Bukan Sekadar Parang Biasa

Hampir sebagian besar parang yang digunakan petani di Kabupaten Ngada, dipastikan buah karya lelaki asal Kampung Wogo ini. Ya, Siprianus Nuga sudah tiga dekade lebih ‘bermain besi’ untuk menghasilkan parang, senjata sekaligus alat petani. Bagaimana kisahnya?

MESKI hanya menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Siprianus Nuga menganggap pendidikan bagi anak-anaknya sangat penting di era sekarang ini. Selain sebagai seorang petani, ia berupaya menciptakan lahan pekerjaan sampingan demi menyiapkan biaya pendidikan bagi anak-anaknya.

Siprianus Nuga, pria kelahiran Kampung Wogo tahun 1964 ini, memiliki kemampuan tersendiri dalam pembuatan parang. Setamat SD pada tahun 1978, ia lalu bergelut pada kerajinan pembuatan parang.

Sebelumnya, Sipri demikian ia biasa disapa, membantu sang ayahnya yang juga sebagai pengerajin parang dan pengolah tuak (moke). Hampir setiap hari, ia membantu ayahnya yang memiliki keahlian membuat parang.

Pria ini juga ikut memasarkan hasil karya sang ayahnya, baik ke Pasar Mataloko, Kabupaten Ngada, juga beberapa pasar di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende. Pekerjaan yang cukup menantang itu menjadi rutinitas Siprianus pada usia yang masih anak-anak.

 

Parang hasil karya Siprianus Nuga pengrajin parang asal Kampung Wogo, Kabupaten Ngada. (Foto: FBC/Ian Bala)

Parang hasil karya Siprianus Nuga pengrajin parang asal Kampung Wogo, Kabupaten Ngada. (Foto: FBC/Ian Bala)

Waktu itu, bidang pendidikan masih di luar pemikiran Siprianus. Karena baginya pendidikan itu sesuatu yang tidak bermakna. Ayahnya yang juga berpendidikan Sekolah Rakyat (SR) terus mendoktrin dirinya, agar terus berupaya melanjutkan warisan pekerjaan dari ayahnya.

Suami dari Susana Meo ini, mulai bekerja sebagai pengrajin parang sejak tahun 1989 setelah menikahi istrinya. Selain mancari nafkah untuk kebutuhan hidup sehari-hari dari hasil bertaninya, ia juga memulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang baginya cukup menantang bahkan bertaruh nyawa, karena harus ‘berteman’ api, besi, listrik, dan gerinda.

Baginya, menjadi pengerajin parang bukan sebuah pekerjaan rentetan keturunan melainkan bakat dan minat yang masih terpendam sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Meskipun dari pekerjaan ini berpenghasilannya pas-pasan, tetapi Sipri lebih berminat pada pekerjaan yang sifatnya menantang.

“Saya lebih suka pekerjaan yang sifatnya petarung dan ini bukan karena keturunan dari nenek moyang saya. Mati dan hidup itu memang di tangan Tuhan, tetapi sebagai manusia apalagi sebagai laki-laki harus mampu bertarung,”ujarnya sambil mengasah parang karyanya.

Pendapatan

Dalam seminggu, Siprianus mampu menghasilkan empat buah parang berukuran besar dalam jangka waktu empat hari yakni hari Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Hari Sabtu ia mulai memasarkan karyanya di Pasar Mataloko. Sementara hari Senin, ia fokus pada bidang lain misalnya, berkebun, mengolah tuak dan membuat alat musik tradisional bhego.

Parang karya Sipri harganya bervariasi, sesuai dengan ukuran parang. Mulai dari harga Rp 50.000 hingga Rp 800.000. Rata-rata setiap bulan ia mampu menghasilkan Rp 6 juta dari membuat parang ini.

Belum lagi penghasilan lain dari mengolah tuak (moke), misalnya. Ia selalu menyisihkan waktu untuk mengolah tuak yang dilakukan pada pagi dan sore hari. Dalam sehari ia bisa menghasilkan 1 jerigen sampai 2 jerigen seukuran 7 liter. Sementara tuak yang dihasilkan, dijual Rp 15.000 per liternya. Pendapatan dari tuak ini rata-rata perbulan sekitar Rp 4 juta. Rata-rata pendapatan Sipri dari membuat parang dan tuak ini, tiap bulan berkisar antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Menurutnya, itu adalah pendapatan murni dari hasil parang dan tuak, belum lagi penghasilan yang lain.

“Semua penghasilan itu saya sisihkan untuk pendidikan anak. Saya bertekad menyekolahkan anak hingga mereka sukses,”katanya seraya tersenyum.

Ayah dari dua anak perempuan ini berependapat, bahwa pendidikan di era sekarang sangat penting. Ia tidak merasa menyesal hanya bisa bersekolah sampai tingkat SD. Saat ini, ia lebih fokus untuk menyekolahkan kedua anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Karya Tangan

Lelaki petarung ini lebih menghargai buah karya tangannya dibandingkan dengan hasil produksi dari pabrik. Segala sesuatu baik makanan dan minuman atau pun hal lainnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari dihasilkan dari karyanya.

Seperti halnya, rumah berbahan bambu sebagai tempat tinggalnya yang sangat sederhana, seluruh material bangunannya produk dari alam. Atap dan dinding terbuat dari bambu. Sementara lantai masih berlantai tanah. Ia lebih menyukai produk alam dibandingkan dengan produksi pabrik.

Baginya, rumah bukan sebuah tuntutan dalam keluarga. Rumah adalah sebagai tempat untuk berteduh, tetapi yang paling penting di benaknya adalah pendidikan anak dan kebudayaan.

Siprianus sedang menghaluskan parang karyanya dengan gerinda listrik. (Foto: FBC/Ian Bala)

Siprianus sedang menghaluskan parang karyanya dengan gerinda listrik. (Foto: FBC/Ian Bala)

Sipri menjelaskan, karya tangan merupakan hasil keluaran dari kemampuan yang dimiliki, bukan hanya sekadar memiliki sebuah pekerjaan. Baginya, karya tangan yang dihasilkan tersebut adalah kemampuan yang dimiliki sejak masih kanak-kanak.

Maka dari itu, ia berpendapat agar masyarakat menghargai karya tangan yang dihasilkan manusia, sebab itu bagian dari anugerah Yang Kuasa. Bukan berarti menafikan produk hasil pengolahan pabrik, tetapi karya tangan harus dipergunakan sebaik mungkin.

“Karya tangan kita adalah kemampuan kita sebagai umat manusia yang dianugerahi rasa, cipta, dan karsa dari Tuhan. Mestinya kita selalu menghargai karya tangan kita masing-masing. Bukan berarti kita tidak butuh produk pabrik, tetapi minimal kita hargai keringat kita,”ujar Sipri sedikit berfilosofi karena dia merupakan salah satu tokoh masyarakat yang memiliki perhatian kepada nilai-nilai dan kebudayaan. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

 

Gaplek Pengganti Nasi Khas Tana Ai

Next Story »

Foi Doa, Seruling Ganda dari Bajawa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *