Ohu Ai Prungan

Gaplek Pengganti Nasi Khas Tana Ai

Ubi kayu atau singkong merupakan makanan lokal masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Tiap daerah punya beragam cara pengolahan ubi dan itu menambah khazanah kuliner Nusantara. Bagaimana warga Tana Ai mengolah gaplek (ubi kering) menjadi makanan lezat siap saji?

KALI ini saya kembali berpetualang ke Tana Ai. Salah satu sub-etnis yang berada di wilayah Timur Kabupaten Sikka ini masih kental mempertahankan adat dan budayanya. Makanan lokal ohu ai prungan adalah salah satu buruan saya. Makanan sederhana namun terasa memanjakan lidah ini seringkali disajikan setiap ada perhelatan pernikahan, sambut baru, maupun ritual adat.

Tanpa kesulitan, belum lama ini, saya bergegas menuju Kampung Wairbou nan asri. Kampung sejauh 52 kilometer dari kota Maumere ini hanya terdiri dari 15 rumah dan ditempuh dengan menyeberangi Kali Nangagete dari desa Nebe. Saat tiba, saya melihat beberapa perempuan sedang asyik menumbuk ubi kayu yang sudah dikeringkan.

 

Bahan-bahan untuk membuat ou ai prungan: ubi kayu kering, kelapa parut, dan gula merah. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

Bahan-bahan untuk membuat ou ai prungan: ubi kayu kering, kelapa parut, dan gula merah. ( Foto: FBC/ Ebed de Rosary )

 

Ubi kayu kering (gaplek) biasanya diambil dari kebun. Setelah dikupas, ubi tersebut dikeringkan dengan cara dijemur minimal dua minggu lamanya. Warga Tana Ai sering menyimpan ubi kering tersebut di dalam kata (anyaman dari daun kelapa) yang dipakai untuk menyimpan ubi dan jagung dalam pondok di areal kebun.

Ditumbuk Halus

Maria Dua Lodan (25) pemilik rumah, menuturkan, dirinya sedang membuat makanan lokal Tana Ai yang dinamai ohu ai nome. Ohu ai dalam bahasa Tana Ai artinya ubi kayu, sementara nome merupakan anyaman dari daun lontar berbentuk kerucut. Masyarakat wilayah Tengah Kabupaten Sikka menamakan masakan ini ohu ai prungan. Meski berbeda nama, kata Dua Lodan, bahan bakunya dan cara pembuatannya juga sama.

Maria Wiliborda (45) yang sedang menumbuk ubi kayu di lesung memakai alu mengatakan, ubi kayu ditumbuk di lesung hingga halus lalu ditapis memakai nyiru. Ubi yang ditumbuk, tutur Wiliborda, harus sampai halus menyerupai tepung.

Sementara itu, di saat bersamaan seorang perempuan terlihat sedang memarut kelapa. Kelapa yang dipakai, jelas Wiliborda, sebaiknya jangan terlalu tua biar hasilnya lebih renyah dan baunya lebuh harum. Kelapa parut dan tepung ubi kayu ( ohu ai ) diaduk merata di nyiru (lida ) seraya diremas menggunakan kedua tangan.

“ Saat diaduk tambahkan sedikit air saja biar lengket. Biasanya cuma dicampur kelapa saja tanpa dicampur gula. Tapi kadang juga campur dengan gula merah atau gula aren, “ungkap Wiliworda.

Setelah dirasa adukan sudah merata, campuran tersebut dikukus di periuk tanah yang ditaruh nome di atasnya. Supaya uapnya tidak keluar, pinggiran periuk, urai Wiliborda, ditempeli dengan sisa adonan. Jika tidak ada nome, adonan sering juga dikukus menggunakan korak (tempurung kelapa) yang dilubangi bagian matanya. Korak pun berfungsi seperti nome, diletakan di bagian atas periuk tanah.

Pengganti Nasi

Masyarakat Tana Ai biasa menyantap hidangan ohu ai prungan sebagai pengganti nasi saat di kebun. Bila dimakan sebagai pengganti nasi, jelas Wiliborda, campuran ubi dan kelapa parut tidak dicampur dengan gula merah. Campuran yang memakai gula merah, sebutnya lagi, hanya disuguhkan saat sarapan pagi atau sore ditemani secangkir kopi atau teh.

Ou ai prungan yang dicampur gula aren, nikmat disajikan saat minum teh atau kopi di sore hari. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

Ou ai prungan yang dicampur gula aren, nikmat disajikan saat minum teh atau kopi di sore hari. (Foto : FBC/ Ebed de Rosary)

Selain memberi rasa manis, bila dicampur dengan gula aren ou ai prungan yang sudah masak akan berwarna coklat. Kerap kali anak-anak mengambil adonan yang sudah merata tadi dan ditusuk di batang kayu. Adonan ini pun, kata Wiliborda, dipanggang di bara api. Rasanya juga enak. “Kalau dimasak atau dikukus memakai nome maka hasil masakan akan berbentuk kerucut seperti tumpeng. Tapi kalau di kota orang sering kukus di dandang biar lebih praktis,”paparnya.

Saat mencicipi hasil olahan ini saya rasakan kelezatannya walau dibuat dengan bahan sederhana. Sambil ditemani segelas teh panas, ou ai prungan atau bisa juga disebut ou ai nome yang dicampur gula merah terasa manis. Teh pun hanya diberikan sedikit gula saja. Menikmati ou ai prungan di sore hari sambil kongkow di bale-bale bambu Kampung Wairbou nan sunyi serasa memberi sensasi tersendiri. Ternyata untuk dapat menikmati hidup tidak harus berbiaya mahal. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Lekun, Makanan Pelengkap Adat

Next Story »

Bukan Sekadar Parang Biasa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *