenis gerabah buah karya ‘Mia Keramik’ terdiri atas bangku meja, sirkulasi air, aneka vas Ming, guci, aneka pot, dan souvenir (cinderamata). Dia mematok harga termahal Rp 4 juta untuk gerabah setinggi 2,2 meter. Sementara yang paling murah dilepas di kisaran Rp 3 ribu untuk jenis cinderamata. Kalau bangku meja, papar Yance, untuk tiga bangku dan sebuah meja dibanderol dengan harga Rp 1,5 juta.

Lama proses produksi tergantung besar kecilnya ukuran produk. Untuk produk berdiameter 80 sentimeter, enam hari sudah selesai. Prosesnya agak lama karena semuanya masih dilakukan secara tradisional dan manual, kecuali souvenir yang sudah memakai alat cetak. Selain di Sikka gerabah dan keramik hias ini juga dipasarkan ke Flores Timur, Labuan Bajo, Ende, Kupang, Kefamenanu, dan Belu. Bahkan beberapa waktu lalu, Yance mendapatkan tawaran agar produk keramiknya diekspor ke luar negeri, tetapi dia masih menahan diri untuk memenuhi kebutuhan lokal dahulu.

 

Tempat Belajar

Pembeli produk ‘Mia Keramik’ kebanyakan adalah perorangan. Di Kabupaten Sikka semua instansi bank dan hotel menggunakan produk Yance, sementara untuk di Kupang hampir semua hotel sudah jadi pelanggannya. Saat saya tanyai berapa keuntungan yang didapat, dengan bergurau Yance menjawab relatif, tergantung besar kecilnya produk. Yang pasti, dirinya bisa membayar tenaga kerja, itu sudah bagus.

Tidak semua produksi dilempar ke pasaran, misalnya desain tertentu seperti motif marmer. Yance mencontohkan, saat di Kupang dalam empat kali pameran dirinya tampil dengan model berbeda. Awalnya mengusung model tembaga, kedua finishing umum. Baru pada pameran keempat, motif marmer dikeluarkan.

Semenjak awal dibuka, ‘Mia Keramik’ menurut Yance membuka diri sebagai tempat edukasi bagi anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai jenjang perguruan tinggi seperti Uniflor dan Unipa. Bagi yang mau belajar membuat keramik tidak dipungut biaya alias gratis. Ini dilakukan supaya bisa merangsang mereka berinovasi, kreatif dan berusaha menghasilkan uang dari banyak barang di sekiling kita. Misalnya bambu petung, beber Yance, ukuran 4 meter dijual seharga 50 ribu. Bambu tersebut urainya dipotong ukuran 30 sentimeter dan dilukis, bisa dijual Rp 200 ribu rupiah. Bayangkan kalau 4 meter bisa dapat berapa, katanya memberi semangat.

“Cukup saya yang pergi jauh ke luar pulau untuk belajar. Bagi generasi muda silakan belajar membuat keramik di tempat saya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

Tenun Ikat Lio, Antara Motif dan Mitos

Next Story »

Sanggar Kibo Libok yang Menusantara

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *