Foi Doa, Seruling Ganda dari Bajawa

Warga di Bajawa dan Perkampungan Adat Wogo khususnya, mengenali jati dirinya dengan bermain foi doa, alat musik tiup serupa seruling dengan batang bambu ganda. Alat musik inilah yang menjadi nadi untuk mengenali diri sendiri. Bagaimana kisahnya?

SERULING ganda foi doa merupakan alat musik tradisional Bajawa yang diwariskan oleh leluhur secara turun-menurun. Selain dikenal di Bajawa dan sekitarnya, foi doa juga digemari masyarakat di Kabupaten Ngada, meskipun tidak setiap rumah memilikinya.

Foi doa dimiliki oleh orang-orang tertentu yang masih berminat seperti masyarakat di Perkampungan Adat Wogo. Masyarakat setempat masih menghargai musik foi doa, karena menurut keyakinan mereka adalah nadi untuk mengenal diri sendiri.

Meskipun tidak dimainkan setiap hari, namun masyarakat setempat masih menggemarinya. Karena dengan keberadaan foi doa dapat membuktikan kemartabatan manusia. Konkretnya, meski orang Bajawa sering diidentifikasi berwatak keras, namun sebenarnya perilaku masyarakat Bajawa bagaikan alunan suara seruling foi doa yang lembut, santun, dan santai.

Siprianus memainkan foi doa karyanya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Siprianus memainkan foi doa karyanya. (Foto: FBC/Ian Bala)

Mereka percaya lantunan bunyi yang dihasilkan seruling foi doa, mampu membangkitkan semangat dan gairah hidup. Tidak saja yang memainkan, tetapi orang yang mendengarkan suara itu tentu merasa bergairah semangat hidupnya. Alat musik ini biasa dimainkan oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Namun, disarankan yang memainkan benar-benar orang yang mahir sehingga menghasilkan bunyi yang memiliki nilai musikalitas.

Bermakna Sindiran

Siprianus Nuga, pemusik foi doa asal Kampung Adat Wogo menjelaskan, dahulu alat musik ini merupakan alat musik sindiran yang biasa dimainkan pada pagi hari. Tujuannya, untuk membangunkan makhluk hidup dari tidur. Ketika salah satu rumah membunyikan foi doa, maka akan menyindir rumah-rumah lain, yang penghuninya masih terlelap. Sindiran tersebut bermaksud baik, untuk berlomba bangun di pagi hari.

Sindiran atau dalam bahasa Bajawa menyebut papa neke berupa lagu yang dialunkan melalui bunyi foi doa, sesuai selera. Yang paling penting foi doa dibunyikan.

Alat musik tiup berbentuk ganda ini kerap juga dimainkan pada sore hari sembari memasak daging babi. Masyarakat setempat yang notabene mata pencahariannya beternak dan berkebun itu meyakini seruling foi doa merupakan alat hiburan, namun memiliki makna yang mendalam.

Nilai-nilai yang terkandung pada alat musik tiup itu mempunyai fungsi dan makna yang luar biasa sesuai dengan karakteristik daerah setempat. Meskipun banyak yang mendefinisikan sebagai musik sindiran tetapi mereka berkeyakinan besar bahwa foi doa adalah jati diri mereka.

Siprianus menuturkan, keberadaan seruling foi doa tidak hanya sekedar alat menggerakkan kehidupan manusia untuk melakukan sebuah aktivitas, tetapi juga merupakan harkat dan martabat orang Ngada. “Foi doa itu adalah jati diri masyarakat Bajawa. Selain untuk menghibur, foi doa memiliki makna yang mendalam untuk orang Bajawa,”ujar Siprianus, pengerajin foi doa asal Kampung Wogo ini lagi.

Cara Membuat

Alat musik seruling foi doa terbuat dari buluh (bambu) yang diambil di wilayah pegunungan, namun hanya pada tempat-tempat tertentu. Bambu yang tumbuh di pinggir sungai disarankan tidak digunakan karena akan menghasilkan bunyi yang kurang baik.

Pertama, bambu diambil paling tengah tanpa sekat ruasnya, lalu dipotong dengan ukuran panjang 30-60 sentimeter. Ukuran dua batang bulu harus sama sehingga tidak mempengaruhi bunyi yang dikeluarkan.

Bambu tersebut kemudian dijemur di atas para-para api selama satu hingga dua minggu. Bambu yang akan dibuat foi doa harus benar-benar kering dan dipastikan tidak terdapat retakan pada batang bambu.

Bambu yang sudah kering tadi dilubangi sejumlah lima lubang pada satu batang bulu. Foi doa hanya memiliki lima nada dari do, re, mi, fa dan sol. Posisi lubang pada bambu, dua lubang (do dan re) terletak pada bagian atas dan tiga lubang (mi, fa dan sol) terletak pada bagian bawah.

alat musik foi doa, seruling ganda khas Bajawa. (Foto: FBC/Ian Bala)

alat musik foi doa, seruling ganda khas Bajawa. (Foto: FBC/Ian Bala)

Di antara dua lubang bagian atas (do dan re) disumbat dengan sabut kelapa. Sementara lubang pertama atau lubang do dibaluti dengan daun lontar sehingga udara yang ditiup masuk melalui celah lontar lalu ke lubang kedua atau re dan diteruskan ke ujung bambu.

Pangkal bambu pada lubang do dan re sedikit merapat untuk disatukan dengan kayu sebagai tempat untuk meniup. Sementara pada ujung kedua bambu disisipkan kayu dan dililit benang sehingga tidak mudah terlepas.

Kedua, buatlah kayu penyambung untuk meniup lalu dilubangi agar udara mudah masuk ke bambu. Kedua bambu dimasukan pada lubang masing-masing lalu dililitkan dengan benang agar tidak terlepas. Pastikan kedua bambu benar-benar tersambung ke kayu peniup.

Full Power

Siprianus menjelaskan, tiupan yang dibutuhkan foi doa harus benar-benar full power sebab tekanan udara yang dikeluarkan dari mulut akan ditepiskan pada sabut kelapa lalu keluar melalui lubang do. Udara akan masuk lagi pada lubang re atau lubang kedua namun tekanan udara makin kecil.

Berbeda dengan udara yang dibutuhkan alat musik seruling karena suara kecil pun dapat menghasilkan bunyi yang besar. Sementara foi doa, menggunakan sistem panyaluran udara sehingga membutuhkan tiupan yang deras.

Jika bunyi yang dihasilkan cukup keras dan jelas, tentu akan membanggakan pemilik foi doa. Masyarakat setempat mengandalkan alat musik ini pada bunyi yang dihasilkan karena memiliki kekhasan tersendiri. Alunan suara lembut nan sempurna membuat harkat dan martabat mereka dihargai.

Tapi sayangnya, alat musik foi doa nyaris punah karena dipengaruhi oleh alat-alat musik modern. Foi doa hanya terdapat di beberapa rumah yang masih menghargai warisan leluhur, sementara daerah-daerah lain di Bajawa sudah menggunakan alat musik lain dengan harga ratusan juta rupiah.

Siprianus berharap agar masyarakat Bajawa kembali memelihara dan melestarikan alat musik tradisional yang sudah diwariskan nenek moyang ini karena foi doa sebenarnya merupakan identitas dari masyarakat Ngada. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bukan Sekadar Parang Biasa

Next Story »

Bersantai Diiringi Petikan Bhego

One Comment

  1. April 1, 2015

    Mantap foy dora baynya ingat Opa …. : I

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *