Bersantai Diiringi Petikan Bhego

Masyarakat di Kabupaten Ngada terkenal dengan beragam alat musik tradisional yang dibuat dari bambu. Satu di antaranya adalah bhego, yang biasa dimainkan sebagai penghiburan saat bersantai

SUARA yang dihasilkan dari bhego terdengar lebih merdu ketimbang gong. Alat musik yang juga biasa disebut bheto ini sangat unik dan tampak mudah membuatnya. Alat musik bhego biasa dimainkan saat kapan saja, tetapi lebih nikmat dimainkan saat bersantai.

Masyarakat etnis Bajawa tepatnya di Kampung Adat Wogo, menggunakan bhego sebagai pengiring anak-anak berlatih menari, karena bunyi yang dihasilkan sama persis layaknya bunyi gong. Jika dimainkan oleh orang yang sudah mahir atau sudah terlatih, akan dapat menghasilkan bunyi sangat nyaring dengan alunan bunyi yang begitu indah.

Yakobus Ratu, seorang warga Kampung Adat Wogo yang sering membuat alat musik ini menjelaskan, bhego sebenarnya salah satu musik penghibur. Tidak digunakan dalam acara ritual adat atau semacamnya. Bhego dapat dimainkan oleh siapa saja baik laki-laki, perempuan, anak-anak, maupun orang dewasa, tergantung ketrampilan yang memainkannya.

Alat musik bhego dimainkan dengan cara dipetik. (Foto: FBC/Ian Bala)

Alat musik bhego dimainkan dengan cara dipetik. (Foto: FBC/Ian Bala)

Dijelaskannya, keberadaan alat musik bhego sudah ada sejak zaman nenek moyang dahulu. Para leluhur ini biasa menggunakan atau bermain bhego saat memasak daging babi sembari menghentak-hentakan kaki dan menari. Selain itu, bhego juga dimainkan saat anak-anak berlatih menari.

Berbeda dengan gong dan gendang, yang dibunyikan saat ritual adat atau acara formal dengan izin kepala suku (mosalaki), bhego bisa dimainkan kapan saja.

Cara Membuat

Pembuatan alat musik bhego sangat sederhana. Bambu (bheto) dipotong dengan ukuran panjang 10 sentimeter-15 sentimeter. Karena ukuran diameter bambu sangat besar, maka dibelah bagi dua, lalu diambil seperempat bagian.

Kemudian disatukan kembali, ujung atas dan ujung bawah diikat dengan tali rafia. Pilih salah satu sisi bambu lalu dikupas kulit luarnya berbentuk jari tali gitar. Kulit bambu dikupas terlebih dahulu bagian tengah, lalu tarik keatas dan ke bawah.

Cara kupas harus menggunakan pisau atau alat sejenisnya dan tidak perlu terburu-buru. Jari tali tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebab dapat melukai jari tangan ketika dipetik.

Tali tersebut berjumlah lima jari sesuai dengan jumlah gong karena masing-masing tali menghasilkan bunyi yang berbeda. Ukuran jari tali tergantung ukuran bhego misalnya panjang bhego 15 cm, maka ukuran jari tali 10 cm sampai 12 cm.

Masing-masing ujung tali atas dan ujung tali bawah disisipkan bilah kecil untuk menahan tali bambu dan juga sebagai alat untuk mengatur nada bhego. Untuk menyetel nada-nada bhego, berdasarkan bilah kecil yang disisipkan sebab tanpa bilah tersebut bhego tidak menghasilkan bunyi.

Dahulu pembuatan bhego biasa menggunakan bambu bulat tanpa dibagi dua. Cara pembuatan tali juga berbeda dengan bambu bilah yakni dua tali terletak di bagian atas bambu sementara tiga tali lainnya terletak di bagian bawahnya.

Cara bermain tidak seperti bambu bilah dengan cara petik. Jenis bhego ini memainkannya dengan cara tarik seperti bermain kecapi. Cara bemainnya lebih sulit dibandingkan dengan cara bermain petik sebab gaya bermain petik seperti bermain gitar.

Susunan Tali

Bhego merupakan jenis alat musik petik yang dimainkan menggunakan jari tangan seperti bermain gitar. Sebelum bermain tentu harus mengetahui susunan tali sebab dapat memengaruhi bunyi.

Tali pertama terletak bagian paling bawah. Tali pertama dinamakan wela. Wela ini dalam alat musik gong merupakan gong pertama yang harus dibunyikan terlebih dahulu. Cara mainnya sama dengan gong, wela harus dibunyikan terlebuh dahulu.

Tali kedua terletak paling atas sebab akan dipetik dengan menggunakan ibu jari. Tali ini dinamakan uto-uto. Dalam alat musik gong, uto-uto ini harus dibunyikan setelah wela. Tetapi dalam alat musik bhego, uto-uto ini bisa dibunyikan kali kedua dan bisa juga bunyi terakhir karena bunyi uto-uto tidak memengaruhi bunyi tali-tali lain.

Uto-uto ini sebaiknya dibunyikan terakhir karena lebih mudah dibunyikan saat proses memetik. Uto-uto juga sangat penting dalam musik bhego meskipun tidak disusun dalam petikan sebab bunyi uto-uto ini sangat bervariasi dentingannya.

Tali ketiga terletak kedua setelah tali wela. Tali ini dinamakan dhere. Bunyi dhere bergantian dengan bunyi tali uto-uto di mana setelah bunyi dhere lalu dibunyikan uto-uto begitu pula sebaliknya.

Dhere sebenarnya bunyi untuk mengatur nada dari masing-masing tali sebab dhere berada pada posisi tengah sehingga menghasilkan irama nada yang cantik. Bunyi dhere kalau dalam paduan suara seperti bunyi tenor, dengan nada yang begitu elok.

Tali keempat dan kelima terletak setelah dhere dan sebelum uto-uto. Kedua tali ini dinamakan doa. Doa merupakan berpaduan tali empat dan tali lima. Dalam musik gong, jenis gong doa selalu berpaduan dan dimainkan oleh satu orang.

Alat musik bhego yang terbuat dari bambu suaranya mirip gong. (Foto: FBC/Ian Bala)

Alat musik bhego yang terbuat dari bambu suaranya mirip gong. (Foto: FBC/Ian Bala)

Doa dalam bhego merupakan bunyi pelengkap dari bunyi wela, uto-uto dan dhere. Bunyi tali empat berbeda dengan bunyi tali kelima tapi cara petik harus bersamaan sehingga menghasilkan bunyi yang sempurna.

Memainkan bhego semestinya dilakukan orang yang benar-benar sudah terlatih. Jika tidak maka bunyi yang akan dihasilkan tidak sempurna. Bunyi yang dihasilkan tidak sebanding dengan alat musik lain. Bhego menghasilkan bunyi yang sangat kecil dan jika ingin mendengar alunan bunyi musik bhego harus dalam suasana yang tenang.

Dalam pementasan musik daerah, bhego biasa dilantangkan dengan pengeras suara, karena bunyi yang dihasilkan sangat pelan. Bhego sebaiknya dimainkan di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian sehingga akan lebih jelas bunyinya. Bhego juga lebih cocok dimainkan sendiri tanpa berkolaborasi dengan bunyi alat musik lainnya. (*)

Penulis : Ian Bala

Editor: EC. Pudjiachirusanto

 

 

Foi Doa, Seruling Ganda dari Bajawa

Next Story »

‘Kawah Candradimuka’ Calon Imam Pertama di Flores

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *